Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kejadian di Kantor


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Adit segera berlari ke arah ruangan mamanya, sedangkan Dini hanya bisa mengikuti Adit dari belakang.


Di depan sebuah ruangan VIP, Adit menghentikan langkahnya. Seorang laki laki paruh baya yang duduk di depan ruangan itu segera berdiri dan menyapa Adit.


"Gimana keadaan mama Pak?" tanya Adit.


"Mas Adit masuk aja, Dokter juga masih di dalam," jawab Lukman, laki laki yang merupakan orang kepercayaan Adit sekaligus supir pribadi mama Adit.


Aditpun masuk ke dalam ruangan sang mama, sedangkan Dini duduk di depan ruangan bersama Lukman.


"Mama!"


"Kamu dateng sayang!"


"Mama kenapa Dok?" tanya Adit pada Dokter.


"Tekanan darah mama kamu turun, tapi sekarang sudah normal, nggak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab sang Dokter.


"Terima kasih Dok."


Dokter menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan ruangan mama Adit.


"Tadi Pak Lukman bilang......"


"Jangan marahin Pak Lukman, mama yang minta dia hubungin kamu," ucap mama Adit.


"Mama kenapa sih seneng banget bikin Adit khawatir!"


"Kalau nggak gini kamu nggak nemuin mama kan?"


"Adit kan sibuk kerja ma, kalau ada waktu luang kan Adit pasti main ke rumah."


"Iya, mama minta maaf."


"Mama harus jaga pola makan mama dong, jangan makan sembarangan biar tekanan darah mama normal."


"Iya sayang, mama cuma kepikiran sama....."


"Adit masih berusaha nyari dia ma, mama tenang aja biar Adit yang urus semuanya!"


"Mama menyesal Dit, mama......"


Mama Adit menghentikan ucapannya, sesak di dadanya memaksa air matanya untuk jatuh membasahi pipinya.


Adit mendekat dan menggenggam tangan mamanya.


"Nggak ada yang harus mama sesali, semuanya udah terjadi, mama harus jaga kesehatan mama, Adit janji akan bawa dia kembali ma," ucap Adit berusaha menenangkan mamanya.


Tak terasa sudah hampir 15 menit Adit berada di ruangan mamanya. Ia lupa pada Dini masih menunggunya di depan ruangan.


"Jadi kapan kamu kenalin mama sama pacar kamu? mama nggak akan tenang kalau belum liat pacar kamu."


"Mama masih kepikiran sama ucapan temen temen arisan mama?"


"Apa yang mereka bilang emang bener Dit, usia kamu sudah 27 tahun tapi kamu belum pernah punya pacar, kamu tampan, kamu pintar, kamu sukses, pasti banyak perempuan yang mau sama kamu kan? tapi kamu malah....."


"Ma, Adit masih fokus jalanin perusahaan papa, Adit nggak ada waktu buat hal kayak gitu."


"Tapi omomgan orang di luar sana bikin mama kepikiran Dit, mereka selalu bilang kalau kamu nggak suka perempuan, walaupun mama nggak percaya tapi tetep aja mama kepikiran."


Adit menghela napasnya panjang. Jika sudah membahas tentang hal itu ia tak bisa kalah dari sang mama.


Di sisi lain, Dini yang berada di depan ruangan mulai gelisah. 30 menit lagi akan ada pertemuan di kantor mereka, tapi belum ada tanda tanda Adit akan keluar.


Dini pun memutuskan untuk menghubungi Ana, menanyakan apa yang sebaiknya ia lakukan.


"Halo Din, ada apa?"


"Saya lagi di rumah sakit sama Pak Adit mbak, saya....."


"Kamu kenapa Din? kamu apa Adit yang sakit?"


"Mamanya Pak Adit mbak, masalahnya 30 menit lagi ada pertemuan di kantor tapi Pak Adit masih di dalam ruangan, saya harus gimana mbak?"


"Kamu hubungin dia aja Din, bos kamu itu emang pelupa."


"Tapi saya takut ganggu mbak."


"Kalau ada masalah urgent apapun situasinya kamu harus kasih tau dia, biar dia sendiri yang memutuskan, yang penting kamu sudah memberitahunya!"


"Baik mbak, terima kasih mbak."


Setelah menyelesaikan panggilannya dengan Ana. Dini segera mengirim pesan pada Adit, ia masih terlalu takut untuk menghubungi Adit.


Maaf mengganggu pak, 30 menit lagi Pak Adit ada pertemuan di kantor


Adit yang berada di dalam ruangan segera mengambil ponsel dari saku jasnya. Pesan dari Dini membuatnya sedikit terkejut karena ia benar benar lupa jika ia pergi ke rumah sakit bersama Dini.


"Ma, Adit balik ke kantor dulu ya, nanti malam Adit jemput mama di sini!" ucap Adit lalu segera keluar dari ruangan mamanya.


"Maaf Din, saya lupa ada kamu di sini," ucap Adit.


"Nggak papa pak," jawab Dini dengan tersenyum manis.


"Pak Lukman tolong jaga mama ya, saya harus ke kantor dulu!" ucap Adit pada Pak Lukman.


"Baik mas."


Adit dan Dini pun segera meninggalkan rumah sakit, menuju ke kantor.


"Kenapa kamu nggak hubungi saya dari tadi Din? saya bener bener lupa kalau saya ke rumah sakit sama kamu!"


"Saya takut ganggu Pak Adit, gimana keadaan mama Pak Adit?"

__ADS_1


"Mama baik baik aja, ini cuma trik nya mama supaya saya temuin mama."


Dini hanya menganggukkan kepalanya meski ia tidak mengerti maksud dari ucapan Adit. Jika saja Adit bukan atasannya, ia pasti sudah menanyakan banyak hal pada Adit.


"Maaf karena kamu harus meninggalkan jam kerja karena masalah pribadi saya, mama kelemahan saya Din, jadi tolong dimaklumi ya!"


"Iya pak, saya mengerti, keluarga memang yang utama."


"Terima kasih atas pengertian kamu Din."


Dini hanya mengangguk dengan senyum manisnya. Ia ingin segera bertemu Ana untuk menceritakan perubahan sikap Adit padanya.


Saat mereka baru saja turun dari mobil, seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya berlari ke arah Adit dan memeluk Adit dengan erat.


"I miss you my dear," ucap Jenny dengan berusaha mencium Adit, namun Adit mendorong tubuhnya.


"Go away Jenny!" balas Adit lalu segera meninggalkan Jenny.


"Jangan biarkan dia masuk ke ruangan saya!" ucap Adit pada Dini.


"Baik pak."


Jenny hanya menghentak hentakkan kakinya kesal karena sikap dingin Adit padanya. Tak lama kemudian, ia pun mengikuti Adit ke ruangannya.


Dini yang melihat hal itu segera menahan Jenny agar tidak masuk ke ruangan Adit.


"Sorry Miss, Mr. Adit is busy, you can't......"


"Lo siapa sih? pegawai baru? mingir sana!" balas Jenny dengan mendorong Dini, namun Dini masih berusaha mencegah Jenny.


"Lo nggak tau siapa gue? Minggir!" ucap Jenny lalu mendorong Dini dengan keras, membuat Dini terjatuh dan keningnya membentur vas bunga besar di dekatnya.


Melihat ada keributan, Adit segera keluar dari ruangannya.


"Dear, dia nggak bolehin aku masuk, dia......"


"Kalian semua kenapa cuma diam? kenapa tidak ada yang melapor satpam? kalian senang melihat keributan di sini? Jaka, catat semua nama mereka yang cuma melihat kejadian ini tanpa bertindak apapun, taruh daftar nama mereka di meja saya, saya akan kasih peringatan buat kalian semua!"


"Baik pak," jawab Jaka.


"Dan kamu Jenny, pergi sebelum saya panggil security untuk seret kamu keluar dari sini!"


"Tapi Adit......"


"Kalian semua dengarkan saya, mulai sekarang jangan biarkan perempuan ini masuk ke dalam kantor apa lagi sampai datang ke ruangan saya, mengerti?"


"Mengerti pak," jawab semuanya serempak.


Jenny pun meninggalkan tempat itu dengan kesal.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Adit pada Dini yang masih terduduk di lantai.


"Kaki saya sakit pak, sepertinya terkilir," jawab Dini dengan menahan sakit di kakinya.


"Sepatu saya......"


"Kamu nggak liat heels nya patah?"


Dini menundukkan kepalanya. Adit sudah kembali seperti Adit yang ia temui waktu pertama kali ia datang ke tempat itu.


Tanpa basa basi Adit segera mengangkat tubuh Dini dan membawa Dini ke dalam ruangannya. Semua pegawai Adit yang berada di sana hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan Adit pada Dini.


Beberapa dari mereka saling berbisik namun ada juga yang hanya diam ternganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sama seperti mereka, Dini juga tak percaya pada apa yang terjadi dengannya. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa ia bisa berpikir apa lagi menolaknya.


Adit menurunkan Dini di sofa panjang yang berada di ruangannya. Ia lalu mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka di kening Dini.


"Maaf atas sikap Jenny sama kamu Din," ucap Adit sambil mengobati luka Dini.


Dini hanya diam. Pikirannya masih sulit menerima perlakuan Adit padanya.


"Kamu jangan salah paham, kamu terluka karena mengikuti perintah saya, jadi apa yang saya lakukan ini sebagai bentuk tanggung jawab saya sama kamu!"


Dini hanya menganggukkan kepalanya.


"Luruskan kaki kamu," perintah Adit.


"Sakit pak."


"Pelan pelan aja," ucap Adit dengan memegang kaki Dini, membantu Dini meluruskan kakinya.


Adit lalu mengambil sebuah krim dari kotak P3K dan hendak mengoleskannya di kaki Dini, namun Dini mencegahnya.


"Saya aja pak!" ucap Dini segera.


"Diam Din, jangan sampai kamu lumpuh cuma karena di dorong Jenny!"


"dikira aku selemah itu?" batin Dini kesal.


Dengan telaten Adit mengoleskan krim di kaki Dini lalu memijatnya dengan pelan.


"Kalau besok masih sakit, kamu harus ke rumah sakit Din!"


"Baik pak."


"Kamu istirahat dulu, setelah kamu merasa lebih baik kamu hubungi teman kamu untuk menjemput kamu!"


"Baik pak, terima kasih."


Waktu berlalu terasa sangat lambat bagi Dini. Ia hanya duduk di sofa ruangan Adit. Sesekali ia memperhatikan Adit yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Sebenarnya ia ingin melanjutkan pekerjaannya namun Adit melarangnya dan karena insiden itu pertemuan yang seharusnya dilakukan hari itu ditunda oleh Adit.

__ADS_1


**


Di home store.


Dimas sedang mengerjakan pembukuan clothing arts nya. Hari itu ia benar benar berusaha menyibukkan dirinya.


Mengingat kejadian semalam membuatnya kembali terngiang semua cerita masa lalu ibu Dini. Tampak kesedihan yang sangat mendalam dari raut wajah ibu Dini ketika cerita itu ia dengar.


Karena janji yang sudah ia sepakati dengan ibu Dini, Dimas harus benar benar menjauhi Dini. Bukan selamanya, hanya untuk sementara sampai ia bisa menemukan jalan untuknya bisa kembali bersama Dini tanpa ada penolakan dari siapapun.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering. Dimas hanya melihatnya tanpa menyentuh ponselnya sedikitpun. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk. Lagi lagi Dimas hanya membacanya melalui notifikasi yang masuk.


Dimas, aku nggak bisa jalan, kamu bisa jemput aku?


Seketika Dimas segera berdiri dari duduknya dan menyambar kunci mobil di meja kerjanya. Namun saat ia baru saja keluar dari home store, ia sadar, ia tidak boleh melakukan hal itu.


Dimas lalu menghubungi Andi.


"Lo dimana?"


"Di rumah, ada apa?"


"Andini nggak hubungi lo?"


"Enggak, kenapa?"


"Gue nggak bisa jemput dia Ndi, lo jemput dia pake mobil gue ya!"


"Jadi gue harus ke home store dulu nih?"


"Iya, bisa kan?"


"Oke, gue kesana sekarang."


"Tapi jangan bilang kalau gue minta lo bawa mobil gue ya, terserah lo mau alasan apa yang penting jangan bilang apapun soal gue!"


"Ribet hidup lo Dim!"


Klik. Andi memutus panggilan Dimas. Ia lalu berganti pakaian dan segera pergi ke home store dengan naik bus.


Setelah mengambil mobil Dimas, Andi segera berangkat ke tempat kerja Dini.


Sesampainya di sana, ia segera menghubungi Dini, sekedar mengkonfirmasi jika Dini masih berada di kantor.


"Halo Din, kamu masih di kantor?"


"Iya Ndi, kamu dimana?"


"Aku udah di depan kantor kamu nih, kamu pulang jam berapa?"


"Udah waktunya pulang sih sebenernya tapi ada masalah Ndi."


"Kenapa Din? ada apa?"


"Kakiku terkilir, aku......"


"Aku kesana sekarang ya, aku bawa mobil Dimas!"


Andi lalu mematikan panggilannya dan segera berjalan memasuki gedung besar di hadapannya.


Tepat saat ia baru saja bertanya pada resepsionis, Adit datang dengan memapah Dini yang hanya mengenakan sandal jepit yang tampak kebesaran.


Melihat hal itu, Andi segera menghampiri Dini dan menggantikan posisi Adit. Entah kenapa tiba tiba jantungnya berdetak hebat, membuatnya merasa tidak nyaman tanpa sebab yang jelas.


"Terima kasih pak, saya permisi," ucap Dini pada Adit.


Adit hanya menganggukkan kepalanya lalu segera berbalik dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri.


"Kenapa bisa kayak gini Din?" tanya Andi ketika mereka sudah berada di mobil.


"Cuma terkilir kok Ndi, tapi sakit banget buat jalan."


"Itu kening kamu juga luka, kamu abis jatuh?"


"Aku kepleset hehe... " jawab Dini berbohong.


"Lain kali hati hati dong Din, terus kenapa kamu pake sendal jepit? sepatu kamu mana?"


"Dibuang Pak Adit, ini sendal nya Pak Adit."


"Kok bisa? ada apa sih Din sebenernya?"


"Ceritanya panjang, nanti aja aku cerita, ini kamu kenapa bawa mobil Dimas?"


Andi diam beberapa saat. Ia belum memikirkan alasan yang tepat untuk itu.


"Apa dia marah sama aku? aku hubungin dia nggak pernah ada jawaban, apa dia yang minta kamu dateng?"


"Aku tadi lagi nganter barang pake mobil Dimas, pulangnya lewat kantor kamu, jadi sekalian aku jemput kamu," jawab Andi beralasan.


"Beneran? bukannya kamu lagi libur ya?"


"Tadinya libur, tapi Dimas minta tolong kirim barang, karena aku nggak ada kerjaan jadi ya mau aja, kalian masih berantem?"


"Nggak tau Ndi, Dimas nggak bisa dihubungi dari kemarin, padahal aku mau baikan, sekarang malah dia yang ngilang, nyebelin banget!"


"Akhir akhir ini dia emang sibuk Din, selain ngurusin home store, dia juga ikut pertemuan bisnis sama papanya."


Dini hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar penjelasan Andi. Entah kenapa ia merasa Dimas sedang menjauhinya.


Meski begitu ia berusaha untuk tidak berburuk sangka pada Dimas. Ia akan menyampaikan semua keresahannya ketika mereka sudah bertemu. Ia tidak ingin prasangka buruk semakin memperburuk hubungan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2