
Mentari pagi mengantarkan Dini dan Andi berangkat ke tempat kerja masing masing. Mereka berjalan bersama menuju halte dan menaiki bus yang baru saja berhenti di halte tepat saat mereka sampai.
Setelah beberapa menit di dalam bus, Dini keluar terlebih dahulu karena ia sudah sampai di tempat kerjanya.
Ia berjalan menuju lobby sebelum seseorang memanggil namanya.
"Dini!"
Dini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa mbak?" tanya Dini pada Kintan, seseorang yang baru saja memanggil namanya.
"Ikut aku!" ucap Kintan lalu berjalan ke arah lift menuju roof top.
Di roof top hanya ada Dini dan Kintan. Dini merasa suasana paginya akan hancur karena Kintan.
"Din, asal kamu tau ya, aku nggak peduli kalau Dimas itu tunangan kamu atau bukan, yang pasti kalian belum menikah jadi aku masih boleh kan buat deketin Dimas?"
"Coba mbak Kintan tanya sama diri mbak sendiri, kalau mbak punya tunangan apa boleh cewek lain deketin dia?" balas Dini balik bertanya, membuat Kintan ternganga tak percaya.
Pasalnya selama ini Kintan mengenal Dini sebagai pegawai yang penurut, pekerja keras dan lemah lembut. Sejujurnya ia sangat menyukai kinerja Dini di kantor, Dini selalu bisa diandalkan untuk membantunya jika pekerjaannya sedang menumpuk.
Namun, melihat Dini adalah tunangan laki laki yang disukainya membuat Kintan merasa tersaingi oleh Dini.
"Seperti yang mbak Kintan bilang sendiri, soal pekerjaan saya memang bawahan mbak, tapi di luar itu kita teman," ucap Dini lalu pergi meninggalkan Kintan.
Dini mengelus dadanya menghilangkan rasa kesal dalam dirinya. Ia lalu menuju ke tempat kerjanya. Masih sepi, karena ia memang berangkat lebih pagi dari jam yang ditentukan.
Dini segera menyalakan komputer di hadapannya, memulai kembali tumpukan pekerjaan yang diberikan Kintan padanya.
"Masih pagi Din, udah sibuk aja!" seloroh Cika yang baru saja datang.
"Lanjutin yang kemarin Cik," balas Dini.
"Jadi gimana kemarin? kamu pulang jam berapa?" tanya Cika.
Dinipun menceritakan semua kejadian kemarin ketika Dimas datang dan bertemu Pak Andre, manajer divisi pemasaran.
"Jadi Dimas udah tau kelakuan mbak Kintan sama kamu?" tanya Cika yang dibalas anggukan kepala Dini.
"Rasain tuh, biar dia nggak ganggu kamu lagi sekarang, mana ada yang berani ganggu calon menantu pemilik perusahaan, iya nggak?"
"Nggak juga," balas Dini.
"Maksud kamu?"
"Liat aja nanti," jawab Dini.
__ADS_1
Jam makan siang tiba, Dini mulai membereskan pekerjaannya.
"Din, ikut saya!" ucap Kintan yang tiba tiba datang.
Dini hanya mengangguk lalu segera mengikuti Kintan.
Cika yang penasaranpun diam diam mengikuti mereka dan ternyata mereka menuju ke arah roof top. Karena khawatir terjadi sesuatu pada Dini, Cika pun menghubungi Dimas.
"Dimas, kamu dimana?" tanya Cika.
"Di lobby kantor, Andini masih di atas ya?"
"Dia lagi diajak mbak Kintan ke roof top sekarang, aku takut kalau Dini kenapa napa di atas."
...........
"Dimas, halo Dimas!"
..........
Cika mematikan sambungan ponselnya dan kembali menghubungi Dimas.
"Sorry Cik, gue lagi jalan ke roof top sekarang," ucap Dimas setelah ia menerima panggilan Cika, karena terlalu panik dan khawatir Dimas mengabaikan Cika sebelum Cika kembali menghubunginya.
"Oh oke deh, lanjutin!"
Di roof top.
"Din, jangan kamu pikir aku takut ya sama kamu, walaupun kamu tunangan Dimas, calon menantu pemilik perusahaan ini, aku sama sekali nggak takut sama kamu!" ucap Kintan pada Dini.
"Saya juga nggak mau mbak Kintan takut sama saya, kalau mbak Kintan ngajak saya kesini cuma mau ngomongin itu lebih baik saya pergi mbak," balas Dini lalu berbalik.
Dengan cepat Kintan menarik rambut Dini, membuat Dini mundur beberapa langkah.
"Jangan belagu deh Din, kamu itu nggak ada apa apanya dibanding sama aku, kamu itu jauh di bawahku dan Dimas sama sekali nggak pantes buat kamu!" ucap Kintan dengan masih menarik rambut Dini.
"Kita udah tunangan sebelum saya kerja di sini mbak, apa itu salah saya?" balas Dini dengan memegangi rambutnya yang masih ditarik oleh Kintan.
Ia sengaja untuk tidak melawan Kintan, mengingat Kintan adalah atasannya di kantor dan ia masih menghargai itu.
"Tinggalin Dimas Din atau aku akan bikin kamu keluar dari perusahaan ini!"
"Saya pikir mbak Kintan memang lebih baik dari saya, tapi ternyata saya salah, sikap mbak Kintan ini jauh dari sikap perempuan yang berpendidikan," balas Dini yang membuat Kintan semakin murka dan.....
PLAAAAKKKK
Satu tamparan mendarat di pipi Dini.
__ADS_1
"Jaga ucapan kamu ya Din, atau....."
"Atau apa?" tanya Dimas yang tiba tiba datang dan menghampiri Dini.
"Dimas, kamu jangan salah paham Dimas, saya cuma....."
"Saya nggak nyangka keputusan Pak Andre buat bantuin mbak Kintan ternyata salah, saya nggak bisa bayangin gimana kecewanya Pak Andre kalau tau sikap mbak Kintan sekarang!" ucap Dimas.
"Maksud kamu? saya nggak ngerti apa yang kamu bicarain Dimas," balas Kintan yang tampak gugup.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Nggak papa kok, ayo turun," balas Dini.
Dimas dan Dini pun berjalan meninggalkan roof top, namun Kintan menahan tangan Dimas.
"Jangan ganggu saya sama Andini lagi mbak, kalau bukan karena permintaan Andini, saya pasti udah laporin mbak Kintan ke papa dari kemarin, harusnya mbak Kintan terima kasih sama Andini karena udah belain mbak," ucap Dimas dengan tegas dan menarik tangannya dari Kintan.
Kintan hanya diam di tempatnya, membiarkan Dimas dan Dini turun.
Bekas kemerahan masih terlihat di pipi Dini meski Dimas sudah mengompresnya menggunakan air dingin.
"Dimas, maksud kamu soal Pak Andre tadi apa?" tanya Dini.
"Aku semalem nanya sama papa tentang mbak Kintan, aku....."
"Tunggu tunggu, kamu nggak cerita soal mbak Kintan sama papa kan?"
"Enggak sayang, tenang aja!"
"Oke, lanjut!"
"Papa bilang mbak Kintan itu saudara jauh Pak Andre, sebenernya dia nggak lulus kuliah karena terkendala biaya, tapi Pak Andre bantuin mbak Kintan biar bisa kerja di sini," jelas Dimas.
"Langsung jadi asisten manajer?"
"Enggak lah sayang, mbak Kintan dulu sama kayak kamu, pekerja keras dan hasil kerjanya selalu memuaskan, setelah ikut tes beberapa kali akhirnya mbak Kintan lolos promosi buat jadi asisten manajer," jawab Dimas.
"Apa mungkin itu yang bikin mbak Kintan kayak nggak punya temen di sini? karena dia lebih cepet dapet promosi padahal lulusan SMA jadi banyak yang iri sama dia."
"Bisa jadi, lagian dia juga galak kan?"
"Dia galak sama aku karena dia suka sama kamu!"
"Kamu cemburu ya?" goda Dimas.
"Enggak, karena aku tau kamu selalu jaga hati kamu buat aku," jawab Dini dengan senyum manisnya, membuat Dimas ingin menerkam gadisnya saat itu juga.
__ADS_1