
Malam itu, Andi sengaja pulang telat karena harus menjelaskan beberapa hal baru pada Rama. Tepat pada jam 7 malam, ia baru meninggalkan home store.
Saat baru saja sampai di rumahnya, ia melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya.
"mobilnya Adit?" batin Andi dalam hati.
Tanpa ragu Andi melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahnya yang tertutup. Saat baru saja menyentuh handle pintu, Andi mendengar suara seorang wanita yang sangat dikenalnya.
Suara yang baru di dengarnya beberapa bulan terakhir ini, namun sudah melekat erat dalam ingatannya.
"Mbak, saya mau ambil Andi mbak, Andi anak saya, Andi harus tinggal sama saya, Andi....."
Seketika Andi memegang dadanya yang berdegup kencang ketika ia mendengar ucapan wanita itu. Andi lalu memutuskan untuk tetap berdiri di tempatnya sampai ia mendengarkan semua percakapan semua orang yang berada di dalam rumah itu.
Semakin lama Andi berada di sana, degup jantungnya semakin tak terkendali. Ada sebuah amarah yang perlahan menguasai dirinya saat ia mendengar percakapan dari dalam rumahnya.
Andipun membuka pintu rumahnya dengan keras dan menatap semua orang yang berada di sana dengan tatapan tajam penuh intimidasi.
Semua yang berada di sana terdiam saat mereka menyadari kedatangan Andi.
"Andi udah denger semuanya bu, tapi Andi nggak ngerti," ucap Andi dengan suara parau.
"Andi, kamu anak mama sayang, kamu anak kandung mama," ucap mama Siska yang berjalan mendekati Andi dan hendak memeluknya, namun Andi menghindar.
"Tolong jelasin sama Andi bu, yah, apa yang sebenarnya ayah dan ibu sembunyiin dari Andi?" tanya Andi pada ayah dan ibunya dengan mata yang berkaca kaca.
"Kamu udah denger semuanya Ndi dan semua itu bener," jawab ayah Andi.
"Bu, apa yang ayah bilang bener? kenapa ibu diem aja? jawab bu? Andi butuh jawaban!"
Ibu Andi tak menjawab pertanyaan Andi, ia hanya menangis dalam pelukan suaminya.
Andi lalu tertawa getir, menertawakan jalan cerita hidupnya. Sebuah fakta mengejutkan harus ia terima setelah 25 tahun ia hidup.
"Maafin ibu Ndi, maafin ayah sama ibu," ucap ibu Andi di tengah isak tangisnya.
"25 tahun Andi hidup dalam kebohongan, kenapa ibu sama ayah setega itu sama Andi? kenapa?"
"Kita nggak bermaksud bohong Ndi, kamu anak ayah sama ibu, ayah dan ibu yang membesarkan dan merawat kamu sejak bayi, ibu sama ayah nggak mau kehilangan kamu Ndi, ibu sama ayah sayang sama kamu," ucap ibu Andi.
"Apa ini cara ayah dan ibu menyayangi Andi? dengan kebohongan ini? iya?"
"Cukup Ndi, jangan menyalahkan ibu kamu, ibu kamu yang....."
"Ibu sama ayah nggak salah, Andi yang salah karena udah lahir ke dunia ini!" ucap Andi memotong ucapan ayahnya.
"Andi, ikut mama pulang sayang, kita....."
"Mama? orang tua macam apa yang buang anaknya saat bayi? apa pantas orang tua seperti itu dipanggil mama?"
"Cukup Ndi, lo udah keterlaluan!" ucap Adit.
"Dan lo Dit, lo sama aja kayak mereka, lo udah tau tentang hal ini kan? itu yang bikin sikap lo tadi pagi berubah? kalian semua sama aja, munafik!"
"Mama punya alasan kenapa mama melakukan itu, mama....."
"Iya, kalian emang selalu punya alasan buat bohong!" ucap Andi dengan perlahan melangkah mundur lalu berlari meninggalkan rumahnya.
"ANDI!!"
"ANDI!!"
Panggil ibu Andi dan mama Siska bersamaan.
"Biar Adit yang kejar, mama tunggu di sini!" ucap Adit lalu segera mengejar Andi.
Ia tau fakta yang baru saja Andi dengar sangat mengejutkannya. Namun itu bukanlah alasan untuk ia bisa membenci semua yang berada di sana.
Ayah dan ibu yang sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Seorang mama yang melahirkannya dengan penuh cinta. Mereka semua adalah orangtua yang tulus mencintainya meski dengan segala rahasia masa lalu yang harus disembunyikan dengan terpaksa.
Adit berlari mengikuti kata hatinya meski ia tak tau kemana Andi pergi. Ia yakin ia akan menemukan Andi meski ia berlari tanpa tujuan.
Begitu juga Andi, ia berlari keluar dari rumah tanpa tau kemana ia harus pergi. Ia hanya terus berlari, berusaha pergi dari alur hidup yang membawa kekecewaan terbesar dalam hidupnya.
Seorang ayah dan ibu yang sangat di sayanginya nyatanya menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya. Seorang wanita yang disebut mama, tega membuangnya bahkan sebelum ia merasakan ASI dari wanita yang telah melahirkannya.
Kehadirannya seperti tak diinginkan, kehidupannya seperti sebuah mainan yang bisa di setting sesuka hati mereka. Ia kecewa, ia marah, tak hanya pada mereka, tapi pada jalan hidup yang harus ia terima.
Saat Andi sedang berlari, sebuah bus dari jalur yang berlainan dengan Andi mengalami kecelakaan. Bus itu terguling ke jalan yang di lalui Andi dan berguling dengan cepat ke arah Andi.
Sesaat sebelum bus itu menghantam dirinya, Andi memejamkan matanya. Ia sudah pasrah pada takdir yang akan menuntun jalannya.
Teriakan histeris yang berasal dari dalam dan luar bus mulai menggema dalam gelap malam itu. Bus sudah rusak parah karena menabrak pembatas jalan dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti.
__ADS_1
Adit yang masih mencari Andi semakin gelisah saat ia melihat kegaduhan yang tak jauh dari tempatnya. Ia segera berlari ke arah bus yang sudah tak berbentuk itu.
"please Ndi, jangan disana," batin Adit dalam hati.
Saat Adit berjalan di antara banyak orang di sana, dadanya terasa nyeri. Ia lalu terduduk dengan memegangi dadanya.
Saat itu lah ia melihat seseorang yang ia cari sudah terkapar di bawah badan bus yang ringsek. Adit segera berlari mendekat dan mendapati sebuah besi panjang menghujam ke daerah perut Andi.
Andi yang sudah diambang batas kesadarannya masih melihat dengan jelas jika Adit berlari ke arahnya. Meski matanya masih terbuka, besi yang menusuknya telah meloloskan semua kemampuannya.
"Jangan tutup mata lo Ndi, lo harus tetep sadar, ambulan akan dateng bentar lagi, lo harus dengerin penjelasan mama Ndi!" ucap Adit dengan menggenggam tangan Andi.
Andi hanya diam, darah sudah menggenang di sekitar tubuhnya.
"Please Ndi, lo harus bertahan, lo harus denger penjelasan mama!"
Andi lalu memejamkan matanya, menikmati semua rasa sakit yang dideritanya saat itu.
**
Di sisi lain, Dini sedang berada di mini market saat kecelakaan itu terjadi.
Ia melihat dengan jelas saat bus itu terguling menabrak pembatas jalan. Seketika Dini berteriak dan memejamkan matanya.
Entah kenapa saat matanya terpejam, ia melihat sekelebat bayangan Andi, membuatnya segera membuka matanya.
"Andi, Andi masih di home store kan? dia pulang telat karena ngajarin temennya dulu, dia nggak naik bus kan? enggak, dia pasti bawa mobil," batin Dini berusaha menenangkan dirinya saat itu.
Dini masih berada di tempat itu sampai beberapa ambulan dan polisi datang. Setelah beberapa jam lamanya, jalanan mulai sepi. Dinipun segera meninggalkan mini market dan pulang ke rumahnya.
Saat Dini berjalan ke arah rumahnya, ia melihat ke arah rumah Andi. Ia bisa melihat dengan jelas mama Siska, ibu dan ayah Andi masuk ke mobil Adit bersama Pak Lukman.
"mama ngapain di sini? ayah sama ibunya Andi juga kenapa ikut mobilnya kak Adit? kak Adit kemana? kenapa pak Lukman yang bawa mobil kak Adit? kenapa.... aargghh terlalu banyak pertanyaan," batin Dini bertanya tanya.
Dini segera berlari ke rumahnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Andi. Sampai beberapa kali ia coba, Andi tidak menerima panggilannya.
"kamu kemana sih Ndi, kenapa nggak diangkat angkat!"
Dinipun semakin panik, ia lalu menghubungi Adit dan sama saja, Adit tidak menerima panggilannya.
Tanpa Dini tau, ponsel Andi tertinggal di mobil Andi, sedangkan Adit sedang berada di rumah sakit menunggu Dokter yang sedang menangani Andi di ruang UGD.
Adit yang saat itu sedang kalut hanya bisa menghubungi sang mama dan meminta Lukman untuk menjemput mamanya tanpa membawa mobil karena mobil Adit masih berada di rumah Andi.
Ia berada di rumah sakit karena ikut bersama ambulan yang membawa Andi.
Adit segera memeluk sang mama, berusaha menangkan mamanya di saat ia sendiri sedang merasa kacau.
"Ini semua salah kamu, kamu yang udah bikin Andi kayak gini!" ucap ibu Andi pada mama Siska.
Mama Siska tak membalas ucapan ibu Andi, ia hanya menangis dalam pelukan Adit.
"Udah bu, kita berdo'a saja biar Andi baik baik aja," ucap ayah Andi menenangkan sang istri.
Setelah menunggu beberapa lama, Dokter keluar dan menjelaskan keadaan Andi.
"Pasien akan dipindahkan ke ruang ICU karena mengalami trauma ginjal, hal itu terjadi karena besi yang menusuknya menembus sampai ke ginjal," jelas Dokter.
"Dia bisa diselamatkan kan Dok?" tanya mama Siska.
"Kita berdo'a saja semoga salah satu ginjalnya masih bisa berfungsi dengan baik sehingga tidak memperburuk keadaannya, untuk sementara pasien akan di perhatikan secara intens di ruang ICU untuk memastikan kerja ginjalnya apakah masih bisa berfungsi dengan baik atau tidak," jawab dokter menjelaskan.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok, saya mohon," ucap mama Siska.
"Para Dokter akan berusaha semaksimal mungkin bu, peluang masih ada, ibu jangan putus harapan!"
"Baik Dok, terima kasih," ucap Adit pada sang Dokter.
Kini mereka hanya bisa melihat Andi terbaring tak berdaya di ruang ICU.
"Kenapa kamu harus datang, kenapa kamu merusak kebahagiaan Andi?" ucap ibu Andi dengan terisak.
Mama Siska masih diam dalam tangisnya. Ia tidak menyangka hal buruk akan menimpa Andi saat ia baru saja mengetahui fakta yang selama ini ia cari.
**
Pagi telah datang. Adit dan mamanya, ibu dan ayah Andi masih berada di rumah sakit. Mereka tidak pulang, bahkan mama Siska tidak memejamkan matanya sedikitpun.
"Mama pulang sama pak Lukman ya ma, biar Adit yang di sini!" ucap Adit pada sang mama, namun hanya dibalas gelengan kepala.
Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Dini.
"Halo Din, kakak....."
__ADS_1
"Kak Adit kemana aja sih? kenapa nggak bisa dihubungi? kak Adit dimana sekarang?"
"Ada hal penting yang harus kakak lakuin, kamu bisa handle pekerjaan kantor?"
"Kak Adit kenapa?" tanya Dini yang menyadari suara Adit terdengar sendu.
"Kamu reschedule meeting dengan klien yang penting, lainnya kamu handle sama Jaka, bisa?"
"Bisa kak, tapi....."
"Kerjakan apa yang kakak minta, jangan banyak tanya!"
"Baik kak!"
Klik. Adit mengakhiri panggilannya. Ia lalu menghubungi Rudi.
"Rud, kamu ke rumah sakit X sekarang, antar pak Lukman pulang buat ambil mobil mama dan kamu jemput Dini jam 4 sore, antar dia ke sini!"
"Baik pak," jawab Rudi tanpa banyak bertanya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dini masih mencoba menghubungi Andi, namun masih tak ada jawaban.
Ia pun menghubungi Dimas.
"Halo sayang, gimana Andi?"
"Masih belum diangkat, kamu udah coba hubungi dia?"
"Udah, nggak diangkat juga!"
"Dia kemana sih, kenapa tiba tiba ngilang gini!" ucap Dini kesal.
"Kamu kesel sama dia, apa khawatir?"
"Dua duanya, nggak biasanya Andi kayak gini!"
"Kamu udah ke rumahnya?"
"Di rumahnya nggak ada orang," jawab Dini.
"Kamu coba hubungi dia lagi, aku juga coba hubungi dia lagi, nanti kalau aku udah ada kabar tentang dia, aku hubungi kamu!"
"Oke!"
**
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini keluar dari kantor dan disambut oleh Rudi.
"Pak Adit minta saya antar mbak Dini ke rumah sakit," ucap Rudi pada Dini.
"Ke rumah sakit? tapi saya nggak sakit pak!"
"Ikut aja ya mbak, biar saya nggak dimarahi pak Adit!"
"Terus saya di rumah sakit ngapain pak?"
"Nanti mbak Dini tanya pak Adit aja kalau udah di sana, ayo mbak!"
Dini menurut, ia pun masuk ke dalam mobil Adit bersama Rudi.
Sesampainya di rumah sakit, Dini segera menghubungi Adit. Tak lama kemudian Adit datang menjemput Dini dan mengajaknya ke ruangan ICU dimana Andi di rawat.
"Kenapa kita ke sini kak?" tanya Dini namun Adit hanya diam.
Perasaan Dini semakin gelisah saat ia melihat mama Siska, ayah dan ibu Andi di depan sebuah ruangan.
"Andi, enggak, jangan Andi," batin Dini dalam hati.
Adit lalu mengajak Dini untuk melihat seseorang yang berada di dalam ruangan itu melalui kaca yang ada di pintu ruang ICU.
"Andi!" pekik Dini tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seketika tubuhnya terasa lemah, ada sesak dalam hatinya saat melihat sahabatnya terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuhnya.
Dini hampir saja terjatuh jika Adit tidak segera menahannya.
"Andi kenapa kak? kenapa Andi....."
Dini menghentikan ucapannya, ia tidak mampu mengucapkan apa yang baru saja dilihatnya.
"Do'akan Andi bisa melewati masa kritisnya ya Din!" ucap ibu Andi sambil memeluk Dini.
__ADS_1
Dini hanya terdiam dengan menahan isak tangisnya. Adit lalu membawa Dini duduk di samping sang mama. Ia memeluk Dini yang tampak masih sangat syok dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Dia pasti bisa lewati ini Din, kakak yakin dia akan bertahan dan melawan semua rasa sakitnya," ucap Adit berusaha menenangkan Dini.