
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini dan Adit masih berada di ruangan mereka masing masing karena pekerjaan yang belum terselesaikan.
1 jam berlalu, Dini lalu masuk ke ruangan Adit dengan membawa hasil pekerjaan nya.
"Ini kak, udah selesai," ucap Dini sambil memberikan hasil kerjanya pada Adit.
"Bagus, kamu pulang aja dulu, udah sore!"
"Kak Adit belum selesai? ada yang bisa Dini bantu?"
"Bentar lagi kakak selesai, kamu pulang dulu aja!"
"Oke, Dini duluan ya kak!"
"Iya hati hati."
Dini lalu kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang.
Saat ia berada di lift, ia ingat ucapan Andi padanya setelah jam makan siang tadi.
"aku tunggu kamu di sini Din!"
Perlahan lift membawa Dini turun ke lobby. Dini berjalan pelan dengan harapan Andi sudah tidak ada di sana.
"Andi pasti udah pulang kan?" tanya Dini dalam hati.
Saat melewati meja resepsionis, matanya melihat ke sekelilingnya dan tidak mendapati Andi di sana. Ia lalu keluar dan baru saja kakinya keluar dari pintu utama, Andi berjalan menghampirinya.
"kenapa kamu masih ada di sini? kenapa kamu nungguin aku? liat kamu kayak gini cuma bikin aku semakin kecewa sama kamu Ndi!" ucap Dini dalam hati dengan melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Andi.
Andi lalu berjalan di samping Dini tanpa berbicara apapun sampai mereka sampai di halte.
"Kasih tau aku apa yang sebenarnya terjadi antara kamu sama Anita Din, biar aku tau masalah yang sebenarnya," ucap Andi pelan karena tidak ingin menarik perhatian orang di sekitar mereka.
Dini hanya diam, matanya menatap ke arah jalan raya seolah tak ada Andi di sampingnya.
Tak lama kemudian bus berhenti di hadapan mereka, Dini lalu segera masuk ke dalam bus. Sedangkan Andi ragu untuk mengikuti Dini.
Ada sebuah ketakutan yang ia rasakan saat ia melihat bus itu mendekat. Kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawanya membuatnya menyimpan sedikit trauma dalam dirinya.
Namun sebelum bus kembali berjalan, Andi segera berlari dan masuk ke dalamnya lalu mencari keberadaan Dini.
Jantungnya berdegup kencang, dadanya bergemuruh. Ia berusaha untuk bisa menguasai keadaan dan menghilangkan ketakutannya.
Andi lalu segera memegang tangan Dini, saat ia menemukan keberadaan Dini.
__ADS_1
Dengan cepat Dini menoleh ke arah Andi saat ia menyadari tangan Andi yang basah oleh keringat dingin.
"Kamu kenapa?" tanya Dini yang tiba tiba khawatir, terlebih saat ia melihat raut wajah Andi yang tampak tegang dan takut.
"Aku... aku...."
Andi tidak dapat melanjutkan kata katanya, lidahnya terasa kelu. Ia menggenggam tangan Dini dengan kuat sampai Dini bisa merasakan getaran dari tangan Andi yang menggenggamnya.
Dini lalu menggenggam tangan Andi dan membawanya melangkah perlahan untuk meminta sang supir menghentikan busnya.
Akhirnya merekapun turun. Andi lalu berjongkok di trotoar dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia memejamkan matanya berusaha menghilangkan rasa takut yang mengganggunya saat itu.
"Andi, kamu kenapa Ndi?" tanya Dini yang saat itu ikut berjongkok di depan Andi.
Andi tak menjawab, ia masih menundukkan kepalanya dengan memegang kepalanya.
"apa karena kecelakaan itu?" tanya Dini dalam hati.
Dini lalu mendekat dan membawa Andi ke dalam dekapannya. Ia tidak peduli pada orang lain yang menilainya buruk saat itu. Ia hanya tidak ingin Andi merasakan ketakutan karena traumanya.
"Tenangin diri kamu Ndi, ada aku di sini," ucap Dini dengan mengusap punggung Andi.
Andi masih terdiam. Ingatan akan terjadinya kecelakaan di malam itu terekam dengan jelas dalam ingatannya.
Teriakan histeris terdengar nyaring di telinganya. Sedangkan ia sendiri hanya bisa merintih menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Malam kelam itu seolah telah terikat dalam ingatannya. Semuanya tampak kembali nyata di hadapannya.
Dini merasa sekujur badan Andi terasa bergetar dalam pelukannya. Ia tidak mengerti apa yang bisa ia lakukan saat itu.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti dan seseorang menghampiri mereka.
"Ada apa Din?" tanya Adit yang sengaja menepikan mobilnya karena melihat Dini dan Andi yang tampak tidak baik baik saja di trotoar.
"Dini juga nggak tau kak, tadi Andi ikut Dini naik bus dan dia langsung kayak gini," jawab Dini menjelaskan.
"Kita bawa ke mobil," ucap Adit dengan membantu Andi berdiri.
Setelah berhasil membawa Andi masuk ke dalam mobil, Adit lalu memberikan air minum pada Andi.
Dini membantu Andi memegang botol air minum itu karena tangan Andi yang masih bergetar.
Sesekali Dini menghapus keringat dingin di kening dan tangan Andi. Ia sangat merasa bersalah karena sudah membuat Andi nekat menaiki bus hanya untuk berbicara padanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf," ucap Dini dengan menggenggam erat tangan Andi.
Andi hanya menatap Dini dengan raut wajah sendu lalu memeluknya. Setidaknya ia sudah lebih bisa mengendalikan perasaan takutnya saat itu.
"Kita bicarain semuanya besok, aku nggak akan menghindar lagi dari kamu," ucap Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan Dini.
"Kita ketemu psikiater dulu, kamu mau ikut Din?" ucap Adit sekaligus bertanya pada Dini.
"Dini ikut kak," jawab Dini.
"Enggak, kita langsung pulang aja," sahut Andi.
"Lo harus ketemu psikiater Ndi, lo....."
"Gue nggak papa, gue cuma.... gue butuh istirahat," ucap Andi.
"Kamu yakin?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Kita bisa ketemu psikiater nya lain kali kan kak? Andi udah nungguin Dini dari tadi di kantor, dia mungkin kecape'an," ucap Dini pada Adit.
"Oke," balas Adit singkat lalu mengarahkan mobilnya pulang ke rumah.
"Tolong jangan cerita sama mama soal kejadian tadi kak, Din!" ucap Andi dengan membawa pandangannya pada Adit dan Dini.
"Asalkan lo nurut sama gue," balas Adit.
"Tenang aja, aku sama kak Adit nggak akan cerita sama mama Siska," ucap Dini.
Sesampainya di rumah, tidak ada mama Siska di sana. Dini lalu mengantarkan Andi masuk ke dalam kamar.
"Kamu harus istirahat, jangan mikirin yang aneh aneh," ucap Dini pada Andi.
"Din, aku nggak mau ketemu psikiater," ucap Andi.
"Kenapa? kamu nggak mau terus terusan kayak gini kan?"
"Aku mau ketemu psikiater, kalau kamu juga mau," jawab Andi.
"Aku? aku baik baik aja, aku....."
"Din, seperti yang kamu bilang, semua orang punya ketakutannya masing masing, tapi kalau itu sampai mengganggu kehidupan sehari hari bahkan mengganggu kesehatan mental kita, kita harus ke psikiater," ucap Andi.
"Aku nggak butuh psikiater Ndi, aku baik baik aja," ucap Dini.
__ADS_1
"Aku tau kamu baik baik aja sekarang, tapi kalau hujan datang lagi, apa kamu yakin kamu akan baik baik aja?"
Dini hanya diam. Ia tau apa yang Andi pikirkan terhadapnya, namun ia juga tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan Andi terhadap nya.