
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Andi meninggalkan kampusnya. Ia mengendarai mobilnya ke arah home store untuk melakukan pekerjaannya sebagai pemilik clothing arts yang semakin berkembang itu.
Tentang masalahnya dengan Anita, ia masih menyimpannya sendiri. Tak ada siapapun yang tau tentang apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Anita selain asisten rumah tangga Anita.
Jauh dalam hatinya, Andi masih menyesali perbuatannya. Namun saat mengetahui jika Anita mengandung anaknya, ia ingin menjaga anak itu dengan baik meski Anita tidak menginginkannya.
Ia bisa mengerti jika Anita menolak kehadiran anak yang tidak diharapkannya itu, tapi pelan pelan ia akan membuat Anita untuk bisa menerimanya.
Meski tak ada jalan lain bagi Andi untuk bisa menikahi Anita, ia akan berusaha untuk memberikan perhatiannya pada Anita agar tidak terjadi hal yang buruk pada Anita dan bayinya.
Satu Minggu sudah berlalu sejak Andi membuat kesepakatan dengan Anita. Setiap hari ia akan sibuk dengan kuliahnya, lalu fokus pada clothing arts nya dan pergi ke rumah Anita setelah ia menyelesaikan semua kesibukannya.
Ia selalu bertanya tentang apa yang Anita inginkan, ia ingin memberikan semua yang terbaik yang bisa ia berikan, namun Anita selalu memberikan jawaban yang sama.
"Nggak ada!"
Ya, tidak ada hal lain yang Anita inginkan selain melakukan aktivitasnya seperti biasanya. Dari luar Anita tidak tampak seperti sedang hamil, meski setiap bangun tidur ia selalu merasa mual.
Rasa mualnya akan cepat hilang setelah ia memakan bubur buatan bibi dan setelah itu ia sudah kembali normal seperti biasanya.
Tak banyak yang berubah darinya, ia masih melakukan kegiatannya sehari hari seperti biasanya. Hanya saja ia harus membiasakan diri dengan kedatangan Andi yang setiap hari menemuinya.
Sama seperti malam malam biasanya, Andi datang ke rumahnya. Dengan malas Anita menemui Andi di ruang tamu.
"Kamu nggak perlu setiap hari kesini Ndi, aku baik baik aja kok!" ucap Anita pada Andi.
"Aku cuma harus pastiin kamu baik baik aja Nit!" balas Andi.
"Ada bibi yang jagain aku, bibi juga akan hubungi kamu kan kalau ada apa apa sama aku!"
Andi menghela nafasnya lalu menggeser duduknya mendekat ke arah Anita dan menggenggam tangan Anita.
"Apa kamu merasa terganggu sama aku?" tanya Andi.
"Bukan itu maksud ku," jawab Anita dengan menarik tangannya dari genggaman Andi.
"Justru aku yang nggak mau ganggu kamu, aku tau kesibukan kamu setiap hari kayak gimana!" lanjut Anita.
"Aku sama sekali nggak merasa terganggu kok, aku justru nggak tenang kalau aku nggak kesini buat liat keadaan kamu," ucap Andi.
Anita hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Andi.
"Kamu kesini bukan buat liat keadaan aku, tapi buat pastiin kalau aku nggak gugurin bayi ini kan?" terka Anita yang membuat Andi terdiam.
"Kamu nggak perlu khawatir Ndi, aku akan jaga dia dengan baik buat kamu, aku minta maaf karena udah bikin kamu berada di posisi yang sulit ini," ucap Anita.
Andi lalu kembali mendekat dan membawa Anita ke dalam dekapannya.
"Semuanya udah terjadi Nit, nggak ada yang bisa kita sesali, yang harus kita lakuin adalah menjalaninya dengan baik supaya nggak ada penyesalan lain di depan nanti," ucap Andi.
"Tapi aku tetep nggak menginginkan dia Ndi, aku jaga dia cuma buat kamu," ucap Anita.
"Aku mengerti, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyayangi dia seperti aku sayang sama dia," balas Andi.
Anita hanya menggelengkan kepalanya pelan. Entah kenapa berada dalam dekapan Andi membuatnya nyaman meski ia tau jika Andi melakukan itu hanya karena bayi dalam kandungannya.
"Anita, kapanpun kamu berubah pikiran, kamu bilang sama aku, aku akan siap buat menikahi kamu kapanpun kamu mau," ucap Andi.
"Nggak akan ada yang berubah Ndi, kamu juga nggak perlu melakukan hal sejauh itu, dengan kamu mau menerima anak ini, itu udah lebih dari cukup sebagai bentuk tanggung jawab kamu," balas Anita.
"Apa aku terlalu buruk buat jadi suami kamu?" tanya Andi.
"Justru kamu laki laki yang sempurna Ndi, kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik daripada aku dan aku nggak mau terikat dengan pernikahan tanpa cinta," jawab Anita.
"Lalu gimana sama Dimas?"
"Dimas? aku udah nggak peduli sama dia, gara gara dia semua rencanaku hancur dan aku harus mengandung anak ini!" jawab Anita kesal.
"Apa mungkin aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Andi yang membuat Anita melepaskan dirinya dari dekapan Andi.
Anita tersenyum tipis lalu memberikan kecupan singkatnya dengan cepat di pipi Andi.
"kamu laki laki yang baik Ndi, nggak akan susah buat aku bisa jatuh cinta sama kamu, karena pada kenyataannya kamu selalu bikin aku luluh dengan semua sikap manis kamu, tapi aku tau hati kamu cuma buat Dini," batin Anita dalam hati.
"Aku mungkin bisa jatuh cinta sama kamu, tapi hati kamu akan tetap jadi milik Dini," ucap Anita.
"Dini udah jadi milik Dimas Nit, mereka udah menikah dan sebentar lagi mereka akan punya anak," ucap Andi.
"Iya aku tau, tapi aku yakin kalau takdir berkehendak, penantian kamu nggak akan sia sia, apapun bisa terjadi Ndi, apapun yang bahkan nggak pernah kamu pikirkan sekalipun!" ucap Anita.
Andi hanya tersenyum tipis dan mengacak acak rambut Anita.
"Udah malem, kamu tidur," ucap Andi pada Anita.
"Oke, aku ke kamar dulu," balas Anita lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Anita merebahkan badannya di ranjang setelah berganti pakaian. Ia tersenyum tipis mengingat ucapan Andi padanya.
__ADS_1
Apa mungkin aku bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku?
"aku tau kamu nanyain itu cuma karena bayi ini," batin Anita dalam hati sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Setelah kejadian malam itu, Anita tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan sebenarnya.
Terkadang ia kesal pada Andi, tapi di lain waktu ia juga bisa dengan mudahnya luluh pada sikap manis Andi padanya.
Tapi yang pasti, ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh cinta pada Andi. Ia cukup tau bagaimana Andi sangat mencintai Dini, jadi dia akan menjaga hatinya agar tidak terjatuh pada cinta yang salah.
Ia harus bisa menjaga hatinya untuk tidak menimbulkan luka yang baru akibat dari cinta yang tidak seharusnya ada.
Di sisi lain, sebelum meninggalkan rumah Anita, Andi selalu berpesan pada bibi agar segera menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Anita atau jika Anita membutuhkan sesuatu.
Ia berpikir jika ia harus memberikan kasih sayang dan perhatiannya untuk Anita agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Anita dan bayinya.
**
Hari berganti, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Dimas dan Dini berada di salah satu pusat perbelanjaan.
Dimas dan Dini berkeliling untuk membeli beberapa pakaian dan makanan di sana. Sebelum pulang, Dimas menyempatkan untuk membelikan Dini ice cream kesukaan Dini.
Mereka mengobrol dengan sesekali tertawa bahagia.
Tak jauh dari tempat mereka menikmati ice cream, seseorang menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
"harusnya aku yang disana, bukan kamu Din dan harusnya kamu yang minum minuman itu Dimas, bukannya Andi," ucap Anita dalam hati.
Melihat kebersamaan dan kebahagiaan Dini dan Dimas membuat Anita merasa iri. Ia merasa dunia terlalu jahat padanya.
"aku benci sama kalian," ucap Anita dalam hati lalu melangkah pergi, namun tiba tiba sebuah suara memanggil namanya.
"Anita!"
Anitapun membalikkan badannya dan tersenyum pada seseorang yang melambaikan tangan padanya.
Dengan setengah hati Anita membawa langkahnya ke arah Dini yang memanggilnya.
"Kalian di sini juga? aku nggak liat tadi!"
"Iya, duduk!" balas Dini sambil menggeser kursi agar Anita duduk.
Anitapun duduk bersama Dini dan Dimas. Mereka mengobrolkan banyak hal sebelum akhirnya Dimas mengajak Dini pulang.
"Kamu bawa mobil?" tanya Dini pada Anita.
"Bawa kok, kalian duluan aja," jawab Anita.
Anita tetap duduk di tempatnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Andi, setidaknya ia harus melupakan kejadian yang membuatnya kesal sebelum pulang ke rumah.
Setelah cukup lama menunggu, Andi akhirnya datang dan segera menghampiri Anita.
"Maaf lama, kamu dari tadi di sini?" tanya Andi yang sudah duduk di dekat Anita.
"Lumayan," jawab Anita singkat.
"Banyak tugas kampus yang harus aku selesaiin, jadi baru sempet liat hp," ucap Andi
"Apa aku ganggu kamu?" tanya Anita.
"Enggak, kamu bisa hubungin aku kapan aja kamu butuh aku," jawab Andi.
Anita lalu mengajak Andi untuk menonton film di bioskop. Seperti biasa, Anita memilih film horor meski sepanjang film ia tidak melepaskan tangan Andi dari cengkeramannya karena takut.
Setelah film selesai, merekapun keluar dari bioskop. Saat baru saja keluar dari pintu bioskop, Andi melihat Adit dan Ana yang berada tak jauh dari bioskop.
Saat Andi menarik tangan Anita agar menjauh dari Adit dan Ana, Adit malah memanggilnya, membuat Andi terpaksa harus menghampiri sang kakak.
"Berdua aja?" tanya Adit pada Andi dan Anita.
"Enggak kok, ada Dimas sama Dini juga tadi, mereka udah pulang duluan" ucap Anita menjawab.
"Oohh, kakak mau nonton, kalian mau ikut?"
"Enggak, kita udah mau pulang," jawab Andi.
Adit dan Anapun masuk ke bioskop, sedangkan Andi dan Anita berjalan ke arah eskalator yang membawa mereka turun.
"Kamu beneran sama Dimas dan Dini tadi?" tanya Andi pada Anita.
"Iya, aku nggak sengaja ketemu mereka tadi," jawab Anita.
"Sekarang kamu mau kemana lagi?"
"Pulang aja, aku bawa mobil kok, kamu nggak perlu anterin aku," jawab Anita.
"Aku anter kamu pulang, aku bisa hubungin seseorang yang bisa anter mobil kamu pulang," ucap Andi.
__ADS_1
"Nggak perlu Ndi, aku......"
"Aku maksa," ucap Andi memotong ucapan Anita.
Anita menghela nafasnya pasrah.
"Terserah kamu aja," ucap Anita.
Andi hanya tersenyum lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Anita.
Sesampainya di rumah Anita, Andi masih ingin menemani Anita, namun Anita memintanya untuk pulang.
"Aku mau istirahat, kamu pulang aja!"
"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu!" ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Anita.
Andi lalu membawa mobilnya pulang ke rumahnya, ia harus kembali berkutat dengan tugas kuliahnya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Andi berada di ruang baca. Tak lama kemudian suara langkah terdengar menaiki tangga kayu yang ada disana.
Andi lalu membawa pandangannya ke arah tangga dan melihat sang kakak yang berada di sana.
"Mbak Ana mana?" tanya Andi saat Adit menghampirinya.
"Lagi sama mama," jawab Adit.
"Lo ke sini emang mau baca apa nyari gue?" tanya Andi yang merasa sedang diperhatikan oleh Adit.
"Gue emang nyari lo, gue cuma mau mastiin sesuatu," ucap Adit.
"Mastiin apa?" tanya Andi.
"Mastiin hubungan lo sama Anita," jawab Adit.
"Emang kenapa?"
"Jadi bener lo ada hubungan sama dia?"
"Hubungan gimana yang lo maksud? kalau berteman iya, gue emang berteman sama dia, kalau lebih dari itu enggak!"
"Teman macam apa yang nonton berdua di bioskop, jalan di mall sambil gandengan tangan?"
"Anita kan udah bilang, ada Dimas sama Dini juga, tapi mereka udah pulang duluan, gue juga nggak gandengan tangan kok sama Anita, mungkin yang lo liat waktu gue narik tangannya aja!"
"Oke terserah lo, gue nggak akan ngelarang lo buat berhubungan sama siapapun, tapi buat masa depan lo harus bener bener pastiin kalau dia perempuan yang baik buat lo, perempuan yang bisa menerima dan melengkapi lo," ucap Adit mengingatkan.
"Iya, gue ngerti," balas Andi.
"Lo nggak mau cerita sesuatu sama gue?"
"Enggak, nggak ada yang perlu gue ceritain, semuanya baik baik aja," jawab Andi.
"Lo yakin?" tanya Adit tak percaya.
Andi hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan membaca buku di tangannya.
"gue yakin ada sesuatu yang terjadi, tapi lo nggak mau cerita sama gue," ucap Adit dalam hati.
"Lo bisa cerita apapun sama gue, jangan dipendam sendiri, semua rahasia aman sama gue!" ucap Adit lalu beranjak dari duduknya.
"Iya, pergi sana, ganggu aja!" balas Andi sambil mengembalikan buku yang selesai dibacanya dan mencari buku yang lain.
"Hahaha.... oke oke!"
Adit lalu pergi meninggalkan Andi yang masih berkutat dengan buku bukunya.
Di sisi lain, Anita sedang berada di kamarnya melihat video tentang resep baru yang ia pelajari.
Namun bukannya fokus pada video di laptopnya, ia malah teringat kebersamaan Dini dan Dimas yang membuatnya kesal.
"kenapa cuma kalian yang selalu bahagia? apa aku nggak boleh bahagia? apa Andi juga nggak boleh bahagia? kamu emang keterlaluan Din, kalian berteman sejak kecil dan kamu masih nggak tau perasaan Andi sama kamu, kamu juga sama jahatnya Dimas, kamu tau Andi yang lebih dulu mencintai Dini tapi kamu tetep deketin Dini," batin Anita dalam hati.
Anita lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Dini.
"Din, besok ada waktu nggak? aku punya resep kue baru,"
Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp
Tak butuh waktu lama, Dini sudah membalas pesan dari Anita
"Aku tunggu di rumah ya besok siang, kamu kasih list apa aja yang harus aku siapin!"
"Oke,"
Anita lalu membuat list bahan bahan yang ia butuhkan untuk membuat kue dan mengirimnya pada Dini.
__ADS_1
"kalau takdir nggak pernah berpihak sama aku dan Andi, aku sendiri yang akan membuat takdir menjadi adil," ucap Anita dalam hati.
Anita lalu menghubungi seseorang, memintanya agar menyiapkan sesuatu untuknya.