
Dimas masih berada di rumah Dini, ia masih memohon pada ibu Dini agar menjelaskan permasalahan yang sebenarnya terjadi, masalah yang membuat ibu Dini memaksa Dini untuk meninggalkan Dimas.
"Dimas mohon tante, jangan minta Andini buat ninggalin Dimas, Dimas akan berusaha buat bahagiain Andini, Dimas akan jadi laki laki yang bertanggung jawab sama masa depannya," ucap Dimas memohon.
Dini masih memegang tangan ibunya, menahan agar sang ibu mau membicarakan masalahnya bersama Dimas dan juga dirinya.
Ibu Dini hanya diam, ia mengernyitkan dahinya merasakan sesuatu yang berat seperti menimpa kepalanya dan...
BRRUUUGGHH
Ibu Dini terjatuh di lantai, beruntung Dini masih memegangi ibunya membuat kepala sang ibu tidak sampai terbentur di lantai.
"Ibu, ibu kenapa bu? bangun bu!" ucap Dini dengan menggoyangkan badan ibunya pelan.
Dengan sigap Dimas segera membopong ibu Dini ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit bersama Dini.
"Dini minta maaf bu, Dini minta maaf," ucap Dini dengan berderai air mata mengusap wajah ibunya.
"Tenang sayang, bentar lagi kita sampai," ucap Dimas berusaha menenangkan Dini.
Sesampainya mereka di rumah sakit, ibu Dini segera dibawa ke ruang UGD.
Dini dan Dimas menunggu di depan ruangan dengan cemas. Dini takut masalah yang sedang menganggu pikiran ibunya juga menganggu kesehatan sang ibu.
Setelah beberapa saat menunggu, Dokter akhirnya keluar.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" tanya Dini.
"Ibu Anda mengalami hipertensi emergensi karena tekanan darahnya yang melonjak terlalu tinggi secara tiba tiba, jika tidak segera diatasi akan sangat berbahaya bagi pasien karena dapat menyebabkan kerusakan berat pada tubuh seperti stroke, gagal jantung atau serangan jantung," jelas Dokter.
"Apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Dimas.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif agar dalam waktu 24 sampai 48 jam nanti tekanan darah pasien dapat mencapai target normal untuk mencegah kerusakan organ yang lebih parah," jawab Dokter.
"Baik Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya," ucap Dimas pada Dokter.
Dokter menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Dimas dan Dini.
Setelah dipindahkan ke ruang ICU, Dini masuk dan duduk di samping ranjang ibunya.
"Dini minta maaf bu, maaf karena udah jadi beban buat ibu," ucap Dini dengan hati yang begitu sakit melihat sang ibu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Malam itu, Dimas menemani Dini menjaga sang ibu di luar ruangan ICU. Dimas memberi tahu papanya jika Dini tidak bisa masuk kerja karena ibunya sedang kritis di rumah sakit. Tak lupa ia juga memberi tahu Andi.
**
Pagi telah datang, bau khas rumah sakit sudah sangat bersahabat dengan Dini. Semalaman ia tak tidur barang sekejappun.
"Aku cari sarapan dulu ya!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Dimas meninggalkan Dini dan pergi mencari makanan dan minuman.
Tak lama setelah Dimas pergi, Andi datang dan segera duduk di samping Dini. Dini yang menyadari kedatangan Andi langsung memeluk Andi dan menumpahkan tangisnya dalam pelukan Andi.
Ia menangis tanpa suara dalam pelukan sahabatnya.
"Ibu kamu pasti baik baik aja Din," ucap Andi dengan mengusap punggung Andi.
Tepat saat itu Dimas, mama dan papanya datang. Mereka melihat apa yang terjadi di depan ruang ICU, membuat mama dan papa Dimas kompak menoleh ke arah Dimas.
Dimas hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya diikuti mama dan papanya.
Melihat kedatangan Dimas, Andi segera melepaskan Dini dari pelukannya.
"Dari tadi Ndi?" tanya Dimas basa basi.
Mama Dimas segera menghampiri Dini dan memeluknya.
"Sabar ya sayang, ibu kamu pasti baik baik aja," ucap mama Dimas pada Dini.
"Apa perlu kita pindah ke rumah sakit yang lebih bagus?" tanya papa Dimas.
"Kita tunggu hasil pemeriksaannya dulu pa, mudah mudahan pagi ini udah membaik," jawab Dimas.
"Makan dulu sayang, kamu belum makan sama sekali dari semalem," ucap Dimas sambil menyendokkan bubur ayam untuk Dini, namun Dini menggelengkan kepalanya.
"Kamu juga harus makan sayang, jaga kesehatan kamu," ucap mama Dimas.
Dini hanya diam, ia hanya memikirkan ibunya saat itu. Andi lalu memberi Dini minuman coklat yang sudah dibawanya dari tadi.
Dini menerimanya dan langsung meminumnya.
Mama dan papa Dimas hanya saling pandang, berbeda dengan mama Dimas yang tidak mengerti situasi saat itu, papa Dimas sangat memahami apa yang terjadi diantara mereka bertiga.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dokter keluar dan menjelaskan jika kondisi ibu Dini sudah membaik namun masih harus menjalani perawatan intensif untuk beberapa hari.
"Dim gue ke home store dulu ya, selesaiin pesenan hari ini," ucap Andi pada Dimas.
"Gue nggak bisa kesana dulu Ndi, lo bisa handle sendiri?"
"Bisa, tenang aja, aku pergi dulu ya Din!"
"Makasih Ndi," balas Dini.
Andi hanya tersenyum lalu berpamitan pada mama dan papa Dimas.
"Saya permisi dulu om, tante," ucap Andi dibalas anggukan kepala mama dan papa Dimas.
Andi lalu meninggalkan rumah sakit. Meski dalam hatinya ia sangat berat meninggalkan Dini, namun keberadaanya di sana sudah tidak dibutuhkan lagi. Sudah ada Dimas yang akan menjaga dan menemani Dini.
"Mama sama papa juga harus pergi sekarang sayang, setelah urusan kantor selesai, mama sama papa akan langsung ke sini," ucap mama Dimas pada Dini.
"Makasih ma, pa," balas Dini.
Setelah memeluk Dini, mama dan papa Dimas segera meninggalkan rumah sakit.
Semenjak masalah besar yang menimpa perusahaan, mama Dimas kembali terjun ke perusahaan membantu sang suami merintis kembali perusahaan mereka yang terancam hancur.
Hasilnya, perusahaan mereka tetap bisa menjadi perusahaan besar yang berkompeten dalam dunia bisnis.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Dini masuk ke dalam ruangan ibunya seorang diri karena memang hanya satu orang yang dibolehkan masuk.
"Ibu, Dini di sini bu," ucap Dini dengan menggenggam tangan sang ibu.
"Kamu sendirian Din?" tanya sang ibu dengan suara lemah.
Dini diam, ia mengingat ucapan Dokter tadi pagi.
"meski kondisinya sudah membaik, pasien tidak boleh terlalu tertekan dengan masalah yang dihadapi karena hipertensi emergensi bisa terjadi tanpa ada gejala dan sangat membahayakan keselamatan pasien,"
"Dini sendirian bu," jawab Dini berbohong.
"Din, ini terakhir kali ibu minta sama kamu, jauhin Dimas dan keluarganya, kamu keluar dari tempat kerja kamu Din, ibu yakin banyak perusahaan besar yang mau menerima kamu," ucap ibu Dini.
Dengan berat hati Dini menganggukkan kepalanya. Hatinya terasa sakit, ia tidak bisa memilih namun ia dipaksa untuk memilih sesuatu yang sama sama berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Ia tidak akan menanyakan alasan apapun lagi pada ibunya. Baginya, ibunya tetap lebih penting dari segalanya, termasuk merelakan kebahagiaannya bersama Dimas.
Dengan sekuat tenaganya Dini menahan perih di hatinya, ia tidak ingin menangis di hadapan ibunya. Senyum manisnya harus terus terlihat di mata sang ibu, tak peduli seberapa sakit ia menyimpan kesedihan di hatinya.