Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Berteman?


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Andipun berpamitan untuk pulang.


"Biar Rudi yang anter lo pulang!" ucap Adit.


"Thanks," balas Andi.


Adit lalu menghubungi Rudi agar mengantarkan Andi pulang.


Setelah Andi pulang, Adit segera menghubungi pak Lukman menggunakan telepon di apartemen karena ponselnya yang tertinggal di rumah sang mama.


"Halo pak, gimana keadaan mama?"


"Ibu baik mas, kayaknya ibu belum sadar tentang kejadian kemarin," jawab Pak Lukman.


"Syukurlah kalau begitu, oh ya apa pak Lukman liat HP saya di kamar mama?"


"Hp nya mas Adit disimpan sama mbak, mau saya antar ke rumah sakit?"


"Nggak perlu pak, saya sudah di apartemen sekarang, nanti biar Rudi yang ke sana ambil hp saya!"


"Baik mas, apa mas Adit sudah baik baik saja?"


"Saya baik baik aja pak, tolong jaga mama ya pak, kabari saya kalau ada apa apa!"


"Siap mas!"


Setelah memutus sambungan telepon dengan pak Lukman, Adit menghubungi Rudi agar mengambil ponselnya di rumah sang mama.


**


Langit semakin menghamparkan panas sang mentari. Setelah menerima ponselnya dari Rudi, Adit segera menghubungi Ana karena sudah banyak panggilan tak terjawab dari Ana.


"Ha....."


"Adiiittt, kamu dimana? kamu baik baik aja kan? kenapa baru hubungin aku? kenapa telpon ku nggak diangkat angkat? kenapa....."


"Ana..... biar aku jawab satu satu, oke?"


"Oke, buruan!"


"Aku dari kemarin di rumah mama, aku lupa naruh hp ku dimana makanya aku nggak bisa hubungin kamu dan sekarang baru ketemu!" ucap Adit berbohong.


"Baru ketemu? sekarang jam berapa Adit? ini masih jam kerja, emang hp kamu ketinggalan di kantor? kemarin kan hari Minggu mana mungkin ketinggalan di kantor!"


"Mmmm.... maksud aku, pak Lukman baru temuin hp nya di rumah mama, iya di rumah mama hehe....."


"Adit, sekarang itu masih jam kantor dan kamu telpon aku sekarang? kamu ini dimana? nggak ngantor?"


"Aku.... aku di kantor kok, aku.... aku takut kamu marah gara gara aku nggak ada kabar dari kemarin, makanya aku langsung hubungin kamu waktu hp nya baru ketemu, gitu!" jelas Adit beralasan.


"Terserah kamu aja lah, aku tau kamu cuma cari alasan, tapi kamu baik baik aja kan sekarang?"


"Aku baik baik aja kok, kamu jangan khawatir, jangan berpikir yang terlalu jauh, oke?"


"Ya udah, lanjutin kerjaan kamu, nanti ke sini kan?"


"Maaf An, masih ada yang harus aku selesaiin, aku belum bisa ke sana, nggak papa kan?"


"Ya udah nggak papa," balas Ana pelan, tak bersemangat.


"Aku akan siapin rencana liburan kita sebelum ke sana," ucap Adit yang mencoba membuat suasana hati Ana membaik.


"Beneran?"


"Iya, yang penting kamu harus selalu jaga kesehatan kamu, oke?"


"Siap bos!" balas Ana bersemangat.


Adit lalu mengakhiri panggilannya dan merebahkan badannya di ranjang. Ia tersenyum tipis mengingat percakapannya dengan Andi beberapa waktu yang lalu.


"Apa dia khawatir sama aku?" tanya Adit dalam hati.


"Aku nggak mau terlalu berharap, tapi mudah mudahan ini pertanda yang baik dari andi," ucap Adit dalam hati.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dini masih sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk di ruangannya. Sesekali ia harus masuk ke ruangan Adit untuk mengambil file yang ia butuhkan.


"Din, belum pulang?" tanya Jaka yang masuk ke ruangan Dini sambil memberikan sebuah map.


"Belum pak, pusing banget, bingung mau ngerjain yang mana dulu!" jawab Dini.


"Ini beberapa laporan yang udah aku ringkas, tinggal kamu kasihkan pak Adit aja besok!"


"Waaahhh, terima kasih banyak pak Jaka," ucap Dini.


"Ada yang bisa aku bantu lagi?"


"Sudah pak, ini tinggal tugas saya sendiri," jawab Dini.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya!"


"Iya pak, hati hati."


Jam masih berdetak meninggalkan angka tujuh.


Biiiipp biiipp biiipp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo Dimas, aku masih di kantor, nanti aku hubungin kamu lagi!"


"Di kantor? Ini udah jam 7 lebih Andini, kamu nggak pulang?"


"Kerjaanku masih banyak Dimas, kamu tau sendiri gimana keadaan kak Adit."

__ADS_1


"Nggak bisa dikerjain besok?"


"Kalau nggak selesai hari ini pasti makin numpuk besok!"


"Tapi Andini....."


"Udah dulu ya Dimas, aku mau selesaiin ini dulu nanti aku hubungin kamu lagi!"


Klik. Sambungan berkahir.


Dini kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali mengucek matanya yang terasa kering dan lelah.


"Semangat Dini, kamu pasti bisa!" ucap Dini menyemangati dirinya sendiri.


Tepat jam 8 malam, Dini baru membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang. Dengan ragu ia berjalan ke arah halte yang sepi.


Meski kendaraan masih lalu lalang, keadaan halte yang sepi membuatnya takut. Tangannya sudah siap dengan cairan bubuk merica dan cabe yang selalu ia simpan di dalam tasnya.


Matanya awas menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memperhatikan keadaan sekitar dan orang orang yang tampak mencurigakan.


Tak lama kemudian matanya menangkap sosok laki laki yang berdiri tidak terlalu jauh darinya. Laki laki itu hanya berdiri dan menatap ke arah Dini.


Dengan topi hitam dan masker, membuat Dini tidak bisa mengenali wajah laki laki itu. Namun jika dilihat dari postur tubuhnya, ia sedikit yakin jika laki laki itu adalah laki laki yang sama yang sering ia lihat.


Dengan keberanian yang sudah terkumpul, Dini memperhatikan laki laki itu dengan seksama. Ia tidak ingin lengah sedikitpun sampai tiba tiba seseorang menepuk punggungnya dan secara reflek Dini segera menyemprotkan cairan yang ia bawa pada seseorang di belakangnya.


Beruntung seseorang itu mengenakan helm jadi matanya masih aman dari cairan pedas milik Dini.


"Ini aku Din, Jaka!" ucap Jaka dengan cepat cepat membuka helm yang dipakainya.


"Pak Jaka!!" pekik Dini terkejut.


"Maaf pak, maaf, saya kaget, saya pikir orang jahat, maaf banget pak, maaf," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Nggak papa, itu apa yang kamu pegang?"


"Oh ini, ini isinya bubuk merica sama cabe pak hehe...."


"Untung saya pake helm, kalau enggak gimana nasib mata saya tadi!"


"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf!"


"Kamu jangan suka ngelamun di pinggir jalan, bahaya!" ucap Jaka mengingatkan.


"Iya pak, tapi pak Jaka bukannya sudah pulang dari tadi ya?"


"Enggak, saya nongkrong di depan, saya liat kamu ngelamun di sini makanya saya samperin!"


"Saya nggak ngelamun pak, saya....."


Dini menghentikan ucapannya saat seseorang yang ia lihat beberapa waktu yang lalu menghilang begitu saja.


"Mau saya antar pulang? Tapi saya pake motor, mobilnya masih di bengkel!"


Sepanjang perjalanan pulang Dini masih terus waspada. Tangannya selalu siap untuk menekan botol yang berisi cairan pedas yang ia genggam di tangannya.


Setelah ia sampai di halte dekat rumahnya, ia segera turun dan berjalan cepat ke arah rumahnya. Ia merasa lega karena akhirnya sampai di rumah dengan selamat.


"sebenarnya siapa sih yang ikutin aku? apa aku cuma parno aja? tapi aku yakin ada yang ikutin aku," batin Dini bertanya tanya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dini masih membaca buku buku di hadapannya. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Biiiipp biiipp biiipp


Sayang, udah tidur?


Sebuah pesan yang hampir setiap hari ia dapatkan. Pesan singkat dari laki laki yang dicintainya namun kini jauh darinya.


Dini lalu menghubungi Dimas dan tanpa menunggu lama Dimas sudah menerima panggilannya.


"Halo sayang, kamu belum tidur?" tanya Dimas.


"Belum, masih baca baca, kamu?"


"Aku baru selesai ngerjain kerjaanku, capek banget sayang."


"Buat persiapan meeting bulan depan?"


"Iya, banyak yang harus aku siapin dan harus aku susun sesempurna mungkin, ini kesempatan besar buat aku."


"Aku yakin kamu bisa, kalaupun kamu gagal kamu harus percaya kalau masih banyak kesempatan lain yang nunggu kamu, asalkan kamu jangan menyerah dan putus asa, oke?"


"Pasti, tujuan ku di sini bukan cuma buat dapetin posisi itu, tapi juga buat kamu, jadi aku nggak akan mudah menyerah."


Setelah beberapa lama berbincang melalui sambungan ponsel, Dimas dan Dinipun tertidur begitu saja.


**


Pagi kembali datang, Dini bangun dari tidurnya dan segera mengisi daya baterainya yang sudah habis.


Setelah mandi dan bersiap, ia segera sarapan bersama sang ibu.


"Bu, weekend nanti Dini mau ke rumah temen Dini yang di luar kota ya!" ucap Dini.


"Kamu mau nginep lagi?"


"Iya Bu, nggak papa kan?"


"Nggak papa, ibu percaya Dimas pasti jagain kamu," jawab ibu Dini.


"Makasih Bu, eehh.... maksud ibu?"


"Ibu tau kamu bohong sama ibu."

__ADS_1


Dini diam tertunduk mendengar ucapan sang ibu. Ia merasa sangat bersalah pada ibunya.


"Maafin Dini Bu," ucap Dini menyesal.


"Jangan bohong lagi ya sama ibu, ibu nggak akan ngelarang kamu Din, ibu percaya kalian pasti tau mana yang baik dan buruk, ibu yakin kalian pasti tau batasan yang nggak bisa kalian lewati!"


"Dini tau Bu, Dini dan Dimas nggak akan lewati batasan itu."


"Iya, ibu percaya sama kalian."


"Makasih Bu," ucap Dini dengan menggenggam tangan sang ibu.


Setelah selesai sarapan, Dini mengambil ponsel dan tasnya lalu segera berangkat ke kantor.


Saat baru saja meninggalkan rumah, tampak mobil Adit yang berjalan ke arahnya. Mobil itupun berhenti di samping Dini dan tak lama kemudian Adit keluar lalu menghampiri Dini.


"Ayo!" ajak Adit sambil menarik tangan Dini untuk masuk.


Dini hanya diam dan mengikuti Adit begitu saja.


"Berangkat Rud!" ucap Adit pada Rudi.


"Siap pak!" balas Rudi lalu melajukan mobil ke arah kantor.


"Kak Adit masuk kantor?" tanya Dini tak percaya.


"Iya, kenapa?"


"Tapi kak Adit kan harus istirahat dulu sampe'......"


"Kakak udah baik baik aja kok, kamu jangan khawatir!"


"Tapi tetep aja kak, kak Adit masih pusing kan?"


"Kakak bisa minum obat, nggak mungkin kakak cuma diem aja di apartemen!"


"Apa Dokter udah izinin kak Adit kerja?"


"Kakak kerja di perusahaan kakak sendiri, kakak nggak perlu izin Dokter buat kerja, bener kan Rud?"


"Bener pak, mbak Dini nyerah aja mbak, Pak Adit emang begitu dari dulu," jawab Rudi.


Dini hanya menggelengkan kepalanya melihat kekompakan Adit dan Rudi.


Tak lama kemudian mereka sampai di kantor. Adit dan Dini berjalan memasuki kantor seperti biasa. Mereka tau banyak mata memandang ke arah mereka, entah karena perban di kepala Adit atau karena mereka berjalan berdua, Adit dan Dini tidak peduli.


**


Di tempat lain, Dimas masih fokus mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya.


Tiba tiba seseorang datang dengan menaruh sebuah foto di keyboardnya.


Dimas menarik napasnya dalam dalam dan membuang foto itu begitu saja. Ia sudah bisa menebak siapa yang berdiri di sampingnya saat itu.


"Ikut aku!" ucap Chelsea.


"Ini masih jam kerja, aku nggak bisa!"


"Bisa, aku udah izin sama papa!"


"Papa kamu emang direktur di sini, tapi apa yang aku kerjain ini tanggung jawab yang harus aku selesaiin, tolong kamu mengerti!"


"Aku cuma mau minta waktu kamu sebentar Dimas!"


"Aku masih kerja Chelsea!"


"Ada wartawan di luar," ucap Chelsea yang berhasil menarik perhatian Dimas.


"Maksud kamu?"


Chelsea hanya tersenyum lalu meninggalkan Dimas begitu saja. Dimas segera meninggalkan meja kerjanya dan mengejar Chelsea. Ia lalu menarik tangan Chelsea untuk diajak naik ke roof top.


"Apa mau kamu?" tanya Dimas.


"Aku mau nikah sama kamu, kita udah dijodohin Dimas, kamu tau itu kan?"


"Hentikan omong kosong kamu Chelsea!"


Chelsea hanya tersenyum lalu memeluk Dimas dengan tiba tiba. Ia memeluk Dimas sangat erat karena ia tau Dimas pasti akan mendorongnya.


"Lepas Chels!" teriak Dimas dengan mendorong Chelsea.


Chelsea pun terdorong dan jatuh tersungkur di lantai. Namun ia hanya tersenyum lalu tertawa terbahak bahak.


"Wartawan ke sini karena mau liput kedekatan ku sama papa Dimas, nggak ada hubungannya sama kamu!" ucap Chelsea lalu berdiri.


"Tolong jangan ganggu aku Chelsea, aku tau kamu gadis yang berpendidikan tinggi, citra kamu di media sangat penting buat kamu, sedangkan aku cuma laki laki biasa yang udah punya tunangan, tolong hentikan semua ini!"


"Aku tau Dimas, tapi bagiku kamu bukan laki laki biasa, kamu laki laki sempurna yang hanya pantas buat aku yang juga sempurna."


"Nggak ada seorangpun yang bisa anggap dirinya sempurna Chelsea!"


"Tapi aku memang sempurna Dimas, dengan kesempurnaan aku, aku bisa dapatkan apapun yang aku mau, termasuk kamu!"


"Jangan pernah berharap!" ucap Dimas lalu melangkah pergi, namun Chelsea menahannya.


"Oke aku menyerah," ucap Chelsea yang berhasil menahan Dimas.


Dimas menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Chelsea yang bisa berubah pikiran secepat itu.


"Kalau aku nggak bisa miliki kamu sebagai seorang pasangan, kasih aku kesempatan buat jadi teman kamu, aku akan jadi teman yang baik tanpa mengancam kamu lewat foto itu dan sebagai teman yang baik aku akan hapus semua foto itu, kamu bisa percaya sama aku kalau aku nggak akan manfaatin foto itu lagi buat paksa kamu!"


"Kita bisa berteman kan?" lanjut Chelsea bertanya.


Dimas diam beberapa saat sebelum ia menjawab.

__ADS_1


__ADS_2