Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Pertama Dimas


__ADS_3

Langit hari itu tampak berwarna biru cerah dengan sinar mentari yang cukup menyengat meski sudah lewat dari jam 3.


Andi dan Dini turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam taman. Mereka lalu duduk di salah satu bangku yang ada di bawah pohon.


"Surat tadi itu dari siapa?" tanya Dini pada Andi.


"Surat yang dikasih Rama tadi?" balas Andi bertanya.


"Iya," jawab Dini singkat.


"Aku juga nggak tau Din, nggak ada nama pengirimnya," ucap Andi.


"Di dalam suratnya juga nggak ada nama pengirimnya?"


"Aku nggak tau, kan belum aku buka hehe...."


"Oh iya hehe...."


"aku pikir kamu akan cerita tentang surat yang sebelumnya kamu terima," batin Dini dalam hati.


"Tapi sebelumnya aku juga dapet surat tanpa nama pengirim," ucap Andi yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Andi.


"Pasti dari pengirim yang sama," balas Dini.


"Mungkin, surat itu udah ada di bawah pintu waktu Rama baru buka home store," ucap Andi.


"Kamu udah cek CCTV?"


"Udah, aku cuma liat seseorang yang pake jaket, kacamata dan masker yang naruh surat itu, sama sekali nggak keliatan wajahnya," jawab Andi.


"Apa nggak ada petunjuk apapun tentang siapa yang ngirim surat itu?"


"Dia cuma kasih inisial A, menurut kamu siapa?" jawab Andi sekaligus bertanya.


"Aku harus tau isi suratnya biar tau kemungkinan terbesarnya," ucap Dini.


"Hmmm..... kalau itu emang kamu mau tau isinya kan?"


"Hehehe..... kamu tau aja," balas Dini dengan menyenggol lengan tangan Andi.


Andipun menceritakan pada Dini tentang garis besar isi surat yang pertama kali ia terima, tanpa ia tau sebenarnya Dini sudah membaca surat itu.


"Jadi dia akan nunggu kamu di sini?" tanya Dini berpura pura tidak tau.


"Iya, aku udah beberapa kali ke sini tiap pulang kerja, tapi aku nggak pernah liat siapa siapa yang aku kenal," jawab Andi.


"Apa kita harus di sini sampai malem biar tau siapa pengirim surat itu?"


"Nggak masalah, selama aku disininya sama kamu," jawab Andi sambil menyenggol lengan tangan Dini.


"Huuuu, dasar modus, aku nanti malem harus ke rumah Dimas, jadi kamu nunggu pengirim surat misterius itu di sini sendiri sampe malem hahaha....."


"Aku nggak akan buang buang waktuku buat duduk diem disini Din!"


"Apa jangan jangan kamu udah tau siapa yang ngirim surat itu?" tanya Dini penuh selidik.


"Enggak, aku nggak tau, menurut kamu siapa?"


"Mmmm...... antara Anita sama Aletta," jawab Dini.


"Aku udah ke rumah Anita dan bibi bilang Anita nggak pernah pulang ke rumah itu," ucap Andi.


"Aletta?"


"Aku udah nanya temen kuliahku yang kenal Aletta, katanya dia tinggal di luar pulau sama tantenya dan kerja di sana juga," jawab Andi.


"Berarti siapa dong? bisa jadi Anita tapi bibi bohong sama kamu atau Aletta yang diem diem pindah ke sini tapi temennya nggak tau!"


"Entahlah Din, aku nggak mau terlalu mikirin itu, siapapun itu kalau dia emang mau ketemu aku dia tau harus cari aku kemana," ucap Andi.


"Kalau itu Aletta, apa yang akan kamu lakuin?" tanya Dini.


"Aletta?"


Andi terdiam sebelum menjawab pertanyaan Dini. Memorinya kembali mengulas kebersamaannya bersama Aletta beberapa tahun yang lalu.


Bagaimana mereka pertama kali bertemu, pertengkaran yang sering terjadi setiap mereka bertemu sampai akhirnya mereka menjadi dekat dan menjalin hubungan yang lebih dari sebuah pertemanan.


"Andi!" panggil Dini yang membuat Andi tersadar dari lamunannya.


"Mikirin Aletta ya?" terka Dini.


"Ee... enggak, kalau emang itu Aletta ya aku pasti seneng karena udah lama banget aku nggak ketemu dia," jawab Andi.


"Seneng banget?"


"Kamu cemburu ya?" tanya Andi menggoda Dini.


"Nggak tau ah, aku mau beli ice cream di depan!" balas Dini lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Andi begitu saja.


Entah kenapa melihat respon Andi tentang Aletta membuat Dini kesal.

__ADS_1


Andi lalu berlari kecil mengejar Dini. Merekapun membeli ice cream yang ada di depan taman itu dan duduk di pinggir jalan setelahnya.


"Gimana kamu sama Dimas?" tanya Andi.


"Kamu gimana sama Aletta?" balas Dini bertanya dengan nada kesal.


"Kok masih bahas Aletta, kan belum tentu juga itu Aletta Din!"


"Apa kamu berharap itu Anita?"


"Awalnya aku pikir itu Anita, makanya setelah baca surat itu aku langsung ke rumahnya, tapi ternyata dia nggak ada, jadi sekarang aku nggak mau mikirin siapa pengirim surat itu, entah Aletta atau Anita!"


"Kamu harus janji ya jangan tinggalin aku kalau kamu udah ketemu sama si A itu!" ucap Dini dengan memanyunkan bibirnya.


"Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu Din!" balas Andi dengan mengarahkan ice cream nya ke bibir Dini dan mengenai pipinya.


"Iiiiihhh, lengket Ndi!" balas Dini dengan memukul lengan tangan Andi.


"Hahaha..... sini aku bersihin," ucap Andi dengan mengusap ice cream di pipi Dini.


Dini yang akan menjilat ice cream di bibirnya tanpa sengaja menjilat jari Andi yang mengusap bibirnya, membuat mereka berdua seketika terdiam dan saling menatap dalam diam.


Andi menelan ludahnya seketika saat lidah Dini menyapu jarinya. Jantungnya berdetak kencang tanpa terkendali.


Begitu juga dengan Dini yang tiba tiba merasa jantungnya sedang tidak normal.


Andi lalu berusaha keluar dari situasi yang membuat canggung itu. Andi lalu mengusapkan jarinya yang baru saja dijilat Dini ke pipi Dini, membuat Dini tersadar dari segala macam perasaan aneh dalam dirinya.


"Kamu jorok banget sih!" ucap Dini dengan mengusap pipinya.


"Kamu yang jorok," balas Andi dengan tertawa canggung.


Mereka lalu sama sama menatap ke arah jalan raya dan terdiam dengan pikiran masing masing.


Suasana masih terasa canggung karena jantung yang susah untuk diajak kerja sama.


Di sisi lain, seorang perempuan diam diam memperhatikan Dini dan Andi sejak mereka duduk di pinggir jalan raya.


Sebuah senyum tersungging di bibirnya saat melihat kedekatan Andi dan Dini.


"Aku harap kamu akan menemukan cinta sejati kamu Ndi, cinta yang akan benar benar memberikan kebahagiaan buat kamu," ucap perempuan itu lalu melangkah pergi meninggalkan taman.


Setelah menghabiskan ice cream di tangannya, Dini lalu mengajak Andi kembali ke taman. Mereka berkeliling sebelum memutuskan untuk meninggalkan taman dan pulang.


"Kamu tadi belum jawab pertanyaan ku Din, gimana kamu sama Dimas?"


"Dimas udah jelasin semuanya dan apa yang kamu bilang bener, dia cuma mau jagain aku dengan caranya sendiri," jawab Dini.


Dinipun menjelaskan pada Andi apa yang Dimas ucapkan padanya tentang maksud Dimas mempekerjakan orang orang itu.


"Dia sayang banget sama kamu Din," ucap Andi.


"Aku juga, aku harap setelah ini nggak akan ada masalah lagi," balas Dini.


Andi hanya tersenyum dengan mengusap kepala Dini.


**


Waktu berlalu, hari berganti. Sudah beberapa hari Dimas hanya berdiam di rumahnya.


Setiap hari Dini selalu menyempatkan waktunya untuk menghampiri Dimas dan menghabiskan waktu bersama Dimas.


Beberapa kali Dimas sempat marah dan salah paham hanya karena hal hal kecil, namun Dini tetap bersabar menghadapi sikap Dimas yang seperti itu.


Setidaknya jika ia mengalah, Dimas akan dengan mudah luluh dan meminta maaf padanya sehingga masalah kecil itu cepat terselesaikan.


Dimas tetap sama seperti yang Dini kenal. Dimas masih seorang laki laki yang manis, romantis dan penuh kasih sayang walaupun terkadang menjadi lebih emosional beberapa saat.


Dini sudah bisa dan terbiasa menghadapi Dimas yang seperti itu. Dimas tidak pernah membentaknya apa lagi melakukan hal kasar padanya, hanya saja terkadang moodnya tiba tiba turun dan kesal hanya karena hal yang sepele.


Tak jarang Dini hanya menertawakan Dimas yang sedang kesal dan tak lama kemudian kekesalan Dimas akan menghilang saat Dini memeluknya.


Dini seperti obat bagi Dimas. Impian dan masa depan yang sudah Dimas rencanakan harus berujung bersama Dini, apapun akan ia lakukan untuk bisa meraih impian nya itu.


Setelah lebih dari satu minggu berdiam diri di rumah, keadaan Dimas membaik. Emosinya sudah stabil dan menurut Dokter Dimas sudah tidak perlu mengkonsumsi obat lagi.


Semuanya bahagia, Dini, Dimas dan keluarganya. Tapi sang mama yang masih mengkhawatirkan Dimas meminta Dimas untuk lebih lama lagi menikmati hari liburnya.


Meski begitu, Dimas sering menghabiskan waktunya berada di dalam ruang kerja sang papa.


Entah hanya untuk membaca buku atau memperhatikan sang papa bekerja dan membantu mengerjakan pekerjaan sang papa yang tentunya tanpa sepengetahuan mamanya.


Tak hanya Dini dan Dimas, Andipun turut senang dengan kesehatan Dimas yang sudah membaik.


Ia tidak perlu mengkhawatirkan Dini lagi saat Dini bersama Dimas. Kini ia yakin jika Dimas memang pilihan terbaik untuk masa depan Dini.


Tentang surat yang Andi terima, Andi baru membacanya dan sangat menyesal karena tidak menunggu lebih lama di taman hari itu.


Setelah membaca surat itu, ia baru tau jika hari itu adalah hari terakhir A berada di sana. Hari dimana ia pergi ke taman bersama Dini adalah hari dimana A menunggunya untuk yang terakhir kali.


Andi lalu menyimpan surat itu ke dalam laci meja kerjanya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


**


Hari yang ditunggu telah tiba. Dengan pakaian rapi dan wangi Dimas keluar dari kamarnya.


Hari itu adalah hari dimana ia mulai menjadi bagian dari perusahaan utama sang papa. Dengan penuh semangat Dimas pergi ke kantor bersama sang papa.


Hari itu Dimas diperkenalkan oleh sang papa kepada seluruh pegawai di perusahaan utama sebagai CEO.


Semua yang ada disanapun bertepuk tangan menyambut Dimas sebagai CEO baru mereka. Banyak dari mereka yang sudah mengenal Dimas dan tidak sedikit juga dari mereka yang baru pertama kali melihat Dimas.


Bisik bisikpun tak terelakkan dari suara para gadis pemuja laki laki tampan. Kehadiran Dimas seolah membuat semangat mereka berkobar.


Kini semua mata tertuju pada Dimas, Dimas Raditya Adhitama, anak tunggal pemilik perusahaan yang sudah dipastikan menjadi pewaris tunggal seluruh perusahaan Adhitama.


**


Di tempat lain, Dini sedang berada di kantin saat jam makan siang. Berkali kali ia melihat ponselnya, menunggu kabar dari Dimas.


Ia tau hari itu adalah hari pertama Dimas menjabat sebagai CEO di perusahaan utama papanya dan ia tau jika Dimas pasti sangat sibuk hari itu.


"Dicek terus hpnya, nungguin notifikasi dari siapa sih?" tanya Aca menggoda.


"Dari pak Adit ya?" terka Ica yang membuat Aca memukul kepala Ica dengan sendok di tangannya.


"Aduuuhh, nggak usah pake pukul bisa kan?" jadi cewek barbar banget!"


"Kalau ngomong dijaga, mulut lo tuh barbar!"


"Udah udah, kok malah berantem sih!" ucap Dini berusaha melerai Ica dan Aca.


"Jadi kamu nunggu notif dari siapa? pacar kamu?" tanya Aca yang ikut penasaran.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.


"Jadi kamu bener pacaran sama pak Adit?" tanya Ica yang membuat Dini segera membungkam mulut Ica.


"Bukan pak Adit, kamu jangan bikin gosip baru deh!" ucap Dini yang terlihat kesal.


"Hehe.... ya sorry, jangan marah ya," ucap Ica dengan memeluk Dini manja.


Dini hanya memanyunkan bibirnya dengan menahan senyumnya melihat tingkah Ica.


"Nanti aku beliin ice cream deh biar nggak marah," ucap Ica merayu Dini.


"Dua ya?" balas Dini.


"Iya, sekalian sefreezer nya juga kamu bawa nggak papa," ucap Ica dengan memutar kedua bola matanya membuat Dini dan Aca tertawa.


"Jadi siapa pacar kamu? anak sini juga?" tanya Aca.


"Bukan, dia kerja di perusahaan X," jawab Dini.


"Waaahhhh, perusahaan Adhitama? seleranya Dini tinggi juga ya, susah loh buat bisa kerja di sana!" ucap Ica terkagum kagum.


"Iya bener, temenku yang fresh graduate dan cumlaude aja ngelamar disana nggak dipanggil panggil!" sahut Aca.


"Tapi dia cakep nggak? cakep mana sama pak Adit?" tanya Ica penasaran.


"Dia udah pernah kesini kok dulu, kalian nggak tau?"


Aca dan Ica kompak menggeleng.


"Kita taunya yang sering jemput kamu ya sahabat kamu itu, yang ternyata adiknya pak Adit," ucap Aca.


"Oh Andi, dia emang lebih sering jemput aku sih!"


"Eh tapi Andi itu juga cakep sih menurutku, nggak beda jauh sama pak Adit, tapi pak Adit galak hehe...." ucap Ica.


"Kalau Andi gimana Din? galak juga?" tanya Aca.


Dini tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Aca. Ia memikirkan bagaimana Andi bersikap padanya selama ini.


Mereka memang bersahabat, tapi sikap manis dan kepedulian yang Andi berikan padanya membuat orang yang melihatnya salah paham pada hubungan mereka berdua.


Tak hanya sahabat yang baik, Andi juga sahabat yang setia karena selalu ada kapanpun Dini membutuhkannya.


"Yeeee, ini anak malah ngelamun!" ucap Aca dengan mengetuk mangkok di hadapan Dini dengan sendoknya.


"Sorry, tadi kamu nanya apa?"


"Andi gimana? dia galak nggak?" jawab Aca mengulangi pertanyaannya.


"Mmmm..... sejauh yang aku tau dia cowok yang manis, penuh perhatian dan kasih sayang, tapi dia juga bisa marah kayak monster kalau ada orang yang jahat sama aku," jelas Dini.


"Ada ya sahabat yang kayak gitu?" tanya Ica.


"Ada, Andi sahabat yang kayak gitu," jawab Dini dengan senyum di wajahnya.


"Itu sih dia suka sama kamu," sahut Aca.


"Iya bener," balas Ica.

__ADS_1


Dini hanya diam dengan membawa pandangannya pada Ica dan Aca bergantian.


__ADS_2