Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Setangkai Mawar


__ADS_3

Sesampainya di rumah Andi, Dini segera memanggil Andi.


"Lo kenapa Dim?" tanya Andi yang segera membantu Dimas duduk di ruang tamunya.


"Tanya aja tuh sama sahabat kamu," jawab Dimas sambil membawa pandangannya ke arah Dini.


"Tau' ah, aku pulang dulu, capek!" sahut Dini lalu segera keluar dari rumah Andi.


Dimaspun menjelaskan apa saja yang ia lakukan hari itu sampai berkahir dengan babak belur digebuki warga.


"Makanya kalau ada apa apa jangan emosi dulu, kalian udah sama sama dewasa!" ucap Andi sambil mengompres lebam di wajah Dimas.


"Iya Ndi, tapi ada yang mau gue tanyain sama lo tentang hubungan Andini sama Adit."


"Gue nggak mau ikut campur lagi Dim, tanya aja sama Dini!"


"Kan gue udah bilang, dia nggak mau ngomong sama gue!"


"Usaha lo mana Dim, mana Dimas yang selalu punya cara buat taklukin Dini?"


Dimas diam beberapa saat. Ia tau apa yang harus ia lakukan.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Andi berdering. Sebuah panggilan dari Dini.


"Halo Din, ada apa?"


"Dimas masih di rumah kamu ya? dia baik baik aja kan?"


"Kalau mau tau ya ke sini aja Din."


"Nggak mau!"


"Ya udah kalau gtu."


Klik. Andi mematikan sambungan ponselnya.


"Andini? dia khawatir sama gue?"


Biiiippp Biiippp Biiippp


Belum sempat Andi menjawab, ponselnya kembali berdering. Ia segera menerima panggilan itu tanpa melihat layar ponselnya karena ia mengira Dini yang menghubunginya.


"Apa lagi?" tanya Andi kesal.


"Halo Andi, akhirnya kamu angkat telfon tante," ucap seorang wanita di ujung sambungan ponselnya.


Andi lalu melihat layar ponselnya dan tertulis nama Tante Siska di sana.


"aaarrgghhh sialll, kenapa nggak diliat dulu sih Ndi!" batin Andi kesal pada dirinya sendiri.


"Halo, kamu masih di sana?" tanya mama Siska.


"Iya tante, maaf Andi lagi sibuk sekarang," jawab Andi berbohong.


"Nggak tau kenapa tante merasa akhir akhir ini kamu selalu menghindar, apa tante melakukan kesalahan?"


"Enggak tante, Andi emang lagi sibuk banget jadi jarang pegang HP," jawab Andi beralasan.


"Kamu jangan menghindar dari tante ya, tante sedih."


"Maaf tante, Andi harus selesaiin kerjaan Andi dulu."


"Iya, nggak papa, kamu......"


Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt


Andi kembali mematikan ponselnya begitu saja, ia bahkan menonaktifkan ponselnya.


"Tante tante itu lagi?" tanya Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


"Apa lo mikirin kata kata gue kemarin?"


"Gue nggak cuma mikirin diri gue sendiri Dim, gue juga nggak mau tante Siska dinilai buruk sama orang di luar sana, gue juga nggak mau ayah sama ibu kena dampaknya juga!"


"Lo udah lakuin yang terbaik Ndi!" ucap Dimas dengan menepuk pundak Andi.


**


Hari berganti, pagi telah datang.


Setelah sarapan, Dini segera mengambil tas kerjanya di kamar.


"Din, taksi kamu udah dateng!" ucap ibu Dini pada Dini.


"Dini nggak pesen taksi bu!" jawab Dini sambil merapikan kembali rambutnya.


"Tapi ini atas nama kamu loh, buruan keluar!"


"perasaan aku nggak pesen taksi deh," batin Dini dalam hati.


Dinipun keluar dari kamarnya, berpamitan pada ibunya lalu keluar dari rumah.


Dilihatnya seorang laki laki yang berdiri di samping taksi dengan menggunakan seragam, masker dan kaca mata. Laki laki itu lalu berjalan ke arah Dini.


"nggak mungkin Dimas kan?" batin Dini menerka.


Saat mereka semakin dekat, laki laki itu menurunkan maskernya dan menyunggingkan senyum manisnya pada Dini.


"Dimas!" pekik Dini tak percaya.


Dimas segera menutup mulut Dini dengan tangannya, takut jika ibu Dini melihat Dimas yang menyamar sebagai supir taksi.


"Ada apa Din?" tanya ibu Dini sambil berjalan keluar.


Dimas segera menjauh dan memakai kembali maskernya.


"Enggak bu, nggak ada apa apa, Dini berangkat dulu ya bu!" ucap Dini sambil mencium tangan ibunya.


"Tadi kan udah cium tangan!"


"Nggak papa, biar berkah hehe...." balas Dini lalu masuk ke dalam taksi.


Dini duduk di bangku belakang.


"Nggak mau pindah depan?" tanya Dimas sambil membuka masker dan kaca matanya.


Dini hanya menggeleng dengan menjauhkan pandangannya dari Dimas.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan Dini dari spion.


"Kamu pulang jam berapa? aku jemput ya!"


"Nggak perlu!"


Dimas hanya menghela napasnya. Ia tau ia sudah melakukan dua kesalahan pada Dini.


Satu, tidak mendengarkan penjelasan Dini. Dua, memeluk Anita di depan Dini.


Tak lama kemudian, Dimas berhenti di sebuah toko bunga.


"Tunggu bentar ya!" ucap Dimas lalu segera turun dan membeli satu tangkai bunga mawar untuk diberikan pada Dini.


"Kesukaan kamu," ucap Dimas sambil memberikan bunga itu pada Dini, namun Dini tidak mau menerimanya.


Dimaspun menaruhnya di pangkuan Dini, lalu kembali melajukan mobilnya ke arah tempat kerja Dini.


Sesampainya di sana, Dini segera keluar dari taksi, begitu juga Dimas.


Dimas lalu bertukar baju dan mobil pada supir yang membawa mobilnya di belakangnya. Tak lupa ia memberikan beberapa lembar uang pada si supir karena telah membantu melancarkan rencananya.


Dini yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum tipis lalu segera masuk ke dalam kantornya.


Seperti biasa, ia menyiapkan minuman untuk Adit 5 menit sebelum kedatangan Adit.


Baru saja ia duduk di kursinya, Dini segera berdiri lagi dan berlari keluar dari ruangannya.


Ia bahkan tak sengaja menabrak Adit yang saat itu baru saja datang. Belum sampai Adit membantu Dini berdiri, Dini segera berdiri dan melanjutkan langkahnya.


Ia keluar dari gedung dan berlari ke arah jalan raya.


"duuuhh, bodoh banget sih Din, pasti taksinya udah jauh kan? aarrgghh nyebelin!"


PUUKKK


Adit memukul Dini menggunakan map yang ia pegang.


"Kak Adit bikin kaget aja!"


"Kamu tau ini jam berapa?" tanya Adit.


"Maaf pak," jawab Dini.


"1 menit sebelum jam kerja, jelasin semuanya, kamu kenapa lari lari ke depan sampe nggak peduli kalau betis kamu berdarah!"


Dini lalu melihat ke arah betisnya dan benar saja, kedua betisnya berdarah.


"Haaahh, berdarah, periihhh!"


"tadi dibuat lari nggak sakit, sekarang udah liat baru kerasa perih," batin Adit dalam hati.


"50 detik," ucap Adit.


"Barang Dini ketinggalan di taksi kak, penting!" ucap Dini cepat.


"Hafal plat nomor taksinya?"


Dini menggeleng pelan dengan memamerkan deretan giginya.


"Bodoh, cepet ikut kakak!"


Aditpun mengajak Dini ke ruangan pengawas CCTV, di sana ia bisa menemukan taksi yang tadi digunakan Dimas untuk mengantarnya.


Setelah mendapatkan kontak si supir, Dinipun segera menghubungi supir itu dan meminta si supir untuk mengembalikan barangnya ke tempat kerjanya.


"Saya tunggu sekarang ya pak, itu penting banget soalnya!"


"Baik mbak, saya ke sana sekarang, mungkin 30 menit lagi saya sampai di sana."


"Baik pak, terima kasih banyak ya pak."


Dinipun meninggalkan ruangan pengawas CCTV dengan lega.


"Makasih kak, Dini......"


"Kamu telat 20 menit," ucap Adit lalu berjalan mendahului Dini.


"Loh kok telat sih, kan pak Adit sendiri yang nganter saya ke sini!" protes Dini.


"Aturan di sini jam kerja di mulai pukul 7 dan sekarang jam 7 lebih 22 menit kamu masih berada di luar ruangan kamu, kamu telat!"


"Nggak bisa gitu dong pak, saya....."


Adit menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Dini, membuat Dini menyerah untuk berdebat dengan atasannya itu.


"Ada dua pilihan, kamu lakukan sanksi kamu atau SP 3, semua pilihan ada di tangan kamu!"


"Baik pak, saya terima hukuman saya, saya akan habiskan waktu saya untuk mengetik sesuai sanksi yang saya dapatkan," balas Dini mengalah.


"Pilihan bijak," balas Adit lalu masuk ke ruangannya dengan menyembunyikan senyumnya.


Saat Adit hendak ke ruangan Jaka, seorang satpam berjalan ke arah ruangan Adit dan Dini.


"Cari siapa pak?" tanya Adit.


"Mbak Dini pak, saya hubungi dari tadi nggak bisa," jawab pak satpam.


"Dia sibuk mengerjakan hukumannya, ada apa pak?"


"Itu ada supir taksi yang cari mbak Dini, katanya ada barangnya yang ketinggalan."


"Oh, biar saya yang bawakan, ayo keluar!"


Adit dan satpam pun keluar untuk menghampiri si supir taksi.


"Cari Dini ya pak, saya Adit, dia minta saya ambil barangnya yang tertinggal di mobil bapak," ucap Adit pada supir taksi itu.


"Ini pak barangnya, saya permisi dulu!" ucap si supir setelah memberikan satu tangkai bunga mawar pada Adit.


"bunga mawar? cuma karena bunga mawar satu tangkai ini dia sampe lari lari kayak gitu?" batin Adit bertanya.


Adit lalu kembali masuk ke kantornya dengan membawa bunga mawar di tangannya.


Di sisi lain, Dini yang baru membuka ponselnya baru melihat pesan si supir taksi padanya.


saya di depan mbak


Dini pun segera menaruh ponselnya dan berlari keluar. Saat berada di lobby, ia melihat Adit yang berjalan dari arah luar dengan membawa bunga mawar di tangannya.

__ADS_1


"Pak Adit bawa bunga mawar? itu bukan punya ku kan? bukan kan?"


"Dini!" panggil Adit.


"Iya pak," jawab Dini lalu berdiri di depan Adit.


"Cuma gara gara ini kamu sampe lari lari?" tanya Adit pelan dengan memberikan bunga mawar itu pada Dini.


Dini hanya mengangguk pelan tak bersuara.


Adit lalu berjalan meninggalkan Dini yang masih terpaku di tempatnya.


"kenapa bunganya bisa sama pak Adit sih, kesannya jadi kayak pak Adit yang ngasih!" batin Dini dalam hati.


Tanpa mereka tau, kejadian itu sudah di foto bahkan di rekam oleh beberapa tangan jahil yang berada di sana.


Dini lalu kembali ke ruangannya dengan membawa bunga mawar itu.


Sedangkan Adit pergi ke ruangan pengawas CCTV. Ia ingin melihat kembali rekaman taksi yang mengantar Dini beberapa waktu lalu.


Setelah melihatnya dengan detail, Adit menyadari jika Dimas dan si supir taksi itu bertukar pakaian dan mobil di sana. Jadi sudah bisa dipastikan jika bunga mawar merah itu adalah pemberian Dimas.


"anak kecil," batin Adit lalu kembali ke ruangannya.


**


Jam makan siang tiba. Saat Andi hendak keluar untuk mencari makan siang, sebuah mobil berhenti di depan home store.


Andipun segera kembali masuk dan bersembunyi.


"Dim, bilangin tante Siska kalau gue nggak ada!" ucap Andi berbisik.


"Oke."


Dimas lalu keluar untuk menemui tante Siska.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu temannya Andi kan? dia ada di sini?"


"Andinya lagi makan siang di luar tante, kalau boleh tau ada perlu apa ya tante?"


"Tadinya tante mau ajak dia makan siang, tapi sepertinya tante terlambat ya!"


Dimas hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ya udah tante pergi dulu ya!"


"Iya tante hati hati di jalan," balas Dimas.


"ini tante tante kenapa nyari Andi mulu sih, ngeri gue!" batin Dimas lalu masuk ke ruangannya.


"Gimana Dim?" tanya Andi.


"Udah balik, mau ngajak lo makan siang katanya."


"Dim, kita cari gedung lain aja gimana? gue nggak bisa menghindar terus terusan kan?"


"Lo kira gampang nyari gedung, itu masalah lo, kelamaan jomblo sih jadi inceran tante tante kan lo hahaha....."


Andi hanya diam, dalam hatinya ia merasa sedih. Entah kenapa apa yang ia lakukan membuatnya bersedih.


**


Di tempat lain, Dini sedang makan siang bersama Aca dan Ica.


"Gila, file gue nggak selesai selesai, capek banget tangan gue!" ucap Ica mengeluh.


"Gue kan udah bilang, suruh orang aja, beres!" sahut Aca.


"Nggak mau ah, sayang duit gue!" balas Ica.


"File apa?" tanya Dini.


"Kamu beruntung karena kamu selamat Din, kamu nggak ada di grup itu!" jawab Ica.


"Grup apa? beruntung kenapa?"


"Grup yang suka bahas kamu itu, Pak Jaka tau tentang grup itu dan dia minta semua yang ada di sana ngetik laporan setiap hari, minimal 5 ribu kata," jelas Aca.


"Jahat banget emang pak Jaka, kuku cantik ku jadi rusak gara gara kebanyakan ngetik!" ucap Ica bersedih.


"Pak Jaka itu masih baik loh Ca, daripada kita dilaporin ke Pak Adit, apa nggak lebih bahaya?" sahut Aca.


"Iya sih, tapi tetep aja kasian kuku kuku gue huwaaaaa...."


Dini dan Aca hanya saling pandang lalu menggelengkan kepala melihat Ica.


"jadi ini yang dibilang kak Adit waktu itu? syukurlah, seenggaknya mereka nggak dipecat sama kak Adit," batin Dini dalam hati.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini sudah bersiap untuk keluar dari ruangannya.


"Ada yang bisa Dini bantu kak?" tanya Dini pada Adit.


"Nggak ada, kamu bisa pulang duluan!" jawab Adit tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di hadapannya.


"Tangan kakak udah sembuh?"


"Iya, kakak udah nggak papa kok, kamu pulang aja, bentar lagi juga kakak pulang!"


"Ya udah, Dini duluan ya kak!"


"Iya hati hati."


Dini lalu keluar dari ruangan Adit. Ketika ia duduk di halte, sebuah taksi berhenti di depannya.


Si supir taksi segera turun dan menghampiri Dini.


"Mbak Dini ya?" tanya si supir taksi yang ternyata bukan Dimas.


"kenapa aku berharap kalau Dimas sih, ada ada aja!"


"Iya, saya Dini."


"Silakan masuk mbak, mas Dimas yang meminta saya jemput mbak Dini."


"Tapi saya mau naik bus pak."

__ADS_1


"Tolong masuk ya mbak, kalau saya nggak bisa bawa mbak Dini masuk, saya bisa dipecat dari pekerjaan saya," jelas si supir taksi.


"dasar orang kaya, seenaknya banget sih!" gerutu Dini dalam hati.


__ADS_2