Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Backstreet


__ADS_3

Setelah ibunya kembali tertidur, Dini keluar dari ruangan sang ibu. Ia melihat Dimas yang masih duduk di tempatnya.


"Aku udah minta perawat buat jagain ibu kamu sayang, biar kamu bisa istirahat di rumah," ucap Dimas pada Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya tanpa berucap.


"Aku anter kamu pulang ya, nanti sore kita kesini lagi," ucap Dimas.


Dini mengangguk, mereka lalu meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan pulang, Dini hanya diam dengan pandangan kosong. Ia sangat ingin menangis saat itu, namun ia berusaha menahannya.


Sesampainya di rumah Dini segera turun dari mobil Dimas dan masuk ke rumahnya dengan diikuti Dimas.


"Gimana keadaan ibu kamu?" tanya Dimas ketika mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Udah membaik," jawab Dini dengan menundukkan kepalanya.


"Sayang, ada apa?" tanya Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Seketika Dini melepaskan tangannya dari genggaman Dimas dan memeluk Dimas dengan erat, menumpahkan semua tangis yang sudah ia tahan.


Dimas hanya diam dengan mengusap punggung Dini, berusaha menenangkan gadis yang dicintainya. Ia akan membiarkan Dini meluapkan semua kesedihannya terlebih dahulu agar ia bisa lebih tenang.


Setelah Dini lebih tenang, ia melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Dimas, aku......."


Dini menghentikan ucapannya, hatinya sakit dan menolak untuk meninggalkan Dimas.


"Ada apa sayang?"


"Aku.... aku setuju sama permintaan ibu," ucap Dini dengan air mata yang kembali tumpah membasahi pipinya.


Dimas menghembuskan napasnya pelan, lalu menarik Dini ke dalam dekapannya dan menghapus air mata Dini.


Melihat keadaan ibu Dini, Dimas tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk kemungkinan terburuk yang akan ia terima.


"Kita bisa selesaiin baik baik sayang, aku juga nggak bisa maksa ibu kamu buat cerita, tapi aku mohon sama kamu, jangan tinggalin aku, kita bisa jalanin semuanya tanpa ibu kamu tau kan?"


"Tapi semuanya akan beda Dimas," balas Dini.


"Aku tau, asalkan kita masih sama sama, aku nggak keberatan, aku mau tetep sama kamu sesusah apapun jalan yang akan kita hadapi nanti."


"Aku tetep harus keluar dari kantor Dimas, tapi aku nggak mungkin ceritain hal ini sama papa kan? aku nggak mau ibu semakin tertekan kalau papa sama mama dateng buat tanyain hal itu sama ibu."


"Minta waktu sama ibu kamu buat resign, aku akan coba cari alasan biar papa nggak curiga."


Dini menganggukkan kepalanya dan memeluk Dimas.


"Jalan kita akan kembali diuji sayang, kita pasti bisa lewatin semua ini, kamu percaya kan?"


"Iya, aku percaya," jawab Dini.


Dimas lalu mencium kening Dini dan melepaskan Dini dari pelukannya.


"Kamu istirahat dulu ya, nanti sore aku jemput kamu buat ke rumah sakit," ucap Dimas dengan membelai rambut gadisnya.


"Tapi...."


"Aku ajak Andi juga, aku akan nunggu di depan," ucap Dimas yang mengerti kekhawatiran Dini.

__ADS_1


"Kamu nggak papa?"


Dimas mengangguk.


"Aku nggak akan lepasin kamu semudah itu sayang, kamu tujuanku dan aku nggak akan berhenti berjuang buat kamu," ucap Dimas.


"Kamu istirahat ya!" lanjut Dimas.


"Temenin," balas Dini.


Dimas mengangguk dan tersenyum lalu mengikuti Dini ke kamarnya.


Dini berbaring di ranjangnya, sedangkan Dimas duduk di tepi ranjangnya. Tak sampai 10 menit, Dini sudah terlelap.


Dimas lalu melepaskan tangannya dari genggaman Dini dengan perlahan.


"Tidur yang nyenyak sayang, love you," ucap Dimas pelan dengan mencium kening Dini.


Dimas lalu keluar dari kamar Dini dan meninggalkan rumah Dini. Ia melajukan mobilnya ke arah tempat kerjanya.


Setelah ia sampai, ia segera masuk dan mendapati seseorang yang selalu dihindarinya.


"Dimas, kamu dari mana? aku dari tadi di sini nunggu kamu!"


"Ketemu klien mbak," jawab Dimas lalu segera masuk, namun Kintan segera menahan tangan Dimas yang membuat Dimas reflek menarik tangannya.


"Mbak ada perlu apa? ada Andi yang bisa bantu mbak!" ucap Dimas tegas lalu segera masuk ke ruang kerjanya.


Kintan yang selama ini hanya melihat sikap ramah dan manis Dimas hanya bisa diam melihat sikap Dimas yang sangat berbeda dengan yang biasa dia lihat.


"Maaf mbak, dia lagi ada masalah jadi agak sensitif," ucap Andi pada Kintan.


"Baik mbak."


"Aku mau balik dulu, bentar lagi jam istirahat ku habis," ucap Kintan lalu meninggalkan Andi.


Andi hanya mengangguk dan tersenyum lalu segera masuk menghampiri Dimas dengan membawa segelas air.


"Lo nggak papa? gimana keadaan ibu Dini?" tanya Andi dengan menyodorkan satu gelas air pada Dimas.


Dimas menerima air dari Andi dan meneguknya sekaligus hingga habis tak bersisa.


"Udah membaik," jawab Dimas.


"Dan lo yang nggak baik baik aja, ada apa?"


"Ndi, gue minta sama lo jagain Andini selagi gue nggak ada!"


"Tanpa lo minta gue udah ngelakuin itu Dim, ada apa sebenernya?"


"Dini setuju sama permintaan ibunya, gue nggak bisa nyalahin Andini, gue tau posisinya sangat sulit sekarang, tapi gue nggak mau Andini pergi gitu aja Ndi, jadi kita mutusin buat....."


"Backstreet?" terka Andi.


Dimas menganggukkan kepalanya.


"Sampai kapan Dim?"


"Sampai gue tau apa yang bikin ibunya kayak gini sama gue dan gue akan berusaha selesaiin semuanya tanpa harus ninggalin Andini," jawab Dimas.

__ADS_1


"Orangtua lo?"


"Gue nggak mau kasih tau mereka, biar mereka taunya semuanya baik baik aja."


Andi menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dimas.


"Gue cuma bisa bantu kalian semampu gue Dim, gue yakin kalian pasti bisa selesaiin semua ini," ucap Andi.


"Thanks Ndi!"


Andi lalu memberikan satu kotak makan siang pada Dimas.


"Makan dulu, lo belum makan siang kan?"


"Dari mbak Kintan?"


"Mbak Gita!"


"Namanya Kintan Ndi!"


"Namanya Gita, orang gue yang masukin identitas buat registrasi member!"


"Gita Kintana, orang orang panggilnya Kintan!"


"Kok lo tau banget sih, jangan jangan....."


PLAAAAKKK


Dimas memukul kepala Andi dengan map di hadapannya.


"Orang kok nethink mulu!" ucap Dimas sambil membuka laptop di hadapannya.


"Hahaha.... gue makan ya ini, gue belum makan siang!"


"Ambil, orangnya juga ambil!"


"Lo pikir barang, main ambil ambil aja!"


Andi lalu membuka kotak makanan di hadapannya dan mulai melahapnya.


"Pulang kerja ikut gue jenguk ibu Dini Ndi!"


"Sama Dini?"


Dimas mengangguk.


"Bertiga?"


"Lo sama Andini aja yang masuk, gue cuma nganterin," jawab Dimas dengan pandangan fokus ke arah laptop.


"Gue bisa naik bus sama Dini Dim kalau lo......"


"Jangan cari kesempatan deh!"


"Bukan gitu maksud gue, tapi ya udah deh gue nurut aja sama supir hahaha...."


"Sialan lo!"


"kenapa lo bisa sebegitu cintanya sama Dini Dim, setelah semua masalah yang datang bertubi tubi, lo bahkan nggak pernah berhenti buat perjuangin Dini," batin Andi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2