Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Bicara Bertiga


__ADS_3

Dini masih berada di kamar Andi. Tak lama kemudian pintu diketuk, mama Siskapun masuk.


"Eh ada Dini, mama nggak tau kamu di sini," ucap mama Siska.


"Iya ma, Dini baru dateng sama Andi," balas Dini.


Mama Siska yang melihat Andi segera menyadari jika anak keduanya itu sedang tidak baik baik saja. Ia pun mendekati Andi dan menempelkan telapak tangannya di kening Andi.


"Kamu sakit?" tanya mama Siska pada Andi.


"Enggak ma, mama dari mana?" tanya Andi dengan melepaskan tangan sang mama dari keningnya.


"Mama dari arisan, apa kalian lagi berantem?" jawab mama Siska sekaligus bertanya.


Dini dan Andi hanya saling pandang sebelum menjawab pertanyaan mama Siska.


"Maaf mama nggak bermaksud ikut campur, mama ke sini cuma mau bilang kalau ada Anita di bawah, dia cari kamu," ucap mama Siska pada Andi.


Andi lalu kembali membawa pandangannya pada Dini, namun Dini mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Mama keluar dulu, kamu buruan temuin dia, dia udah nunggu di bawah," ucap mama Siska lalu meninggalkan kamar Andi.


Saat Dini hendak mengikuti mama Siska, Andi menarik tangan Dini, namun Dini melepasnya dengan paksa dan segera mengikuti mama Siska.


Andipun keluar dari kamarnya.


Dini yang saat itu berjalan bersama mama Siska hanya diam saat melewati ruang tamu. Sedangkan Anita tampak sibuk dengan ponselnya.


"Dini pulang dulu ma," ucap Dini berpamitan pada mama Siska.


"Biar Adit yang anter kamu ya!"


"Dini bisa naik taksi kok, kak Adit pasti capek baru pulang kerja," ucap Dini.


"Nggak papa, kamu tunggu di sini sebentar, mama panggil Adit dulu," ucap mama Siska lalu kembali masuk untuk memanggil Adit.


Setelah mama Siska masuk, Andi keluar, namun bukan untuk menghampiri Anita, melainkan menghampiri Dini di teras.


"Kamu udah janji buat nggak menghindar lagi Din!" ucap Andi.


"Kenapa kamu kesini, dia udah nunggu kamu di ruang tamu!" balas Dini.


"Kita harus bicara bertiga, biar nggak ada salah paham lagi!"


"Jadi kamu masih anggap semua ini salah paham? iya?"


"Din, aku....."


"Andi!" panggil Anita yang tiba tiba saja datang menghampiri Andi dan Dini.


"Oh ada Dini, maaf aku nggak tau," ucap Anita yang berpura pura tidak mengetahui keberadaan Dini di sana.


Dini hanya diam dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa ia merasa Anita mempunyai niat buruk padanya atau pada hubungannya dengan Andi dan Dimas.


Anita lalu berjalan mendekati Dini tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia menarik tangan Dini dan meminta maaf padanya.


"Aku minta maaf Din, aku...."


Anita menghentikan ucapannya saat Dini menarik tangannya dari Anita.


"Aku tau aku punya salah sama kamu dan Dimas, kesalahan yang udah aku lakuin sama kalian emang sangat besar dan mungkin susah buat kalian lupain, tapi aku beneran menyesal Din, sekarang aku sadar kalau pertemanan kita lebih penting daripada cinta, kamu, Andi dan Dimas, kalian teman baik ku, aku cuma pingin kita deket kayak dulu," ucap Anita.


Dini hanya diam mengabaikan ucapan Anita, ia benar benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Anita rencanakan.


Ia juga mempunyai keinginan yang sama seperti Anita, kembali berteman seperti dulu, tapi di sisi lain, ia juga takut jika Anita kembali merencanakan hal buruk padanya.


Ia tidak ingin niat baiknya untuk menerima Anita kembali dalam kehidupan nya akan menimbulkan hal buruk pada hubungannya dengan Dimas ataupun Andi.


Mengingat bagaimana liciknya Anita dulu, ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi meski ia juga menginginkan mereka kembali berteman seperti dulu.


"Maaf kalau sikap ku kemarin berlebihan, aku cuma kecewa karena kamu nggak percaya dan nuduh aku yang enggak enggak, aku pingin memulai semuanya dari awal Din, apa aku nggak pantas buat jadi teman kamu? apa aku nggak pantas buat dapat kesempatan kedua? apa aku sehina itu sampe kalian jauhin aku?"


"Aku nggak nuduh kamu Nit, Dimas udah cerita semuanya sama aku, tentang kamu yang tiba tiba peluk dia, kamu yang ikutin dia sampe ke basement, aku tau semuanya dan apa yang kamu lakukan itu sudah melewati batas!" ucap Dini.

__ADS_1


"Kamu salah paham Din, aku nggak tiba tiba peluk Dimas, kamu tau sendiri Dimas selalu menghindar dari aku, waktu itu aku nggak sengaja ketemu dia, aku kejar dia dan aku kesandung bukan sengaja peluk dia, aku kejar dia karena aku juga mau minta maaf sama dia, kamu tau itu!"


"Tapi kamu......"


"Apa kamu tau kalau tuduhan kamu itu menyakitkan buat aku? aku yang berusaha buat berubah dan memulai semuanya dari awal, aku yang mengalah sama egoku demi pertemanan kita tapi kamu malah nuduh aku kayak gitu, aku juga punya hati Din, aku juga bisa sakit hati sama sikap kamu," ucap Anita dengan mata yang berkaca-kaca.


"Din, aku mengerti kalau kamu belum bisa maafin Anita sepenuhnya, tapi setidaknya kasih sedikit aja kepercayaan kamu buat dia, semua orang bisa berubah Din, itu juga yang selalu kamu yakini tentang Dimas dulu," ucap Andi.


Mendengar ucapan Andi membuat hati Dini kembali terkoyak. Ia merasa Andi lebih mempercayai Anita daripada dirinya, padahal ia sudah menjelaskan tentang sikap Anita yang masih berusaha mendekati Dimas, namun Andi lebih percaya pada alasan yang Anita berikan.


Dini hanya tersenyum tipis, senyum yang menahan perih dalam hatinya.


"Dini, kamu orang pertama yang tulus berteman sama aku, aku seneng karena aku bisa kenal sama kamu, maaf karena sikap egoisku nyakitin kalian semua, tapi sumpah demi apapun aku udah berusaha semaksimal mungkin buat berubah Din, tolong kamu percaya sama aku," ucap Anita yang kembali menarik tangan Dini ke dalam genggamannya, namun Dini segera menarik tangannya kembali dan berlari meninggalkan Andi dan Anita.


Saat Andi hendak mengejar Dini, Anita menjatuhkan pot bunga di dekatnya dan mengenai kakinya, membuat Andi mengurungkan niatnya untuk mengejar Dini.


Sedangkan Dini keluar dari rumah mama Siska dengan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan.


"jangan menangis Din, jangan, ini bukan apa apa, Andi cuma salah paham, Andi cuma nggak tau," batin Dini menasihati dirinya sendiri.


"tapi dia nggak percaya sama aku, setelah dia denger penjelasan aku dia lebih percaya sama Anita, dia bahkan nggak ngejar aku, dia biarin aku pergi, dia bener bener biarin aku pergi," batin Dini dengan terisak.


Dini berdiri di depan dinding pagar rumah mama Siska dengan menutup matanya yang tidak bisa berhenti menangis.


Tak lama kemudian, gerbang terbuka, sebuah mobil keluar dan berhenti di depan Dini.


Adit lalu keluar dan membawa Dini masuk ke dalam mobilnya.


"Kakak denger semuanya," ucap Adit.


"Andi lebih percaya sama dia kak, Dini nggak tau kenapa rasanya sesakit ini, Dini bahkan nggak bisa berkata apa apa lagi di depan mereka," ucap Dini dengan berkali kali menyeka air matanya.


"Kakak nggak tau seperti apa detail masa lalu kalian, tapi kalau emang apa yang kamu pikirkan tentang Anita itu bener, dia menang sekarang, dia sedang tertawa di atas awan kalau liat kamu kayak gini," ucap Adit.


"Apa yang harus Dini lakuin kak? Dini udah nggak bisa mikir apa apa lagi."


"Kalau udah kayak gini kamu harus tenangin diri kamu Din, pikirkan semuanya baik baik saat hati dan diri kamu udah tenang," jawab Adit.


Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Adit. Ia beruntung karena sudah mengenal Adit, sosok kakak yang bisa memberinya nasihat saat ia membutuhkan nya.


"Iya kak," balas Dini dengan tersenyum.


"kakak akan cari tau siapa Anita sebenernya dan seperti apa masa lalu kalian, kakak juga nggak mau Andi dekat dengan perempuan yang salah," batin Adit dalam hati.


Di sisi lain, Andi sedang mengobati kaki Anita yang terluka.


"Maaf Ndi, kayaknya aku datang di saat yang nggak tepat," ucap Anita.


"Nggak papa Nit, tapi aku mau tanya sesuatu sama kamu tentang apa yang Dini ucapin tadi, aku mau denger dari sudut pandang kamu."


"Tentang apa?"


"Waktu kamu ketemu Dimas," jawab Andi.


"Malem itu aku nggak sengaja ketemu Dimas, aku mau ke apartemen mbak Dewi dan aku liat Dimas, aku panggil dia tapi dia nggak berhenti jalan, kamu tau sendiri kan Dimas emang selalu menghindar dari aku, jadi aku kejar dia tapi aku malah kesandung terus jatuh, niatku buat pegangan dia bukan buat peluk dia," ucap Anita menjelaskan.


"Kenapa kamu kejar dia? kamu pasti tau kalau dia nggak mau ngomong sama kamu kan?"


"Iya aku tau, aku cuma mau nunjukin kesungguhan ku buat minta maaf Ndi, apa aku salah kalau aku berusaha buat dapetin maaf dari Dimas?"


"Kamu nggak salah, tapi mungkin cara kamu yang kurang tepat," balas Andi.


"Ajarin aku gimana caranya Ndi, kalau kamu juga jauhin aku kayak Dini, aku harus minta tolong siapa, aku juga nggak mau jadi orang jahat Ndi."


"Sebelum itu kamu harus selesaiin dulu kesalahpahaman kamu sama Dini, dia juga kayaknya marah banget sama aku," ucap Andi.


"Maafin aku ya, gara gara aku kamu sama Dini jadi berantem," ucap Anita dengan raut wajah yang tampak menyesal.


"Bukan salah kamu," balas Andi dengan tersenyum.


"Aku juga mau bilang kalau aku nggak ikutin Dimas ke basement, pagi itu aku nggak sengaja di lift sama Dimas, kita sama sama mau ke basement karena aku mau pulang dan Dimas kayaknya mau ke kantor, selama kita jalan bareng kita nggak ngobrol apa apa sampe kita masuk ke mobil masing masing, kamu bisa tanya sama Dimas kalau kamu nggak percaya," jelas Anita.


"Aku percaya sama kamu," balas Andi.

__ADS_1


"Makasih Ndi, aku harap kamu bisa bantuin aku buat minta maaf sama Dini dan Dimas," ucap Anita.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Setelah mengantarkan Dini sampai di rumahnya, Adit segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Ana.


Ia ingin segera menemui gadis yang dicintainya itu.


"Kamu kenapa? ada masalah di kantor?" tanya Ana yang melihat Adit tampak penat.


"Nggak ada, maaf aku nggak bisa anter kamu periksa ke rumah sakit hari ini," jawab Adit sambil mengusap perut Ana yang mulai tampak membuncit.


"Nggak papa, kamu pasti sibuk," balas Ana.


"Gimana kata Dokter?"


"Nggak ada yang perlu di khawatirkan, aku boleh bepergian pake pesawat asal nggak lebih dari 5 jam penerbangan, nggak boleh banyak kegiatan yang terlalu capek, nggak boleh stres, udah gitu aja," jawab Ana menjelaskan.


"Kamu emang hebat sayang, sehat sehat ya di sana," ucap Adit yang masih mengusap perut Ana dengan bahagia.


"Adit, ada sesuatu yang aku pikirin beberapa hari ini," ucap Ana yang tampak serius.


"Tentang apa?"


"Gimana kalau ada yang tau tentang hubungan kita?" tanya Ana.


"Kenapa kamu tiba tiba tanyain itu, kan barusan kamu bilang kalau kamu nggak boleh stres, nggak boleh banyak pikiran!"


"Iya, aku cuma takut aja, aku takut kalau tiba tiba dipaksa pergi dari kamu dan...."


"An, aku janji sama kamu, aku nggak akan biarin kamu pergi, kita akan hadapi semuanya sama sama dan aku nggak akan menyerah buat mempertahankan kamu dan anak kita, apapun yang terjadi kita akan selalu sama sama, kamu tau aku nggak pernah ingkar janji kan?"


Ana mengangguk pelan lalu memeluk Adit.


"Sekarang aku makin yakin kalau kamu emang cinta banget sama aku," ucap Adit menggoda Ana.


Seketika Ana segera melepas dirinya dari pelukan Adit dan menjauh.


"Enggak, kamu salah paham!" ucap Ana.


"Salah paham apa? apa sesusah itu mengakuinya?"


"Inget Dit, kamu itu adik kelasku yang culun, pake kaca mata dan bawa buku kemana mana, jalan nunduk dan nggak pernah ngobrol sama orang!" ucap Ana.


"Itu kan dulu banget An, temen temen kuliah kamu pasti iri kalau mereka tau kamu menikah sama aku, iya kan?"


"Enggak, kenapa mereka harus iri?"


"Iya lah, mereka kan suka deketin aku lewat kamu, iya kan?"


"Nggak usah sok playboy deh, pacaran aja nggak pernah!"


"Pacaran buat apa An, cuma buang buang waktu, buktinya aku bisa dapetin perempuan yang aku cintai tanpa harus pacaran," ucap Adit yang membuat Ana tersipu.


Ana lalu meninggalkan Adit dengan masuk ke kamarnya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena Adit.


"An, kemana? tunggu!"


Adit lalu beranjak dari duduknya dan mengejar Ana.


Adit memeluk Ana dari belakang saat mereka sudah berada di kamar.


"Aku selalu pingin ngelakuin ini sama kamu," ucap Adit berbisik di telinga Ana.


"Kamu jangan macem macem deh!" balas Ana tanpa berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Adit.


Meski ucapannya mengandung penolakan, namun dirinya tidak memperlihatkan penolakan sama sekali.


"Kenapa? aku juga laki laki normal An!"


"Dokter bilang aku masih nggak boleh ngelakuin itu," ucap Ana dengan memejamkan matanya karena malu.

__ADS_1


Adit lalu mencium leher jenjang Ana dan membopongnya lalu membaringkannya di ranjang.


__ADS_2