
Siang itu, Anita sedang bermain ponselnya di atas ranjang, sedangkan Dini hanya berdiri di tepi jendela, memandang ke arah hijaunya bukit yang tak jauh dari tempatnya.
Toookk Toookk Toookk
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar mereka. Dini yang masih melamun tidak mendengar suara ketukan pintu itu, membuat Anita segera beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar.
Baru saja Anita membuka pintu kamar, Dimas segera masuk dan menarik tangan Dini lalu memeluknya. Anita hanya diam memperhatikan Dini dan Dimas yang berpelukan di hadapannya.
Belum selesai keterkejutannya karena Dimas yang tiba tiba masuk begitu saja, ia melihat Dimas dan Dini yang saling berciuman di hadapannya.
Anitapun segera meninggalkan kamar dengan cepat sebelum ia menyaksikan hal lain yang semakin membuat hatinya panas.
Anita keluar dan duduk di sofa ruang tamu. Segala macam sumpah serapah terucap dalam hatinya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya jika ia akan melihat hal seperti itu di hadapannya. Terlebih hal itu dilakukan oleh laki laki yang sangat dicintainya.
Di sisi lain, Dimas masih berada di dalam kamar bersama Dini. Setelah beberapa waktu berlalu, Dini tersadar akan adanya Anita di sana. Ia pun mendorong Dimas menjauh dan tak melihat Anita di kamar itu.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Anita, apa dia liat kita......"
Dini tidak melanjutkan ucapannya, ia tertunduk malu dengan wajah yang memerah.
"Biarin aja, nggak usah dipeduliin," ucap Dimas.
"Kamu kenapa tiba tiba kesini?" tanya Dini.
"Nggak papa, aku ke kamar dulu ya, kamu istirahat aja."
Dini mengangguk lalu mengantar Dimas keluar dari kamarnya.
Dini lalu kembali masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya. Jantungnya berdegup kencang, ia begitu bahagia saat itu.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, Anita masuk dan berbaring di sebelah Dini.
"Kamu dari mana Nit?" tanya Dini.
"Dari depan," jawab Anita singkat.
"sabar Anita, sabar, nggak boleh terbawa suasana," batin Anita menasihati dirinya sendiri.
"Tadi.... kamu....."
"Aku tadi langsung keluar waktu Dimas masuk, karena aku pikir kalian mau ngobrol berdua aja," ucap Anita cepat.
"syukurlah kalau dia udah keluar, itu artinya dia nggak liat kejadian tadi," batin Dini dalam hati.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Hawa dingin mulai menyelimuti gelap malam itu.
Dini dan Anita sedang memotong sosis dan menyiapakan daging yang akan dipakai untuk pesta barbeque malam itu. Sedangkan Andi dan Dimas menyiapkan alat pemanggangnya. Di tempat lain, mama dan papa Dimas sedang menyiapkan beberapa macam minuman.
"Udah siap nih, bawa ke sini sayang!" pinta Dimas pada Dini.
Karena Dini masih melanjutkan memotong sosis, Anita yang datang menghampiri Dimas.
"Ini," ucap Anita sambil memberikan beberapa pack daging pada Dimas.
Dimas hanya diam tak menerima daging dari Anita.
"Lo aja Ndi, gue mau ambil HP dulu!" ucap Dimas pada Andi.
Dimas lalu pergi begitu saja, sedangkan Andi menerima daging dari Anita dan menaruhnya di atas alat pemanggang satu per satu.
"Dimas benci banget sama aku," ucap Anita pelan yang masih di dengar jelas oleh Andi.
"Sabar Nit, kasih dia waktu," balas Andi pelan.
"Aku akan sabar Ndi, lebih sabar dari yang sebelumnya," ucap Anita.
"Gitu dong, kalau gitu jangan murung terus lah, bulan aja senyum tuh!" ucap Andi dengan menunjuk bulan yang tampak tersenyum di sekitar bintang bintang yang bertebaran.
"Kalau aku senyum, aku takut kamu jatuh cinta sama aku," balas Anita dengan menyenggol lengan Andi.
"Justru kamu yang harus hati hati biar nggak jatuh cinta sama aku," ucap Andi dengan menatap mata Anita.
Mereka berdua lalu tertawa.
Tanpa mereka tau ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikan mereka berdua. Sepasang mata yang menatap dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"jangan Ndi, aku mohon jangan Anita, aku yakin kamu bisa dapat seseorang yang lebih baik dari Anita, walaupun mungkin dia udah berubah lebih baik, tapi aku tetep nggak bisa sepenuhnya percaya sama dia," batin Dini dalam hati.
Karena terus memperhatikan Andi dan Anita, tanpa sengaja tangan Dini terluka karena pisau yang digunakannya untuk memotong sosis.
"Aaawww!!" pekik Dini yang membuat Andi segera membawa pandangannya pada Dini.
Andi segera menghampiri Dini begitu ia melihat jari Dini berdarah.
"Yang hati hati dong Din!" ucap Andi sambil mengusap darah dii jari Dini lalu menuntunnya untuk menyentuh es batu yang ada di sana.
"Sakit?" tanya Andi yang masih memegang jari Dini.
Dini hanya menggeleng dengan menahan perih di jarinya.
Tak lama kemudian mama dan papa Dimas keluar dari dapur, mereka melihat apa yang Andi dan Dini lakukan di sana.
Mama dan papa Dimas hanya diam di tempat mereka berdiri lalu saling pandang, mereka sama sama mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara Andi dan Dini. Namun mereka berdua memilih sikap yang berbeda dalam menanggapinya.
__ADS_1
Sebelum mama dan papa Dimas melanjutkan langkahnya, Dimas datang dan ikut berdiri di samping sang sama.
Dimas hanya tersenyum kecil, membuat mama dan papanya kembali saling pandang.
Dimas lalu keluar dan menghampiri Dini.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas pada Dini.
Menyadari kedatangan Dimas, Andi segera melepaskan jari Dini, begitu juga Dini yang segera menarik tangannya dari Andi.
"Kena pisau, tapi udah nggak papa kok," jawab Dini dengan memegangi jarinya yang masih terluka namun sudah tidak mengeluarkan darah.
"Lo ada P3K?" tanya Andi.
"Ada, gue ambil dulu!" jawab Dimas yang hendak kembali masuk namun di tahan oleh sang mama yang tiba tiba datang dengan membawa kotak P3K.
"Ini, mama udah siapin," ucap mama Dimas.
"Makasih ma," balas Dimas lalu memberikan plester pada luka di jari Dini.
"Makasih," ucap Dini pada Dimas.
Dimas hanya tersenyum lalu mencium kening Dini di depan Andi dan mama papanya, serta Anita.
Kali ini Dini tidak memukul ataupun mencubit Dimas, ia merasa sedang membutuhkan Dimas saat itu untuk mendinginkan kembali hatinya yang terasa panas karena melihat kedekatan Andi dan Anita.
Mama dan papa Dimas lalu menggantikan posisi Anita di tempat pemanggangan.
"Di sini dingin banget ya," ucap Dini sambil menggosok telapak tangannya.
Mendengar ucapan Dini, sontak Dimas dan Andi segera memberikan minuman hangat pada Dini, membuat Dini terdiam beberapa saat karena mendapat minuman hangat secara bersamaan dari dua laki laki di hadapannya.
Andi dan Dimas lalu saling pandang, seolah menunggu minuman siapa yang akan Dini ambil saat itu.
"Aku ambil jaket aja," ucap Dini lalu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket.
"Buat lo aja!" ucap Andi sambil memberikan minuman hangatnya pada Dimas.
Dimas lalu memberikan minuman hangatnya pada Andi. Alhasil, mereka saling tukar minuman hangat malam itu.
Anita yang berada di sana hanya bisa mendengus kesal melihat hal itu. Namun ia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Pilihan yang bagus," ucap papa Dimas berbisik pada sang istri.
"Apanya yang bagus, harusnya dia milih punya Dimas dong pa!"
"Dia nggak mau mengecewakan sahabatnya ma," balas papa Dimas.
"Tapi Dimas kan tunangannya, apa itu artinya dia juga punya perasaan sama Andi?"
"Tapi Dini kan udah milih Dimas."
"Bukan berarti dia ninggalin sahabatnya kan?"
"Tapi kan....."
"Mereka itu sahabat dari kecil ma, Dimas bahkan nggak lebih tau dari Andi tentang Dini."
"Anak papa itu siapa sih, kok jadi belain anak orang lain!"
"Papa nggak belain Andi ma, papa cuma nggak mau mama menyesal karena benci sama seseorang yang mama belum benar benar kenal," balas papa Dimas dengan sabar.
Mama Dimas hanya diam, namun di wajahnya sangat tampak raut kekesalan.
Tak lama kemudian Dini datang dan membantu mama papa Dimas untuk memanggang daging.
"Harusnya kita ke sini cuma ber-empat," ucap mama Dimas.
"Maaf ma, Dini......"
"Mama nggak salahin kamu kok, mereka memang temen kamu, temen Dimas juga," ucap mama Dimas.
Dini hanya diam, ia merasa tidak enak hati pada mama Dimas.
"Mama mau masuk dulu ya, rasanya mama mau masuk angin," ucap mama Dimas lalu pergi meninggalkan halaman.
"Loh ma, ini kan baru mulai," teriak papa Dimas yang ditinggalkan begitu saja oleh istrinya.
Dini lalu mengejar mama Dimas untuk masuk ke dalam vila. Tak lupa Dini membawakan minuman hangat untuk mama Dimas.
Toooookk Toookk Toookk
Dini mengetuk pintu kamar mama Dimas beberapa kali, namun tak ada jawaban.
"Ma, Dini masuk ya!" ucap Dini dari luar pintu.
"Iya," jawab mama Dimas tanpa membukakan pintu untuk Dini.
Dinipun masuk dan memberikan minuman hangat pada mama Dimas.
"Diminum dulu ma," ucap Dini.
"Makasih sayang," balas mama Dimas.
"Dini minta maaf kalau Dini mengacaukan rencana liburan mama," ucap Dini.
__ADS_1
"Enggak sayang, jangan minta maaf, kamu nggak salah apa apa kok!"
"Tapi ma....."
"Din, mama cuma pingin hubungan kamu sama Dimas baik baik aja, mama pikir sebelum Dimas tinggal di luar kota, kalian harus liburan sama sama tanpa ada yang ganggu," ucap mama Dimas.
"Masih ada waktu beberapa minggu lagi ma, Dini sama Dimas akan gunain waktu itu semaksimal mungkin," balas Dini.
Mama Dimas mengangguk lalu merebahkan badannya di ranjang. Dinipun menarik selimut untuk menutupi tubuh mama Dimas.
"Mama, mama kenapa?" tanya Dimas yang tiba tiba datang.
"Mama nggak papa, cuma masuk angin aja kok," jawab mama Dimas.
"Dimas ambilin obat dulu!" ucap Dimas yang langsung ditahan oleh sang mama.
"Mama cuma butuh istirahat sayang, biar papa yang obatin mama," ucap mama Dimas dengan senyum nakalnya.
"Mama jangan aneh aneh ya, Dimas nggak mau punya adik!" balas Dimas yang langsung mendapat pukulan dari Dini.
Mama Dimas hanya terkekeh lalu meminta Dimas dan Dini untuk kembali melanjutkan pesta mereka.
Tak lama setelah Dini dan Dimas keluar, papa Dimas masuk dan berbaring di sebelah sang istri.
"Anak itu emang sayang banget sama mama!" ucap papa Dimas.
"Siapa maksud papa?"
"Siapa lagi kalau bukan Dimas, abis papa bilang mama nggak enak badan langsung lari nyari mama!"
"Nggak cuma sama mama, dia juga sayang banget sama papa, dia rela tutup kafenya demi papa," ucap mama Dimas.
"Itu karena dia tumbuh dengan kasih sayang yang utuh dari mama dan papa," balas papa Dimas lalu mencium kening istrinya.
Hawa dingin malam itupun mendorong naluri mama dan papa Dimas untuk saling "menghangatkan".
Di sisi lain, Dini, Dimas, Andi dan Anita masih menikmati pesta malam itu. Mereka bercerita banyak hal, tak jarang mereka tertawa karena obrolan mereka.
Anita beruntung karena ada Andi yang membuatnya tidak merasa canggung berada di antara mereka semua.
Ketika Dini dan Dimas sedang memanggang, Andi dan Anita duduk di dengan memotong beberapa sayuran.
"Apa yang kamu rasain sekarang Ndi?" tanya Anita pada Andi.
"Dingin," jawab Andi cepat, namun segera dipukul oleh Anita menggunakan timun di tangannya.
"Hehehe, emang dingin banget Nit, kamu enggak?"
"Aku juga kedinginan, apa kamu mau ambilin aku minuman hangat? atau peluk aku biar aku nggak kedinginan?" goda Anita dengan nada kesal.
"Minuman hangat aja ya, hehehe....." balas Andi sambil memberikan minuman hangat pada Anita.
"Aku bahagia Nit, kebahagiaan aku karena bisa liat Dini bisa bahagia kayak gini," lanjut Andi dengan membawa pandangannya pada Dini dan Dimas yang tengah bercanda bersama.
"Mereka emang keliatan bahagia banget," balas Anita.
"Tapi apa kamu percaya kalau laki laki itu pernah ngelakuin sesuatu yang romantis sama aku?" lanjut Anita bertanya pada Andi.
"Percaya, itu yang bikin kamu jatuh cinta sama dia kan?" balas Andi.
Anita mengangguk pelan.
"Dimas emang paling bisa bikin cewek jatuh cinta Nit, terlepas dari background keluarganya, sikap dan sifatnya emang selalu menyenangkan buat orang lain, apa lagi cewek," ucap Andi.
"Kamu bener, aku aja yang terlalu baper waktu itu."
"Dan sekarang perasaan itu masih ada?"
Anita kembali mengangguk dengan raut wajah sedih.
Andi lalu mendekat dan memeluk pundak Anita.
"Memang nggak mudah, tapi aku yakin kamu bisa lupain dia tanpa harus menjauh dari dia," ucap Andi.
"Apa aku bisa kayak kamu Ndi?"
"Justru kamu harus lebih baik dari aku Anita, percaya sama aku, semuanya akan berakhir indah kalau kamu selalu melakukan sesuatu dengan tulus," ucap Andi sambil menghapus air mata Anita yang mulai membasahi pipinya.
Andi lalu memeluk Anita, sekedar untuk memberikan kekuatan bagi Anita karena ia tau bahwa ia dan Anita berada di posisi yang sama saat itu.
Mereka sama sama mencintai seseorang yang mustahil untuk mereka dapatkan.
"Mereka pacaran?" tanya Dimas berbisik pada Dini.
Dini menggeleng cepat, seolah menolak jika memang mereka sudah menjalin hubungan yang lebih dari seorang teman.
"Dia Andi?" tanya Dimas lagi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
"Kamu mau aku peluk juga?" tanya Dimas.
Dini kembali mengangguk.
Dimas lalu menundukkan kepalanya dan mencium bibir Dini cepat. Ia memegang tengkuk Dini agar Dini tidak menolaknya.
Setelah beberapa detik berlalu, Dimas melepaskannya dan hanya tersenyum pada Dini. Dini lalu memukul dada Dimas dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Tanpa mereka tau, Andi melihat hal itu. Ia hanya bisa tersenyum menahan perih di hatinya. Lukanya semakin terasa menusuk jauh ke dalam hatinya.