
Langit tampak gelap oleh hamparan hitam sang malam. Dini dan Andi masih menghabiskan waktu bersama.
Setelah pergi dari kafe, Andi mengendarai mobilnya ke arah mall terdekat karena Dini mengajaknya untuk menonton film yang belum selesai ia tonton bersama Dimas.
Sesampainya di mall, mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Mereka memang sudah terbiasa seperti itu sejak dulu, namun jika saat itu Dimas melihat mereka, sudah dipastikan mereka akan dengan kompak melepas tangan mereka yang bergandengan.
"Emang film apa sih Din?" tanya Andi saat mereka sudah berada di bioskop.
"Kamu tunggu aja, aku beli tiketnya," ucap Dini lalu membeli 2 tiket, sedangkan Andi pergi membeli popcorn dan minuman.
Mereka lalu menunggu di depan ruangan yang akan mereka tempati untuk menonton film yang sudah Dini pilih.
"Film horor ya?" tanya Andi pada Dini.
"Iya, yang lagi rame itu," jawab Dini.
"Kamu sama Dimas nonton ini kemarin?"
"Iya, kenapa?"
"Orang kalau pacaran nonton yang romantis, bukannya nonton yang horor," jawab Andi.
"Itu terlalu mainstream Ndi," balas Dini membela diri.
"Pasti kamu mau liat horor biar bisa sembunyi di balik lengan Dimas kan? kayak di film film romantis gitu, bener kan?"
"Aku bukan Anita," jawab Dini lalu berjalan mendahului Andi.
"Kok jadi bawa bawa Anita!"
"Apa yang kamu bilang tadi itu yang Anita lakuin sama Dimas, makanya aku nggak jadi liat film itu sampe selesai gara gara Dimas ngajak keluar!"
"Kok bisa ada Anita di samping Dimas?"
"Udah deh, jangan dibahas lagi!"
Mereka lalu masuk saat film akan segera diputar. Mereka duduk bersebelahan bersama para penonton lainnya.
30 menit berlalu, suasana menjadi semakin tegang karena suasana horor dari film yang sedang mereka tonton.
Sesekali Dini berjingkat kaget saat tiba tiba muncul sosok yang menyeramkan di layar besar di hadapan mereka. Meski begitu Dini masih sangat fokus pada film yang ditonton nya.
Andi hanya tersenyum tipis saat melihat Dini yang sama sekali tidak berpaling dari layar besar itu.
Setelah lebih dari satu jam, mereka akhirnya keluar dan membeli beberapa makanan ringan dan minuman di food court.
"Menurut kamu gimana filmnya tadi?" tanya Dini pada Andi.
"Bagus," jawab Andi singkat.
"Apanya yang bagus, kamu pasti tidur ya tadi?"
"aku terlalu fokus sama kamu Din, aku bahkan nggak perhatiin filmnya sama sekali, bisa ngabisin waktu berdua sama kamu kayak gini itu bikin aku bahagia banget," jawab Andi dalam hati.
"Hehe.... tau aja," jawab Andi berbohong.
"Huuuu, dasar!"
Setelah menghabiskan makanan dan minuman mereka, mereka lalu turun ke lantai bawah untuk sekedar berkeliling.
Sesekali Dini menarik tangan Andi, mengajaknya untuk melihat deretan boneka dan aksesoris perempuan. Namun tidak ada yang Dini beli, bahkan Dini menolak saat Andi akan membelikannya.
"Kamu sebenarnya pingin beli apa sih Din?" tanya Andi yang sedari tadi mengikuti Dini kemanapun Dini menarik tangannya.
"Nggak ada, aku cuma pingin liat liat aja," jawab Dini dengan senyum manisnya.
"Oke, aku akan diem dan ikut kemanapun kamu bawa aku," ucap Andi.
"aku cuma pingin ngabisin waktu sama kamu, rasanya udah lama banget nggak bisa sama sama kamu kayak gini," ucap Dini dalam hati.
Setelah puas berkeliling mall, Dini pun mengajak Andi untuk keluar dari mall.
"Sekarang kita pulang dan......"
"Kok pulang?" tanya Dini yang tampak keberatan.
"Udah malem Din, kamu juga harus istirahat," ucap Andi pada Dini.
"Tapi aku nggak mau pulang," ucap Dini.
"Kamu mau kemana lagi?"
"Kemana aja asal nggak pulang," jawab Dini.
Andi hanya tersenyum kecil lalu mengendarai mobilnya ke arah home store nya yang baru.
Mereka lalu masuk dan tampak beberapa barang yang sudah tertata rapi.
"Ini udah dipake belum sih gedungnya?" tanya Dini.
"Belum, mungkin Minggu depan udah bisa dipake'," jawab Andi.
"Di lantai dua ada apa aja?" tanya Dini pada Andi.
"Ada 2 kamar, kamar mandi dan balkon," jawab Andi.
"Aku boleh naik?"
"Boleh, tapi masih kosong, belum ada apa apa!"
__ADS_1
"Nggak masalah," jawab Dini lalu naik ke lantai dua.
Dini segera berjalan ke arah balkon. Sedangkan Andi memanaskan air di teko siul untuk membuatkan Dini minuman hangat.
Sembari menunggu air mendidih, Andi berjalan menghampiri Dini.
Saat Dini melangkah kakinya untuk mundur, tanpa sengaja kakinya menginjak balok kayu kecil, membuat nya hampir terjatuh jika Andi tidak segera menangkapnya.
Andi menahan Dini dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Dini, sedangkan Dini reflek mengalungkan tangannya di leher Andi.
Untuk sesaat mereka hanya diam dengan posisi seperti itu. Kedua pasang mata saling memandang dengan tatapan yang sulit di artikan namun bisa dirasakan oleh hati dengan jelas.
Degup jantung yang tiba tiba berdetak kencang membuat hati semakin meraba dengan jelas apa yang sebenarnya tengah bergemuruh di dalamnya.
Namun tiba tiba siulan teko membuyarkan pikiran mereka. Andi segera menarik Dini agar kembali berdiri tegak dan segera turun untuk mematikan kompor yang ada di dapur di lantai bawah.
Andi lalu membuat coklat hangat dan membawanya kembali naik ke lantai dua.
Di sana, Dini hanya diam dengan memandang deretan lampu jalan raya yang tampak tersusun rapi. Pikirannya melayang memikirkan apa yang baru saja terjadi meski ia berusaha untuk melupakan nya.
"Din, aku...."
PYAAARRR
Dini yang saat itu sedang melamun begitu terkejut dengan kedatangan Andi, hingga tanpa sadar tangannya menyenggol tangan Andi yang membawa minuman hangat.
Alhasil minuman itu tumpah dan mengenai tangan Andi.
"Andi, maaf aku nggak sengaja," ucap Dini yang segera menarik tangan Andi, namun Andi menghindar, ia tidak ingin tangannya yang panas membuat tangan Dini ikut merasa panas jika memegangnya.
"Kamu nggak papa kan? kena airnya nggak? kena gelasnya?" tanya Andi yang mengkhawatirkan Dini.
"Aku nggak papa, tapi tangan kamu...."
"Nggak papa, airnya nggak terlalu panas kok," ucap Andi sambil mengambil gelasnya yang tergeletak di lantai.
Beruntung gelas itu tidak pecah sehingga tidak melukai Dini ataupun Andi.
"Andi, maaf aku nggak sengaja, aku kaget tadi," ucap Dini yang merasa bersalah.
"Nggak papa Din, lagian juga nggak sakit kok," balas Andi.
Dini lalu menarik tangan Andi dan membasuhnya di wastafel yang ada di dekat mereka.
"Untung aja bukan air panas," ucap Dini yang masih membasuh tangan Andi di wastafel.
Dini lalu mengambil lotion dari tasnya dan mengoleskannya di tangan Andi.
"Mudah mudahan nggak luka," ucap Dini lalu mencium tangan Andi, membuat Andi seketika terdiam.
Andi seperti kehilangan nafasnya tiba tiba. Seluruh bagian tubuhnya seakan lumpuh dengan sendirinya saat Dini mencium tangannya.
"Sakit banget ya?" tanya Dini, namun Andi hanya diam menatap tangannya yang masih berada dalam genggaman Dini.
**
Di tempat lain, Dimas yang baru saja keluar dari kantor segera mengendarai mobilnya ke arah apartemen.
Sesampainya di sana, Dimas begitu terkejut saat melihat Anita duduk di depan pintu apartemen nya.
Mengetahui Dimas datang, Anita segera berdiri dan menunggu Dimas mendekat.
Dimas melangkahkan kakinya dengan malas dan membuka pintu apartemen nya tanpa mengindahkan Anita yang sudah lama menunggu nya.
"Aku mau bicara sama kamu Dimas," ucap Anita dengan menahan tangan Dimas saat Dimas akan masuk.
"Tolong jangan ganggu aku lagi Nit," balas Dimas dengan menarik tangannya dengan kasar.
Saat baru saja tangannya terlepas, Anita tiba tiba terjatuh dan pingsan di hadapan Dimas. Dengan spontan Dimas menahan tubuh Anita yang ambruk di hadapannya.
"Anita, kamu jangan bercanda Nit!" ucap Dimas dengan menepuk nepuk pipi Anita, namun tidak ada respon sama sekali.
Dimas lalu membopong Anita ke dalam dan membaringkan Anita di ranjangnya.
"Anita, please jangan kayak gini Nit," ucap Dimas yang masih berusaha membangunkan Anita.
Setelah beberapa lama menunggu, Anita mulai mengerjapkan matanya. Dimas yang duduk di kursi kamarnya segera menghampiri Anita, membantunya bangun dan memberinya minum.
"Kepala ku pusing banget Dimas," ucap Anita.
"Aku anter kamu ke tempat Dokter Dewi!" balas Dimas dengan menarik tangan Anita, namun Anita menolaknya.
"Mbak Dewi masih di rumah sakit, pulang besok pagi," ucap Anita.
"Kamu tau password apartemen Dokter Dewi kan?" tanya Dimas.
Anita hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dimas.
"Kamu hubungi Dokter Dewi sekarang, kamu tanya password......"
"Aku nggak bawa hp dan aku nggak hafal nomor mbak Dewi," ucap Anita memotong ucapan Dimas.
Dimas lalu mengacak acak rambutnya kasar dan menghempaskan dirinya di kursi.
"Maaf kalau aku ganggu kamu, aku cuma pingin ngobrol sama kamu Dimas, aku......"
"Stop Nit, aku nggak mau denger apa apa lagi dari kamu," ucap Dimas lalu keluar dari kamarnya.
Anita lalu turun dari ranjang dan mengikuti Dimas keluar dari kamar.
__ADS_1
"Aku mau minta maaf sama kamu Dimas, aku akan lakuin apa aja supaya kamu maafin aku," ucap Anita.
"Tolong jangan ganggu aku sama Andini lagi Nit, anggap kamu nggak pernah kenal aku, anggap aku nggak pernah ada di hidup kamu!"
"Apa kamu bisa ngelakuin itu sama Dini? apa kamu bisa bikin diri kamu berpikir kalau kamu nggak pernah kenal Dini? enggak kan? jadi jangan minta aku ngelakuin itu Dimas, mencintai kamu itu hal yang paling menyakitkan buat aku, mencintai seseorang yang nggak mencintai kita itu takdir yang buruk Dimas!"
"Kalau gitu berhenti mencintai seseorang yang nggak pernah bisa mencintai kamu Anita!"
"Sekali lagi aku tanya sama kamu, apa kamu bisa berhenti mencintai Dini? enggak, karena apa? karena cinta bukan sekedar kata kata yang dengan mudahnya diucapkan Dimas, kamu tau itu!"
Dimas hanya tersenyum kecil lalu kembali masuk ke kamarnya, mengambil laptop dan memasukkannya ke dalam tas kerja lalu berjalan ke arah pintu.
"Kamu mau kemana? kamu mau ninggalin aku di sini?" tanya Anita dengan menahan tangan Dimas.
"Kamu mau aku tinggalin di sini atau di luar?" balas Dimas bertanya dengan menarik tangannya.
"Dimas, aku......."
"Aku harap kamu udah keluar sebelum aku balik dan panggil pihak keamanan buat seret kamu keluar dari sini," ucap Dimas lalu keluar begitu saja meninggalkan Anita.
Saat baru saja memasuki lift, Dimas baru menyadari kesalahannya.
Ia memang sudah membawa laptop dan tas kerjanya, tapi ia lupa membawa dompet dan kunci mobilnya.
"aku nggak mungkin balik lagi, dia pasti masih di sana karena Dokter Dewi belum pulang," ucap Dimas dalam hati.
Dimas lalu memesan taksi dan menginap di hotel terdekat malam itu. Beruntung masih ada beberapa lembar uang di sakunya.
Setelah mendapatkan kamar di salah satu hotel, Dimas segera mandi dan merebahkan badannya di ranjang.
**
Pagi telah hadir, Dini sudah berada di tempat kerjanya dan fokus pada tumpukan pekerjaan yang menunggu untuk disentuh.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini segera menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang.
Dini berjalan ke arah lobby dan menghampiri Andi yang sudah menunggunya.
"Udah lama?" tanya Dini.
"Barusan, ayo!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kantor bersama Andi.
Saat sudah berada di dalam mobil, Dini memperhatikan tangan Andi.
"Tangan kamu luka karena kejadian semalem?" tanya Dini yang melihat tangan Andi tampak merah.
"Enggak kok, cuma merah aja," jawab Andi.
"Udah diobatin?"
"Nggak perlu Din, besok juga udah hilang," jawab Andi.
"Kita mampir ke apotek dulu, aku harus obatin tangan kamu," ucap Dini.
Andi lalu menepikan mobilnya di depan apotek, Dinipun segera keluar dan membeli obat untuk mengobati tangan Andi.
"Siniin tangan kamu!" ucap Dini saat ia sudah kembali ke dalam mobil.
Dini lalu mengoleskan krim obat di tangan Andi yang memerah karena terkena air panas semalam.
"Aku lebih suka obat yang semalem," ucap Andi dengan tersenyum.
"Obat semalem? emang semalem kamu obatin pake apa?" tanya Dini.
"Kan kamu yang obatin," jawab Andi dengan tersenyum malu.
Dini mengernyitkan dahinya dan segera memukul lengan Andi saat ia mengingat kejadian semalam, saat ia mencium tangan Andi.
"Aku reflek aja, biar kamu nggak ngerasa sakit," ucap Dini.
"Emang udah nggak sakit kok semalem," balas Andi.
Dini hanya tersenyum tipis lalu meminta Andi segera menjalankan mobilnya.
Sore itu mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Mereka berjalan jalan di taman, pergi ke mall dan menikmati sunset di tepi pantai.
Mereka sudah seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara saat itu.
Saat matahari sudah benar benar kembali ke peraduannya, saat goresan jingga sudah tertutup gelap malam, Andi dan Dini meninggalkan pantai.
"Kamu besok ada kegiatan?" tanya Andi.
"Mmmmm.... nggak ada sih, tapi kayaknya Dimas mau ke sini," jawab Dini.
Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dini.
Bersama hamparan gelap yang diterangi bulan dan gemerlap bintang, Andi mengantarkan Dini pulang ke rumahnya.
"Mau mampir?" tanya Dini saat mereka sudah keluar dari mobil.
"Lain kali aja, mama udah chat dari tadi," jawab Andi.
"Oke, anak mama emang harus pulang tepat waktu ya!" balas Dini menggoda Andi.
"Kalau bukan anak mama masak anak tetangga?" balas Andi yang diikuti tawa mereka berdua.
Saat mereka sedang tertawa, seseorang keluar dari dalam rumah Dini dan hanya diam memperhatikan Andi dan Dini.
__ADS_1
Seseorang itu tersenyum tipis lalu berjalan mendekat Andi dan Dini.