
Dini dan Dimas masih berada di Sands Skypark. Dini yang sedang memperhatikan Adit begitu terkejut saat mengetahui perempuan yang berjalan mendekati Adit dan duduk di hadapan Adit.
"Siapa sayang? kamu kenal?" tanya Dimas pada Dini.
"Jenny, dia.... dia yang pernah sekap aku, kamu nggak inget?"
"Aku nggak terlalu inget wajahnya, jadi Adit ke sini sama cewek itu?"
"Nggak mungkin, kak Adit nggak mungkin liburan sama Jenny, aku tau banget gimana hubungan kak Adit sama Jenny!" jawab Dini yakin.
Setelah beberapa lama Dini dan Dimas memperhatikan Adit dan Jenny, mereka akhirnya meninggalkan meja meraka saat Adit dan Jenny juga meninggalkan tempat mereka.
"Sayang, apa kita sekarang jadi mata mata?" tanya Dimas berbisik.
"Iya, liburan sambil jadi mata mata, seru kan?"
Dimas hanya terkekeh dan mencubit hidung Dini dengan gemas.
Saat Dini dan Dimas baru saja keluar dari lift, Dini melihat Ana yang berjalan ke arah luar. Ia pun mengikuti Ana dan membiarkan Adit pergi bersama Jenny.
"Sayang, apa menurut kamu kita nggak ganggu liburan mereka?" tanya Dimas.
Dini lalu menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Dimas.
"Maaf Dimas, aku terlalu penasaran," ucap Dini yang merasa bersalah pada Dimas.
Hari itu adalah hari dimana mereka bisa berlibur berdua tanpa ada yang menganggu. Namun Dini malah mengacaukan makan malam mereka dan lebih memilih untuk mengikuti Adit karena rasa penasaran nya.
"Aku sih nggak masalah, kamu mau kemana aja nggak papa, tapi kalau Adit tau apa yang kita lakuin sekarang dia pasti ngerasa nggak nyaman kan, mbak Ana juga," ucap Dimas.
"Iya sih, ya udah deh, kita kemana sekarang?"
"Ikutin Adit? atau mbak Ana?" balas Dimas memberi pilihan.
"Sesuai rencana kamu aja Dimas!"
"Oke, kita belanja, cewek kan suka belanja!"
"Cewek yang kamu maksud itu bukan aku!" balas Dini lalu berjalan mendahului Dimas.
"Sayang kamu kemana? jalannya ke sini!"
Dini lalu menepuk keningnya dan berbalik berjalan ke arah lain yang Dimas tunjukkan. Dimas hanya terkekeh lalu mengikuti gadisnya berjalan dan menggandeng tangannya.
**
Di sisi lain, Ana sudah menunggu Adit di dalam mobil. Tak lama kemudian Adit datang dan masuk ke dalam mobil.
"Maaf An, harusnya aku nggak ngajak kamu ke sini," ucap Adit yang merasa bersalah karena meninggalkan Ana.
"Nggak papa, mau balik ke hotel?"
"Sekarang? kenapa? kamu bad mood ya? atau capek?"
"Enggak, aku cuma takut kalau tiba tiba ada Jenny lagi!"
"Enggak, dia bilang malam ini mau balik ke Indonesia kok, jadi dia nggak mungkin masih jalan jalan di sini!"
"Kamu yakin?"
Adit mengangguk dengan yakin.
"Ya udah, kita mau kemana?"
"Belanja? sekalian aku mau beliin mama sama Andi juga!"
"Oke," balas Ana.
Ana dan Adit lalu pergi ke sebuah pusat perbelanjaan mewah di sana. Ada lebih dari 300 gerai butik ternama yang ada di sana.
Malam semakin larut, Adit dan Ana lalu kembali ke hotel.
**
Pagi hari, di rumah sakit.
Andi sudah bersiap meninggalkan rumah sakit bersama mama Siska dan pak Lukman. Saat Andi baru saja turun dari ranjangnya, Anita datang.
"Pagi tante, ini Andi mau kemana?"
"Andi udah boleh pulang, kita mau pulang sekarang," jawab mama Siska.
"Anita ikut ya tante, boleh kan?"
"Iya boleh," jawab mama Siska.
Anita lalu ikut mengantar Andi pulang. Sesampainya di rumah mama Siska, Anita membantu Andi untuk masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Kalau aku nggak hubungin kamu tadi pagi, kamu pasti nggak kasih tau aku kan kalau lagi di rumah sakit?" tanya Anita pada Andi.
"Aku nggak mau kamu khawatir Nit!" balas Andi
"Aku juga harus tau apa yang terjadi sama kamu Ndi, itu kalau kamu masih anggap aku temen kamu!" ucap Anita.
"Iya aku minta maaf, lain kali aku akan kasih tau kamu semuanya," balas Andi dengan mengusap rambut Anita.
"Dini tau kamu di rumah sakit?" tanya Anita.
"Tau, semalem dia dateng," jawab Andi.
"Apa dia nanti mau ke sini?"
"Kayaknya enggak, dia lagi liburan sama Dimas," jawab Andi.
"Liburan? dia liburan waktu kamu lagi sakit?"
__ADS_1
"Aku nggak sakit Nit, aku baik baik aja, lagian Dini sama Dimas juga butuh waktu buat quality time," jawab Andi.
"Kalau aku jadi Dini aku nggak bisa tenang karena ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini!"
"Jangan berlebihan deh, aku cuma terkilir Nit, besok juga udah bisa lompat lompat lagi, udah bisa lari kenceng!"
"Lari dari kenyataan maksud kamu?"
Andi hanya terkekeh mendengar pertanyaan Anita.
"Ndi, aku pingin banget kita bisa kayak dulu lagi, kita main berempat, kemana mana berempat, apa kita nggak bisa lagi kayak gitu?"
"Bisa, selama kamu bisa tunjukin perubahan kamu, Dimas sama Dini pasti bisa terima kamu lagi," jawab Andi.
"Rasanya susah banget Ndi!"
"Jangan patah semangat Nit, aku akan selalu bantuin kamu kapanpun kamu butuh aku," ucap Andi.
"Makasih Ndi, sekarang aku tau kalau apa yang dibilang papa emang bener," ucap Anita.
"Emang pak Sonny bilang apa?"
"Kamu itu nggak cuma pinter, tapi juga laki laki yang baik dan bertanggung jawab, aku jadi takut kalau tiba tiba jatuh cinta sama kamu."
"Jangan memulai hubungan saat di hati kamu masih ada orang lain Nit, karena hubungan itu nggak akan bertahan lama kalau masih ada orang lain di hati kamu!" ucap Andi.
"Iya aku tau, aku nggak mau jadiin kamu Aletta!"
"Aletta? maksud kamu?"
"Iya, di hati kamu ada Dini tapi kamu malah memulai hubungan baru sama Aletta, dan akhirnya kalian pisah juga karena sebenarnya nggak ada Aletta di hati kamu, iya kan?"
Andi diam beberapa saat, memorinya memutar kembali kenangannya bersama gadis tomboi yang sangat menyebalkan saat baru pertama kali ia temui.
"Eh, gila lo ya, ambil sepatu gue nggak!"
Andi tersenyum tipis saat ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Aletta, saat ia membuang sepatu Aletta yang terlempar ke arahnya.
"Andi, mikirin apa sih?" tanya Anita membuyarkan lamunan Andi.
"Enggak, nggak papa, kamu nggak ada kursus sekarang?"
"Ada sih, tapi aku bolos, aku mau nemenin kamu aja di sini!"
"Ada yang harus aku kerjain Nit, aku nggak bisa diem aja di sini," ucap Andi.
"Kaki kamu kan masih sakit, kamu mau kemana?"
"Nggak kemana mana, aku mau ngerjain desain di sini," jawab Andi.
"Apa aku ganggu kamu?" tanya Anita.
"Enggak sih, tapi aku nggak bisa ngerjain desain kalau ada orang lain di deketku hehe...."
"Hmmmm.... ya udah aku pergi aja, tapi inget ya, kamu harus hubungin aku kalau ada apa apa!"
Anita lalu keluar dari kamar Andi. Sedangkan Andi segera mengambil laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya.
Di sisi lain, Anita yang hendak pulang dicegah oleh mama Siska.
Mama Siska mengajak Anita mengobrol di taman bunga.
"Tante liat kamu cukup deket ya sama Andi?" tanya mama Siska pada Anita.
"Iya tante, kita dari dulu emang deket, Andi selalu bantuin Anita kalau Anita kena marah papa hehe...."
"Apa kamu juga deket sama Dini?"
"Dulu kita berteman tante, Anita, Andi, Dini dan Dimas, tapi ada kesalahpahaman yang bikin pertemanan kita renggang," jawab Anita.
"Kesalahpahaman tentang apa?"
"Maaf tante, Anita nggak berani cerita, takut salah tapi yang pasti Anita sama Andi masih berhubungan baik sampe sekarang," jawab Anita.
"Apa Andi pernah cerita sama kamu tentang hubungannya dengan Dini?"
"Andi dan Dini? mereka bersahabat, mereka udah kenal dari kecil," jawab Anita.
"Selain itu?"
"Semua temen sekolah kita tau kalau mereka emang bersahabat dekat tante, walaupun mereka kayak pacaran, tapi Anita tau betul kalau mereka cuma sahabat," jawab Anita.
Mama Siska hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Anita.
Anita lalu berpamitan pulang karena harus pergi kursus.
**
Di tempat lain, Dini dan Dimas sedang menikmati pagi mereka di tempat makan dengan pemandangan hamparan laut di hadapan mereka.
"Hari ini kita kemana aja?" tanya Dini pada Dimas.
"Jalan jalan aja sayang, aku nggak mau kamu terlalu capek karena terlalu banyak kegiatan selama kita liburan," jawab Dimas.
"Kita cek out jam berapa?"
"Jam 4 sore, pesawat take off jam 5," jawab Dimas.
"Apa setelah kamu anter aku pulang, kamu langsung balik ke apartemen?" tanya Dini.
"Iya sayang, besok pagi kita sama sama sibuk lagi," jawab Dimas.
"Jaga kesehatan kamu Dimas, jangan terlalu capek!"
"Kamu juga sayang."
__ADS_1
Dini lalu pergi ke toilet sebelum mereka meninggalkan tempat makan itu. Saat Dini baru saja masuk ke toilet, ia bertemu dengan Ana.
"Mbak Ana!"
"Dini, kamu.... kamu di sini?"
"Iya mbak, saya lagi sama Dimas, mbak Ana sama siapa?"
"Aku.... sama saudara, aku duluan ya!" jawab Ana berbohong lalu segera pergi meninggalkan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya. Namun saat ia baru saja keluar dari toilet, ia menepuk keningnya dengan kasar.
"Bodoh banget sih Din, kenapa tadi nggak ikutin mbak Ana biar tau mbak Ana kesini sama siapa," ucap Dini merutuki kebodohannya sendiri.
Dini lalu menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan kebodohan nya sendiri lalu berjalan menghampiri Dimas.
"Dimas, kamu tadi liat kak Adit nggak?" tanya Dini saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Dimas.
"Enggak, kenapa? kamu liat Adit lagi?"
"Enggak sih, ya udah ayo pergi!"
Selama perjalanan, Dini masih memikirkan Adit dan Ana.
"kebetulan? nggak mungkin, di bioskop, di Singapura, tapi kenapa ada Jenny? aaarrgghhh makin bingung," batin Dini kesal dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Dimas mengajak Dini untuk kembali ke hotel karena beberapa jam lagi mereka harus cek out.
Saat Dini sedang berkemas, Dimas memeluknya dari belakang.
"Aku masih pingin lama lama sama kamu," ucap Dimas.
"Aku juga, tapi kita harus beres beres sekarang, kamu nggak mau ketinggalan pesawat kan?"
"Ketinggalan pesawat? ide bagus sayang, kita bisa alasan ketinggalan pesawat biar bisa lebih lama di sini!"
"Jangan ngaco deh, kamu mau di perusahaan cabang terus? nggak mau pindah? udah betah di sana?"
"Enggak sih, tapi aku masih kangen sama kamu," balas Dimas menaruh dagunya di pundak Dini.
Dini lalu mengacak acak rambut Dimas dan berbalik menghadap Dimas.
"Aku bahagia Dimas, aku bahagia karena aku punya kamu," ucap Dini dengan menatap wajah laki laki yang dicintainya itu.
"Aku juga bahagia sayang, lebih dari yang kamu tau," balas Dimas lalu membawa Dini ke dalam pelukannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dimas dan Dini baru saja meninggalkan hotel. Mereka sampai di bandara 30 menit sebelum pesawat mereka take off.
Tak lupa Dimas menyerahkan kunci mobilnya pada pak Adam yang sudah menunggu Dimas di bandara.
"Aku cari toilet bentar ya," ucap Dini pada Dimas lalu segera berlari kecil meninggalkan Dimas.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Dini lalu berjalan ke arah Dimas. Namun ia menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah lain karena melihat Adit dan Ana.
"Kak Adit!" panggil Dini.
Seketika Adit dan Ana membawa pandangan mereka ke arah Dini.
"Dini, kamu ngapain di sini?" tanya Adit yang begitu terkejut dengan adanya Dini di sana.
"Liburan sama Dimas, kak Adit sama mbak Ana? berdua?" tanya Dini dengan membawa pandangannya pada Ana.
Ana hanya diam dengan menutup perutnya menggunakan tas selempang yang ia pakai.
"Kita.... kita tadi......"
"Nggak sengaja ketemu," jawab Ana cepat.
"Mbak, Dini boleh pinjem kak Adit bentar?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala Ana.
Dini lalu menarik tangan Adit untuk menjauh dari Ana.
"Kak Adit jujur deh sama Dini, kak Adit ke sini sama mbak Ana kan?" tanya Dini penuh intimidasi.
Adit hanya menundukkan kepalanya lemah. Ia tidak bisa lagi menutupi kebohongannya pada Dini.
"Jawab kak, kak Adit ke sini sama Jenny apa sama mbak Ana?"
"Jenny? kenapa kamu bawa bawa Jenny?"
"Dini liat kakak makan malam sama Jenny kemarin, jadi kakak ke sini sama siapa? Jenny atau mbak Ana?"
"Kakak ke sini sama Ana," jawab Adit pelan.
"Jadi beneran kak Adit ada hubungan sama mbak Ana, jadi......"
"Ssssttt.... kakak akan jelasin besok, jangan sekarang, kakak harus pergi," ucap Adit lalu segera pergi meninggalkan Dini yang masih berdiri di tempatnya.
"jadi kak Adit beneran sama mbak Ana? apa kak Adit jadi selingkuhan mbak Ana? atau mbak Ana nggak jadi nikah gara gara kak Adit? atau...."
"Sayang!" panggil Dimas tiba tiba.
Dini lalu membuyarkan lamunannya dan berjalan menghampiri Dimas.
"Kamu kenapa diem aja di situ?" tanya Dimas.
"Aku nyari kamu tadi, aku lupa kamu dimana hehe ..." jawab Dini beralasan.
Mereka lalu berjalan masuk karena pesawat sebentar lagi akan take off.
"apa Andi udah tau tentang hubungan kak Adit sama mbak Ana? hmmmm... entahlah, aku masih marah sama Andi, aku nggak mau ngomong apa apa lagi sama Andi, percuma, dia nggak akan percaya sama ucapanku," batin Dini dalam hati.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas yang melihat Dini tampak melamun.
"Nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum.
__ADS_1
"gimana keadaannya sekarang? apa dia baik baik aja? apa dia udah pulang dari rumah sakit?" batin Dini yang tiba tiba memikirkan Andi.