
Masih di malam yang sama. Dini dan Dimas sedang duduk di ruang tamu, sedangkan ibu Dini dan mama papa Dimas masih berada di ruang makan.
"Sayang, kamu udah beli hadiah buat Andi?" tanya Dimas.
"Belum, aku masih bingung mau beli apa buat dia," jawab Dini.
"Pulang kerja besok ikut aku ya, aku udah tau mau beli apa buat Andi!"
"Kamu mau beli apa?"
"Liat aja besok!"
"Kamu nggak bisa pulang ke sini ya waktu ulang tahunnya Andi?"
"Belum bisa sayang, aku baru aja pindah jadi pasti masih sibuk banget, setelah waktuku lebih longgar, aku pasti pulang kok!"
"Kamu disana nanti tinggal dimana?"
"Mama udah siapin apartemen buat aku, nanti aku kasih alamatnya, kamu bisa kesana kapanpun kamu mau!"
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah datar.
"Kenapa sayang? ada yang salah?"
Dini tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Dimas lalu menggenggam tangan Dini dan menarik dagu Dini agar menatapnya.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas lagi.
"Nggak papa, aku......"
Dini menghentikan ucapannya. Ia tidak ingin membuat Dimas berat meninggalkannya.
Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini.
"Semuanya akan baik baik aja sayang, aku akan bekerja keras biar cepet dapet promosi dan balik ke sini, aku cuma butuh dukungan dan pengertian kamu kalau mungkin waktu kita makin sedikit, tapi aku janji akan luangin waktu buat ketemu sama kamu!"
"Aku akan nunggu kamu, aku akan jadi penyemangat kamu," ucap Dini.
"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
Setelah para orangtua selesai berbincang, Dimas mengantar Dini dan ibunya untuk pulang.
**
Hari berganti, Dimas menjemput Dini untuk mengantarnya ke tempat kerja.
Setelah mengantar Dini ke tempat kerjanya, Dimas segera pergi ke home store.
Sesampainya di sana, sudah ada Andi yang sedang bersih bersih.
"Telat mulu lo!" ucap Andi.
"Sorry, gue anterin Andini dulu tadi," balas Dimas.
Mereka lalu melakukan tugas mereka masing masing.
"Ndi, ada yang mau gue tanyain sama lo!" ucap Dimas.
"Apa?" tanya Andi yang masih sibuk merapikan etalase.
"Apa menurut lo Adit suka sama Andini?"
"Emang kalau suka kenapa? bagus dong kalau banyak orang yang suka sama Dini!"
"Kalau suka in the good way sih nggak masalah, tapi kalau semacama Anita gitu kan jadi masalah Ndi!"
"Adit bukan orang yang kayak gitu, tenang aja!"
"Lo tau dari mana?"
Andi lalu menghentikan kegiatannya dan duduk di lantai.
"iya juga sih, kenapa aku jadi sok tau tentang Adit!" batin Andi dalam hati.
"Dari yang gue tau dia itu anti sama cewek, dia dikenal sebagai CEO muda cuek yang digilai cewek tapi waktu gue liat dia sama Andini, gue ngerasa perlakukannya beda, dia sama sekali nggak keliatan cuek!"
"Udah lah Dim, hubungan kalian itu baik baik aja, lo jangan kebanyakan mikir yang buruk buruk, lo bukan anak SMA yang suka cemburu kan?"
"Justru karena gue bukan anak SMA, selama ini gue sama Andini selalu dihadapkan sama masalah yang datang bertubi tubi dan gue pikir itu karena gue kurang bisa jaga hubungan gue sama Andini, jadi mulai sekarang gue harus bener bener jaga Andini cuma buat gue!"
"Lo mau jadi pacar yang posesif?"
"Enggak, gue cuma....."
"Harusnya lo percaya sama Dini Dim, nggak peduli seberapa banyak cowok di luar sana yang suka sama dia, dia tetep setia sama lo!"
Dimas hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Andi memang benar, ia tidak seharusnya mengkhawatirkan laki laki lain yang berusaha mendekati Dini, yang harus ia khawatirkan adalah ancaman dari orang lain yang membahayakan Dini.
Ia tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada Dini, terlebih tak akan lama lagi ia akan semakin jauh dari Dini.
**
Di tempat lain, Dini sedang fokus pada pekerjaannya. Hari itu ia begitu sibuk karena banyaknya pekerjaan yang Adit berikan padanya.
Saat jam makan siang tiba, Adit masuk ke ruangan Dini.
"Kamu nggak makan siang?" tanya Adit pada Dini.
"Dini belum selesai kak!" jawab Dini tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Kakak harus pulang dulu, kamu jangan lupa makan siang ya!"
"Pulang? ke rumah mama?" tanya Dini yang sudah menghentikan kegiatannya.
"Iya, kenapa? mau ikut?"
"Mama kenapa kak? mama baik baik aja kan?"
"Mama baik baik aja kok, kakak cuma mau ngajak mama makan siang di luar!"
"Oh, ya udah, salam buat mama ya kak!"
"Oke!"
Adit lalu keluar dari ruangan Dini, sedangkan Dini masih melanjutkan pekerjaanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Halo Dimas, ada apa?"
"Halo sayang, kamu kenapa belum keluar kantor?"
"Kok kamu tau? kamu di sini?"
"Aku udah di sini dari tadi, ayo turun!"
"Oke, tunggu bentar!"
Dini segera membereskan pekerjaannya dan keluar untuk menemui Dimas.
Sesampainya di depan, ia melihat Dimas yang sudah menunggunya. Ia pun berlari kecil dan menghambur dalam pelukan Dimas dan mendapatkan kecupan mesra di keningnya.
"Kamu dari tadi?" tanya Dini.
"Lumayan," jawab Dimas yang belum melepaskan Dini dari pelukannya.
"Maaf ya, aku nggak tau kalau kamu ke sini, kerjaan aku banyak banget hari ini," ucap Dini manja.
"Aku maafin kamu, tapi kamu harus bayar dulu!"
"Bayar? berapa?"
Dimas hanya tersenyum sambil menyentuh pipinya.
Dini lalu menoleh ke kanan dan ke kiri lalu....
CUUUPP
Satu kecupan mendarat di pipi Dimas.
Tiiiiinn Tiiiiin Tiiiiin
Suara klakson yang berasal dari mobil Dimas cukup membuat Dini dan Dimas terlonjak kaget.
"Woooyy, ingat tempat dong, suka banget bikin jomblo tersiksa!" ucap Andi dari dalam mobil.
"Andi!" pekik Dini terkejut, sedangkan Dimas hanya tertawa melihat sikap Andi.
"Kamu kok nggak bilang sih ada Andi!"
"Hehe.... maaf sayang, aku mau ngajak kamu makan siang sama Andi juga, nggak papa kan?"
"Di home store?"
"Enggak, di kafe deket sini!"
"Nggak papa, ayo berangkat!"
Mereka lalu berangkat dengan Andi yang duduk di belakang kemudi.
Sesampainya di kafe, Andi mengajak mereka masuk dan menghampiri seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Lo ngajak dia?" tanya Dimas pada Andi.
"Iya, lo pikir gue mau jadi obat nyamuk di sini!" balas Andi.
"Dari tadi Nit?" tanya Andi berbasa basi.
"Baru aja kok, aku juga belum pesen apa apa," jawab Anita.
Mereka lalu memesan beberapa makanan dan minuman. Sembari menunggu makanan datang, mereka mengobrol bersama.
Tampak dari raut wajah Dimas jika ia sedang tidak menikmati acara makan siang mereka. Ia masih tidak ingin berhubungan lagi dengan Anita, baik sebagai teman ataupun lainnya.
Menyadari hal itu, Dini menggenggam tangan Dimas di bawah meja. Ia tersenyum pada Dimas, berusaha membuat suasana hati Dimas membaik.
"Apa aku ganggu acara kalian di sini? aku bisa pergi kalau....."
"Enggak kok, kamu nggak ganggu," ucap Dini memotong uacapan Anita.
"Oke, oh ya Dimas, kamu...."
"Permisi, silakan makanannya," ucap seorang Waiters yang tiba tiba datang, membuat Anita menghentikan ucapannya.
Mereka lalu menikmati makan siang mereka. Diam diam, Anita memperhatikan Dimas. Dari sorot matanya tampak ia masih berharap pada Dimas dan Dini menyadari hal itu.
"Dimas, aku nggak suka ini," ucap Dini sambil menunjuk sayur yang ada di makanannya.
"Buat aku aja," balas Dimas sambil membuka mulutnya.
Dinipun menyuapi Dimas dengan sayur yang sebenarnya ia suka itu.
Dimas lalu mengusap ujung bibir Dini yang sebenarnya tidak belepotan. Ia tau, Dini sedang menunjukkan kemesraan mereka di depan Anita dan sudah pasti ia akan meresponnya dengan baik.
"Sayang, mama kemarin beliin baju buat kamu?" tanya Dimas dengan menggenggam tangan Dini di atas meja setelah mereka selesai makan.
"Iya, bagus banget, aku suka!" jawab Dini bersemangat.
"Aku nggak heran sih kalau mama tau selera kamu karena aku tau mama sayang banget sama kamu."
"Iya Dimas, aku bersyukur banget karena mama, papa dan orang orang di sekitar kamu menerima aku dengan sangat baik."
"Karena kamu perempuan yang sangat baik, orang orang juga akan berbuat baik sama kamu!"
Dini mengangguk pelan lalu berpamitan untuk ke toilet.
"Aku ke toilet bentar ya!"
"Hati hati sayang," balas Dimas.
Tak lama setelah Dini pergi, Anita juga ikut ke toilet.
"Aku juga mau ke toilet bentar ya!" ucap Anita yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Di dalam toilet, Anita melihat Dini yang sedang mencuci tangan. Anitapun ikut mencuci tangan di samping Dini.
"Kamu nggak perlu takut, aku nggak akan rebut Dimas dari kamu!" ucap Anita tanpa menoleh ke arah Dini.
"Aku percaya sama Dimas, dia nggak akan mudah tergoda sama siapapun di luar sana," balas Dini yang mulai mengeringkan tangannya dengan tissue.
Anita hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dini.
__ADS_1
"Aku cuma nggak suka cara kamu liat Dimas, tolong jangan tatap dia seolah olah kamu masih berharap sama dia," ucap Dini dengan menatap tajam mata Anita.
"Aku.... aku.... aku cuma...."
"Kita teman Nit, aku nggak mau pertemanan kita hancur untuk yang kedua kalinya," ucap Dini lalu pergi dari toilet meninggalkan Anita.
Sesampainya di meja Dimas dan Andi, ia segera mengajak Dimas untuk kembali ke kantor.
"Aku harus balik Dimas, kerjaan aku banyak banget, nggak bisa ditinggal lama lama!" ucap Dini pada Dimas.
"Lo balik sama gue nggak?" tanya Dimas pada Andi.
"Kalian duluan aja, gue balik sama Anita!"
"Oke, kita duluan ya!"
Dini dan Dimaspun meninggalkan kafe itu.
Setelah mengantarkan Dini kembali ke tempat kerjanya, Dimas segera kembali ke home store.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sudah hampir satu jam Andi menunggu Dini di depan tempat kerja Dini.
Tak lama kemudian Dini datang dengan raut wajah yang tampak kacau. Bukan karena Dimas tidak bisa menjemputnya, tapi karena pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya.
"Kusut banget sih wajahnya, kena marah lagi?" tanya Andi ketika Dini sudah duduk di sampingnya.
"Enggak, kerjaanku banyak banget hari ini," jawab Dini yang langsung bersandar dan memejamkan matanya.
Sebelum menjalankan mobilnya, Andi memasangkan sabuk pengaman untuk Dini.
Merekapun pulang dengan Dini yang tertidur di sepanjang perjalanan.
**
Di sisi lain, Adit sedang berada di depan sebuah rumah selama beberapa jam sampai langit tampak gelap.
Setelah lama menunggu, sang pemilik rumahpun datang.
"Lo dari mana aja? kenapa naik taksi lagi? mobil lo masih di servis?"
"Dit, please jangan berisik!" balas Ana sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Oke oke, sini duduk, gue ada sesuatu buat lo, nih!" ucap Adit sambil memberikan sebuah kotak yang bergambar ponsel keluaran terbaru.
"Buat gue?" tanya Ana meyakinkan
"Iya, lo bilang HP lo rusak kan, makanya gue beli ini buat lo!"
"Sorry, gue nggak bisa terima, ini berlebihan!"
"Apanya yang berlebihan sih An, gue cuma nggak mau lo tiba tiba hilang dan nggak ada kabar sama sekali, gue...."
"HP gue udah bisa kok, udah gue servis," ucap Ana berbohong, karena sebenarnya ponselnya tidak rusak, hanya saja ia selalu menonaktifkan ponselnya.
"Tapi gue dari tadi nggak bisa hubungin lo!"
"Karena baru selesai servis jadi masih mati, harus gue charge dulu!" balas Ana beralasan.
"Ya udah lo simpen aja, siapa tau lo mau ganti HP atau tiba tiba HP lo rusak lagi!"
"Nggak perlu Dit!"
"Tapi An...."
"DIT!"
"Oke, tapi lo harus janji kalau ada apa apa hubungin gue!"
"Iya, bawel banget sih lo sekarang!"
"Lo juga, sensitif banget akhir akhir ini, lagi 'dapet' ya!"
"Belum, sana pulang, gue mau istirahat!"
"Oke gue pulang, lo istirahat ya, wajah lo pucet banget dari kemarin!"
Ana hanya mengangguk. Adit lalu berjalan ke arah mobilnya.
Saat Ana baru saja berdiri dari duduknya, ia merasa perutnya sakit, ia berjalan ke arah pintu rumahnya dengan tertatih tatih.
Dari dalam mobil, saat Adit baru saja menyalakan mesin mobilnya, ia melihat Ana yang berjalan dengan darah yang mengalir di kakinya.
Aditpun segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Ana.
"An, lo kenapa?" tanya Adit sambil menjaga Ana agar tak terjatuh, karena Ana tampak begitu lemah.
"Aaawwwhh.... Aaawwwhh.... sakit Dit," ucap Ana sambil memegangi perutnya.
"Kita ke rumah sakit An," ucap Adit lalu berniat membopong Ana, namun Ana menolak.
"Enggak Dit, gue.... aawwwhh.... gue nggak mau ke rumah sakit," ucap Ana sambil merintih kesakitan.
Ia tau apa yang dirasakannya sangat sakit, tapi ia tidak akan pernah pergi ke rumah sakit, karena memang itu yang diinginkannya.
"enggak, aku nggak mau ke rumah sakit, aku tau ini sakit, tapi ini nggak akan lama, setelah ini aku pasti........"
Anapun kehilangan kesadarannya dalam dekapan Adit. Tanpa pikir panjang, Adit segera membawa Ana pergi ke rumah sakit.
Setelah beberapa menit diperiksa, Dokter keluar dan menjelaskan keadaan Ana pada Adit.
"Alhamdulillah, janinnya masih bisa bertahan, saya...."
"Maaf Dok, janin? maksud Dokter dia...."
"Iya, dia sekarang sedang mengandung dan perkiraan usia kandungannya sudah memasuki 3 minggu, kondisi ibu dan janinnya sangat lemah, jadi saya harap sang ibu bisa menjaga kesehatannya agar janin bisa berkembang dengan sehat," jelas sang Dokter.
"Lalu darah tadi?"
"Seperti yang saya jelaskan, kondisi keduanya sangat lemah jadi rentan untuk pendarahan, akibat paling buruknya bisa sampai keguguran, tapi kali ini yang terjadi hanya pendarahan biasa, bisa karena stres atau kurangnya asupan gizi."
"Baik Dok, terima kasih."
Adit lalu masuk ke ruangan Ana, ia duduk di samping Ana dengan memperhatikan dua mata indah yang terpejam di hadapannya.
__ADS_1
Entah kenapa hatinya terasa sesak. Ada sesuatu yang terasa menggores hatinya saat itu, membuatnya merasa perih untuk pertama kalinya.