Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Menjenguk


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dimas melajukan mobilnya ke arah pantai sebelum ia mengantar Dini ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya.


"Dimas, aku harus bilang apa kalau papa tanya alasan ku resign?" tanya Dini pada Dimas.


"Bilang aja gajinya kurang hehehe....."


"Aku serius Dimas!"


"Tenang aja sayang, apapun alasan kamu papa pasti ngerti kok, aku juga coba bilang sama papa nanti, emang rencana resign nya kapan?"


"Akhir bulan, bulan depan aku harus udah dapet kerjaan baru."


"Udah ada referensi mau ngelamar dimana?"


"Udah, aku udah browsing, ada beberapa target perusahaan yang kayaknya cocok sama aku, aku udah mulai siapin CV, tinggal di kirim," jawab Dini.


"Kamu udah siap banget ya buat resign!"


"Aku nggak punya pilihan Dimas, aku juga harus cepet dapet kerjaan baru setelah resign."


"Iya sayang aku ngerti," ucap Dimas dengan mengusap rambut Dini.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering ketika mereka baru saja tiba di pantai.


Dimas segera menerima panggilan Andi setelah Dimas memarkirkan mobilnya.


"Halo Ndi, ada apa?"


"Lo lagi sama Dini kan? gue hubungin dia nggak bisa!"


"Iya lagi sama gue, kenapa?"


"Ibu sama ayah minta gue buat nemenin jenguk ibunya Dini di rumah sakit, gue harus bilang apa kalau Dini nggak ikut? gue takut ibunya marah kalau gue bilang Dini belum pulang kerja."


"Lo sekarang dimana?"


"Masih di home store sih."


"Ya udah gue sama Andini kesana sekarang!"


"Oke!"


Dimas lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Loh mau kemana?" tanya Dini.


"Lain kali ya sayang ke pantainya, kamu harus ikut Andi jenguk ibu kamu," jawab Dimas.


"Kenapa aku harus ikut? aku kan mau kesana nanti Dim, setelah kita pulang dari pantai."


"Ibu kamu pasti tanya Andi kenapa kamu nggak ikut, kamu mau Andi jawab apa sayang?"

__ADS_1


Dini hanya menghembuskan napasnya kasar mendengar ucapan Dimas. Ya, ia tau apa yang ada dipikiran Dimas dan Andi.


Setiap mendengar hal hal yang bersangkutan dengan Dimas, baik perusahaan tempat kerjanya ataupun hubungannya bersama Dimas, ibunya akan langsung emosi dan tentu saja Dini tidak ingin hal itu terjadi.


Ia harus bisa menjaga suasana hati sang ibu. Ucapan Dokter beberapa waktu yang lalu selalu terngiang di kepalanya, membuatnya menuruti semua permintaan ibunya meski itu menyakiti hatinya.


"HP kamu lowbatt?" tanya Dimas membangunkan lamunan Dini.


Dini membuka tasnya dan mengambil ponselnya, benar saja ponselnya sudah tidak aktif. Ia mencoba untuk menekan tombol power, namun ponselnya tetap mati.


"Kehabisan baterai ternyata, aku nggak tau," jawab Dini.


"Ada power bank di tas, kamu bawa aja," ucap Dimas sambil menunjuk tas di kursi belakang.


"Nanti aku charge di rumah aja, aku......"


"Aku nggak bisa hubungin kamu kalau HP kamu mati Andini," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


Dinipun mengambil power bank dari tas Dimas dan menancapkannya di ponselnya.


"Ini kita mau kemana?" tanya Dini.


"Jemput Andi di home store," jawab Dimas.


Sesampainya di home store, Andi segera masuk ke mobil Dimas. Ia duduk di sebelah Dimas karena Dini pindah duduk di kursi belakang.


"Mau gue anter ke rumah sakit sekalian?" tanya Dimas pada Andi.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Andi, mereka semua segera turun tak terkecuali Dimas.


"Ibu pikir kamu pulang sendiri," ucap ibu Andi pada Andi.


"Dimas mau ketemu klien deket sini bu, jadi sekalian bareng," balas Andi berbohong.


"Kalau gitu Dimas permisi dulu tante, om," pamit Dimas pada ibu dan ayah Andi.


"Iya hati hati," balas ibu Andi.


"Aku balik dulu sayang," ucap Dimas pelan pada Dini.


"Hati hati," balas Dini yang tak kalah pelannya.


Dimas melangkahkan kakinya menuju ke mobil dengan berat hati. Tak ada pelukan, tak ada kecupan mesra seperti yang selalu ia lakukan sebelum meninggalkan Dini.


Sama halnya dengan Dimas, Dini hanya bisa memandang Dimas dengan sedih. Keadaan sudah berubah, merubah kebiasaan manis yang selalu mereka lakukan setiap akan berpisah.


"Dini siap siap dulu ya bu," ucap Dini pada ibu Andi setelah Dimas meninggalkan rumah Andi.


"Iya Din, jangan lama lama ya!"


"Iya bu."


Dini berlari ke arah rumahnya, mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai bersiap siap, Dini segera kembali ke rumah Andi.

__ADS_1


Merekapun berangkat ke rumah sakit bersama sama.


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera masuk ke ruangan ibu Dini.


Ibu Dini tampak senang dengan kedatangan Dini dan Andi.


"Maaf baru bisa jenguk, kita baru pulang dari luar kota," ucap ibu Andi pada ibu Dini.


"Iya nggak papa," balas ibu Dini.


"Gimana keadaan kamu Ran? udah baikan?"


"Udah, mungkin besok bisa pulang," jawab ibu Dini.


"Emangnya Dokter udah izinin pulang?" tanya Dini pada ibunya.


"Kalau keadaan ibu makin membaik ibu udah boleh pulang Din," jawab ibu Dini.


"Nanti Dini coba tanya Dokter," ucap Dini.


"Aku seneng mbak liat Andi sama Dini sama sama kayak gini," ucap ibu Dini pada ibu Andi.


Karena usia ibu Andi yang lebih tua beberapa tahun darinya, ibu Dini memanggil ibu Andi "mbak".


"Iya Ran, aku juga, mereka kan udah sama sama dari kecil," balas ibu Andi yang membuat Andi dan Dini hanya saling pandang.


"Kalian pulang kerja bareng?" tanya ibu Dini pada Dini dan Andi.


"Iya, dianter Dimas tadi," jawab ibu Andi sebelum Dini dan Andi sempat menjawab.


"Dimas? Dini, kamu......."


"Dimas kan kerja sama Andi bu, dia tadi nganterin Andi pulang jadi sekalian Dini ikut," ucap Dini cepat.


"Kamu nggak....."


"Udah deh bu, jangan mikirin macem macem, fokus sama kesehatan ibu aja, Dini tau apa yang harus Dini lakuin buat ibu," ucap Dini memotong ucapan sang ibu.


"Iya Ran, Dimas mau ketemu klien nya tadi jadi sekalian ngajak bareng Andi sama Dini, tapi kok kayaknya kamu nggak suka kalau Dini pulang sama Dimas, kenapa?" tanya ibu Andi pada ibu Dini.


Ibu Dini diam beberapa saat, membawa pandangannya pada Dini, namun Dini memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Apa ada masalah?" tanya ibu Andi.


"Kita pulang aja yuk bu, biar ibunya Dini istirahat," ucap Andi sambil menarik tangan sang ibu.


"Kita kan baru nyampe Ndi, kok udah mau pulang!" balas ayah Andi.


"Lain kali ke sini lagi yah, ibunya Dini kan harus banyak banyak istirahat."


Karena berbagai macam alasan yang Andi berikan, mereka akhirnya pulang.


Andi sengaja mengajak ayah dan ibunya pulang karena ia tidak ingin pertanyaan dari ibunya membebani pikiran ibu Dini, ia juga tidak ingin melihat Dini yang bersedih karena ucapan ibunya yang bisa saja menyakiti hatinya.

__ADS_1


__ADS_2