Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Melepaskan


__ADS_3

Waktu berlalu, Dokter akhirnya keluar dari ruang UGD. Dokter menjelaskan pada Dimas jika keadaan Dini akan segera membaik, namun Dokter sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungan Dini.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi janin dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan," ucap Dokter yang membuat Dimas dan Andi begitu terkejut.


Dimas menjatuhkan dirinya di kursi diikuti dengan Andi. Pedang tajam seperti menusuk hati dua laki laki itu dengan dalam.


Dimas menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Rasa kehilangan seolah telah melumpuhkannya, menjatuhkannya ke dalam jurang yang begitu dalam.


Tak hanya Dimas, Andi juga merasa perih dan sakit mendengar penjelasan Dokter. Ia cukup tau bagaimana Dimas dan Dini menunggu penantian yang akhirnya datang pada mereka, namun belum sampai akhir dari penantian itu datang, takdir sudah berkata lain.


Meskipun Andi bukanlah ayah dari bayi yang dikandung Dini, tapi ia bisa merasakan apa yang Dimas rasakan saat itu.


"Lo harus kuat buat Dini Dim," ucap Andi dengan menepuk bahu Dimas.


Dimas hanya diam dengan masih menundukkan kepalanya. Ia tidak tau harus bagaimana menjelaskannya pada Dini karena dalam sekejap saja kebahagiaan mereka seolah telah dibalik oleh takdir.


"Gue tau ini nggak mudah buat kalian, tapi Dini akan semakin terpuruk kalau dia liat lo kayak gini," ucap Andi pada Dimas.


"Gue harus ngomong apa sama Andini Ndi, gue harus bilang apa sama dia?" Tanya Dimas dengan suara serak.


"Jelasin semuanya pelan pelan dan lo harus tetep kuat di depan dia," jawab Andi.


Dimas kembali diam bersama kesedihan yang menyiksanya. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Andi, ia harus terlihat kuat di depan Dini.


"Ini bukan akhir dari segalanya Dim, anggap ini salah satu jalan Tuhan untuk semakin mendewasakan kalian, gue yakin takdir akan bawa kebahagiaan dengan jalan yang lain buat kalian berdua," ucap Andi berusaha menenangkan Dimas.


Dimas menganggukan kepalanya, lalu beranjak dari duduknya. Ia menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


Ia berusaha menghalau kesedihan yang masih memenuhi dirinya saat itu, namun tetap saja rasa sedih itu masih memeluknya dengan erat.


"Temui dia Dim, jelasin semuanya pelan pelan," ucap Andi dengan memegang kedua bahu Dimas, berusaha memberikan kekuatan pada Dimas.


Dimas kembali menganggukan kepalanya lalu masuk ke ruangan Dini yang saat itu sudah dipindahkan ke ruangan ICU, sedangkan Andi masih memperhatikan Dini dan Dimas dari depan pintu ruangan Dini.


Dimas menghampiri Dini yang saat itu masih terpejam. Dimas menatap wajah cantik itu dengan rasa bersalah dalam hatinya karena telah gagal menjaga istri dan calon buah hatinya dengan baik.


Beberapa saat kemudian Dini mengerjapkan matanya. Dilihatnya Dimas yang berdiri di samping ranjangnya dengan menggenggam tangannya.


Hanya beberapa saat saja melihatnya, Dini sudah bisa mengetahui kesedihan dari raut wajah Dimas.


Sebelum Dini menanyakan apa yang terjadi, Dini merasakan sesuatu yang berbeda dari dirinya.


Dini menarik tangannya dari genggaman Dimas dan mengusap perutnya. Ya, sesuatu yang ada dalam dirinya telah hilang. Tidak ada kehidupan lain yang ia rasakan dalam dirinya.


Seketika air mata Dini menetes dari kedua sudut matanya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya pada apa yang ada di pikirannya saat itu.


"Dimas, apa yang terjadi?" Tanya Dini yang mulai terisak.


"Dokter nggak bisa menyelamatkannya sayang," jawab Dimas dengan suara bergetar.


"Enggak, nggak mungkin, Dokter pasti salah, atau..... Aku cuma mimpi, aku pasti cuma mimpi kan?" Tanya Dini dengan menarik tangan Dimas dan memukulkannya ke wajah Dini.


Dimas hanya bisa diam dengan memegang wajah Dini, menahan Dini agar berhenti memukul wajahnya dengan tangan Dimas.


"Enggak Dimas, aku nggak mau kehilangan bayi kita," ucap Dini dengan terisak.


Dimas hanya diam, ia tidak sanggup mengucapkan apapun saat itu.


Melihat Dimas yang hanya diam dengan matanya yang berkaca-kaca membuat Dini semakin histeris. Ia menangis dan berteriak menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada calon buah hatinya.


Dimas hanya bisa memeluk Dini, berusaha menenangkan Dini dengan pelukan yang mungkin saja terasa hambar bagi Dini.


Karena melihat Dini yang terus berteriak dan Dimas yang tidak bisa mengendalikan situasi saat itu, Andipun memanggil Dokter.


Dokter lalu datang dan memberikan suntikan penenang untuk Dini. Dimas hanya menjatuhkan dirinya di kursi tanpa bisa berbuat apapun.


Meski ia sudah berusaha, pada kenyataannya apa yang terjadi telah melemahkan dirinya. Ia bahkan tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, apa lagi menenangkan Dini. Mereka sama sama belum bisa menerima apa yang sudah terjadi.


Andi lalu masuk dan menghampiri Dimas.

__ADS_1


"Sadar Dim, lo nggak bisa terus terusan kayak gini, Dini butuh lo buat kasih dia kekuatan!" Ucap Andi pada Dimas.


"Gue nggak bisa Ndi, gue nggak bisa terima semua ini," ucap Dimas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Lo harus bisa Dim, lo harus kuat demi Dini, Dini akan semakin hancur kalau dia liat lo kayak gini!"


"Ini nggak mudah buat gue Ndi, lo nggak tau apa yang gue rasain sekarang!"


"Gue nggak harus ada di posisi lo buat tau apa yang lo rasain, gue juga ngerasain apa yang kalian rasain, gue juga merasa kehilangan sama kayak kalian, tapi sedih nggak akan merubah apapun, gue harus berusaha tegar buat bisa kasih kekuatan buat sahabat gue, buat lo sama Dini dan seharusnya lo juga bisa kasih Dini kekuatan biar dia bisa nerima apa yang udah terjadi!"


Dimas memukul mukul kepalanya dengan kedua tangannya. Ia merasa menjadi suami yang sangat buruk saat itu.


"Gue tau ini nggak mudah Dim, tapi apa yang lo lakuin sekarang hanya akan bikin Dini semakin terpuruk, jangan sampai dia salahin dirinya sendiri karena apa yang sudah terjadi!"


"Gue emang bukan suami yang baik Ndi, gue nggak bisa jagain Andini dan anak dalam kandungannya dengan baik," ucap Dimas menyesal.


"Gue tau lo suami yang baik Dim, cinta dan perhatian yang lo punya buat Dini yang akan bikin Dini bahagia, selama itu ada, gue yakin Dini akan selalu bahagia sama lo!" Ucap Andi.


Dimas membawa pandangannya pada Andi, ia beruntung karena bisa bersahabat dengan Andi.


Meski ia tau jika Andi mencintai Dini, tapi Andi bisa menjaga persahabatan mereka dengan baik.


"Tenangin diri lo dulu Dim, Dini butuh lo sekarang," ucap Andi lalu keluar dari ruangan Dini.


Dengan langkah yang berat Andi berjalan meninggalkan ruangan Dini. Jika boleh jujur, sebenarnya ia ingin menemani Dini, ia ingin memeluk Dini dan memberinya kekuatan untuk menerima apa yang sudah terjadi.


Namun ia tau sebatas apa hubungannya dengan Dini saat itu. Bagaimanapun juga Dimas yang lebih berhak atas Dini, ia harus bisa menempatkan dirinya dengan baik sebagai sahabat Dini dan Dimas.


"aku harap ini nggak akan jadi masalah dalam rumah tangga kamu Din, aku tau Dimas sangat mencintai kamu, aku cuma bisa berdo'a agar Tuhan segera memberikan kalian kebahagiaan yang jauh lebih indah," ucap Andi dalam hati dengan mata yang berkaca kaca.


Andi membawa langkahnya ke arah ruangan Anita, ia masuk dengan langkah pelan namun cukup untuk membuat Anita membuka matanya.


"Kamu dari mana?" Tanya Anita pada Andi.


Andi hanya diam dengan menggeser kursi ke arah ranjang Anita.


"Kamu kenapa? Ada apa?" Tanya Anita yang melihat mata Andi merah dan raut wajah yang penuh kesedihan.


"ICU? siapa yang sakit?"


"Dini, Dini lagi di ICU sekarang," jawab Andi dengan mata berkaca kaca mengingat penjelasan Dokter tentang apa yang terjadi pada janin dalam kandungan Dini.


"Dini di ICU? apa karena obat itu?" Tanya Anita dalam hati.


"Dini kenapa? Kenapa dia di ICU?" Tanya Anita dengan raut wajah panik.


"Dia..... Dia keguguran," jawab Andi dengan berat.


"keguguran? berhasil? apa aku beneran berhasil? aaahhh apa akhirnya takdir berpihak sama aku?" Batin Anita tak percaya.


"Aku harus liat keadaanya Ndi," ucap Anita yang segera beranjak dari ranjangnya, namun Andi menahannya.


"Jangan sekarang Nit, mereka masih syok, biarin mereka berdua dulu," ucap Andi pada Anita.


"Tapi Dini baik baik aja kan? Dia nggak papa kan?"


"Dokter bilang keadaan Dini akan membaik setelah dapat perawatan intensif beberapa hari, tapi dia keliatan masih syok banget, dia masih nggak bisa terima apa yang udah terjadi," jawab Andi menjelaskan.


"Dini pasti sedih banget, dia udah lama nunggu kehamilannya dan sekarang dia malah keguguran," ucap Anita.


Andi lalu membawa pandangannya pada Anita, meraih tangan Anita ke dalam genggamannya.


"Kamu harus janji sama aku buat jaga kehamilan kamu Nit, aku akan lakuin apapun buat kamu, aku akan kasih semua yang kamu mau!" Ucap Andi pada Anita.


"Tenang aja, aku akan jaga dia dengan baik," balas Anita dengan membalas genggaman tangan Andi.


"Makasih Nit," ucap Andi lalu memberikan kecupan singkat di tangan Anita.


"Besok temenin aku liat keadaan Dini ya!" Ucap Anita yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat, udah malem," ucap Andi dengan menarik selimut Anita.


"Iya, kamu juga," balas Anita.


Andi menganggukan kepalanya lalu beranjak dari kursi dan merebahkan badannya di sofa yang ada di sana.


Andi hanya diam menatap langit langit, ia berharap Anita akan menjaga kehamilannya dengan baik sampai ia melahirkan.


Jika pada akhirnya Anita tetap tidak bisa menerima anak itu, maka Andi sendiri yang akan menjaga dan membesarkan anaknya. Baginya itu bukan masalah besar asalkan Anita benar benar menjaganya dengan baik.


**


Waktu berlalu, hari sudah pagi. Setelah Dokter memeriksa keadaan Anita, Dokter sudah memperbolehkan Anita untuk meninggalkan rumah sakit.


Setelah menyelesaikan administrasi, Andi dan Anita pergi menghampiri Dini yang saat itu sudah dipindahkan ke ruangan lain.


Namun sesampainya mereka di sana, sudah ada ibu Dini, mama dan papa Dimas yang berada di dalam ruangan Dini.


"Kayaknya kita harus cari waktu lain Nit," ucap Andi pada Anita.


Anita hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat keadaan Dini dari pintu ruangan Dini.


Andi dan Anitapun meninggalkan rumah sakit. Setelah mengantarkan Anita pulang, Andi pulang ke rumahnya dan bersiap untuk pergi ke kampus.


Sedangkan di rumah sakit, ibu Dini, mama dan papa Dimas masih berusaha untuk menenangkan Dini.


Sejak Dini membuka matanya, ia hanya bisa menangis dan histeris mengingat bagaimana ia kehilangan janin dalam kandungannya.


Dini bahkan beberapa kali mendapat suntikan penenang dari dokter saat Dini semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.


Waktu berlalu, hari berganti dan Dini masih berada di rumah sakit.


Selama di rumah sakit, ibu Dini dan mama Dimas bergantian untuk menjenguk Dini, sedangkan Dimas terus berada di rumah sakit untuk menemani Dini.


Semua pekerjaan Dimas kerjakan di rumah sakit. Bagiamanapun juga ia harus bertanggung jawab pada pekerjaannya. Meski sang papa sudah membantunya, ia tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.


Setelah ia sudah bisa berdamai dengan takdir yang tidak diinginkannya, ia memulai menjalani kembali kehidupannya dengan berusaha untuk selalu berada dekat dengan Dini.


Siang itu, Dimas baru saja menyelesaikan meeting secara online di ruangan Dini. Dimas menaruh laptopnya di meja lalu duduk di dekat ranjang Dini.


Dimas menggenggam tangan Dini dan menciumnya. Ia membelai lembut wajah cantik yang sudah tidak pernah tersenyum selama beberapa hari terakhir.


Dimas hanya bisa berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan Dini dengan segala cara yang bisa ia lakukan. Bukan hal yang mudah memang, tapi Dimas tidak akan mudah menyerah.


Tiba tiba pintu ruangan Dini diketuk, seseorang masuk ke dalam ruangan Dini.


"Anita!"


"Hai Dim, gimana keadaan Dini?" Tanya Anita yang menghampiri Dimas dan Dini.


"Udah lebih baik, walaupun dia masih belum bisa senyum, seenggaknya dia udah nggak histeris lagi," jawab Dimas dengan raut wajah yang masih tampak sedih.


"Aku yakin Dini akan baik baik aja karena dia punya kamu yang selalu ada buat dia," ucap Anita.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya lalu mengajak Anita untuk duduk di sofa.


"Maaf baru sempet dateng, kemarin aku udah mau kesini tapi masih ada orang tua kamu dan ibunya Dini, jadi aku pikir itu bukan waktu yang tepat buat aku dateng," ucap Anita.


"Nggak papa, makasih udah jenguk Andini," balas Dimas.


"Aku harap semua akan cepat kembali seperti sebelumnya, aku selalu berdoa buat kebahagiaan kalian," ucap Anita dengan menggenggam tangan Dimas.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya dengan menarik tangannya dari genggaman Anita.


Sedangkan Anita hanya tersenyum tipis melihat keadaan Dini dan Dimas. Dalam hatinya ia bersorak karena telah berhasil menjalankan rencananya dengan baik.


Jika saja bisa memilih, tentu ia tidak ingin menjadi seseorang yang jahat, namun takdir yang dianggapnya tidak adil membuatnya melakukan apapun.


Tak peduli akibat apa yang bisa terjadi pada apa yang dilakukannya, ia hanya ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"kalau aja kamu memilih aku dari dulu, semua ini nggak akan terjadi Dimas," batin Anita dalam hati.


Anita lalu berpamitan untuk pulang. Ia memesan taksi yang akan membawanya pulang, karena sejak ia mengalami kecelakaan, Andi melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri.


__ADS_2