
Gelap masih menemani langit malam, Andi dan Dini masih duduk berdua di halaman depan vila.
Dini terdiam mendengar jawaban Andi tentang seseorang yang ada di hatinya. Entah Andi hanya bercanda atau memang sedang serius saat itu.
Andi lalu membawa pandangannya pada Dini dan tersenyum.
"Aku mau fokus sama apa yang ada di depanku Din, tentang siapa yang akan jadi masa depanku nanti biar waktu yang menjawabnya!" ucap Andi.
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
**
Di tempat lain, Anita yang baru saja keluar dari mini market berjalan pulang ke arah vila. Karena minimnya penerangan di sana, Anita terantuk batu dan membuatnya terjatuh di jalan.
"Aaawwww!!" pekik Anita yang merasa kakinya begitu sakit.
Saat Anita mencoba berdiri, ia semakin merasakan sakit di kakinya. Anitapun kembali terduduk di pinggir jalan dengan memegangi kakinya yang bahkan terasa sakit saat digerakkan.
Anita lalu meraba satu per satu saku celana dan jaketnya namun ia tidak menemukan ponselnya.
"Aaahhh sial, aku nggak bawa hp!" gerutu Anita kesal.
Ia pun pasrah, ia hanya bisa menunggu seseorang datang dan membantunya untuk kembali vila.
Setelah beberapa lama menunggu, tiba tiba sorot lampu mobil mendekat ke arahnya. Anita segera menyadari siapa pemilik mobil itu setelah mobil itu berhenti di dekatnya.
Seseorang lalu turun dari mobil dan menghampirinya.
"Kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang melihat Anita terduduk di pinggir jalan.
"Kakiku sakit banget Dim, buat gerak aja sakit," jawab Anita.
Dimas lalu berjongkok di depan Anita, menyentuh kaki Anita dan dengan perlahan meluruskannya. Namun Anita semakin mengerang kesakitan saat Dimas memindahkan posisi kakinya.
"Aaahhh, sakit banget Dim!"
"Sorry sorry, kayaknya kamu terkilir," ucap Dimas.
"Aku nggak mungkin lumpuh lagi kan? aku masih bisa jalan kan?" tanya Anita khawatir.
Dimas hanya tersenyum tipis mendengar kekhawatiran Anita, membuat Anita seketika terpesona melihat senyum Dimas yang sudah lama tidak pernah ia lihat.
"Aku baru bisa jalan beberapa bulan, aku nggak mau lumpuh lagi Dimas!" ucap Anita.
"Enggak Nit, kamu nggak papa, biar bi Em yang coba urut kaki kamu nanti," balas Dimas lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Anita berdiri.
Anita lalu meraih tangan Dimas dan berusaha untuk berdiri, namun belum sampai ia berdiri sempurna, ia kembali terjatuh ke arah Dimas.
Dimas yang berusaha menopang tubuh Anitapun ikut terjatuh dengan posisi Anita di atasnya.
Anita menatap wajah Dimas yang saat itu sangat dekat dengannya, membuat jantungnya kembali bergemuruh dan berdetak dengan kencang.
Dimas lalu memegang pinggang Anita, menggeser posisi Anita dengan pelan agar ia bisa berdiri.
Dimas lalu membuka pintu mobilnya dan membopong Anita untuk dibawa masuk ke dalam mobil.
Anita hanya diam membiarkan getaran dalam hatinya menumbuhkan bunga bunga cinta yang bermekaran.
Matanya masih menatap Dimas tanpa berpaling sedetikpun sampai Dimas mendudukkannya di kursi depan.
Dimas lalu menutup pintu mobil, berjalan ke arah balik kemudi. Tanpa banyak bicara Dimas mengendarai mobilnya kembali ke arah vila.
Sesampainya di vila, Dimas segera membopong Anita dan membawanya masuk ke dalam vila.
Andi dan Dini yang sedang membakar sosis di halaman depan begitu terkejut melihat apa yang Dimas lakukan pada Anita.
Dinipun segera berlari meninggalkan halaman untuk ikut masuk ke dalam vila, begitu juga Andi.
"Kamu kenapa Nit?" tanya Andi khawatir.
"Aku tadi jatuh di jalan, kakiku sakit banget," jawab Anita.
"Aku panggil bi Em dulu buat bantuin kamu," ucap Dimas pada Anita.
Dimas lalu pergi ke belakang untuk mencari bi Em dan memintanya memijat kaki Anita yang terkilir.
Sedangkan Dini segera masuk ke kamarnya menahan cemburu dalam dadanya. Ia duduk di tepi ranjang dengan kesal.
"Dimas cuma bantuin Anita, nggak ada yang perlu dikhawatirkan," batin Dini dalam hati.
"Tapi tetep aja, dia suamiku, dia gendong cewek lain di depanku, wajar kan kalau aku cemburu?" batin Dini yang sedang beradu dengan logikanya.
Tak lama kemudian Dimas masuk ke kamar dan menghampiri Dini.
"Kamu marah?" tanya Dimas dengan berjongkok di hadapan Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan mengalihkan pandangannya dari Dimas.
"Aku tadi liat dia duduk di pinggir jalan sayang, dia bilang abis jatuh dan kakinya sakit, makanya aku gendong dia," ucap Dimas menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi punggung kamu juga kotor, berarti kalian jatuh berdua!" ucap Dini.
"Tadinya aku mau bantuin dia berdiri karena aku pikir dia masih bisa berdiri, tapi ternyata dia nggak bisa berdiri dan dia jatuh ke arahku, makanya aku ikut jatuh juga," jelas Dimas.
"Tetep aja, kalian jatuh berdua!" balas Dini kesal.
Dimas tersenyum tipis melihat istrinya yang tampak menggemaskan saat sedang cemburu.
"Aku cuma bantuin dia sayang, dia juga beneran jatuh tadi dan kakinya terkilir," ucap Dimas berusaha meyakinkan Dini.
"Terserah kamu aja," balas Dini lalu berdiri dari duduknya, namun Dimas mendorong Dini membuat Dini terjatuh di atas ranjang.
Tanpa banyak basa-basi Dimas menjatuhkan dirinya di atas Dini dan menatap ke dalam mata Dini.
Dengan masih menatap Dini, tangan Dimas bekerja dengan sendirinya, membuat Dini terdiam dengan jantung yang berdetak kencang.
Mereka memang sudah melakukannya berkali kali, tapi Dimas selalu bisa membuat jantung Dini berdegup kencang saat mereka akan melakukannya.
"Dimas, jangan sekarang," ucap Dini menolak, namun membiarkan tangan Dimas bekerja dengan lihai di bawah sana.
Dini menelan ludahnya sendiri bersama detak jantung yang semakin tak terkendali.
"Aku.... aku masih marah sama kamu," ucap Dini yang berusaha untuk bisa menguasai keadaan.
Ia tidak ingin terjatuh dalam "perangkap" Dimas, namun apa yang Dimas lakukan memaksanya untuk terjatuh sedalam dalamnya yang membuatnya tanpa sadar memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang Dimas berikan padanya.
Dimas semakin mendekatkan bibirnya dan memberikan kecupan nya pada Dini dengan semakin dalam.
Dini telah benar benar jatuh dan membiarkan Dimas melakukan apa yang sudah ia mulai.
Tak butuh waktu lama bagi Dini dan Dimas untuk segera menyelami keindahan surga dunia mereka. Peluh mulai membasahi Dini dan Dimas meski mereka tau jika vila itu berada di tempat dengan suhu yang cukup dingin.
Sampai akhirnya mereka telah sampai pada puncaknya, membuat mereka berdua lunglai di atas ranjang.
Dimas menatap wajah istrinya lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Maaf kalau apa yang aku lakukan tadi bikin kamu marah," ucap Dimas.
"Aku cuma cemburu, wajar kan?"
"Iya, aku minta maaf," balas Dimas lalu kembali mencium bibir Dini.
Waktu berlalu, pesta barbeque yang mereka rencanakan sudah gagal. Bukan hanya karena Anita yang terluka, tapi juga karena Dini dan Dimas yang sudah terjatuh ke dalam dunia mereka sendiri.
**
Di tempat lain, sejak insiden yang membuat Ana kehilangan bayi dalam kandungannya, Ana masih tinggal di rumah yang Adit berikan padanya.
Sedangkan mama Siska kembali ke rumahnya sendiri meski sesekali mengunjungi Ana.
Beberapa bulan berlalu sejak insiden itu terjadi, namun bayang bayang sang buah hati masih memenuhi memori Ana.
Ia sering terdiam di kamarnya, menatap barang barang bayi yang sudah ia dan Adit siapkan. Ia masih sering menangis, bahkan sesekali ia kembali menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi.
Pagi itu, suara mobil terdengar memasuki halaman rumahnya, namun Ana hanya diam di tempatnya termenung.
Tak lama kemudian pintu kamar diketuk, Adit masuk ke dalam kamar dan menghampiri Ana yang duduk termenung di jendela kamarnya.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu," ucap Adit pada Ana.
Ana hanya menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar.
Adit menyiapkan makanan yang ia bawa dan memberikannya pada Ana. Dengan malas Ana memakan makanan itu beberapa suap lalu kembali masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya.
"Kamu mau liburan?" tanya Adit yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Ana.
"Kamu ada di depanku An, tapi aku masih kangen sama kamu, aku kangen suara kamu, senyum kamu dan semua tingkah kamu yang selalu bikin aku ketawa," ucap Adit.
Ana hanya diam mendengarkan ucapan Adit, sama seperti sebelumnya, hampir tak pernah ada kata yang keluar dari bibir Ana.
"Dia udah bahagia di sana An, aku yakin dia juga mau kamu bahagia," ucap Adit.
Ana tetap diam dengan air mata yang mulai menggenang di kedua sudut matanya.
Adit lalu merengkuh Ana ke dalam pelukannya, berusaha memberikan kekuatan pada Ana agar bisa ikhlas menerima apa yang sudah terjadi.
"Aku nggak bisa lupain dia Dit, aku nggak bisa," ucap Ana dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kamu jangan lupain dia An, cukup jaga dia tetap di hati kamu dan jangan berlarut larut dalam kesedihan kamu, kesedihan kamu akan bikin dia bersedih," ucap Adit.
"Ini nggak akan terjadi kalau aku nggak berusaha nolak dia dulu, ini semua karena aku yang......"
"Enggak An, semua ini berjalan sesuai dengan takdir Tuhan, kamu nggak bisa mencegahnya, yang harus kamu lakukan sekarang adalah lanjutkan hidup kamu dengan bahagia," ucap Adit memotong ucapan Ana.
"Gimana aku bisa bahagia Dit? aku udah kehilangan bagian dari diriku!"
"Aku tau, aku mengerti An, tapi bersedih nggak akan memperbaiki semuanya, kamu harus bangkit An, jalani hidup kamu dengan lebih baik lagi, jadikan dia semangat untuk meraih mimpi kamu!"
"Setelah apa yang terjadi aku bahkan nggak punya mimpi lagi Dit!"
__ADS_1
Adit menghela napasnya dan memeluk Ana dengan erat. Ia hanya bisa berusaha agar Ana kembali menjalani kehidupannya tanpa bayang bayang rasa bersalah yang menghantuinya.
"Aku sayang sama kamu An, kamu harus ingat kalau kamu punya aku, aku akan selalu di sini buat kamu," ucap Adit.
**
Pagi hari di vila.
Dini, Dimas, Andi dan Anita sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan mereka. Namun baru beberapa suap, Dini tiba tiba merasa mual.
Dini segera pergi ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas dari balik pintu.
Dini lalu membuka pintu dan menjatuhkan badannya ke arah Dimas.
"Pusing?" tanya Dimas dengan menuntun sang istri ke ranjang.
"Enggak, masakan bi Em rasanya aneh," jawab Dini.
"Aneh kenapa? itu kan ikan bakar kesukaan kamu!"
"Baunya aneh Dimas, kayak bau ikan mentah yang....."
Dini menutup mulutnya karena tiba tiba kembali mual.
"Kita ke dokter sekarang ya!"
"Enggak, aku mau makan bubur ayam aja, ada kan di sini?"
"Bubur ayam? aku coba cari dulu, kamu istirahat aja dulu!"
Dimas lalu keluar dari vila untuk membelikan Dini bubur ayam.
Satu jam berlalu, Dimas kembali ke vila dengan membawa bubur ayam sesuai permintaan Dini.
"Tempatnya jauh sayang, di sekitar sini nggak ada yang jual bubur ayam!" ucap Dimas.
Dini lalu menyendok bubur ayam di hadapannya, baru saja ia makan satu suap, ia sudah menaruhnya di meja.
"Kenapa sayang? nggak enak?" tanya Dimas.
"Rasanya aneh, baunya juga, nggak kayak biasanya!" jawab Dini.
Dimas lalu mencobanya dan menurutnya rasanya sama saja seperti bubur ayam pada umumnya.
"Enak kok, cobain lagi deh!"
"Nggak mau Dimas, aku malah mual nanti!" ucap Dini menolak lalu pergi ke dapur untuk mencari buah.
Pagi itu Dini hanya sarapan dengan beberapa potong buah apel.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Anita dan Andi kembali dari minimarket. Mereka membeli beberapa makanan ringan, minuman dan ice cream.
"Kesukaan kamu Din!" ucap Andi sambil memberikan ice cream pada Dini.
"Iiiihhh, baunya!" ucap Dini lalu menggeser posisi duduknya menjauh dari Andi.
"Kenapa? ini ice cream vanila sama coklat kesukaan kamu!"
"Enggak enggak, aku nggak suka baunya" balas Dini lalu kembali berlari ke dalam kamar dan kembali muntah di kamar mandi.
"Dia kenapa?" tanya Andi pada Dimas.
"Kayaknya hidungnya lagi bermasalah, tadi juga bilang ikan sama bubur ayam baunya aneh," jawab Dimas.
"Dia belum makan apa apa dari pagi?"
"Cuma apel tadi, semua makanan dia bilang aneh," jawab Dimas lalu menghampiri Dini ke kamar.
Dini yang baru saja keluar dari kamar mandi lalu menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia merasa badannya begitu lemas.
"Dimas....." panggil Dini manja saat Dimas baru saja masuk ke kamar.
Dimas berjalan ke arah Dini lalu duduk di tepi ranjangnya.
"Masih mual?" tanya Dimas dengan membelai rambut Dini.
Dini hanya menggeleng dengan memeluk Dimas dan mencium leher Dimas.
"Kamu mau makan apa sayang? kamu dari pagi belum makan!"
Dini hanya diam dengan menyapu seluruh leher Dimas membuat Dimas semakin geli.
Dini lalu mengigit kecil daun telinga Dimas, membuat Dimas segera memegang kedua tangan Dini dan menjatuhkan Dini di ranjang.
"Kamu harus makan dulu sayang!" ucap Dimas dengan memegang kedua tangan Dini.
"Aku mau makan kamu," balas Dini dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
Dimas menyerah, ia pun melancarkan aksinya dengan sedikit kasar karena untuk pertama kalinya ia melihat Dini yang begitu agresif padanya.
Entah apa yang mereka pikirkan saat itu, mereka melakukannya siang hari saat Andi dan Anita sedang bersantai di ruang tamu.