
Langit sore mengantarkan Adit ke tempat tinggal Ana. Ia membeli banyak makanan untuk ia bagikan pada pekerja di rumah itu.
Sesampainya di sana, Adit berjalan pelan ke arah pintu. Dalam hatinya ia menanti kedatangan Ana yang selalu memeluknya jika ia datang.
Namun sampai ia melewati pintu, tak ada tanda tanda kedatangan Ana yang biasa menyambutnya dengan pelukan.
"Ana dimana Lis?" tanya Adit pada Lisa yang sedang sibuk di dapur.
"Eh mas Adit, mbak Ana di kamar mas, beberapa hari ini mbak Ana jarang keluar kamar," jawab Lisa.
"Ini ada makanan, kamu bagi buat yang lain juga ya!" ucap Adit sambil memberikan bungkusan makanan pada Lisa.
"Terima kasih mas Adit," ucap Ana yang hanya dibalas anggukan kepala Adit.
Adit lalu berjalan ke arah kamar Ana, ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban.
"An, aku masuk ya!" ucap Adit sebelum ia masuk.
Meski tak mendapat jawaban dari Ana, ia pun membuka pintu kamar Ana dan masuk begitu saja.
Tampak Ana sedang terpejam di atas ranjangnya. Aditpun mendekat dan duduk di sebelahnya.
"An, kamu baik baik aja?" tanya Adit.
Ana hanya diam dan matanya masih terpejam.
"Ana, kamu marah sama aku?" tanya Adit.
Ana lalu membuka matanya dan menatap Adit dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Adit.
"Aku masih berharap kalau semua ini mimpi," ucap Ana.
"Kenapa? apa ada yang salah sama aku? apa kamu nggak suka tinggal di sini?"
Ana hanya tersenyum lalu mengambil laptop di mejanya.
"Kamu bisa tinggalin aku sendirian?"
"Kenapa? kamu marah sama aku?" tanya Adit.
"Aku lagi ngerjain blog, aku nggak bisa ngetik apapun kalau ada kamu di sini!"
"Kamu nulis di blog?"
"Iya, cuma itu yang bisa aku lakuin sekarang," jawab Ana.
"An, apa aku ngelakuin kesalahan? kasih tau aku An, aku....."
"Enggak Dit, nggak ada yang salah, kamu keluar ya, aku harus unggah tulisanku sebelum malem!"
Adit mengangguk. Ia lalu membelai rambut Ana dan keluar dari kamar Ana.
Adit duduk di ruang tengah, menunggu Ana keluar.
"ada apa sebenarnya An? kamu bahkan nggak pake kalung yang aku kasih buat kamu," batin Adit bertanya tanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Lisa mengetuk pintu kamar Ana untuk mengantarkan makan malam.
"Mbak Ana nggak mau temuin mas Adit, kasian mas Adit mbak!" ucap Lisa pada Ana.
"Dia belum pulang?"
"Belum, dari tadi duduk di ruang tengah," jawab Lisa.
"Nggak papa biarin aja, nanti juga dia pulang!" ucap Ana yang hanya dibalas anggukan kepala Lisa.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Adit masih tertidur di ruang tengah.
Saat Ana akan menaruh piringnya di dapur, ia melihat Adit di ruang tengah. Anapun segera menghampiri Adit setelah kembali dari dapur.
"Kenapa kamu di sini Dit? kenapa kamu nunggu aku selama itu? kenapa kamu nggak pulang? kenapa kamu harus sebodoh ini Dit? kenapa?" batin Ana bertanya.
Saat Ana menyentuh tangan Adit, seketika Adit terbangun.
"Ana, maaf aku ketiduran," ucap Adit yang segera duduk.
"Kamu kenapa belum pulang?" tanya Ana.
"Aku ke sini mau ketemu kamu An, aku nunggu kamu sampai kamu selesaiin tulisan kamu!"
"Kamu harus pulang Dit!"
"An, ada apa sebenarnya? kenapa kamu tiba tiba kayak gini?" tanya Adit dengan menarik tangan Ana ke dalam genggamannya.
"Aku......"
Biiiiippp biiiipp biiipp
Ponsel Adit berdering, panggilan dari mama Siska yang tidak bisa ia tolak.
"Halo ma, ada apa?"
"Kamu dimana Dit? kamu nggak akan biarin mama sendirian kan di rumah?"
Seketika Adit menepuk jidatnya mendengar pertanyaan sang mama. Ia benar benar lupa jika hari itu Andi pulang ke rumah ayah dan ibunya.
"Apa Andi nggak pulang ma?"
"Dia menginap di rumah ayah dan ibunya, mama sendirian Dit, kamu pulang sekarang ya!"
Adit menghembuskan napasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya ma, Adit pulang sekarang," jawab Adit.
Setelah panggilan berakhir, Adit kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Maaf An, aku harus pulang," ucap Adit pada Ana.
"Iya, kamu emang harus pulang," balas Ana dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu harus jaga diri baik baik An, jaga kesehatan kamu, jaga dia biar dia tumbuh sehat di dalam sana," ucap Adit dengan mengusap perut Ana, namun Ana segera menarik tangan Adit dari perutnya.
"Aku akan jaga diri baik baik, kamu nggak perlu khawatir," ucap Ana lalu berdiri dan melangkah ke kamarnya.
"An, aku....."
BRAAAKKK
Ana menutup pintunya dengan kasar, membuat Adit menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Aku pulang dulu An, hubungin aku kalau ada apa apa!" ucap Adit lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Adit mengacak acak rambutnya kasar. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Ana. Ia tidak mengerti apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga membuat sikap Ana tiba tiba berubah.
Sesampainya Adit di rumah, ia segera masuk ke kamar sang mama.
"Kamu kemana aja, kenapa baru pulang?"
"Iya ma, maaf, mama mau minum obat?"
"Iya, mama takut kalau tiba tiba mama melakukannya lagi."
"Apa mama masih nggak mau bertemu psikolog atau psikiater?" tanya Adit.
"Apa mereka bisa menyembuhkan mama? mereka hanya akan menganggap mama gila Dit, mama...."
"Ma, justru mereka yang akan membantu menangani kepanikan mama, mereka yang lebih mengerti psikis mama," ucap Adit.
"Mama udah sehat Dit, kamu tau itu!"
Adit lalu mengambil ponsel sang mama dan membuka riwayat percakapannya bersama Rudi.
"Andi baru pergi dari rumah ini beberapa jam yang lalu dan mama sudah lebih dari 100 kali menanyakan keadaan Andi sama Rudi, itu berlebihan ma!"
"Mama cuma takut dia nggak akan kembali lagi ke sini Dit, mama takut kehilangan dia lagi," ucap mama Siska dengan terisak.
Adit lalu duduk di samping sang mama dan memeluknya.
"Malam ini Adit tidur di sini sama mama ya!"
"Jangan, mama takut kalau...."
"Adit mau nemenin mama," ucap Adit cepat.
"Mama nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu sayang!"
"Nggak ada yang lebih buruk dari melihat mama sedih, Adit nggak mau mama sedih lagi."
Mama Siska lalu memeluk Adit. Ia benar benar bersyukur karena memiliki Adit dalam hidupnya.
Akhirnya malam itu Adit tidur di kamar sang mama. Ia tidak peduli jika sang mama tiba tiba menyakitinya, ia hanya tidak ingin membiarkan sang mama merasa sendirian saat Andi meninggalkan rumah.
Malam itu, mama Siska tertidur dengan lelap bersama Adit di sampingnya. Ia berusaha untuk menahan keadaan emosinya. Ia tidak ingin menyakiti anaknya lagi. Ia tidak ingin terlihat begitu buruk di hadapan anak anaknya.
**
Di tempat lain, malam itu Dini sedang berada di rumah Andi. Ia membantu Andi mengemasi beberapa barang yang harus ia bawa ke rumah mama Siska.
"Cuma ini aja Ndi?" tanya Dini.
"Iya, lainnya biar di sini aja, aku kan juga sering ke sini nanti," jawab Andi.
Dini menganggukkan kepalanya lalu duduk di ranjang Andi. Ia membuka sebuah album foto milik Andi yang berisi foto masa kecil Andi.
Sesekali Dini menahan tawanya melihat Andi sewaktu kecil.
"Aku anter kamu pulang ya!" ucap Andi pada Dini.
"Ntar aja, aku masih mau di sini!"
"Jangan tidur terlalu malem Din, besok pagi kamu kerja!"
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Andi berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Halo Dim, ada apa?"
Seketika Dini membawa pandangannya pada Andi saat ia mendengar Andi menyebut nama Dimas.
"Andini sama lo Ndi?" tanya Dimas.
"Iya, dia lagi sama gue, kenapa?"
"Pantesan nggak bisa dihubungi, dia nggak bawa hp nya ya?"
"Kamu nggak bawa hp Din?" tanya Andi pada Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya lalu meminta ponsel Andi.
Andipun memberikan ponselnya pada Dini.
"Dimas, maaf aku nggak bawa hp, nanti aku hubungi kamu kalau aku udah pulang!" ucap Dini.
"Ini udah lebih dari jam 10 sayang, kamu mau pulang jam berapa?"
"Iya, abis ini pulang, aku masih bantuin Andi beresin barang barangnya, dia lagi di rumah ibunya sekarang."
"Ya udah kalau gitu, jaga diri kamu baik baik ya!"
"Iya, bye!"
"Bye!"
Panggilan berakhir, Dini lalu mengembalikan ponsel Andi.
"Ayo pulang!"
"Nggak mau," ucap Dini lalu kembali membuka album foto di pangkuannya.
"Dimas minta kamu pulang kan?"
Dini lalu menutup album foto di pangkuannya, menaruhnya di meja lalu mendekat pada Andi dan memeluknya.
"Aku masih kangen sama kamu, apa aku nggak boleh lama lama sama kamu?" ucap Dini merengek.
"Ya udah, lanjutin liat fotonya, aku mau ambil foto keluarga yang ada di depan dulu!" balas Andi sambil melepaskan dirinya dari pelukan Dini.
"Yeeeyyy!!!" balas Dini dengan bersorak.
Setelah mengambil foto keluarga yang akan Andi bawa ke rumah mama Siska, Andi mengobrol dengan ayah dan ibunya sebelum masuk ke kamarnya.
Saat Andi masuk ke kamar, ia mendapati Dini yang sudah tertidur dengan terduduk dan memegang album foto di pangkuannya.
Andi hanya tersenyum kecil lalu duduk di samping Dini.
"Din, bangun," ucap Andi dengan menyentuh tangan Dini.
"Kamu harus pulang Din," ucap Andi yang melihat Dini begitu terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Karena Dini tampak terlalu nyenyak, dengan perlahan Andi membaringkan Dini di ranjangnya lalu menutup tubuh Dini dengan selimutnya.
"Kenapa kamu malah tidur di sini, Dimas bisa salah paham nanti," ucap Andi dengan membelai rambut Dini.
Andi lalu mengambil ponselnya dan memberi tahu ibu Dini jika Dini tidur di rumahnya. Ia juga menghubungi Dimas, memberi tahu Dimas jika Dini tertidur di kamarnya.
"Halo Dim, lo belum tidur kan?"
"Belum, gue nunggu Andini, dia masih sama lo?"
"Dia ketiduran, udah gue coba buat bangunin tapi dia nggak bangun bangun," jawab Andi.
"Dia tidur di kamar lo?"
"Iya, tapi lo tenang aja, ada ibu sama ayah di rumah ini, gue nggak akan tidur sekamar sama Dini, gue tidur di ruang tamu!"
"Ya udah biarin aja, jangan dibangunin," ucap Dimas yang terdengar begitu pasrah.
"Sorry Dim, gue nggak ada maksud apa apa, gue cuma nggak mau lo salah paham!"
"Gue percaya sama lo!"
"Thanks Dim."
Klik. Sambungan berakhir.
Andi lalu keluar dari kamarnya dan berbaring di sofa ruang tamunya.
**
Pagi telah tiba, Dini mengerjapkan matanya saat ia mendengar suara gaduh di dekatnya.
"Andi!"
Dini membelalakkan matanya saat ia melihat Andi. Ia pun segera terduduk dan baru menyadari jika dirinya tertidur di kamar Andi.
"Udah bangun Din?" tanya Andi yang sedang menyiapkan barangnya untuk ia bawa ke rumah mama Siska.
"Apa semalem kita....."
"Enggak, kita nggak tidur sekamar, pagi pagi udah kotor aja pikiran kamu!"
"Kamu tidur dimana?"
"Di ruang tamu."
"Di ruang tamu? kenapa di ruang tamu Ndi?"
"Di rumah ini cuma ada 2 kamar Din, nggak mungkin aku tidur sama ibu dan ayah kan?"
"Kamu kan bisa tidur di sini," jawab Dini pelan.
"Kamu nggak takut tidur seranjang sama aku?" balas Andi bertanya dengan senyum nakal.
"Iiiihhh, jangan senyum kayak gitu, ngeri tau nggak!"
"Hehehe.... sana mandi, kamu harus kerja kan?"
Dini lalu merapikan ranjang Andi setelah semua kesadarannya terkumpul.
"Pasti Dimas marah deh sama aku, aaarghhh nyebelin, kenapa kamu nggak bangunin aku sih Ndi!"
"Aku udah bangunin kamu Din, tapi kamu nggak bangun bangun!"
"Apa iya?"
"Cepet pulang, hubungin Dimas biar dia nggak khawatir!"
Dini mengangguk lalu segera keluar dari kamar Andi.
"Tunggu Din!" panggil Andi.
Dinipun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andi.
"Aku anter kamu ke kantor ya!"
Dini hanya mengangguk dengan senyumnya lalu segera berlari pulang.
Sesampainya di rumah, Dini segera menghubungi Dimas namun berkali kali ia coba, Dimas tidak pernah menerima panggilannya.
Dini pun meninggalkan ponselnya dan segera mandi.
"Kamu semalem tidur di rumah Andi?" tanya ibu Dini saat mereka sedang sarapan.
"Iya Bu, Dini ketiduran, tapi kita nggak tidur satu kamar kok, Andi tidur di ruang tamu," jawab Dini.
"Dia memang laki laki yang baik, dia bisa jaga perempuannya dengan baik," ucap ibu Dini.
Dini hanya mengangguk dengan tersenyum canggung lalu segera menyelesaikan sarapannya.
Setelah sarapan, Dini segera keluar dari rumahnya. Ia masih berusaha menghubungi Dimas namun Dimas masih belum menerima panggilannya sama sekali.
"Dimas kamu marah? aku minta maaf Dimas," batin Dini dalam hati.
"Din, ayo!" panggil Andi.
Dini pun memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan ke rumah Andi. Sudah ada Rudi yang siap mengantar mereka pagi itu.
"Pagi pak Rudi!" sapa Dini pada Rudi.
"Pagi mbak Dini," balas Rudi.
Merekapun segera meninggalkan rumah Andi. Sebelum pulang ke rumah mama Siska, Andi meminta Rudi untuk mengantarkan Dini ke kantor.
"Maaf mas, mas Andi sudah menghubungi ibu?" tanya Rudi pada Andi.
"Mama? sudah pak, kenapa?"
"Syukurlah kalau begitu, dari kemarin ibu nanyain mas Andi terus sama saya," ucap Rudi.
"Kenapa mama nggak langsung hubungin Andi aja!"
"Mungkin ibu takut ganggu mas Andi, jadi ibu nanya ke saya, mungkin tiap 5 menit sekali hehe...."
"5 menit sekali? maaf ya pak, nanti Andi coba ngomong sama mama."
"Nggak papa mas, mungkin ibu khawatir sama mas Andi."
Andi hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika sang mama memang masih berat melepaskannya menginap di rumah ayah dan ibunya.
__ADS_1