
Adit masih berada di tempat parkir bersama Dini. Ia berusaha menenangkan gadis dalam pelukannya itu.
"Apa yang kamu pikirkan belum tentu sesuai sama apa yang sebenarnya terjadi Din," ucap Adit dengan mengusap rambut Dini.
"Dini kenal cewek itu kak, mereka dulu pernah deket di belakang Dini," ucap Dini dengan sesenggukan.
"Itu masa lalu Din, sekarang Dimas udah sama kamu, serumit apapun masalah kalian, kakak yakin Dimas bukan laki laki seperti itu."
Dini hanya diam, ia tau apa yang Adit ucapkan benar. Dimas bukan laki laki yang dengan sengaja menyakitinya. Ia tau Dimas sangat mencintainya seperti ia mencintai Dimas.
Namun melihat kebersamaan mereka membuat hati Dini perih mengingat bagaimana Dimas tidak ingin kembali berhubungan dengan Anita, tapi Dini malah melihat hal yang berbanding terbalik dengan apa yang Dimas ucapkan padanya.
"Temui mereka, tanyakan apa yang menurut kamu harus kamu tanyakan, kalian udah sama sama dewasa, jangan mudah terpengaruh sama ego kalian sendiri, kamu ngerti maksud kakak kan?"
Dini menganggukkan kepalanya lalu menghapus air matanya.
"Dini mau pake make up dulu kak," ucap Dini.
"Silakan!"
"Kak Adit jangan liat."
"Enggak, kakak nggak akan liat."
Dini lalu mengeluarkan tissue basahnya dan mulai memoles make up tipisnya lagi, sekedar untuk menutupi bekas tangisnya.
"nggak Ana nggak Dini sama aja, make up!" batin Adit dalam hati.
"Kak, Dini selesai," ucap Dini setelah ia menyelesaikan make up nya.
"Tunggu apa lagi, kamu temui mereka!"
"Kak Adit nggak mau ikut?"
"Kakak tunggu di sini."
Dinipun segera kembali masuk ke dalam kafe, sedangkan Adit masih menunggu di tempat parkir.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Adit berdering, panggilan dari Lukman.
"Halo pak, ada apa?"
"Ibu makan siang sama mas Andi lagi, kayaknya di tempat kerjanya mas Andi."
"Tolong Pak Lukman kirim lokasinya ke saya ya!"
"Baik mas."
"Pak Lukman ikutin aja permintaan mama asalkan tidak membahayakan dan selalu kasih kabar saya ya pak!"
"Baik mas."
Klik. Sambungan berakhir. Adit lalu mengecek lokasi yang sudah Lukman kirim padanya.
"nggak terlalu jauh," batin Adit dalam hati.
Di sisi lain, Dini memberanikan dirinya untuk menghampiri Dimas dan Anita yang duduk di sudut kafe itu.
"Andini!" ucap Dimas yang begitu terkejut melihat kedatangan Dini yang tiba tiba, terlebih ia sedang bersama Anita saat itu, ia takut Dini akan salah paham padanya.
Dini hanya tersenyum lalu duduk di kursi kosong di antara mereka.
"Kalian cuma berdua aja?" tanya Dini.
"Iya, kita cuma berdua, kamu sendirian?" jawab Anita sekaligus bertanya.
"Kita nggak sengaja ketemu kok, iya kan Nit?" sahut Dimas, berharap ucapan Anita tidak membuat Dini salah paham.
"Iya, kita nggak sengaja ketemu kok, kamu jangan salah paham ya, aku sama Dimas nggak ada hubungan apa apa, kita di sini......"
"Aku di sini karena diundang opening pemilik kafe, dia salah satu klien ku dan Anita tiba tiba datang ke mejaku karena kebetulan dia lagi makan di sini," ucap Dimas berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Aku cuma tanya satu pertanyaan aja kenapa kalian jelasinnya panjang banget sih!" balas Dini dengan raut wajah yang tampak ragu dengan penjelasan mereka.
"Nit, bisa tinggalin kita berdua?" pinta Dimas pada Anita.
"Kenapa?" balas Anita bertanya.
"Nggak perlu, aku yang akan pergi, aku nggak mau ganggu makan siang kalian," ucap Dini lalu segera berdiri dari duduknya.
Dimas pun mengejar Dini, menggandeng tangannya dan mengajaknya duduk di bangku yang berada di depan.
"Kamu jangan salah paham Andini, aku....."
"Aku nggak masalah kalau kalian berteman lagi, aku cuma nggak mau kamu sembunyiin sesuatu lagi dari aku!"
"Aku nggak sembunyiin apa apa sayang, semua yang aku jelasin tadi bener, kamu bisa tanya sama Andi kalau kamu nggak percaya sama aku, Andi sendiri yang minta aku datang kesini karena dia juga ada janji makan siang."
"Jawab pertanyaan aku dengan jujur Dimas, apa kamu udah maafin Anita? apa kalian udah berteman lagi?"
"Enggak, aku nggak bisa maafin dia dan aku nggak mau berurusan lagi sama dia, percaya sama aku Andini, ini cuma kebetulan!"
Dini mengangguk meski masih banyak tanya dalam hatinya.
"Aku harus pergi Dimas, jam makan siangku udah hampir selesai," ucap Dini lalu berdiri, namun Dimas menahannya.
"Aku kangen sama kamu," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
"aku juga Dimas, tapi......"
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.
"Aku anterin ya!" ucap Dimas.
"Nggak perlu, aku sama Pak Adit," balas Dini lalu segera meninggalkan Dimas.
Dimas hanya berdiri di tempatnya melihat Dini pergi. Dilihatnya laki laki di ujung sana membelai rambut Dini dan merangkul pundaknya.
"jaga hati kamu buat aku Andini, aku akan kembali setelah semua ini selesai," batin Dimas dalam hati.
"Everything okay?" tanya Adit ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang masih sedih.
**
Siang hari di tempat lain.
Andi sedang makan siang bersama mama Adit di home store.
__ADS_1
"Tante seneng bisa makan siang lagi sama kamu," ucap mama Adit pada Andi.
"Andi juga tante."
"Maaf kalau tante ganggu kamu ya Andi, kamu tau alasannya kan, tante merasa kamu mirip sekali sama anak tante."
"Iya tante, Andi ngerti, Andi juga seneng kok bisa ngabisin waktu sama tante," balas Andi.
Tepat saat jam 1 siang, mama Adit meninggalkan home store dan kembali pulang.
Beberapa menit setelah kepergian mama Adit, Dimas datang.
"Udah selesai Dim?" tanya Andi.
"Udah, lo udah makan siang?"
"Udah, barusan aja sama tante Siska," jawab Andi.
Dimas lalu tersenyum kecil dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Kenapa lo senyum senyum?"
"Nggak papa," jawab Dimas sambil menahan senyumnya.
"Apaan sih Dim, jangan rese' deh!"
"Gue nggak habis pikir aja, selera lo random banget!"
"Maksud lo?"
"Abis pacaran sama Aletta yang cewek barbar itu, sekarang lo malah sama tante tante hahaha....."
PLAAAKKK
Sebuah buku terlempar ke kepala Dimas.
"Gue kan udah bilang, itu mamanya Adit, atasannya Dini."
"Iya gue tau, tapi ya aneh aja liat kalian deket kayak anak sama ibu kayak gitu, kalian kan baru kenal!"
Andi diam beberapa saat, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Dimas.
"Dimas bener, aku baru kenal sama tante Siska, tapi rasanya aku udah lama kenal dan akrab banget, apa ini semua berlebihan? enggak, tante Siska bilang aku mirip sama anaknya yang dilukiskan itu kan? tapi....."
"Gue tau lo mirip sama anaknya, tapi kalian kan nggak ada hubungan apa apa, gue cuma takut orang di luar sana anggap lo cowok nggak bener," ucap Dimas membuyarkan Lamunan Andi.
Andi masih diam. Ia mencerna dengan baik semua ucapan Dimas.
"Gue sama Andini percaya sama lo, kita kenal banget sama lo, tapi orang lain enggak Ndi, mereka cuma menilai dari apa yang mereka lihat."
"Jadi menurut lo gue sama tante Siska berlebihan?"
"Gue nggak mau ngejudge apapun tentang lo, gue yakin lo lebih tau mana yang baik, sebagai sahabat gue cuma bisa ingetin lo aja," jawab Dimas.
"Thanks Dim," jawab Andi lalu kembali ke meja kerjanya.
Ia memang sedang mengerjakan desain nya, namun dalam pikirannya ia masih memikirkan ucapan Dimas.
"Gue tadi liat Andini sama Adit," ucap Dimas.
"Dimana?" tanya Andi.
"Lo sama Anita? kok bisa?"
"Nggak sengaja ketemu, apa Andini deket sama atasannya itu?"
"Lumayan, kenapa? cemburu?"
"Enggak, gue percaya sama Andini."
"Lo yakin sama jawaban lo?"
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Nggak lebih cemburu waktu dia sama lo," jawab Dimas pelan.
"Udah udah kerja, jangan bahas cewek mulu!" balas Andi lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
**
Malam itu, Dini dan Andi sedang duduk di depan rumah Dini.
"Ndi, apa Dimas sekarang deket sama Anita?" tanya Dini pada Andi.
"Enggak, kenapa?"
"Kamu yakin?"
"Setauku sih mereka nggak deket, Anita biasanya ke home store, tapi cuma ngobrol sama aku, Dimas nggak pernah mau ngobrol sama dia."
"mungkin aku cuma salah paham, tapi foto itu? kenapa Anita bisa pake hoodie nya Dimas?"
"Ada apa Din?"
"Nggak papa, aku cuma sedikit takut."
"Takut kenapa?"
"Kamu inget waktu kita SMA kan? di belakangku mereka deket banget, sampai sekarang aku bahkan nggak tau sedeket apa hubungan mereka dulu dan gimana bisa mereka jadi deket."
"Itu cuma masa lalu Din, Anita juga udah lupain itu."
"Dimas nggak akan bohongin aku kan Ndi? dia akan jaga hatinya buat aku kan?"
"Pasti Din, aku tau banget gimana cintanya dia sama kamu."
Dini lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi, memandang langit malam yang tampak gelap dengan kerlip bintang yang menghiasai.
**
Hari berganti. Malam itu Dini bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan anak dari teman mama Adit. 5 menit lagi Adit dan mamanya akan menjemput Dini di rumahnya.
Dengan gaun indah yang sudah dibelikan oleh mama Adit, Dini tampak begitu cantik dengan polesan make up flawlees yang menghiasai wajahnya.
Toookkk..... Tooook.... Toooookk....
"Din, ada tamu!" ucap ibu Dini dari luar pintu kamar Dini.
"Iya bu, sebentar."
Setelah memastikan persiapannya selesai, Dini keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Mama Siska, kak Adit."
"Hai sayang, kamu cantik banget malam ini," ucap mama Adit sambil memeluk Dini.
"Terima kasih ma."
"Adit sama mama mau izin buat ngajak Dini ke pesta tante," ucap Adit pada ibu Dini.
"Iya, tante sudah izinin Dini ikut sama kalian," balas ibu Dini.
"Terima kasih tante."
"Terima kasih sis," ucap mama Adit pada ibu Dini yang dibalas anggukan kepala dan senyum ibu Dini.
Dini, Adit dan mamanya pun meninggalkan rumah Dini.
Hampir 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah gedung tempat pesta diselenggarakan. Merekapun segera masuk.
"Dini? dia sama siapa? kenapa mereka gandengan tangan? harus cepet cepet foto nih!" batin Anita yang melihat kedekatan Dini dan Adit.
Kebetulan, orangtua dari pengantin itu adalah teman papa Anita. Jadi Anita datang ke pesta itu bersama sang papa.
"siap siap perang dunia lagi!" batin Anita lalu menghubungi Dimas.
Hingga panggilan ke lima kali, Dimas tidak juga menerima panggilannya. Ia pun mengirimkan foto yang baru saja ia ambil pada Dimas.
Aku pikir Dini sama kamu, ternyata bukan
Tak sampai 2 menit setelah foto itu dikirim, Dimas segera menghubungi Anita.
"Kamu dimana Anita? siapa yang ada di foto itu?"
"Apa kamu nggak bisa ngenalin pacar kamu sendiri? dia emang cantik banget sih hari ini."
"Jangan main main sama aku Anita, dimana kamu sekarang?"
"Aku akan kasih tau kamu tapi dengan satu syarat!"
"ANITA!"
"Terserah kamu Dimas, pilihan ada di tangan kamu."
"Oke, apa syarat kamu?"
"Aku mau ngabisin waktu satu hari sama kamu, gimana? mudah kan?"
"Kamu emang nggak pernah berubah Anita, dari dulu kamu....."
Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt
Anita sengaja mematikan sambungan ponselnya karena tidak ingin mendengarkan kemarahan Dimas.
Tak lama kemudian Dimas kembali menghubunginya.
"Jangan hubungi aku kalau kamu cuma mau marah!"
"Oke oke, aku setuju, sekarang cepet kasih tau aku kamu sekarang dimana?"
"Aku shareloc sekarang."
Klik. Sambungan berakhir. Anita lalu membagikan posisinya saat itu pada Dimas.
Setelah mendapatkan dimana posisi Anita saat itu, Dimas segera menuju ke sana.
Ia menunggu di depan gedung karena ia tidak diizinkan masuk tanpa kartu undangan.
Setelah hampir 2 jam menunggu, Dimas melihat gadis yang dicintainya sedang berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang laki laki.
Tanpa pikir panjang, Dimas segera menghampiri Dini dan menarik tangan Dini begitu saja.
"Ikut aku!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.
"Dimas!" ucap Dini yang sangat terkejut dengan kedatangan Dimas.
Tangan Dini terlepas dari Adit dan mengikuti Dimas untuk beberapa saat sebelum Dini menarik tangannya dari Dimas.
"Kenapa? kamu nggak mau ikut aku?" tanya Dimas yang tampak sudah emosi.
Dini membawa pandangannya ke arah Adit, beruntung mama Adit masih berada di dalam gedung saat itu sehingga tidak menyaksikan kejadian itu.
"Aku... aku nggak bisa," ucap Dini bimbang.
"Aku tunangan kamu Andini, ikut aku pulang sekarang!" ucap Dimas dengan menarik tangan Dini secara paksa meski Dini menolaknya.
Melihat hal itu, Adit segera menghampiri Dini dan Dimas untuk mencegah Dimas memaksa Dini.
"Stop Dim, kamu menyakitinya!" ucap Adit dengan menarik tangan Dimas dari Dini.
"Gue nggak ada urusan sama lo, dia tunangan gue, nggak seharusnya dia disini sama lo!" balas Dimas penuh emosi.
"Oke, gue tau, gue nggak akan ngelarang Dini pergi asal lo jangan kasar sama dia," ucap Adit yang mengikuti gaya bicara Dimas.
"Bukan urusan lo!" balas Dimas lalu kembali menarik tangan Dini, namun Dini menolak.
"Kamu lebih pilih dia?" tanya Dimas pada Dini.
Dini lalu membawa pandangannya ke arah pintu masuk gedung dan mendapati mama Adit tampak sedang mencari keberadaanya dan juga Adit.
"Andini, jawab aku!" ucap Dimas setengah berteriak.
"Aku akan jelasin semuanya tapi nggak sekarang Dimas, aku....."
"Oke kalau itu mau kamu!"
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Mungkin ibu kamu bener, aku bukan laki laki yang baik buat kamu, emang nggak seharusnya aku berjuang sejauh ini buat pertahanin hubungan kita."
"Kamu menyesal?" tanya Dini.
"Tanyakan itu sama diri kamu sendiri Andini!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Dini dan Adit.
Dini hanya diam di tempatnya, ia tau ia tidak akan bisa menahan air matanya saat itu.
"Kejar dia," ucap Adit dengan mengusap punggung Dini.
"Tapi mama....."
"Itu urusan kakak, Dimas cuma emosi, kamu harus mengerti perasaannya saat ini."
Dini ragu, ia ingin mengejar Dimas dan menjelaskan semuanya, namun ia juga tidak ingin meninggalkan mama Adit di sana.
__ADS_1