Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Disini atau Pergi


__ADS_3

Malam itu Adit masih berada di rumah Ana. Ia hanya diam memandangi wanitanya yang tampak tersipu malu di hadapannya.


"Hilangin pikiran kotor kamu itu, perempuan mesum," ucap Adit dengan mengetuk-ngetuk kening Ana dengan jari telunjuk nya.


"Apaan sih!" balas Ana dengan menyingkirkan tangan Adit dari keningnya.


"Kamu mikirin apa? kamu pikir aku mau ngapain?" tanya Adit yang membuat Ana semakin salah tingkah karena malu.


Ana lalu mengambil bantal di sampingnya dan menutup wajahnya dengan bantal.


Adit hanya terkekeh melihat sikap Ana lalu membaringkan dirinya di samping Ana.


"Aku nggak akan ngelakuin itu sebelum kita menikah, aku janji," ucap Adit.


"Kamu terlalu banyak janji," balas Ana yang masih menutup wajahnya dengan bantal.


Adit lalu menarik bantal itu dari wajah Ana dan mendaratkan kecupannya tepat di bibir Ana, kecupan singkat yang mampu membuat jantung Ana berdegup kencang.


Adit lalu tersenyum dan mencium kening Ana, membawa Ana ke dalam dekapannya.


**


Waktu berlalu, hari berganti tanpa berhenti. Selama beberapa hari Andi dan Dini masih saling diam.


Dini bahkan memblokir kontak Andi dari ponselnya. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya agar bisa lebih berpikir jernih tentang dirinya sendiri, Andi dan juga Anita.


Ia berusaha untuk memposisikan dirinya sebagai teman, sebatas sahabat yang kebetulan mengenal Andi dari kecil. Ia tidak ingin melibatkan perasaannya terlalu jauh karena itu akan semakin membuatnya kecewa.


Meski begitu, selama itu pula ia tidak bisa berhenti memikirkan Andi. Bagaimanapun juga Andi adalah satu satunya laki laki yang selalu menemaninya sejak kecil. Laki laki yang selalu ada di sampingnya dan memeluknya saat ia bersedih.


Namun waktu telah mengubah segalanya. Persahabatan yang selalu mereka sebut nyatanya memberikan kekecewaan yang dalam di hatinya, menyisakan goresan yang menyakitkan baginya.


"kita ini apa Ndi? seperti apa hubungan yang kita sebut sahabat sebenarnya? apa arti kata sahabat yang selama ini kita jalani?" batin Dini bertanya tanya.


Di sisi lain, Andi masih berusaha menghubungi Dini, mencari Dini dan menemui Dini meski selalu gagal.


Hingga akhirnya ia berhenti, bukan karena ia sudah tidak peduli, melainkan memberi waktu pada Dini juga pada dirinya untuk bisa berpikir lebih jernih sebelum akhirnya kembali bertemu dan menyelesaikan masalah mereka.


"kasih dia waktu Ndi, dia butuh waktu buat mikirin semuanya, dia sendiri bingung sama apa yang dia lakuin, dia ragu sama apa yang dia ucapin, lo juga butuh waktu buat tenangin diri lo, memikirkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda itu akan memberikan hasil yang berbeda juga, inget itu!"


Ucapan Adit padanya membuat Andi akhirnya memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi antara Dini dan Anita.


Ia menyesali sikapnya yang seolah olah memihak Anita dan lebih percaya pada Anita. Namun jika ia boleh jujur, ia sama sekali tidak memihak siapapun.


Ia hanya tidak ingin sikap Dini membuat Anita mengurungkan niatnya untuk berubah menjadi lebih baik. Ia juga ingin kembali berteman seperti yang Anita harapkan dan apa yang Dini lakukan bisa membuat harapan itu menjadi sebuah hal yang mustahil untuk bisa diwujudkan.


"maafin aku Din, maaf karena sikapku yang mengecewakan kamu, maaf karena udah menggoreskan luka di persahabatan kita, maafin aku," batin Andi dalam hati.


**


Hari itu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini dan Adit sudah bergegas untuk meninggalkan kantor.

__ADS_1


"Din, inget ya kakak mau liburan sampai hari Minggu, jadi kakak nggak mau ada telfon tentang pekerjaan, oke?" ucap Adit pada Dini saat mereka berada di lift.


"Dini juga mau liburan kak, Dini nggak mau diganggu sama pekerjaan sampe Dini masuk kerja hari Senin!"


"Oke, mau kakak anter pulang?"


"Enggak, Dini......"


Dini menghentikan ucapannya saat ia melihat Andi di lobby.


"Iya, kak Adit bisa anter Dini pulang kan?"


"Bisa dong, kakak ambil mobil dulu," balas Adit yang tidak menyadari kedatangan Andi di sana.


Dini yang sedang menunggu kedatangan Adit lalu dihampiri oleh Andi.


"Din, mau sampe kapan kita kayak gini?" tanya Andi pada Dini.


Dini hanya diam mengabaikan Andi. Tak lama kemudian mobil Adit berhenti di depan Dini, Dinipun segera masuk ke dalam mobil Adit, meninggalkan Andi begitu saja.


"Kalian masih belum baikan?" tanya Adit.


"Kak Adit sendiri yang bilang Dini harus tenangin diri dulu," jawab Dini.


"Tapi....."


"Kak, please, jangan dibahas lagi!"


Dini hanya diam, ia mendengarkan ucapan Adit namun memilih untuk diam dan tidak menanggapinya.


Setelah mengantarkan Dini sampai di rumahnya, Aditpun segera pulang untuk bersiap menjemput Ana.


Sedangkan Dini segera bersiap untuk menunggu kedatangan Dimas. Ia sudah meminta izin pada ibunya untuk berlibur dengan Dimas selama beberapa hari di Singapura dan sang ibu mengizinkannya.


Waktu berlalu, sinar mentari telah pergi bersama senja di ujung barat langit sore.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Adit.


"Halo kak, ada apa lagi, Dini nggak nerima perintah hari ini sampe....."


"Andi di rumah sakit," ucap Adit yang membuat Dini seketika menghentikan ucapannya.


"Kak Adit jangan bercanda, nggak lucu!"


"Kakak serius Din, kakak lagi di bandara sekarang, bentar lagi pesawat kakak take off, kamu bisa ke rumah sakit buat liat keadaannya kan?"


"Di rumah sakit mana kak?"


"Di rumah sakit X, kakak......"

__ADS_1


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Sambungan terputus karena Dini segera mematikan sambungan ponselnya dan segera memesan taksi menuju ke rumah sakit X.


Selama perjalanan Dini hanya bisa berdo'a agar keadaan Andi baik baik saja. Entah kenapa matanya yang berkaca kaca meluruhkan air matanya begitu saja.


Sesampainya Dini di rumah sakit X, ia segera mencari ruangan Andi. Di depan ruangan VIP itu sudah ada pak Lukman yang duduk seorang diri.


"Pak Lukman, gimana keadaan Andi pak?" tanya Dini.


"Mbak Dini masuk aja, ibu juga ada di dalam," jawab pak Lukman.


Dinipun masuk dan melihat Andi yang duduk di ranjang rumah sakit.


"Dini, kamu tau aku di sini?" tanya Andi yang terkejut dengan kedatangan Dini.


"Kak Adit yang kasih tau aku, kamu kenapa? apa yang terjadi?"


"Aku baik baik aja kok, cuma jatuh dari tangga, mama aja yang khawatir banget sampe dipaksa ke rumah sakit," jawab Andi.


Dini menghembuskan napasnya lega karena tidak ada luka yang serius pada Andi.


Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Sayang, 5 menit lagi aku nyampe'!" ucap Dimas.


"Aku.... aku di rumah sakit X Dimas, Andi lagi di rawat di sini sekarang," balas Dini.


"Aku ke sana sekarang, kamu tunggu aku!"


"Oke."


Tak lama kemudian Dimas datang.


"Malem tante," sapa Dimas pada mama Siska yang dibalas anggukan kepala mama Siska.


"Lo kenapa Ndi?" tanya Dimas pada Andi.


"Nggak papa, cuma jatuh doang!" jawab Andi.


"Tapi lo nggak papa kan? nggak ada yang patah kan?" tanya Dimas dengan memukul pelan kaki Andi.


"Nggak ada, gue baik baik aja!" jawab Andi.


"Syukurlah kalau gitu," balas Dimas lega.


"Sayang, kita punya waktu satu jam sebelum pesawatnya take off, 30 menit perjalanan buat sampe di bandara, kamu mau tetep di sini atau kita berangkat sekarang?" tanya Dimas pada Dini.


Dini diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dimas, ia membawa pandangannya pada Andi yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2