Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Malam Indah


__ADS_3

Malam semakin larut. Dengan kesal Dimas mengendarai mobilnya pulang ke apartemennya.


Tiiing!!


Pintu lift terbuka, Dimas keluar dari lift dan begitu terkejut melihat gadis yang dicintainya sedang duduk di depan pintu.


Dimaspun segera berlari mendekati Dini.


"Sayang, kamu ngapain di sini? kenapa nggak masuk? kenapa nggak hubungin aku?"


"Aku udah hubungin kamu berkali kali, tapi nggak bisa," jawab Dini.


Dimas lalu mengambil ponselnya dan menekan tombol power namun layar ponselnya tak bisa menyala. Ya, ia kehabisan daya baterai.


"Maaf sayang, baterainya habis, ayo masuk!"


Dimas dan Dinipun masuk.


"Kenapa kamu nggak langsung masuk aja? kamu kan tau password nya!" ucap Dimas sambil memberikan minuman pada Dini.


"Aku tetap harus izin kamu kan!"


"Nggak perlu sayang, kapanpun kamu mau ke sini kamu masuk aja, aku nggak mau kamu nunggu aku di depan kayak tadi, ya!"


Dini mengangguk pelan. Niat hati ingin memberi Dimas kejutan dengan kehadirannya, namun ia malah dihadapkan pada situasi yang membuatnya kesal karena sudah menunggu Dimas sangat lama.


"Aku minta maaf sayang," ucap Dimas lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.


"bau parfum cewek," batin Dini dalam hati.


"Kamu dari mana?" tanya Dini.


"Dari kantor, kamu dari kantor langsung ke sini?" jawab Dimas sekaligus bertanya, karena melihat Dini yang masih berpakaian kantor.


"Iya, aku pulang cepet karena mau ke sini, kasih kejutan buat kamu, tapi aku malah harus nunggu lama di luar," ucap Dini kesal.


"Aku minta maaf sayang," ucap Dimas lalu mencium pipi Dini.


"iya, ini parfum cewek, apa Dimas pergi ke pesta itu? nggak mungkin, dia bilang dia nggak kesana, mungkin cuma perasaan ku aja!" ucap Dini dalam hati.


"Kamu mau mandi dulu sayang?" tanya Dimas.


"Boleh, tapi aku nggak bawa baju ganti," jawab Dini.


Dimas lalu menarik tangan Dini, mengajaknya masuk ke kamarnya.


"Kamu pakai punya ku aja, terserah kamu yang mana, aku mau pesan makan dulu!"


"Oke."


Dimaspun keluar dari kamar dan memesan makanan melalui ponselnya, sedangkan Dini segera mandi.


Tak lama kemudian Dini keluar dari kamar Dimas dengan mengenakan kemeja Dimas yang tampak sangat besar di tubuh Dini. Ia hanya mengenakan kemeja, tanpa mengenakan celana karena kemeja itu cukup untuk menutup sampai di pahanya.


Dimas yang melihat Dini dengan penampilan seperti itu membuatnya menelan ludahnya sendiri. Rambut panjang yang basah dan baju yang hanya sebatas paha serta tampak terlalu besar itu justru membuat pikiran Dimas menjadi liar.


"Aku pake ini, nggak papa?" tanya Dini.


Dimas hanya mengangguk tanpa berkedip.


"Kamu mandi dulu, aku tunggu di sini," ucap Dini sambil duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, membuat pahanya semakin terekspos secara nyata.


Dimas segera mengambil bantal dan menaruhnya di samping paha Dini.


"Jangan biarin orang lain liat ini," ucap Dimas dengan menatap mata Dini.


Dini menggeleng dengan tersenyum tipis lalu mengecup bibir Dimas.


Saat Dimas akan membalasnya, Dini mendorong tubuh Dimas dengan kuat.


"Mandi dulu, kamu bau!" ucap Dini dengan memencet hidungnya.


Dimas hanya menggaruk garuk kepalanya lalu pergi mandi.


Tak lama setelah Dimas selesai mandi, seseorang memencet bel.


Dimaspun segera membuka pintu dan menerima beberapa makanan dan minuman yang sudah dipesannya.


Dimas dan Dinipun makan bersama dengan saling berbagi cerita tentang hari hari yang mereka lalui saat mereka berjauhan.


Setelah selesai makan dan membereskannya, Dimas mengajak Dini untuk masuk ke kamarnya, karena ia harus mengerjakan pekerjaannya di kamar.


"Maaf ya sayang, ini harus aku selesaiin dulu!" ucap. Dimas yang merasa bersalah.


"Nggak papa, aku ke sini cuma mau ketemu kamu kok, mau nemenin kamu, bukan ganggu kamu," jawab Dini.


"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


Dimas dan Dini duduk bersampingan dengan bersandarkan sandaran ranjang Dimas. Sesekali Dini membantu Dimas menyelesaikan pekerjaan Dimas.


"Kamu ke sini sendirian sayang?" tanya Dimas disela sela kesibukannya.


"Iya, aku naik bus dari terminal," jawab Dini.


"Kenapa kamu nggak ajak Andi aja?"


"Kalau aku ngajak Andi, aku nggak bisa berduaan sama kamu di sini," jawab Dini yang membuat Dimas tersenyum.


"Kamu mau berdua aja sama aku?" tanya Dimas dengan senyum nakalnya.

__ADS_1


"Iya, kamu nggak mau?"


"Bentar ya sayang, bentar lagi selesai!"


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dimas masih sibuk dengan pekerjaannya meski sesekali mengobrol dengan Dini.


"Kamu udah izin sama ibu kan?" tanya Dimas.


Hening, tak ada jawaban. Hanya ada suara detik jam dinding dan ketukan di keyboard.


"Sayang," panggil Dimas pelan.


Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini dan melihat gadis yang dicintainya itu sudah terpejam.


Dimas hanya tersenyum lalu segera menyimpan file yang dikerjakannya dan mematikan laptopnya.


Dengan perlahan, Dimas turun dari ranjang untuk menaruh laptopnya di meja lalu kembali naik ke ranjangnya. Saat itulah ia baru menyadari jika kemeja yang dikenakan Dini tersingkap sampai ke pangkal pahanya, membuatnya semakin nyata terpampang di hadapan Dimas.


Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Dengan sangat hati hati, ia menarik kemeja itu agar menutupi paha Dini, namun tanpa sengaja tangan Dimas menyentuh kulit lembut di hadapannya.


Seketika jantungnya berdetak kencang. Sesuatu yang tertidur dalam dirinya telah terbangun. Namun Dimas segera menjaga kesadarannya. Ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh Dini dengan selimut tebal.


"Dimas, gerah," ucap Dini dengan mata yang masih terpejam.


"Pake setengah badan aja kalau gitu," ucap Dimas sambil menurunkan suhu AC menjadi lebih dingin.


Dimas lalu duduk di tepi ranjang dengan berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Dimas," panggil Dini dengan memeluk Dimas dari belakang.


"Kenapa bangun sayang?" tanya Dimas sambil berbalik dan merengkuh Dini ke dalam dekapannya.


"Kamu kenapa belum tidur? kerjaan kamu belum selesai?" balas Dini bertanya.


"Udah kok, baru aja selesai," jawab Dimas.


"Aku kangen sama kamu," ucap Dini manja.


"Aku juga sayang," balas Dimas sambil mengecup kening Dini.


"Kamu udah kabarin ibu kan kalau kamu di sini?" lanjut Dimas bertanya.


"Aku cuma bilang kalau aku nggak pulang hehe...."


"Dasar nakal, apa Andi juga nggak tau kalau kamu di sini?"


Dini menggelengkan kepalanya.


"Hari Minggu aku anter kamu balik ya!" ucap Dimas yang kembali dibalas anggukan kepala Dini.


"Dimas, apa ada sesuatu yang nggak kamu ceritain sama aku?" tanya Dini.


Dimas lalu melepaskan Dini dari dekapannya. Ia bersandar pada sandaran ranjang dan kembali membawa Dini dalam dekapannya.


"Aku mau tau semuanya Dimas, semuanya tanpa ada yang kamu tutupi dari aku," jawab Dini.


"Aku udah cerita semuanya sama kamu sayang, tapi ada satu yang aku belum cerita, aku nggak tau ini penting atau enggak, tapi aku akan cerita sama kamu!"


"Apa?"


"Di kantor, aku sering dapat coklat," ucap Dimas.


"Coklat?"


"Iya, coklat yang ada tulisannya di kertas kecil," jawab Dimas.


"Dari siapa?"


"Aku nggak tau karena aku nggak pernah baca, aku selalu kasih coklat itu ke Feri!"


"Terus?"


"Ada beberapa yang kelihatan banget sih kalau lagi deketin aku," jawab Dimas.


"Kamu gimana?"


"Aku jelasin sama mereka kalau aku udah punya tunangan, kamu tenang aja sayang, aku bisa jaga sikap aku, kesalahan yang dulu nggak akan terulang lagi, kamu percaya kan sama aku?"


"Kamu selalu tanya itu dan aku selalu jawab kalau aku percaya sama kamu, tapi aku nggak percaya sama cewek cewek itu!"


"Nggak usah peduliin mereka sayang, aku aja nggak peduli kok sama mereka!"


Dini mengangguk pelan lalu semakin erat memeluk Dimas. Berada dalam dekapan Dimas membuatnya sangat nyaman.


**


Di sisi lain. Saat jam masih menunjukkan pukul 7 malam, Adit segera pergi ke rumah Ana tanpa Rudi. Ia mengetuk pintu Ana beberapa kali, namun tak kunjung dibuka.


"An, ini aku, buka pintunya An," ucap Adit.


Lalu tak lama kemudian pintu terbuka. Ana segera menarik tangan Adit dan dengan cepat kembali mengunci pintu rumahnya.


"Kenapa? ada apa?" tanya Adit.


"Tadi ada beberapa ibu ibu yang maksa masuk ke sini buat buktiin kalau aku emang hamil apa enggak, aku takut mereka dateng lagi," jawab Ana.


"Mereka berhasil masuk?"


"Untungnya enggak, karena ada pak RT yang bantuin aku, aku terpaksa kasih ancaman sama ibu ibu kalau mereka masih maksa masuk ke rumahku tanpa izin, apa aku salah Dit?"

__ADS_1


"Enggak, kamu nggak salah, tapi kamu baik baik aja kan? dia baik baik aja kan?" jawab Adit sekaligus bertanya dengan memegang perut Ana.


Ana hanya tersenyum dan mengangguk.


"Aku udah siapin barang barangku Dit," ucap Ana yang sudah tidak sabar ingin segera pindah.


"Kamu masuk aja ke mobil, aku yang masukin barang barang kamu!" ucap Adit yang diikuti anggukan kepala Ana.


Anapun masuk ke dalam mobil, sedangkan Adit membawa barang barang Ana untuk ia masukkan ke dalam bagasi mobil.


"Apa semua yang penting udah ada di sini?" tanya Adit sambil menunjuk koper dan tas besar milik Ana.


"Udah," jawab Ana.


"Oke, aku akan minta seseorang buat beresin rumah kamu!"


"Makasih Dit!"


Adit hanya tersenyum dan membelai rambut Ana.


Merekapun segera meninggalkan rumah itu, menuju ke sebuah perumahan yang cukup sepi, tempat Ana akan tinggal.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah gerbang yang tertutup rapat, membuat tak seorangpun bisa melihat apa yang ada dibalik gerbang itu.


Seorang satpam lalu membuka pintu gerbang, membiarkan Adit membawa mobilnya masuk.


Tampak halaman kecil dengan bunga bunga dan kolam ikan serta lampu berwarna warni yang membuatnya semakin indah.


Adit lalu mengajak Ana untuk turun dan memasuki rumah dengan satu lantai yang cukup luas itu.


Saat mereka baru saja masuk, 2 orang perempuan dan 2 orang laki laki menyambut mereka.


"Mereka yang akan nemenin kamu di sini," ucap Adit.


"Ada Bu Desi dan Lisa, anaknya, mereka yang akan menyiapkan semua kebutuhan kamu, ada Pak Candra, satpam di rumah ini, ada Pak Agus yang jadi supir pribadi kamu, sekedar buat berjaga jaga kalau aku nggak bisa anterin kamu karena masih kerja," jelas Adit memperkenalkan semua pegawai di rumah itu.


"Salam kenal mbak Ana, semua kebutuhan mbak Ana saya dan Lisa yang akan siapkan, mbak Ana tinggal memberi perintah saja," ucap Bu Desi.


"Terima kasih bu," balas Ana.


"Saya juga siap 24 jam buat antar mbak Ana kemana mana, saya juga bisa ngurus tanaman dan kolam mbak," ucap Agus penuh semangat.


"Makasih pak," balas Ana.


"Saya pastiin nggak ada seorang pun yang bisa masuk rumah ini tanpa izin pak Adit dan mbak Ana," ucap Candra.


"Makasih pak," balas Ana.


"Sudah cukup sesi perkenalannya, silakan kembali ke tempat kalian dan Pak Agus, tolong bawa masuk barang barang Ana yang ada di mobil ya!" ucap Adit.


"Baik pak!"


Adit lalu membawa Ana masuk ke kamar utama. Kamar yang cukup luas bagi Ana.


"Kamu suka?" tanya Adit.


"Suka, tapi kamu berlebihan Dit," jawab Ana.


"Enggak An, aku nggak beliin kamu istana mewah, cuma rumah kecil dengan tiga kamar tidur, aku sengaja nggak pilih rumah dua lantai karena aku nggak mau kamu naik turun tangga, aku juga sengaja cari rumah di daerah sini karena lingkungannya yang masih sepi, tapi kamu tenang aja, di sini aman!"


"Apa ini nggak berlebihan?"


"Sama sekali enggak, kamu bisa hubungin aku kalau ada sesuatu yang harus kamu beli, lemari, meja atau apapun!"


"Ini semua udah lebih dari cukup Dit, makasih" balas Ana.


"Sama satu lagi, kamu pegang ini, buat kebutuhan kamu, buat beli apapun yang kamu mau," ucap Adit sambil memberikan sebuah kartu kredit pada Ana.


"Ini atas namaku, kamu jangan khawatir," lanjut Adit.


"Aku masih ada uang simpenan Dit, aku bisa kerja dari rumah juga kok, sekedar jadi freelancer kan nggak butuh banyak tenaga," ucap Ana.


"Nggak papa, kamu pegang aja, hubungin aku kalau kamu butuh apa apa, oke?"


Ana mengangguk pelan lalu memeluk Adit.


"Makasih Dit, makasih banget!" ucap Ana.


"Aku cuma mau kamu bahagia An dan cuma ini yang bisa aku lakuin buat kamu," ucap Adit.


Adit lalu melepaskan Ana dari pelukannya dan membelai rambut Ana.


"Dit, apa mereka semua tau keadaan ku?" tanya Ana khawatir.


"Kamu tenang aja, mereka semua udah tanda tangan kontrak perjanjian sama aku, mereka tau semua tentang kamu tapi mereka nggak akan permasalahin hal itu, mereka orang orang yang baik An, kamu tenang aja!" jawab Adit yang diikuti anggukan kepala Ana.


"Aku harus pulang An, kamu istirahat ya, jaga kesehatan kamu!" ucap Adit lalu mencium kening Ana.


"Hati hati Dit!" balas Ana yang dibalas senyum oleh Adit.


Adit lalu meninggalkan rumah itu. Dalam hatinya ia merasa lega karena Ana sudah berada di tempat yang aman.


Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Siapkan bukti buktinya dan segera kirim ke email saya!" ucap Adit.


"Baik pak!"


Klik. Sambungan berakhir.

__ADS_1


"Deva, kamu akan menyesal!" ucap Adit dalam hati.


Meski ia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal buruk pada Deva, tapi ia tidak akan tinggal diam. Ia harus memastikan jika Deva tidak akan bisa lagi menemui Ana, apapun yang terjadi.


__ADS_2