Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Libur (4)


__ADS_3

Kebohongan ibarat bom waktu yang bisa meledak jika waktunya sudah tiba. Sedikitpun kebohongan yang disembunyikan, alam akan selalu menguaknya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai bangkai yang tersimpan akan tercium baunya.


"Kenapa Dit?" tanya Ana yang melihat Adit tampak gelisah.


"Nggak papa, aku harus pulang, aku belum temuin mama dari kemarin," jawab Adit.


"Oh, ya udah kalau gitu, kamu pulang aja, mama pasti udah nunggu kamu!"


"Jaga diri baik baik ya," ucap Adit lalu mencium kening Ana dan pergi meninggalkan rumah itu.


Ana lalu masuk ke dalam rumah dan menaruh kartu nama Dokter Wika di laci yang berada di bawah telepon rumah.


"Mbak Ana butuh sesuatu?" tanya Lisa menghampiri Ana.


"Enggak, temenin aku liat tv aja," jawab Ana.


"Baik mbak," balas Lisa lalu mengikuti Ana duduk di depan tv.


"Pak Adit udah pulang ya mbak?" tanya Lisa.


"Iya, kamu jangan panggil 'pak Adit' dong, dia belum terlalu tua buat kamu panggil 'pak'!"


"Hehehe.... panggil apa dong mbak? oppa? ahjussi?"


"Terserah kamu aja, asal jangan 'pak', bilang sama yang lainnya juga ya!"


"Baik mbak, nanti sya sampaikan lewat grup!"


"Grup?"


"Iya, kita punya grup, isinya ada saya, ibu, pak Candra sama pak Agus," jawab Lisa.


"Buat apa?"


"Biar kita makin kompak buat jagain mbak Ana," jawab Lisa.


Ana hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Lisa.


"Kalau saya udah dewasa nanti, saya pingin deh mbak punya suami kayak pak Adit, eh maksudnya mas Adit, gimana mbak? boleh panggil mas Adit aja?"


"Iya boleh, kenapa kamu mau punya suami kayak Adit?"


"Mbak pernah denger kata kata ini nggak? 'setengah dari masalah hidupmu akan teratasi kalau kamu punya banyak uang', menurut saya, mas Adit nggak cuma punya banyak uang, tapi juga baik banget dan sayang banget sama mbak Ana, sempurna buat jadi suami idaman, iya kan mbak?"


"Kamu bener, tapi kita nggak pernah tau apa yang sedang dialami seseorang kalau cuma liat dari luarnya aja, kita nggak pernah tau seberat apa masalah yang sedang di hadapi seseorang, bukan karena dia punya banyak uang jadi dia nggak punya masalah, justru masalah bisa timbul karena kita punya banyak uang!"


"Iya juga sih, orang kaya biasanya rebutan harta warisan atau cinta yang nggak direstui karena perbedaan derajat keluarga, susah juga jadi anak orang kaya!"


"perbedaan derajat keluarga?" batin Ana dalam hati.


**


Di tempat lain, Adit sedang mengemudikan mobilnya dengan cepat ke arah apartemennya.


Ketika ia sudah sampai, ia tidak melihat mamanya di sana. Ia pun mengaktifkan ponselnya dan menghubungi sang mama.


"Halo, mama dimana?" tanya Adit setelah sang mama menerima panggilannya.


"Mama di rumah, kenapa? kamu baru pulang ke apartemen?"


"Adit ke sana sekarang ma!" ucap Adit lalu mengakhiri panggilannya.


Aditpun segera pergi ke rumah sang mama.


"Mama dimana mbak?" tanya Adit ketika ia sudah sampai di rumah mamanya.


"Di ruangan lukisan mas."


Adit lalu berjalan ke sebuah kamar dan mengetuk pintunya pelan lalu masuk.


"Maaf ma, Adit tadi...."


"Kamu bohong lagi sama mama Adit!"


"Adit udah diperjalanan pulang ma," ucap Adit beralasan.


"Password nya?"


"Mmmm.... tetep tanggal lahir mama kok, cuma Adit balik aja bulan sama tanggalnya."


"Mama udah coba dan tetep nggak bisa," ucap mama Siska yang membuat Adit menelan ludahnya sendiri.


"Hehe.... udah ya...."


Mama Siska lalu membawa pandangannya pada Adit yang berjongkok di sebelahnya.


"Siapa dia?" tanya mama Siska.


"Dia? maksud mama?"


"Siapa perempuan yang udah gantiin posisi mama di hati kamu!"


"Nggak ada, mama......"


"Jangan bohong lagi Dit, mama tau kamu pasti lagi deket sama seseorang, mama senang kok kalau akhirnya kamu punya pacar, asal dia perempuan yang baik, mama pasti setuju dan mama yakin pilihan kamu nggak akan salah!"


"dia perempuan yang baik ma, dia yang paling mengerti Adit, tapi dia hamil, apa dia tetap perempuan yang baik di mata mama?" batin Adit dalam hati.

__ADS_1


"Ingat Dit, kamu pemimpin perusahaan besar, kamu nggak bisa sembarangan punya pacar, nama baik kamu, keluarga dan perusahaan yang akan dipertaruhkan!"


"Iya ma, Adit mengerti," balas Adit dengan tersenyum datar.


"Jadi, kapan kamu akan bawa dia ketemu mama?"


"Adit akan cari waktu yang tepat, mama sabar ya!"


"Baiklah, oh iya, mama mau tunjukkin ke kamu lukisan ini, bagus kan?" tanya mama Siska sambil menunjuk sebuah lukisan di hadapannya.


"Bagus, lukisan mama emang nggak pernah gagal!"


"Ini bukan lukisan mama, ini hadiah ulang tahun dari Andi."


"Andi? Andi kasih lukisan ini?"


Mama Siska menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Lukisan seorang ibu dan anak bayi itu selalu berhasil membuat suasana hatinya membaik.


"Gimana Dit? kamu belum punya petunjuk apapun?"


Adit menggeleng lemah.


"Maaf ma, Adit belum bisa temuin dia," jawab Adit menyesal.


"Nggak papa sayang, kamu sudah berusaha keras, tapi mama boleh minta sesuatu nggak?"


"Apa ma?"


"Antar mama ke rumah Andi," jawab mama Siska.


"Ke rumah Andi? buat apa mama ke sana?"


"Mama nggak bisa bohong Dit, setiap mama lihat Andi, mama ngerasa deket sama dia, ada perasaan bahagia yang belum pernah mama rasain sebelumnya, mama bahagia sama kamu, tapi Andi seperti pelengkap kebahagiaan mama, jujur sama mama Dit, apa kamu nggak pernah ngerasain sesuatu waktu kamu sama Andi?"


Adit terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan mamanya. Jika diingat ingat, ia juga merasakan perasaan aneh setiap berada di dekat Andi, bahkan saat pertemuan mereka yang pertama dadanya selalu terasa berdebar, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ia mengerti.


Namun, fakta jika Andi meninggalkan kesedihan pada sang mama, membuat Adit tanpa sadar menanamkan rasa benci pada Andi. Kebencian itu yang membuatnya selalu ingin memisahkan Andi dengan sang mama, kebencian itu juga yang menyamarkan rasa aneh yang sering ia rasakan ketika ia bersama Andi.


"Kamu kakaknya Dit, kalian lahir dari rahim yang sama, kamu pasti bisa merasakan apa yang mama rasakan kan?"


Adit menggeleng pelan.


"Adit akan cari tau tentang Andi secepatnya, setelah Adit dapat informasi lengkapnya, Adit akan kasih tau mama, jadi mama nggak perlu pergi ke rumahnya," ucap Adit dengan menggenggam tangan sang mama.


"Makasih sayang, kamu memang anak kebanggaan mama," balas mama Siska dengan membelai rambut Adit.


Adit lalu keluar dari ruangan lukisan dan menghubungi seseorang.


"Kita ketemu di tempat biasa, 15 menit lagi!" ucap Adit.


Adit lalu berpamitan pada sang mama untuk menemui seseorang yang bisa membantunya mencari informasi tentang Andi dengan detail.


**


Di tempat lain, Dini dan Andi masih berada di tepi pantai.


"Aku beli kelapa dulu ya Din!" ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.


Andi lalu pergi ke kedai yang berada di sana, sedangkan Dini masih duduk di tempatnya.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Kamu bener Ndi, aku seharusnya lebih percaya sama Dimas, bukan malah berpikir tentang hal buruk yang belum pasti terjadi," ucap Dini lalu berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dari deburan ombak pantai.


"Dimas pasti kecewa banget sama aku kan? dia pasti marah sama aku, keadaan ini emang sulit buat kita dan nggak seharusnya aku mempersulit keadaan ini dengan semua pikiran negatifku!" lanjut Dini.


Tiba tiba seseorang memeluk Dini dari belakang. Ia tau itu bukan Andi, ia yakin seseorang yang memeluknya bukanlah Andi.


"Dimas!"


"Aku nggak pernah marah sama kamu Andini, aku cuma sedikit kecewa karena ketidakpercayaan kamu sama perasaan aku," ucap Dimas.


Dini lalu berbalik dan memeluk Dimas dengan erat.


"Maafin aku Dimas, aku minta maaf," ucap Dini.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya, memegang kedua pipi Dini dan menatap kedua matanya dengan dalam.


"Kita punya perasaan yang sama Andini, jangan ada ragu diantara kita, kamu tau kita nggak bisa cegah seseorang buat datang di kehidupan kita, asal kita bisa jaga hati kita, semuanya akan baik baik aja," ucap Dimas.


"Aku minta maaf," balas Dini dengan mata berkaca kaca.


"Masalah ini akan terulang lagi kalau nggak ada rasa percaya di antara kita Andini, jadi aku mohon sama kamu, percaya sama aku, jangan pernah raguin aku, semua yang udah kita lewati, semua yang udah kita jalani harus berakhir dengan ending yang bahagia karena kita saling mencintai, iya kan?"


Dini mengangguk lalu kembali memeluk Dimas.


"Aku juga minta maaf karena udah bentak kamu, aku nggak bermaksud kayak gitu," ucap Dimas yang kembali dibalas anggukan kepala Dini dalam pelukan Dimas.


"Eheemmm!!"


Dini segera melepaskan Dimas dari pelukannya begitu ia mendengar seseorang berdehem di dekat mereka.


Dini lalu melangkah ke arah Andi dan memeluknya dengan erat.


"Makasih Ndi, kamu sahabat yang terbaik," ucap Dini yang masih memeluk Andi.


Sedangkan Andi hanya diam, tanpa berani membalas pelukan Dini. Ia membawa pandangannya pada Dimas yang hanya dibalas dengan senyum dan anggukan kepala.

__ADS_1


Karena mendapat lampu hijau dari Dimas, Andipun memeluk Dini.


"Aku cuma mau kamu bahagia Din, jalani hubungan kalian dengan lebih dewasa, jangan biarin ego yang menang!" ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dini.


Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan menarik tangan Andi untuk diajak duduk di tepi pantai bersama Dimas.


Mereka bertiga pun duduk dengan ditemani gulungan ombak yang tak berhenti berkejaran. Akhirnya, hari libur Dini benar benar menjadi hari yang membahagiakan karena ia bisa duduk diantara dua laki laki yang sangat istimewa dalam hidupnya.


"Kamu kenapa bisa kesini?" tanya Dini pada Dimas.


"Aku ikutin mobil Andi, kamu nggak tau?"


"Enggak, aku nggak perhatiin jalanan, berarti kamu tau Ndi?"


"Tau, Dimas mana mungkin biarin kamu pergi gitu aja!"


"Lo emang paling pengertian, thanks Ndi!" ucap Dimas sambil menepuk pundak Andi.


"Kenapa bukan kalian aja sih yang pacaran!" ucap Dini dengan membawa pandangannya pada Dimas dan Andi bergantian.


"Iya juga, siapa juga yang nggak mau sama calon pemimpin perusahaan besar, iya kan?" balas Andi sambil mencolek pundak Dimas.


"Diiih, geli banget gue, pergi sana!" ucap Dimas sambil melangkah menjauh, namun Andi mengikutinya.


Dimaspun berlari menjauh diikuti Andi yang mengejarnya.


"Kok aku ditinggal sih!" teriak Dini yang masih berdiri di tempatnya.


Tanpa Dini tau, mereka sengaja berlari menjauh dari Dini.


"Thanks Ndi!" ucap Dimas pada Andi.


"Gue cuma mau dia bahagia, gue nggak belain lo!" balas Andi.


"Ini salah satu jalan gue buat bahagiain dia Ndi, ini bukan jalan yang mudah buat gue sama dia, gue berterima kasih karena lo nggak manfaatin hal ini buat kepentingan lo sendiri!"


"Gue tau dia bahagia sama lo, gue tau lo yang lebih pantas sama dia, nggak ada alasan buat gue bisa manfaatin hal itu!"


Saat matahari semakin naik, merekapun meninggalkan pantai.


"Gue harus balik ke home store, kalian duluan aja!" ucap Andi pada Dimas dan Dini.


"Makasih ya!" ucap Dini yang lagi lagi memeluk Andi.


Andi hanya tersenyum lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dini dan masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Dini dan Dimas.


"Sekarang kita kemana?" tanya Dini pada Dimas.


"Ke rumah, mama papa pasti seneng liat kita dateng!"


"Oke!"


Dimaspun mengendarai mobilnya ke arah rumah dan benar saja, sesampainya di sana mereka disambut dengan hangat oleh mama dan papa Dimas.


Merekapun makan siang bersama dan mengobrol banyak hal di sana.


Mama Dimas lalu mengajak bersantai di gazebo taman belakang setelah makan siang selesai.


"Mama ambil camilan dulu ya!" ucap mama Dimas.


"Dini bantuin ma!" ucap Dini yang langsung mengikuti mama Dimas.


Kini tinggal Dimas dan papanya yang berada di gazebo.


"Pa, ada yang mau Dimas sampe'in!" ucap Dimas pada sang papa.


"Ada apa Dim?"


"Dimas mau pindah Pa!" ucap Dimas.


"Pindah? maksud kamu?"


"Dimas nggak bisa kerja di sana, ini baru bulan pertama Dimas di sana dan masalah udah datang!"


"Soal Chelsea?" terka sang papa.


"Papa tau?"


"Hermawan udah cerita sama papa, dia mau jodohin Chelsea sama kamu!"


"Dijodohin? Dimas kan udah tunangan sama Andini Pa, kalaupun Dimas belum tunangan, Dimas nggak akan mau dijodohin sama dia, Dimas di sana buat Andini Pa, papa tau itu kan?"


"Iya, papa tau, pertunangan kamu sama Dini belum banyak yang tau Dimas, itu kenapa Hermawan mau jodohin anaknya sama kamu, tapi papa udah jelasin semuanya sama dia, kamu tenang aja!"


"Pa, Chelsea nggak akan berhenti ganggu Dimas kalau Dimas nggak pindah dari sana, mungkin sekarang Dimas bisa selesaiin masalah Dimas sama Andini, tapi apa selanjutnya masalahnya nggak semakin besar?"


"Masalah itu buat dihadapi Dimas, jadi laki laki yang bertanggung jawab, jangan menghindar dari masalah yang sudah ada di depan mata!"


"Dimas lelah sama semua drama ini Pa, selalu ada orang baru yang ganggu hubungan Dimas sama Dini!"


"Ini baru permulaan Dimas, ini bukan apa apa, kamu sama Dini harus bisa lebih kuat buat hadapi masalah kalian berdua, tapi kalau kamu emang mau pindah, kamu bisa pindah ke luar pulau!"


"Ke luar pulau?"


"Iya, pikirkan baik baik Dimas, papa akan segera urus kepindahan kamu kalau kamu emang mau pindah!"


Dimas diam beberapa saat sebelum ia menjawab dan tanpa Dimas tau, Dini mendengar semua pembicaraan Dimas dan papanya.

__ADS_1


__ADS_2