Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Keraguan


__ADS_3

Waktu berlalu, hari berganti. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Dini sedang berada di halte untuk menunggu bus.


Saat sedang duduk di halte, Dini melihat seorang laki laki berlari dengan membawa tas ransel perempuan, sedangkan dibelakangnya beberapa orang tampak sedang mengejarnya sambil berteriak maling.


Dinipun segera berdiri dari duduknya dan menjegal laki laki yang berlari di hadapannya. Laki laki itupun terjatuh, saat Dini hendak menarik tas yang di bawa maling itu, tiba tiba sebuah pisau mengarah ke arah Dini dan tanpa bisa menghindar pisau itu melukai tangan Dini.


Maling itupun segera bangkit dan berlari saat Dini meringis kesakitan memegangi tangannya yang terluka.


Tiba tiba seorang laki laki dari arah lain berlari ke arahnya.


"Mbak Dini terluka?" tanya si laki laki itu.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan menahan sakit di tangannya.


Laki laki itu lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan segera meminta Dini untuk masuk ke dalam taksi.


"Bapak siapa?" tanya Dini sebelum Dini masuk ke dalam taksi.


"Masuk aja dulu mbak, mbak Dini harus ke rumah sakit!" jawab si laki laki.


Tanpa banyak berpikir Dini segera masuk ke dalam taksi. Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa dan mengobati luka Dini.


Beruntung luka itu tidak terlalu dalam dan Dini bisa pulang setelah mendapatkan penanganan dari Dokter.


Saat Dini keluar dari ruangannya bersama Dokter, laki laki itu masih berada di depan ruang UGD untuk menanyakan keadaan Dini pada Dokter.


Setelah mendengarkan penjelasan Dokter, laki laki itu tampak bernapas lega.


Dini ingat, laki laki itu adalah seseorang yang sudah lama ia lihat. Laki laki dengan jaket hitam, topi dan masker yang selalu membuat Dini was was setiap ia berada di luar.


"Bapak sebenarnya siapa? kenapa bapak bantuin saya?" tanya Dini pada laki laki itu.


"Saya.... saya..... cuma kebetulan lewat," jawab si laki laki.


"Bapak jangan bohong, saya sering lihat bapak di mana mana dan bapak juga tau nama saya, tolong jawab jujur siapa bapak sebenarnya?"


"Saya hanya kebetulan lewat mbak, saya memang bekerja di daerah situ dan....."


"Stop pak, hentikan kebohongan bapak atau saya akan laporkan bapak ke polisi!" ucap Dini tegas.


"Atas dasar apa mbak Dini laporin saya ke polisi? saya tidak melakukan apa apa yang merugikan mbak Dini!"


Dini tersenyum kecil lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan beberapa foto pada si laki laki itu.


"Foto foto ini udah cukup buat jadi bukti kalau bapak yang teror saya selama ini, berbulan bulan saya cuma diam dan berusaha buat nggak menghiraukan bapak, tapi kalau bapak nggak mau jujur sama saya, terpaksa saya akan laporin bapak ke kantor polisi!" ucap Dini lalu pergi begitu saja.


"Tunggu mbak, tolong jangan lakukan itu, kita bisa bicarakan semuanya baik baik," ucap laki laki itu.


Dini menganggukkan kepalanya lalu mengajak laki laki itu duduk di bangku yang ada di depan rumah sakit.


"Siapa bapak sebenarnya? apa tujuan bapak ikutin saya selama ini?"


"Sebenarnya saya nggak ikutin mbak Dini, saya cuma ditugaskan buat jagain mbak Dini di area kantor tempat kerja mbak Dini," jawab si laki laki.


"Tapi saya pernah liat bapak dimana mana, di rumah saya, di home store teman saya di manapun saya berada bapak selalu ada di sana!"


"Itu bukan saya mbak, kita punya tugas dan wilayah masing masing buat jagain mbak Dini," ucap si laki laki yang membuat Dini bingung.


"Kita? maksud bapak?"


"Saya nggak bisa cerita lebih jauh mbak, tapi yang pasti saya nggak punya niat buruk sama mbak Dini, saya cuma ditugaskan buat jagain mbak Dini diam diam," jawab si laki laki.


"Siapa yang nyuruh bapak?"


Laki laki itu diam beberapa saat sebelum menjawab. Ia ragu namun ia juga tidak ingin Dini melaporkannya ke polisi.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Dimas. Dini lalu menerima panggilan Dimas.


"Halo Di....."


"Halo sayang, kamu dimana sekarang? kamu baik baik aja kan?" tanya Dimas yang terdengar panik.


Dini mengernyitkan dahinya mendengar kepanikan Dimas yang tiba tiba. Ia lalu membawa pandangannya pada laki laki di sampingnya dan menunjukkan layar ponselnya yang bertuliskan nama Dimas pada laki laki itu.


Laki laki itu hanya menganggukkan kepalanya lemah tanpa sepatah katapun.


Dini tersenyum tipis lalu mengakhiri panggilan Dimas dan menonaktifkan ponselnya. Dini hanya diam menunggu dan tak lama kemudian ponsel laki laki itu berdering.


Laki laki itu mengambil ponselnya dan menunjukkan pada Dini sebuah panggilan dari seseorang yang dinamainya Bos

__ADS_1


"Bapak angkat aja pake loudspeaker" ucap Dini pada laki laki itu.


Laki laki itu lalu menerima panggilan Dimas dengan mode loudspeaker sesuai permintaan Dini.


"Ha... halo mas," ucap si laki laki itu ragu.


"Bapak dimana sekarang? gimana keadaan Andini?"


Deg. Dini sangat mengenal suara itu. Suara laki laki yang dicintainya terdengar jelas di ponsel laki laki di sampingnya.


"Mbak Dini baik baik aja mas, sekarang masih di rumah sakit," jawab laki laki itu.


"Apa bapak ada di dekatnya sekarang? saya nggak bisa hubungin dia dari tadi!"


"Maaf mas saya di luar rumah sakit, mungkin hpnya mbak Dini lowbatt," jawab si laki laki beralasan.


"Tapi dia baik baik aja kan? lukanya nggak parah kan?"


"Iya mas, mbak Dini baik baik saja, Dokter bilang lukanya akan cepat sembuh beberapa hari lagi."


"Ya udah tetap jaga jarak bapak sama Dini, jangan sampai Dini curiga dan selalu pastikan kalau Dini akan baik baik saja!"


"Baik mas."


Panggilan berakhir. Laki laki itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.


"Sejak kapan bapak kerja sama Dimas?" tanya Dini dengan pandangan kosong ke arah depan.


Ia tidak menyangka jika Dimas melakukan hal sejauh itu untuk memantau dirinya. Ia merasa jika kepercayaan yang ia berikan pada Dimas hanya sia sia belaka karena Dimas tidak bisa membalas kepercayaan yang sudah ia berikan.


"Saya sudah bekerja dengan pak Tama lebih dari 10 tahun mbak dan baru 1 tahun belakangan saya bekerja dengan mas Dimas," jawab si laki laki.


"Siapa nama bapak?"


"Nama saya Yusman, saya tinggal di daerah X," jawab pak Yusman.


"Kenapa bapak mau bekerja seperti ini? bapak tau apa yang bapak lakukan itu menganggu privasi saya?"


"Saya minta maaf mbak, pekerjaan apapun akan saya lakukan demi menghidupi 2 anak kembar saya, saya hanya menjalankan perintah mas Dimas mbak."


Dini menghela napasnya dan tersenyum tipis.


"Mas Dimas akan sangat marah sama saya kalau mas Dimas tau hal ini, tolong mbak Dini jangan lakukan ini mbak!"


"Saya punya kehidupan saya sendiri pak dan apa yang bapak dan teman teman bapak lakukan itu menganggu saya, saya akan bicarakan hal ini sama Dimas, bapak bisa temui saya lagi kalau Dimas melakukan hal yang buruk sama bapak!" ucap Dini tegas.


"Tapi mbak....."


"Saya mohon pak," ucap Dini dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Mas Dimas melakukan hal ini karena mas Dimas mau menjaga mbak Dini, bukan untuk maksud lain, saya......"


"Bapak silakan pergi, terima kasih sudah menolong saya!" ucap Dini lalu beranjak dari duduknya dan menatap nanar ke arah depan.


Pak Yusman lalu melangkah pergi dan meninggalkan rumah sakit. Sedangkan Dini kembali duduk dan menutup kedua matanya dengan tangannya lalu menangis.


Hatinya terasa sakit saat ia mengetahui apa yang diam diam Dimas lakukan padanya. Ia tidak menyangka jika Dimas bisa melakukan hal itu dengan dalih ingin menjaganya.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di taman untuk menunggu seseorang yang memberinya surat.


Sudah hampir satu jam ia berada di sana, namun tak ada tanda tanda seseorang yang ia kenal di sana.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Dini. Andi lalu menerima panggilan Dini.


"Halo Din!"


Hening, tak ada suara apapun. Tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang tengah terisak.


"Halo Din, kamu kenapa? kamu dimana sekarang?" tanya Andi khawatir.


Masih tak ada jawaban, hanya ada suara isak tangis Dini yang tidak mampu mengucapkan sepatah katapun saat itu.


"Kamu dimana Din? kasih tau aku biar aku bisa kesana sekarang!"


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


Panggilan berakhir lalu ada pesan masuk ke ponsel Andi.

__ADS_1


Aku di rumah sakit X


Tanpa banyak bertanya lagi Andi segera meninggalkan taman dan mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit X.


Sesampainya di sana, ia segera berlari masuk untuk menanyakan keberadaan Dini. Namun belum sampai Andi bertanya, Dini datang dan menarik tangan Andi.


"Dini, kamu baik baik aja kan? apa yang terjadi Din? kamu kenapa?" tanya Andi khawatir.


Dini hanya diam dengan menarik tangan Andi agar membawanya ke dalam mobil.


Dini segera memeluk Andi dan menangis dalam pelukan Andi saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ia benar benar kecewa pada sikap Dimas, ia takut pernikahannya tidak akan berjalan dengan baik jika Dimas tidak bisa memberinya kepercayaan seperti dirinya mempercayai Dimas.


Tiba tiba Dini merintih karena tanpa sengaja Andi menyentuh luka di tangannya.


"Kamu terluka? kenapa? apa yang sebenarnya terjadi Din?"


Dini hanya diam dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Dokter udah periksa luka kamu? udah diobatin?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Andi lalu kembali merengkuh Dini ke dalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Dini.


"Aku bawa kamu ke rumah ya, mama sama kak Adit lagi nggak di rumah, kamu bisa cerita semuanya sama aku di rumah nanti!" ucap Andi dengan membelai rambut Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


Andi lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Sesampainya di sana, Andi membawa Dini masuk ke dalam kamarnya.


Andi mendudukkan Dini di tepi ranjangnya dan mendekap Dini penuh kehangatan.


Ia hanya diam membiarkan Dini menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Dimas jahat Ndi," ucap Dini dengan terisak.


"Apa yang udah Dimas lakuin sampe kamu bilang kayak gitu?" tanya Andi.


Dinipun menceritakan pertemuannya dengan pak Yusman dan menjelaskan apa yang Dimas lakukan padanya secara diam diam selama ini.


Andi yang mendengar hal itupun tidak bisa percaya atas apa yang Dimas lakukan.


"gue percaya sama Andini, gue percaya sama lo dan gue percaya sama persahabatan kalian,"


Ucapan Dimas kembali terngiang di telinga Andi yang membuat Andi semakin sulit menerima kenyataan yang Dini jelaskan padanya.


Tentu saja ia mempercayai Dini, namun ia juga tidak bisa menyalahkan Dimas sepenuhnya sebelum ia mendengar penjelasan dari Dimas.


"Kamu harus ketemu sama Dimas dan minta dia buat jelasin semuanya Din," ucap Andi pada Dini.


"Apa lagi yang mau dia jelasin Ndi? semuanya udah jelas, dia nggak pernah bisa percaya sama aku makanya dia minta orang buat ikutin aku kemanapun aku pergi!" balas Dini dengan terisak.


Andi hanya diam, ia memang tidak bisa lagi membela Dimas di depan Dini tapi ia tetap berusaha memikirkan hal hal positif dibalik apa yang Dimas lakukan pada Dini.


"Kita belum menikah dan Dimas udah ngelakuin itu Ndi, gimana nanti kalau kita udah menikah? apa lagi yang akan dia lakuin? kurung aku di rumah?"


"Aku yakin Dimas nggak punya niat buruk sama kamu Din, aku tau dia cinta sama kamu dan....."


"Cinta atau obsesi? dengan minta orang buat ngikutin aku kemanapun? apa menurut kamu itu hal wajar yang dilakukan untuk orang yang dicintai?"


Andi kembali terdiam, ia takut semakin memperburuk keadaan jika ia berbicara.


"Aku cinta sama dia Ndi, itu kenapa aku mau menikah sama dia dan aku bertahan sejauh ini sama dia, banyak hal buruk yang udah kita lalui dan aku udah kasih dia kepercayaan sepenuhnya tapi dia malah ngelakuin hal ini sama aku!"


"Aku tau kamu kecewa Din, aku juga kecewa kalau emang Dimas belum bisa percaya sama kamu, tapi....."


"Stop belain dia Ndi, jangan belain dia lagi di depanku!" ucap Dini dengan rasa sesak di dadanya.


Andi kembali diam dan membawa Dini dalam dekapannya. Dalam hatinya ia menyesalkan pemikirannya yang sempat ingin pergi ke luar negeri untuk meninggalkan Dini.


Jika saja ia sudah pergi, siapa yang akan memeluk Dini saat itu? siapa yang akan menjadi tempat Dini mencurahkan sakit hatinya? siapa yang akan memberinya kekuatan saat Dini merasa jatuh dan kecewa?


"Sikap Dimas bikin aku ragu Ndi, aku nggak tau apa keputusan aku itu tepat atau enggak!" ucap Dini dalam pelukan Andi.


"Keputusan apa yang kamu maksud Din?" tanya Andi dengan membelai rambut Dini.


"Menikah sama Dimas," jawab Dini dengan suara yang terdengar begitu dingin.


"Kamu ragu sama pernikahan kamu yang tinggal sebentar lagi?"


"Aku cinta sama Dimas Ndi, tapi apa dia beneran cinta sama aku atau cuma mau milikin aku?" tanya Dini dengan suara bergetar.


Air matanya kembali luruh membayangkan pernikahan impiannya yang sudah di depan mata hancur karena sikap Dimas padanya.

__ADS_1


__ADS_2