
Malam itu Dini berada di apartemen Dimas, tak lupa ia mengabari sang ibu jika ia tidak akan pulang karena berada di apartemen Dimas.
"Kamu mandi dulu sayang, ada yang masih harus aku kerjain!" ucap Dimas sambil membuka laptopnya.
Dini menganggukkan kepalanya lalu masuk ke kamar mandi. Saat sedang mengusap tubuhnya dengan handuk, pintu kamar mandi diketuk dari luar.
"Setelah kamu mandi, kamu bisa pakai baju kamu yang ada di lemari, kamu ambil aja sendiri!" ucap Dimas dari luar pintu.
"Oke," balas Dini lalu melilitkan handuk di tubuhnya.
Dinipun keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang menutup dada dan sedikit pahanya. Ia tidak tau jika Dimas masih berada di dalam kamar saat itu.
Dengan santai Dini membuka lemari Dimas dan berjinjit untuk mengambil pakaian di dalam lemari, membuat handuk yang menutup pahanya semakin naik dan mengekspos bagaian tubuhnya yang tidak seharusnya terlihat oleh Dimas.
Dimas yang sedang duduk di hadapan cermin hanya bisa menelan ludahnya saat ia melihat Dini melalui pantulan cermin. Matanya tak berkedip, jantungnya bergemuruh dan ia merasakan sesuatu dalam dirinya tengah terbangun.
Saat Dini mulai menarik handuknya Dimas tanpa sadar menjatuhkan ponsel di tangannya membuat Dini begitu terkejut dan segera melangkah masuk ke dalam lemari yang besar itu.
"Dimas, kamu sejak kapan di sana?" tanya Dini yang masih berada di dalam lemari.
"Aa..... aakuuuu..... aku....."
Dimas tidak bisa menjawab pertanyaan Dini, lidahnya tiba tiba kelu dan konsentrasi nya buyar.
Dimas lalu menggelengkan kepalanya berusaha mengembalikan kesadaran dirinya dari pikiran pikiran kotornya.
"Aku keluar!" ucap Dimas lalu berlari keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan kencang.
Dini lalu mengeluarkan kepalanya untuk mengintip keadaan kamar, memastikan jika Dimas sudah keluar dari kamar.
Dinipun bernapas lega karena Dimas sudah meninggalkan kamar itu. Saat Dini melihat kemeja putih milik Dimas di dalam lemari, Dinipun mengambilnya dan mengembalikan pakaian miliknya ke dalam lemari.
Dini memilih untuk mengenakan kemeja Dimas yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Namun ia sangat suka saat ia mengenakan kemeja itu karena ia bisa merasakan pelukan Dimas setiap saat jika ia mengenakan kemeja itu.
Dengan rambut basah dan terurai Dini keluar dari kamar Dimas dan menghampiri Dimas yang tengah fokus pada laptop di hadapannya.
Padahal tanpa Dini tau, Dimas hanya memandang layar laptop dan memencet sembarang tombol karena ia sudah kehilangan konsentrasinya sejak melihat Dini keluar dari kamar mandi.
Dini yang tidak ingin menganggu Dimas memilih untuk mengambil buku yang ada di rak.
Dimas hanya diam melihat punggung Dini saat ia tau Dini sedang memilih buku di depan rak. Pakaian yang Dini kenakan cukup membuat pikiran kotornya semakin tak terkendali.
Terlebih saat Dini berjinjit untuk mengambil buku yang berada di barisan atas, kemeja yang hanya menutup separuh paha Dini itu semakin naik ke atas membuat Dimas kembali menelan ludahnya bersama otaknya yang semakin "rusak".
Saat Dini berbalik, ia melihat Dimas yang terdiam menatap ke arahnya.
"Kenapa? apa aku ganggu kamu? aku cuma mau ambil buku!" tanya Dini dengan polosnya.
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan berjalan cepat ke arah Dini yang masih berdiri di depan rak buku.
Dimas merebut buku dari tangan Dini dan membuangnya begitu saja lalu mencengkeram erat kedua tangan Dini dan mendorongnya sampai Dini terpojok di rak buku.
Dini hanya diam dengan apa yang dilakukan Dimas padanya, ia menatap Dimas dengan pandangan tidak mengerti.
Apakah ia telah membuat kesalahan? apakah Dimas sedang marah padanya? apakah kedatangannya membuat Dimas terganggu? Dini terdiam memikirkan hal itu karena pandangan Dimas padanya terlihat berbeda dari biasanya.
"Dimas, aku....."
CUUUUPP
Satu kecupan singkat di bibirnya membuat Dini menghentikan ucapannya. Dini tersenyum lalu membalas kecupan Dimas dengan singkat namun Dimas menekannya sebelum Dini sempat melepaskannya, membuat kecupan singkat itu semakin lama dan dalam.
Tangan Dimas masih mencengkeram dengan erat kedua tangan Dini seolah menahan sesuatu dalam dirinya yang tengah bergejolak.
Dini lalu menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah samping dan menghirup udara dengan panjang karena ia hampir saja kehabisan nafas karena perlakuan Dimas padanya.
Dimas seketika tersadar dan melepaskan tangannya yang mencengkeram tangan Dini.
"Maaf sayang, aku...."
"Nggak papa, kamu cuma terlalu bersemangat hehe...." ucap Dini dengan mengusap pipi Dimas.
Dimas tersenyum lalu memegang tangan Dini namun tiba tiba Dini merintih.
Dimas menarik tangan Dini dan melihat lengan tangan Dini yang memerah. Ia tidak sadar jika ia terlalu kuat mencengkram tangan Dini.
Dini lalu menarik tangannya dari Dimas karena tidak ingin Dimas merasa bersalah atas apa yang baru saja terjadi.
"Maafin aku sayang, aku nggak bisa kendaliin diriku," ucap Dimas yang merasa bersalah.
Dini hanya tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.
"Aku nggak papa kok," ucap Dini.
Dimas lalu melepaskan pelukan Dini dan membawa Dini duduk di sofa. Dimas mengambil kotak P3K dan mengoleskan obat krim di pergelangan tangan Dini.
"Ini pasti sakit kan?"
"Enggak kok, ini nggak akan lama pasti hilang," jawab Dini.
__ADS_1
"Maafin aku sayang," ucap Dimas yang masih merasa bersalah.
"Berhenti minta maaf Dimas, aku baik baik aja," balas Dini.
Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan lalu duduk di samping Dini dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Lanjutin pekerjaan kamu Dimas, aku ke sini bukan buat ganggu kamu, aku tau banyak yang harus kamu kerjakan!" ucap Dini.
"Kamu pasti bosan kalau aku sibuk kerja sedangkan kamu cuma diem di sini," balas Dimas.
"Aku nggak akan bosan liat kamu Dimas, aku juga bisa baca buku buku kamu!" ucap Dini.
Dimas tersenyum dan memberikan kecupan singkatnya di kening Dini. Dimas lalu mengambil buku yang tadi dilemparnya dan memberikannya pada Dini.
"Kamu mau baca ini?" tanya Dimas.
"Iya, aku baru beli buku ini kemarin, jadi aku mau lanjut baca di sini!" jawab Dini.
"Aku akan lanjutin pekerjaan ku tapi kamu harus bilang sama aku kalau kamu udah bosen, aku akan tutup laptopku dan ngabisin waktu sama kamu kemanapun kamu mau," ucap Dimas.
"Oke, kamu fokus aja sama pekerjaan kamu, aku juga mau fokus sama buku ini!" balas Dini.
Dimas menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk di lantai dengan laptop yang berada di meja di hadapannya.
Melihat tangan Dini terluka karena perbuatannya membuat pikiran kotor Dimas menghilang begitu saja.
Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga pikiran liarnya dan berakhir dengan melukai gadis yang dicintainya.
Beruntung baginya karena Dini sangat mengerti dirinya. Dimaspun bisa kembali fokus pada pekerjaannya.
Sesekali Dimas memperhatikan Dini yang tampak fokus dengan buku yang dipegangnya.
Setelah beberapa lama mengerjakan pekerjaannya, Dimas melihat Dini sudah terlelap di sofa.
Dimas tersenyum tipis lalu berdiri dari duduknya dan melangkah ke arah Dini. Dengan perlahan Dimas membopong Dini masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Dini di ranjangnya.
Dimas lalu menarik selimut tebalnya untuk menutup separuh badan Dini. Tak lupa kecupan singkat di kening Dini ia berikan sebelum ia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Dimaspun merebahkan badannya di sofa dan terlelap di sana.
Ia memilih untuk tidur di sofa ruang tamu karena takut jika sewaktu waktu ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Waktu berlalu, hari sudah pagi saat Dini membuka matanya. Ia mengerjap dan tidak melihat Dimas di sampingnya.
Dengan pakaian yang sama, Dini keluar dari kamar Dimas dan melihat Dimas yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Tidur kok, aku baru bangun," jawab Dimas lalu memutar kepalanya dan memberikan kissing morning nya pada Dini.
"Kamu mandi dulu, setelah itu kita cari sarapan di luar!" ucap Dimas pada Dini.
"Nggak mau, kita makan di sini aja!" balas Dini.
"Kamu yakin? kamu nggak bosen di sini terus?"
"Aku akan bilang kalau aku udah bosen dan sekarang aku belum bosen!" jawab Dini.
"Oke, kamu mandi dulu, aku pesan sarapannya sekarang!"
"Oke," balas Dini lalu kembali masuk ke kamar untuk mandi.
**
Di tempat lain, Andi sedang bersepeda bersama Adit di sekitar kompleks perumahan.
"Weekend ini kayaknya lo nggak bisa jalan sama Dini!" ucap Adit pada Andi.
"Kenapa? Dimas pulang?" tanya Andi.
"Enggak, Dini yang kesana," jawab Adit.
"Tau dari mana lo?"
"Gue minta dia buat dateng di pertemuan di kota X kemarin, karena gue tau Dimas nggak bisa pulang akhir akhir ini jadi gue bisa pastiin kalau Dini yang akan samperin Dimas," jawab Adit.
"Dimas emang lagi sibuk banget karena bentar lagi dia akan pindah ke sini," ucap Andi.
"Lo nggak takut?" tanya Adit.
"Apa yang harus gue takutin?" balas Andi bertanya.
"Waktu lo sama Dini akan semakin berkurang," jawab Adit.
Andi menggeleng pelan dengan tersenyum tipis.
Sesampainya di rumah, mereka segera mandi dan sarapan bersama sang mama.
"Andi mau ke rumah ibu ya ma, mungkin nanti malem Andi balik!" ucap Andi pada sang mama.
"Iya sayang, mama akan minta Lukman beli sesuatu buat ibu dan ayah kamu!" balas mama Siska.
__ADS_1
"Terima kasih ma," ucap Andi yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala mama Siska.
"Kalau kamu mau kemana Dit? kamu pasti mau keluar juga kan?" tanya mama Siska pada Adit.
"Mama kan tau ada yang harus cepet Adit selesaiin!" balas Adit tanpa menjawab pertanyaan sang mama.
"Semoga kamu bisa mengatasinya dengan baik sayang," ucap mama Siska pada Adit.
"Adit nggak akan kecewain mama dan papa, mama tenang aja!" balas Adit dengan menggenggam tangan sang mama.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka. Adit lalu keluar dari rumah. Sedangkan Andi masih menunggu pak Lukman yang sedang membeli sesuatu yang diperintahkan oleh mama Siska.
Setelah mendapatkan apa yang diminta sang majikan, Pak Lukman pun memberikannya pada Andi sesuai perintah mama Siska.
Andipun pergi ke rumah ayah dan ibunya.
**
Di sisi lain, Adit mengendari mobilnya ke suatu tempat untuk bertemu dengan orang suruhannya.
Setelah berdiskusi beberapa saat, Aditpun pergi dan membawa mobilnya ke arah rumah Ana.
Sesampainya di sana ia melihat Ana yang sedang memetik daun daun kering yang ada pada bunga bunga di taman kecil miliknya.
Adit lalu berjalan ke arah Ana dan memeluknya dari belakang sambil mengusap perut Ana.
"Apa tidur kamu nyenyak semalam?" tanya Adit yang masih memeluk Ana.
"Seperti biasa, dia selalu ngajak aku begadang," jawab Ana dengan tersenyum kecil.
"Apa itu sakit?" tanya Adit.
Ana menggeleng pelan dan menggenggam tangan Adit yang mengusap perutnya.
"Walaupun aku nggak bisa tidur karena dia selalu bergerak di sini, tapi aku seneng karena itu artinya dia sehat," ucap Ana.
Adit tersenyum dan mengecup leher jenjang Ana.
"Aku udah baca buku yang kamu kasih kemarin," ucap Ana.
"Apa kamu udah punya pilihan?" tanya Adit yang dibalas anggukan kepala Ana.
"Aku akan ikutin saran kamu," jawab Ana.
"Kamu serius?"
"Iya aku serius," jawab Ana.
"Kamu mau melakukannya karena kamu mau atau karena kamu terpaksa?"
"Aku melakukan nya karena aku percaya sama kamu, kamu pasti udah pikirin hal itu baik baik sebelum bicarain sama aku, iya kan?"
"Iya, aku akan siapin semuanya sebaik mungkin dan aku akan ada di samping kamu saat kamu berjuang untuk anak kita," jawab Adit.
Ana tersenyum tipis lalu membawa tangan Adit bergeser untuk merasakan gerakan dari dalam perutnya.
"Aku mau dengerin dia An!" ucap Adit lalu melepaskan tangannya dan berjongkok di depan Ana.
Ia kembali memegang perut Ana dan menempelkan telinganya di sana.
Raut kegembiraan terpancar dari wajah Ana dan Adit saat anak dalam kandungan Ana membuat gerakan.
Mereka tertawa bahagia diantara mekarnya bunga bunga di taman kecil itu.
"Apa kamu udah siapin namanya?" tanya Ana pada Adit.
"Untuk sementara kita panggil dia baby A, karena dia adalah anak Adit dan Ana, kita akan jadi keluarga A nanti!"
"Baby A?"
"Iya, semua nama anak kita akan diawali huruf A nanti!"
"Semua? emang anak kita ada berapa Adit?"
"Mmmm..... yang pasti jangan cuma satu," jawab Adit.
"Iya, aku juga nggak mau dia kesepian kayak aku," ucap Ana.
"Anak anak kita akan tumbuh dengan penuh kasih sayang dan cinta An, mereka akan bahagia dengan kehidupannya karena memiliki ibu sehebat kamu," ucap Adit.
"Dan juga papa yang sangat hebat seperti kamu," ucap Ana.
Adit tersenyum lalu mencium kening Ana. Merekapun masuk ke dalam rumah karena terik mentari mulai menyapa taman kecil itu.
Tanpa Adit tau, seseorang sedang mengintai Adit, mengikuti kemanapun Adit pergi, termasuk saat Adit pergi ke rumah Ana.
Seseorang itu lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan alamat rumah Ana pada seseorang yang mempekerjakannya.
Tak lupa ia juga mengambil beberapa foto saat mobil Adit memasuki gerbang rumah Ana, tak hanya saat pagi itu namun juga kemarin saat Adit memberikan buku pada Ana.
__ADS_1