Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Pulang


__ADS_3

Dini berjalan pelan dengan berusaha mengendalikan emosinya. Ia tidak ingin menarik perhatian apa lagi menjadi bahan pembicaraan orang orang di sana.


"Gila, pacaran di kantor, mentang mentang anak Direktur!" ucap seorang laki laki di belakang Dini.


"Tapi emang Chelsea cantik sih, siapapun pasti nggak akan nolak lah kalau di deketin dia!" balas seseorang yang lain.


"Tapi anak baru itu kayaknya nggak suka deh sama Chelsea!" sahut yang lain.


"Itu kan di depan kita, di belakang kita kan nggak ada yang tau hahaha....."


"Bener banget tuh, sok cool aja tuh si cowok!"


"huuffftt, sabar Dini, sabar, kamu sama kayak mereka, nggak tau apa yang sebenarnya terjadi," batin Dini dalam hati.


Dini lalu memutuskan untuk menunggu Dimas di dalam mobil. Dini berusaha memikirkan kemungkinan kemungkinan yang positif tentang apa yang dilihatnya, namun semakin ia berusaha hanya ada pikiran negatif yang mengganggunya.


"Dimas pasti punya alasan kan, dia nggak akan ngelakuin itu, aku percaya sama Dimas," ucap Dini dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Sayang, kamu dimana?" tanya Dimas saat Dini sudah menerima panggilan Dimas.


Entah kenapa Dini semakin tidak bisa mengendalikan hatinya. Air matanya menetes begitu saja saat ia mendengar suara Dimas.


Teringat dengan jelas bagaimana Dimas mendekat dan memeluk Chelsea di depan matanya, Chelsea bahkan mencium Dimas tanpa Dimas berusaha untuk menolaknya.


"hal positif apa yang bisa aku pikirkan buat menyangkal kejadian itu? Dimas yang lebih dulu peluk Chelsea, dia bahkan nggak menghindar waktu Chelsea cium dia, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka? apa yang udah mereka lakukan di belakangku?"


"Sayang, kamu dimana Andini? aku udah selesai meeting!"


Dini lalu menekan tanda merah untuk mengakhiri panggilan Dimas. Hatinya terlalu sakit untuk mendengar suara Dimas.


"enggak, aku nggak akan pergi, apapun alasan Dimas, aku akan dengerin semuanya," ucap Dini dalam hati lalu mengirimkan pesan teks pada Dimas.


Aku tunggu di mobil


Dini tau, ia tidak bisa menyembunyikan bekas tangisannya. Mata dan hidungnya pasti masih merah, apa lagi matanya yang mudah sekali bengkak saat ia menangis.


Tak lama kemudian Dimas datang dengan senyum mengembang di wajahnya.


"senyum apa yang kamu tunjukin itu Dimas? senyum karena udah peluk Chelsea? senyum karena udah dapet ciuman dari Chelsea?" batin Dini kesal yang semakin membuatnya ingin menangis.


Dimas lalu masuk ke dalam mobilnya, duduk di balik kemudi dan menaruh tasnya di bangku belakang.


"Sayang, aku......"


Dimas menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika Dini sedang tidak baik baik saja.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas yang melihat Dini hanya menundukkan kepalanya bersedih.


Dimas lalu menarik tangan Dini, namun Dini menolaknya. Dimas kemudian mendekat dan mengangkat dagu Dini namun Dini semakin menangis.


"Ada apa Andini? kamu kenapa?" tanya Dimas yang belum menyadari kesalahannya.


"Aku minta maaf kalau meeting nya lama, aku pikir cuma satu jam, tapi ternyata lebih dari 2 jam, aku minta maaf sayang," ucap Dimas memohon.


Dini hanya diam dengan berkali kali menghapus air matanya.


"Andini, aku minta maaf," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.


"Aku liat semuanya, aku liat semuanya Dimas," ucap Dini dengan terisak.


Seketika Dimas menyadari kesalahannya. Ia menarik napas dalam dalam lalu mengacak acak rambutnya kesal.


"Aku nggak mau nangis, tapi rasanya sakit banget, aku..... aku....."


"Aku akan jelasin semuanya, tapi nggak di sini, kita pulang ke apartemen dulu ya!" ucap Dimas.


Dini hanya diam. Ia berusaha menahan air mata yang seperti tidak ingin bertahan di matanya. Air matanya selalu lolos begitu saja membasahi pipinya.


Selama perjalanan pulang, tak ada percakapan di antara mereka. Hingga saat mereka sampai, Dini hanya duduk di sofa dengan mata yang sudah sembab karena terlalu banyak menangis.


"Sayang, kamu salah paham, apa yang kamu pikirkan itu nggak bener!" ucap Dimas dengan berjongkok di hadapan Dini.


"Kamu peluk dia duluan Dimas, kamu bahkan nggak nolak waktu dia.... waktu dia...."


Dini tidak melanjutkan ucapannya. Terlalu sakit untuk menjelaskan kembali apa yang ia lihat tadi.


"Dia tadi ketemu aku cuma buat minta maaf Andini, dia mau ke Amerika, papa minta dia buat datangin agensi model di sana," jelas Dimas.


"Minta maaf apa harus pake pelukan? apa harus ciuman?"


"Soal pelukan aku emang salah, aku minta maaf, tapi kita nggak ciuman Andini, dia tiba tiba cium aku dan aku nggak sempet menghindar, aku nggak tau kalau dia bakalan ngelakuin itu!"


Dini hanya diam. Ia mendengar dengan jelas jika Dimas memang sengaja memeluk Chelsea, ia bahkan mengakuinya di depan Dini.


"Itu cuma pelukan perpisahan Andini, dia akan pergi dan nggak kembali lagi ke sini, aku minta maaf kalau itu menyakiti kamu, tapi aku beneran nggak ada hubungan apa apa sama dia, aku seneng karena akhirnya dia lebih pilih karirnya dibanding aku!"


"Kamu sering peluk dia?"


"Enggak, foto yang dulu itu dia yang peluk aku dan sekarang aku cuma peluk dia sebagai salam perpisahan aja, nggak lebih!"


"Aku nggak suka liat kamu peluk perempuan lain Dimas, tapi kamu dari dulu selalu peluk perempuan lain, dulu Anita sekarang Chelsea!"

__ADS_1


"Sayang, tolong jangan dibahas lagi yang dulu dulu, aku minta maaf Andini, aku harus gimana biar kamu maafin aku?"


Dini hanya diam, matanya masih berkaca kaca.


"Aku sayang sama kamu Andini, aku nggak mungkin minta bantuan papa kalau aku nggak bener bener mau jauh sama Chelsea," ucap Dimas


"Aku percaya sama kamu, tapi rasanya sakit banget Dimas, sakit liat kamu peluk perempuan lain apa lagi waktu dia cium kamu!"


"Ini yang terakhir, dia akan pergi jauh, dia nggak akan ganggu kita lagi, aku minta maaf karena udah bikin kacau hari kamu, aku minta maaf."


Dimas lalu duduk di samping Dini dan membawa Dini ke dalam dekapannya.


"Maafin aku sayang," ucap Dimas.


Dini hanya diam dalam dekapan Dimas. Ia selalu percaya pada semua penjelasan Dimas. Rasa cintanya mampu menyembuhkan hatinya yang terluka, rasa cintanya mampu melunturkan prasangka buruk dalam pikirannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dimas lalu bersiap untuk mengantarkan Dini pulang ke rumahnya.


"Jangan sedih lagi dong, aku nggak bisa nganter kamu pulang kalau kamu masih sedih gini," ucap Dimas dengan menghapus sisa air mata di pipi Dini.


"Aku mau ke kamar mandi," ucap Dini lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah membasuh wajahnya, Dini kembali memoleskan make up tipis di wajahnya.


Saat Dini sedang merapikan pakaiannya, Dimas memeluk Dini dari belakang.


"Kamu masih marah?" tanya Dimas.


"Aku nggak marah," jawab Dini.


"Aku minta maaf sayang," ucap Dimas.


"Stop minta maaf Dimas, permintaan maaf kamu jadi nggak ada artinya kalau kamu selalu mengulang kesalahan yang sama."


"Aku minta..... minta cium," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.


Dini lalu memukul perut Dimas dengan sikunya, membuat Dimas mengaduh kesakitan. Dini hanya diam lalu berjalan keluar kamar.


Dimas lalu menarik tangan Dini, membuat Dini terhempas dalam pelukan Dimas. Mereka hanya diam dengan saling memeluk.


Setelah merasa suasana hatinya sudah membaik, Dini mengajak Dimas untuk segera mengantarnya pulang.


Dimas dan Dinipun meninggalkan apartemen. Selama perjalanan pulang, mereka sering mengobrol namun sesekali Dini tertidur.


Setelah 4 jam lamanya, akhirnya mereka sampai di rumah Dini.


Dimas keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah Dini.


"Ibu nggak di rumah," ucap Dini.


"Kamu istirahat ya sayang, aku mau ketemu mama papa dulu, aku juga mau mampir ke rumah Andi," ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


"Hati hati Dimas," balas Dini.


Dimas mengangguk.


Dinipun masuk ke dalam rumah setelah Dimas meninggalkan rumahnya.


Dimas pergi ke rumahnya untuk menemui mama dan papanya.


"Kenapa nggak bilang kalau pulang, mama bisa siapin sesuatu buat kamu!" ucap mama Dimas yang terkejut dengan kedatangan sang anak.


"Dimas cuma mampir sebentar ma, abis nganterin Dini balik!"


"Dini? dia ke apartemen kamu?"


"Iya, dari hari Jum'at malem," jawab Dimas.


"Berarti kalian......."


"Dimas sama Dini nggak ngapa-ngapain ma, Dimas tau batasan kok, mama tenang aja!" ucap Dimas yang mengerti pikiran kotor sang mama.


"Ngapa-ngapain juga kita nggak tau, ya kan ma!' sahut papa Dimas yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Dimas nggak kayak gitu pa!" balas Dimas kesal.


"Hahaha.... oke oke, papa percaya, gimana Chelsea? udah ketemu dia lagi?"


"Tadi ketemu, dia bilang mau ke Amerika, papa yang minta dia kesana?"


"Papa nggak minta dia, papa cuma kenalin dia sama agensi model yang papa kenal di sana dan dia tertarik, ternyata kamu nggak ada apa apanya buat Chelsea!"


"Justru Dimas seneng kalau Chelsea udah nggak ngejar Dimas lagi!"


Setelah bercengkerama cukup lama, Dimas pun berpamitan untuk mengunjungi Andi.


"Jaga diri baik baik ya sayang, kabarin mama dan papa kalau ada apa apa!" ucap mama Dimas sambil memeluk Dimas.


"Iya ma," balas Dimas lalu mencium kening sang mama.


Dimaspun meninggalkan rumahnya, menuju ke rumah Andi, dimana Adit dan sang mama juga tinggal di sana.


Dimas pergi ke sana setelah Andi mengirimkan alamat lengkapnya pada Dimas.


Sesampainya di sana, sudah ada Andi yang menunggunya di teras rumah. Setelah sedikit saling peluk, merekapun duduk berhadapan.

__ADS_1


"Gimana kabar lo?" tanya Dimas.


"Seperti yang lo liat, gue baik baik aja, lo sendiri?"


"Baik juga, jadi lo sekarang tinggal di sini?"


"Iya, mungkin sesekali gue akan ke rumah ayah dan ibu!"


"Lo harus selalu sehat Ndi, jangan sakit, Andini pasti kesepian kalau nggak ada lo!" ucap Dimas.


"Laah, lo kan pacarnya!" sahut Adit yang tiba tiba keluar dan duduk di samping Andi.


Andi dan Dimas hanya saling pandang saat Adit tiba tiba duduk.


"Lo bisa pergi nggak? gue mau ngomong empat mata sama Andi," pinta Dimas pada Adit.


"Oke gue merem!" balas Adit dengan memejamkan matanya.


BBUUUUGGH


Andi memukul lengan tangan Adit, membuat Adit segera membuka matanya.


"Pergi nggak!"


"Oke oke, gue pergi, gue nggak akan ikut campur masalah bocah!" ucap Adit lalu kembali masuk ke dalam rumah.


"Gue tau lo masih disitu!" ucap Andi dengan sedikit berteriak.


"Hahaha.... oke oke!" balas Adit lalu benar benar pergi meninggalkan Andi dan Dimas.


Kini hanya ada Andi dan Dimas di teras rumah.


"Seru ya punya kakak!" ucap Dimas.


"Nyebelin banget dia!" balas Andi.


"Kalian masih sering berantem? belum akur?"


"Nggak tau, nggak usah bahas dia, lo kenapa tiba tiba ke sini?"


"Gue abis anterin Andini pulang, dia di apartemen gue dari kemarin," jawab Dimas.


"Tapi kalian nggak berantem lagi kan?"


"Enggak lah, hehe...." jawab Dimas dengan tertawa canggung.


"Gimana soal clothing arts nya? home store udah pindah?" tanya Dimas.


"Belum, gue masih belum nemuin jalan keluar!"


"Lo nggak minta bantuan Adit, kalau perusahaan sebesar dia bisa percaya sama lo, akan semakin mudah buat lo tarik perusahaan lain gabung sama lo!"


"Gue coba cara lain dulu Dim, gue nggak mau diketawain gara gara minta bantuannya!"


"Kalau ada apa apa lo bisa hubungin papa, papa pasti bantuin lo!"


"Lo sama om Tama udah banyak bantu gue Dim, thanks banget!"


Mereka lalu membicarakan banyak hal, namun yang pasti mereka membicarakan gadis yang mereka cintai.


"Gue harap nggak akan ada yang berubah setelah lo tinggal di sini Ndi!" ucap Dimas.


"Pasti ada yang berubah Dim, gue nggak bisa sering sama Dini sekarang, lo seneng kan?"


"Gue nggak tau harus seneng atau enggak, gue seneng karena lo bisa lebih jaga jarak sama Andini, tapi di sisi lain gue takut Andini akan makin kesepian karena lo jauh sama dia," jawab Dimas.


"Dia akan baik baik aja Dim, dia bukan gadis yang lemah lagi!"


"Iya gue tau," balas Dimas.


Tak lama kemudian mama Siska keluar menghampiri Andi dan Dimas.


"Eh ada tamu, nggak diajak masuk?"


"Makasih tante, Dimas nggak lama kok di sini!"


"Kamu Dimas anaknya Adhitama?" tanya mama Siska.


"Iya tante, tante kenal papa saya?"


"Siapa yang nggak kenal orangtua kamu Dimas, semua orang kenal mereka, Dini beruntung karena bisa jadi bagian dari keluarga Adhitama."


"Justru saya yang beruntung karena bisa jadi bagian dari hidup Andini tante," balas Dimas.


"Kalian berdua berteman dekat?" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Dimas dan Andi bergantian.


"Kita teman SMA ma," jawab Andi.


"Dimas udah kenal Andi dari SD tante, kita ketemu lagi waktu SMA," jawab Dimas.


Setelah mengobrol beberapa lama, Dimaspun berpamitan untuk kembali ke apartemen nya.


Setelah Dimas pergi, kini hanya ada Andi dan sang mama.


"Mudah mudahan persahabatan kalian nggak akan hancur karena seorang gadis," ucap mama Siska dengan senyum yang mengandung banyak tanya.

__ADS_1


"Maksud mama?" tanya Andi.


"Enggak, mama sering liat di tv kalau persahabatan bisa hancur karena mereka suka sama satu perempuan yang sama, jadi mama harap hal itu nggak terjadi sama kalian," jawab mama Siska.


__ADS_2