Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Weekend (3)


__ADS_3

Andi yang sedang melanjutkan pekerjaannya di buat terkejut oleh pertanyaan Adit. Ia tidak menyangka jika Adit sudah mengenal Anita sebelumnya.


"Lo udah kenal sama Anita?" tanya Andi pada Adit.


"Gue nggak kenal, gue cuma pernah liat dia di kafe sama Dimas," jawab Adit.


"Kita berteman, gue, Dini, Dimas dan Anita, cuma itu," ucap Andi.


"Dini nggak akan nangis sesedih itu kalau emang nggak ada apa apa diantara Dimas dan Anita," ucap Adit.


"Itu cuma masa lalu, lo nggak perlu tau!"


"Gue berhak tau, lo adik gue Ndi, gue nggak mau lo berhubungan sama cewek yang nggak bener!"


"Lo nggak tau apa apa Dit, jadi jangan ikut campur sama masalah pribadi gue!"


"Karena gue nggak tau, makanya gue nanya sama lo!"


"Adit, Andi, kalian berantem lagi?" tanya mama Siska dari balik pintu.


Seketika Andi dan Adit saling pandang lalu kompak menjawab bersamaan.


"Enggak ma!"


"Mama boleh masuk?" tanya mama Siska.


Adit lalu membuka pintu kamar Andi dan membiarkan sang mama masuk.


Mama Siska lalu duduk di tepi ranjang Andi.


"Kalian ada masalah apa sebenarnya?" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Andi dan Adit bergantian.


"Nggak ada masalah apa apa kok ma," jawab Adit.


"Ikut mama ke kamar bentar ya, bantuin mama beres beres kamar!" ucap mama Siska pada Adit.


"Andi bantuin ma!" sahut Andi.


"Nggak perlu sayang, kamu lanjutin kerjaan kamu aja!" balas mama Siska lalu keluar dari kamar Andi, diikuti Adit.


Mama Siska sengaja mengajak Adit ke kamarnya untuk diajak bicara empat mata, tanpa Andi.


"Mama tanya sekali lagi ya, kamu ada masalah apa sama Andi?" tanya mama Siska pada Adit.


"Nggak ada ma, kita baik baik aja kok," jawab Adit.


"Sayang, dia adik kamu, mama nggak akan menyalahkan salah satu dari kalian kalau kalian bertengkar, mama tau kalian sudah dewasa, terutama kamu, sebagai kakak kamu harus lebih mengerti dia, kamu harus lebih sabar dengan sikapnya," ucap mama Siska.


"Iya ma, Adit mengerti," balas Adit.


"Selama ini dia jauh dari kita Dit, bukan hal mudah buat dia bisa menerima mama dan kamu sebagai keluarganya, kasih dia waktu supaya dia bisa nyaman tinggal bersama kita, kamu mengerti maksud mama kan?"


"Adit juga sayang sama Andi seperti mama sayang sama dia, Adit peduli sama dia ma, mungkin emang cara Adit yang salah atau Adit yang terlalu keras sama dia, Adit minta maaf."


"Kamu persis seperti papa sayang, ketegasan kamu sama persis seperti papa," batin mama Siska dalam hati.


"Jangan minta maaf sama mama sayang, mama tau kamu kakak yang baik buat Andi," ucap mama Siska.


"Selama ini Adit tau kalau Adit punya adik, tapi selama itu juga Adit nggak pernah bisa ngerasain jadi kakak, Adit nggak tau gimana caranya buat jadi kakak yang baik ma, tapi Adit berusaha supaya Andi bisa tau gimana bahagianya punya kakak."


"Andi pasti tau, Andi pasti bisa ngerasain itu, kita harus kasih waktu Andi buat beradaptasi sama dunia barunya sayang."


"Iya ma, Adit mengerti."


Mama Siska lalu memeluk Adit. Ia yakin Adit akan menjadi kakak yang baik untuk Andi, begitu juga Andi akan menjadi adik yang baik untuk Adit.


Tanpa Adit dan mama Siska tau, Andi mendengar percakapan mereka dari balik pintu. Ia sengaja mengikuti Adit dan sang mama diam diam dan menguping pembicaraan mereka.


"Andi bahagia ma, keluarga ini udah kasih Andi kebahagiaan yang utuh meski tanpa papa di sini," batin Andi dalam hati lalu kembali ke kamarnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, setelah selesai makan malam, mama Siska duduk di teras rumah bersama Andi. Sedangkan Adit berada di kamarnya.


"Kamu bahagia di sini?" tanya mama Siska pada Andi.


"Andi bahagia ma, sangat bahagia," jawab Andi.


"Kamu tau, Adit itu sangat mirip dengan papa kamu, nggak cuma secara fisik, tapi sifatnya juga, papa kamu orang yang sangat tegas tapi begitu penyayang, sama seperti Adit, kadang ketegasannya bisa bikin salah paham, cara dia menyampaikan rasa sayangnya kadang berbeda dengan kebanyakan orang," ucap mama Siska panjang.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar penuturan sang mama. Kini ia bisa mengerti kenapa Dini dulu begitu tertekan saat baru pertama kali bekerja dengan Adit. Ketegasannya cukup membuat nyali Dini menciut, namun pada akhirnya sikap tegasnya itu mampu menempa Dini menjadi sosok yang lebih kuat dan percaya diri.


"Kalian anak mama yang sangat mama sayangi, kalian adalah sumber kebahagiaan mama, mama sangat berharap kalian bisa menjadi kakak adik yang saling menyayangi, saling melindungi dan saling memahami," ucap mama Siska.


"Andi minta maaf ma, maaf karena Andi masih terlalu kekanak kanakan," ucap Andi.


"Jangan minta maaf sama mama sayang, kamu dan Adit sama sama anugerah terbaik dari Tuhan untuk mama, sifat kalian memang berbeda dan itu bukan masalah buat mama, kalian punya hal istimewa dalam diri kalian masing masing," balas mama Siska.


"Dan mama akan sangat bahagia kalau kamu bisa panggil Adit 'kakak'," lanjut mama Siska.


"Kakak?"


"Iya, walaupun usia kalian terpaut dua tahun, tapi dia tetap lebih tua dari kamu, jadi sudah sewajarnya kalau kamu panggil dia 'kakak' kan?"


Andi hanya tersenyum canggung mendengar ucapan sang mama. Memang benar jika Adit lebih tua darinya, namun untuk memanggil "kakak" rasanya Andi belum siap.


"Mungkin akan sedikit canggung buat kamu dan Adit, mama mengerti jadi mama nggak akan maksa kamu," ucap mama Siska yang seolah mengerti isi pikiran Andi.


Mama Siska lalu masuk ke kamarnya, meninggalkan Andi yang masih duduk di teras.

__ADS_1


"Permisi mas, apa mas Andi masih membutuhkan saya?" tanya Rudi pada Andi.


"Loh pak Rudi belum pulang?"


"Belum mas, nunggu di suruh ibu hehe..."


"Besok besok kalau udah jam 5 sore Pak Rudi pulang aja, nggak papa," ucap Andi.


"Baik mas, berarti saya sudah boleh pulang sekarang?"


"Iya boleh," jawab Andi, namun tiba tiba ia berubah pikiran.


"Bentar pak Rudi, tunggu!"


"Ada apa pak?" tanya Rudi yang berbalik kembali menghampiri Andi.


"Duduk dulu pak, ada yang mau saya tanyain," jawab Andi.


Rudi lalu duduk di hadapan Andi.


"Pak Rudi udah lama ya kerja sama Adit?"


"Sudah lama banget mas, dari mas Adit baru balik ke Indonesia," jawab Rudi.


"Apa dia pernah marahin pak Rudi?"


"Sebenarnya pak Adit nggak pernah marah kalau emang nggak ada yang salah mas, tapi sekalinya salah pak Adit bisa ngamuk," jawab Rudi berbisik.


"Ya kalau nggak salah ngapain marah," balas Andi.


"Kalau mbak Ana bilang, pak Adit itu orangnya perfeksionis dan pemikir, jadi pak Adit nggak mau ada kesalahan sedikitpun!"


"Berarti dia intoleran dong?"


"Enggak juga, kalau mas Andi sering sama pak Adit dan deket sama Pak Adit, pasti mas Andi tau gimana sifatnya pak Adit yang sebenarnya."


"Saya tau dia kemarin beliin pak Rudi motor ya!"


"Iya mas, itu salah satu sifat baik pak Adit yang nggak banyak orang tau, pak Adit sangat peduli sama sekitarnya mas."


Andi mengangguk anggukan kepalanya mendengar semua jawaban Rudi.


"Udah selesai introgasi nya?" tanya Adit yang tiba tiba keluar.


"Pak Adit? maaf pak, saya....."


"Pulang aja Rud, udah malem," ucap Adit memotong ucapan Rudi.


"Baik pak, saya permisi pak Adit, mas Andi."


"Tukang nguping!" ucap Andi.


"Gue nggak sengaja denger, gue lanjutin aja dengernya haha..." balas Adit.


"Sorry," ucap Adit.


Andi hanya menoleh ke arah Adit, tanpa mengucapkan apapun.


"Sorry kalau sikap gue keterlaluan dan bikin lo nggak nyaman," lanjut Adit.


"It's okay, tapi kenapa lo mau tau soal Anita?"


"Gue pernah ketemu dia sama Dimas di kafe, waktu itu gue lagi sama Dini."


"Lo ngapain di kafe sama Dini?"


"Pertemuan biasa sama klien, jangan negatif thinking terus lah!"


"Oke oke, terus?"


Aditpun menjelaskan bagaimana reaksi Dini saat ia melihat Dimas dan Anita di sana. Dari sana Adit sudah bisa menduga jika Anita bukan perempuan yang baik.


"Kita dulu berteman dekat, sebelum Anita ungkapin perasaannya sama Dimas waktu Dimas dan Dini udah pacaran," ucap Andi.


"Tapi Dimas nggak mungkin selingkuh kan?"


"Enggak, Anita cuma salah mengartikan sikap Dimas aja, Dimas terlalu baik sampe bikin Anita baper," jawab Andi.


"Apa lo ada hubungan sama Anita?"


Andi menggelengkan kepalanya.


"Kita sempet deket, lebih deket dari teman biasa, tapi setelah kejadian itu kita sama sama menjauh, dia lebih pilih buat ngejar Dimas dan gue sangat kecewa sama sikap dia waktu itu," ucap Andi.


"Tapi sekarang kalian deket lagi, apa semuanya udah baik baik aja?"


"Dia udah berubah Dit, dia udah menyesali perbuatannya yang dulu, kita berteman baik sekarang, just a friend," jawab Andi.


**


Di tempat lain, Dini sedang bersiap untuk makan malam bersama Dimas. Ia mengenakan pakaian yang pernah Dimas belikan untuknya saat ia pertama kali datang.


Setelah selesai, Dinipun keluar dari kamar Dimas.


"Udah siap," ucap Dini dengan senyum manisnya.


Dimas masih terdiam menatap gadis cantik di hadapannya itu. Ia lalu mendekat dan mencium singkat bibir Dini.

__ADS_1


"Iiihhh, jangan, nanti lipstik nya pudar!" ucap Dini dengan mendorong tubuh Dimas.


"Nggak papa, tetep cantik," balas Dimas yang hendak kembali mencium Dini, namun Dini sudah lebih dulu mendorong Dimas.


"Ayo berangkat!" ucap Dini lalu segera berjalan keluar.


Dimas lalu menyambar kunci mobilnya dan segera mengikuti Dini.


Dimas sengaja mengajak Dini untuk makan malam di luar meski Dini hanya ingin berada di apartemen bersamanya. Bagaimanapun juga Dini sudah menyempatkan waktunya untuk mendatanginya, Dimas tidak mungkin membiarkan Dini merasa bosan jika hanya duduk di apartemen.


Dimas membawa Dini ke sebuah restoran mewah. Ia sudah memesan tempat dan makanan favorit di sana.


Setelah makan malam selesai, Dimas mengajak Dini ke taman.


"Dimas, kamu udah lama nggak cerita soal Chelsea," ucap Dini.


"Aku udah nggak pernah ketemu dia lagi sayang," balas Dimas.


"Dia nggak pernah hubungin kamu?"


"Enggak, aku juga nggak tau apa yang papa lakuin sama dia, dia tiba tiba hilang gitu aja!"


"Apa kamu nggak nanya papa?"


"Enggak, papa bilang aku nggak perlu tau, yang penting sekarang udah nggak ada yang ganggu kita lagi."


Dini menganggukkan kepalanya lalu menyadarkan kepalanya di bahu Dimas.


"Dimas, apa pernikahan kita nanti akan diketahui banyak orang?" tanya Dini pada Dimas.


"Kenapa tiba tiba kamu tanya itu?"


"Aku sama ibu ngerti, siapa kamu dan keluarga kamu, pernikahan kita pasti jadi berita yang media cari kan? tapi ibu kayaknya nggak mau media tau tentang kehidupan ku sama ibu, apa nggak bisa kalau cukup mereka tau aku sebagai istri kamu tanpa harus mereka cari tau tentang siapa aku dan keluarga ku?"


"Kita nggak bisa kendaliin semua media Andini, tapi aku akan coba bicarain hal itu sama papa," jawab Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya pelan. Ia lalu berdiri dari duduknya dan menarik tangan Dimas agar ikut berdiri.


Ia tidak ingin merusak hari mereka dengan kekhawatiran yang mengganggu pikirannya.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Dimas


"Pulang, aku mau balik ke apartemen, ya!"


"Yakin?"


Dini menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


Dimas menurut, mereka lalu kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, Dini segera berganti pakaian. Ia menggunakan kemeja Dimas lagi.


"Kenapa kamu suka pake ini?" tanya Dimas saat Dini menghampirinya di ruang tamu.


"Nggak papa, nyaman aja," jawab Dini santai lalu duduk di sebelah Dimas.


"Jangan biarin orang lain liat kamu pake pakaian ini, cukup aku aja!"


Dini mengangguk lalu mencium pipi Dimas. Saat Dimas akan membalas ciumannya, Dini mendorong tubuh Dimas.


"Ayo selesaiin kerjaan kamu!" ucap Dini sambil membuka laptop Dimas.


"Kerja lagi?" tanya Dimas tak bersemangat.


"Iya, kalau nggak ada aku di sini, jam segini kamu masih ngerjain materi meeting kan?"


"Iya sih, tapi sekarang kan ada kamu di sini, aku...."


"Justru karena ada aku Dimas, kamu harus makin semangat dong, apa kamu mau aku pulang aja?"


"Jangan dong, ya udah aku ngerjain ini, tapi apa kamu nggak akan bosen kalau....."


"Sssttt.... jangan kebanyakan alasan, ayo kerjain!"


Dimas lalu mengambil beberapa map dan mulai melanjutkan pekerjaannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dimas dan Dini masih fokus pada laptop dan map di hadapan mereka.


"Gimana?" tanya Dini setelah ia membantu Dimas.


"Great sayang, makasih ya!" ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


"Tinggal beberapa materi lagi dan kamu akan selesai, aku nggak sabar nunggu hasilnya," ucap Dini.


"Tapi kamu jangan kecewa kalau hasilnya nggak sesuai sama harapan kamu ya?"


"Aku yakin kamu bisa Dimas dan apapun hasilnya aku akan tetep dukung kamu, yang penting kamu jangan menyerah, oke?"


Dimas menganggukkan kepalanya lalu memeluk Dini dan mencium keningnya. Dengan cepat Dimas lalu membopong Dini dan membawanya ke dalam kamar.


Dimas membaringkan Dini di atas ranjangnya, lalu duduk di samping Dini.


"Aku sangat bersyukur karena Tuhan kasih aku kesempatan buat temui kamu lagi setelah aku nyakitin kamu dan aku lebih bersyukur lagi karena Tuhan kasih kita perasaan yang sama," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.


"Aku yakin sejauh apapun kamu pergi, kamu akan tetap kembali sama aku, bahkan saat memori kamu terhapus, rasa di hati kamu nggak pernah terhapus," balas Dini.


Dimas lalu berbaring di samping Dini dan menarik tangan Dini lalu menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2