
Detik detik menegangkan dalam hidup Andi terasa berjalan sangat lambat. Ia hanya bisa menggenggam tangan Anita berusaha memberikan kekuatan pada Anita.
Hingga akhirnya terdengar tangis bayi yang memenuhi ruangan setelah Anita melepaskan dorongan terakhirnya.
Seorang bayi mungil kini berada di dada Anita, membuat rasa sakit Anita seketika hilang begitu saja.
Tanpa terasa air mata menetes dari kedua sudut mata Anita saat bayi mungil itu menggerak gerakkan kaki dan tangannya di dada Anita.
Begitu juga Andi yang tidak bisa menahan air mata bahagianya saat bayi mungil itu menggenggam jarinya.
Setelah mendapatkan ASI pertamanya, Dokter membawa bayi Anita dan Andi.
"Kamu hebat Nit, aku bangga sama kamu," ucap Andi lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Anita.
Anita hanya tersenyum dengan menggenggam tangan Andi. Ada rasa bahagia yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya saat melihat bayi mungilnya.
Hatinya terasa damai dan penuh kebahagiaan saat ia mendengar tangis bayinya untuk pertama kalinya.
Tak lama kemudian bibi masuk ke ruangan Anita, sisa air mata masih tampak di kedua pipi bibi saat melihat Anita yang sudah melahirkan bayinya.
"Selamat non, bibi ikut seneng," ucap bibi pada Anita.
"Makasih Bi," balas Anita dengan menggenggam tangan bibi.
**
Waktu berlalu, hari berganti. Pagi itu Andi masih berada di rumah sakit bersama Anita dan bayinya.
Andi tersenyum menyaksikan pemandangan pagi yang membangkitkan semangatnya. Ia melihat Anita yang duduk di ranjangnya sambil memberikan ASI untuk anaknya.
"Kamu udah bangun? mau pulang sekarang?" tanya Anita saat ia menyadari Andi yang baru bangun dari tidurnya.
"Enggak, aku masih mau nemenin kamu," jawab Andi lalu beranjak dari duduknya.
"Jangan kesini!" ucap Anita dengan cepat saat melihat Andi berdiri.
"Kenapa?"
"Tunggu setelah aku kasih dia ASI, kamu jangan lihat!" jawab Anita dengan tatapan tajam ke arah Andi.
Andi hanya tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya ke toilet untuk membasuh wajahnya.
"Udah selesai?" tanya Andi setelah ia keluar dari toilet.
"Udah," jawab Anita sambil memperhatikan bayi mungil dalam dekapannya.
Andi lalu membawa langkahnya ke arah Anita. Tangannya menyentuh pelan bayi di hadapannya. Sama seperti sebelumnya, bayi itu langsung menggenggam jari Andi dengan kuat seolah ia tau bahwa yang menyentuhnya adalah ayahnya.
"Kapan aku boleh pulang?" tanya Anita pada Andi.
"Mungkin besok, dokter harus pastiin keadaan kamu dan bayi mungil kita sehat," jawab Andi yang terlihat gemas pada bayinya.
"Aku harap dia akan tumbuh jadi gadis yang cantik dan baik, sebaik kamu," ucap Anita tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi mungilnya.
"Dia akan jauh lebih baik dari kita Nit dan dia akan jadi gadis yang cantik seperti kamu," balas Andi dengan membawa pandangannya pada Anita.
"Kamu udah siapin nama buat dia?" tanya Anita.
"Mmmm.... kamu ada ide?" balas Andi bertanya.
Anita menggelengkan kepalanya pelan dengan masih menatap bayinya. Anita ingin menghabiskan waktu yang ada dengan menatap bayi mungil yang akan ditinggalkannya itu.
Dalam hatinya ada sebuah rasa yang membuatnya enggan untuk meninggalkan bayinya. Namun ia tetap harus meninggalkanya karena ia tidak ingin bayi itu menjadi penghalangnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Karena baginya, kehadiran bayi itu bukanlah keinginannya. Ia berpikir jika kehadiran bayi dalam dekapannya itu adalah sebuah kesalahan dan ia tidak ingin menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu sebelum apa yang ia inginkan tercapai.
"Kamu inget kesepakatan kita kan Ndi? aku nggak mau berurusan dengan bayi ini setelah dia lahir, termasuk kasih nama buat dia," ucap Anita.
"Apa kamu bener bener akan ninggalin dia? apa kamu nggak bisa merubah keputusan kamu setelah kamu liat dia di hadapan kamu?" tanya Andi dengan harapan Anita bisa merubah keputusannya.
"Aku udah bilang sama kamu, nggak akan ada yang berubah, setelah aku keluar dari rumah sakit, dia bukan siapa siapa lagi buat aku," jawab Anita dengan mata yang berkaca-kaca.
Hati dan pikirannya seolah berperang saat itu. Jauh dalam hatinya ia berat mengatakan hal itu pada Andi.
"Dia akan tetap jadi anak kamu Nit, sejauh apapun kamu menjauh darinya, dia adalah bagian dari kamu," ucap Andi.
Anita menganggukan kepalanya dengan tersenyum pada bayi mungilnya. Untuk beberapa saat sebelum ia pergi, ia akan mencurahkan kasih sayangnya pada bayi dalam dekapannya.
Setelah itu ia akan melepaskan semuanya, ia akan melupakan semua yang terjadi antara dirinya dan Andi.
__ADS_1
Tidak ada lagi bayi mungil yang ada dalam ingatannya. Itulah yang Anita inginkan agar ia bisa melakukan apa yang sudah lama ingin ia lakukan.
"Aku akan kasih dia nama Alana, anak perempuan yang dicintai, Andi Anita dan Alana," ucap Andi dengan membelai pelan wajah bayi mungil yang akan dipanggil Alana itu.
"Nama yang cantik," ucap Anita.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Jika seseorang melihat mereka, mereka akan tampak seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Namun pada kenyataannya, mereka jauh dari itu. Rasa bahagia yang mereka rasakan datang bersamaan dengan rasa sedih yang harus mereka terima.
Karena kesalahan satu malam yang sudah terjadi membuat semua rencana yang sudah disusun berantakan tanpa arah, membuat mereka terjebak pada hubungan yang tidak mereka inginkan.
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku akan ikut bibi Ndi, aku akan memulai semuanya dari awal lagi," ucap Anita pada Andi.
"Kenapa kamu harus pergi Nit? aku yang akan rawat dia tanpa kamu harus pergi menjauh!"
"Itu akan sulit buat aku Ndi, aku harus menjauh buat bisa lupain semua ini!" ucap Anita.
"Kamu nggak harus lupain......"
"Ndi, kita udah sepakat tentang hal ini, kamu inget kan?"
Andi menganggukan kepalanya pasrah lalu kembali duduk di sofa. Ia memijit keningnya memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak mengerti kemana jalan akan membawa takdir hidupnya.
Ia sudah berusaha untuk membuat Anita merubah keputusannya, namun semuanya sia sia. Anita masih bersikukuh untuk melepaskan bayinya dan pergi untuk melupakan semuanya.
Tidak ada lagi yang bisa Andi lakukan selain menerima keputusan Anita karena mereka sudah membuat kesepakatan sebelumnya.
Tak lama kemudian bibi masuk untuk melihat bayi mungil yang ada dalam dekapan Anita.
"Halo bibi, kenalin namaku Alana, papa Andi yang kasih nama itu buat aku," ucap Anita dengan membuat suara seperti anak kecil.
Andi yang mendengarnya tersenyum tipis lalu kembali menghampiri Anita.
"Den Andi mau belajar gendong?" tanya bibi pada Andi.
"Boleh bi, tolong bantuin ya!"
"Iya den," balas bibi lalu membantu Andi untuk menggendong baby Alana.
"papa akan rawat kamu dengan baik sayang, dengan atau tanpa mama kamu," ucap Andi dalam hati.
**
Hari telah berganti. Pagi itu, dengan dibantu bibi, Anita bersiap siap untuk meninggalkan rumah sakit.
"Non Anita yakin akan ninggalin non Alana?" tanya bibi pada Anita.
"Tolong jangan tanyain itu lagi bi, keputusan Anita nggak akan berubah!" jawab Anita sambil menimang bayi mungil dalam gendongannya.
"Bibi akan bantu non Anita buat jagain....."
"Enggak bi, dia akan tinggal sama Andi, Andi akan rawat dia dengan baik, jadi bibi nggak perlu khawatir!" ucap Anita memotong ucapan bibi.
"Setelah Anita keluar dari sini, Anita akan mulai semuanya dari awal, jadi Anita mohon sama bibi, tolong jangan bahas masalah ini lagi, bantu Anita buat lupain semua ini bi!" lanjut Anita memohon pada bibi.
"Iya non, bibi akan selalu bantu sebisa bibi," balas bibi.
Tak lama kemudian Andi datang bersama seorang perempuan paruh baya. Dia adalah seorang baby sitter yang akan membantu Andi untuk menjaga bayi mungilnya saat Andi sedang sibuk.
Entah apa yang akan terjadi nanti saat mama Siska melihat Andi pulang dengan membawa bayinya. Jika memang Andi harus meninggalkan rumah, maka ia akan pergi bersama bayi dan juga baby sitter nya. Ia akan memulai hidupnya dari awal sebagai seorang papa.
Ia akan menerima semua kemarahan baik dari sang mama, Adit ataupun ibu dan ayahnya.
Setelah menyelesaikan administrasi, Andi mengantar Anita pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Anita, Andi membawa serta bayinya untuk turun, memberikan kesempatan bagi Anita untuk memberikan ASI terakhirnya pada baby Alana.
"Kamu harus inget Nit, kamu bisa datang kapanpun kamu berubah pikiran!" ucap Andi dengan membelai rambut Anita.
"Kenapa aku harus datang?" tanya Anita.
"Karena kamu ibu yang melahirkannya, sampai kapanpun dia adalah anak kamu Nit, aku memang nggak bisa mencintai kamu tapi aku akan memperlakukan kamu sebagai istri dan ibu dari anakku dengan baik Anita, aku janji!"
Anita tersenyum tipis mendengar ucapan Andi. Meski Andi telah memiliki anak hasil dari hubungannya dengan Anita, pada kenyataannya Andi masih belum bisa memberikan cintanya untuk Anita.
"Kamu masih mengharapkan Dini?" tanya Anita.
__ADS_1
"Jangan bawa Dini dalam masalah kita, dia nggak ada hubungannya dengan semua ini," ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan Anita.
"Aku udah tau jawaban kamu," ucap Anita sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Setelah selesai memberikan ASI untuk anaknya, Anitapun memberikannya pada Andi.
"Jaga dia dengan baik Ndi, rawat dia sampai dia tumbuh jadi perempuan sebaik kamu," ucap Anita dengan mata berkaca-kaca lalu mencium lembut bayi mungilnya.
"mama sayang sama kamu peri cantik, mama akan selalu berdo'a untuk kebahagiaan kamu, maaf karena mama harus pergi," ucap Anita dalam hati.
Andi lalu memberikan bayinya pada mbak Asih kemudian memeluk Anita dengan erat, membuat Anita menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan Andi.
"Aku harap kamu bahagia dengan pilihan kamu Anita," ucap Andi dengan mata merah menahan air matanya.
Anita lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan menatap kedua mata Andi dengan dalam.
"Makasih karena kamu mau memahami dan mengerti keputusan ku, kamu jangan nunggu aku, kamu cuma harus bahagiain dia dan kasih dia mama yang baik yang sayang sama dia," ucap Anita pada Andi.
Andi hanya diam lalu memberikan kecupan singkat di kening Anita.
Setelah drama perpisahan itu selesai, Andi meninggalkan rumah Anita bersama baby Alana dan juga mbak Asih. Ia mengendarai mobilnya ke arah rumah mama Siska.
Sebelumnya Andi sudah membuat kesepakatan dengan mbak Asih untuk tidak menanyakan masalah pribadinya.
Mbak Asih dituntut untuk diam tanpa menanyakan apapun saat melihat situasi rumit yang akan mbak Asih lihat nanti.
Tugas mbak Asih hanya menjaga dan merawat baby Alana dengan baik selama Andi tidak ada dan mbak Asih menyetujui hal itu.
Sesampainya di rumah, Andi dan mbak Asih segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Andi aja mbak yang gendong, mbak Asih tolong bawain botol susunya," ucap Andi pada mbak Asih.
"Barang barang lainnya gimana mas?" tanya mbak Asih.
"Biarin aja dulu mbak, saya nggak tau apa saya diterima di rumah ini atau enggak," jawab Andi lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Rumah terlihat sepi, tidak ada siapapun yang Andi lihat di rumah itu. Andi lalu mengajak mbak Asih naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Andi membaringkan baby Alana di ranjang besarnya. Namun tiba tiba baby Alana menangis dengan kencang.
Mbak Asihpun segera memberikan botol susu yang dibawanya pada Andi.
"Tenang ya sayang, buat sementara kita akan tinggal di sini," ucap Andi sambil memegang botol susu baby Alana.
"Andi!"
Terdengar suara seseorang yang sangat Andi kenal. Andi lalu membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Tolong mbak," ucap Andi pada mbak Asih agar menggantikan dirinya memegang botol susu.
"Kenalin ma, ini mbak Asih, baby sitter yang kerja sama Andi," ucap Andi pada sang mama.
"Baby sitter? apa maksud kamu? dan kenapa ada bayi di kamar kamu? dia bayi siapa?" tanya mama Siska tak mengerti.
"Namanya Alana ma, dia.... dia anak Andi," jawab Andi yang membuat mama Siska membulatkan matanya tak percaya.
"Apa maksud kamu Ndi? jangan bercanda! ini nggak lucu!"
"Mama tenang dulu, mama duduk dulu, Andi akan jelasin semuanya," ucap Andi dengan membawa sang mama untuk duduk, namun sang mama menolaknya.
"Jelasin sama mama apa yang sebenarnya terjadi!" ucap mama Siska yang tampak emosi.
Andi menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Andi minta maaf ma, Andi tau Andi udah mengecewakan mama, apapun resikonya akan Andi terima, Andi...."
"Jangan berbelit belit, jelasin sama mama siapa bayi itu? kenapa dia disini?"
"Dia Alana, dia anak Andi dan Anita, ada sesuatu yang terjadi yang membuat Anita hamil dan melahirkan diam diam, nggak ada pernikahan diantara kita dan......."
PLAAAAKKKK
Tamparan keras mendarat di pipi Andi. Andi hanya diam membiarkan sang mama melampiaskan semua emosi padanya karena memang sudah seharusnya ia menerima kemarahan sang mama atas apa yang sudah ia sembunyikan selama ini.
"Bilang sama mama kalau semua itu nggak bener, kamu pasti bohong kan sama mama?"
"Enggak ma, Andi udah cerita yang sebenarnya sama mama, dia anak Andi dan Anita, kita udah......"
PLAAAAAKKKK
__ADS_1
Untuk kedua kalinya tamparan keras mendarat di pipi Andi, tak hanya sampai disitu, mama Siska mengambil vas bunga yang ada dekatnya lalu melayangkannya bersiap untuk melemparkannya pada Andi.