Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Memperjuangkan?


__ADS_3

Adit masih berada di rumah Ana. Ia tidak tau jika seseorang tengah merencanakan sesuatu padanya.


Ia pikir masalahnya tentang foto dirinya dan Ana sudah selesai, ia tidak pernah terpikirkan jika masalah lain akan muncul tanpa ia tau.


"Hmmmm.... baunya enak," ucap Adit saat Ana mengeluarkan kue dari dalam oven.


Ya, Adit menghabiskan waktu di rumah Ana dengan membantu Ana membuat kue.


**


Di tempat lain, Dini dan Dimas sedang sarapan berdua di apartemen Dimas.


"Kamu mau jalan jalan sayang?" tanya Dimas pada Dini.


"Enggak, aku mau di sini aja nemenin kamu kerja," jawab Dini.


"Tapi....."


"Aku belum bosan Dimas, masih banyak buku yang bisa aku baca," ucap Dini memotong ucapan Dimas.


Dimas hanya tersenyum dan membelai rambut Dini.


"Makasih sayang, makasih udah mengerti kesibukan ku," ucap Dimas pada Dini.


"Itu salah satu bentuk cinta aku buat kamu," balas Dini dengan senyum manisnya.


Setelah selesai sarapan, Dimas kembali sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Dini mengambil buku di rak dan membacanya.


Namun tak lama kemudian Dini kembali ke rak untuk mengembalikan buku itu dan mengambil buku yang lain. Dini melakukan hal itu sampai beberapa kali, membuat Dimas menyadari jika Dini sedang bosan.


Dimas lalu menutup laptopnya dan meminta Dini untuk berganti baju karena ia akan mengajak Dini untuk keluar dari apartemen.


"Kerjaan kamu udah selesai?" tanya Dini pada Dimas.


"Udah kok," jawab Dimas berbohong karena sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Yeeeeyyyy, jadi kemana kita sekarang?" tanya Dini penuh semangat.


"Mau nonton?"


"Boleh, aku siap siap dulu!" ucap Dini lalu masuk ke kamar Dimas dan mengambil pakaiannya di lemari Dimas.


Setelah sedikit berdandan iapun keluar dari kamar Dimas.


Dimas tersenyum dan melangkah mendekati Dini lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dini.


"Cantik, gadisku," ucap Dimas lalu mendaratkan kecupan nya di bibir Dini dengan singkat.


Dini hanya tersenyum lalu melepaskan tangan Dimas di pinggangnya dan menariknya untuk keluar seolah sudah tidak sabar untuk segera menghirup udara luar.


Saat mereka baru saja memasuki lift, seseorang berlari mengejar lift dan segera masuk.


"Hai Dim, kamu Dini ya!"


Dini membawa pandangannya pada Dimas seolah meminta jawaban tentang siapa perempuan di hadapannya itu.


"Saya Dewi, saudara Anita, kita pernah ketemu tapi mungkin kamu lupa," ucap Dewi yang seolah tau isi hati Dini.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Kamu tinggal di sini juga?" tanya Dewi pada Dini.


"Enggak, Dini cuma lagi liburan, Dokter Dewi mau berangkat ke rumah sakit?" jawab Dimas sekaligus bertanya.


"Iya, saya mau ke rumah sakit," jawab Dewi.


"kalau Dokter Dewi nggak mau kasih tau Andi keberadaan Anita, apa Dokter Dewi juga nggak akan kasih tau aku?" batin Dini dalam hati.


Merekapun berjalan bersama ke arah basement. Saat Dewi berjalan terpisah dengan Dini dan Dimas, Dinipun berniat untuk menanyakan keberadaan Anita pada Dewi.


"Kamu tunggu sebentar!" ucap Dini pada Dimas.


"Kamu kemana sayang?" tanya Dimas namun tidak ada jawaban dari Dini.


Dini berjalan menghampiri Dewi dan membuat Dewi menghentikan langkahnya.


"Ada apa Din? kamu ada perlu sama saya?" tanya Dewi yang merasa diikuti oleh Dini


"Dini cuma mau nanya tentang Anita Dok, Dokter Dewi pasti tau kan dimana Anita sekarang?"


Dokter Dewi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tolong Dokter Dewi kasih tau Anita buat hubungin Andi, Dini cuma nggak mau liat Andi terus terusan sedih karena merasa bersalah atas kepergian Anita yang tiba tiba," ucap Dini.

__ADS_1


"Maaf Din, saya nggak tau dimana Anita sekarang, mungkin dia udah nemuin kebahagiaannya di luar sana jadi dia nggak perlu kembali lagi ke masa lalunya," balas Dokter Dewi.


"Tapi....."


"Maaf saya buru buru, saya duluan ya!" ucap Dewi lalu masuk ke dalam mobilnya begitu saja, membiarkan Dini yang masih berdiri di tempatnya.


Setelah kepergian Dewi, Dimaspun menghampiri Dini.


"Ada apa sayang?" tanya Dimas.


"Aku nggak tau kenapa mereka sembunyiin Anita dari kita semua," jawab Dini.


"Apa kamu juga nanyain keberadaan Anita sama Dokter Dewi?"


Dini menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Dimas.


"Kenapa sayang? kenapa kamu masih peduli sama dia?" tanya Dimas tak mengerti.


"Aku tanyain hal itu bukan karena aku peduli sama dia, tapi karena Andi, aku nggak mau liat Andi merasa bersalah terus terusan," jawab Dini.


"Dia pasti punya alasan kenapa dia pergi dan menjauh dari kita semua Andini, itu bukan karena Andi, itu keputusan terbaik yang pernah dia buat!" ucap Dimas.


"Tapi Andi....."


"Andini, please, kamu lagi di sini sama aku, apa boleh kamu nggak bahas laki laki lain saat ini?"


Seketika Dini terdiam dan membawa pandangannya pada Dimas. Ia sudah membuat Dimas cemburu. Dirinya yang memikirkan Andi tanpa sadar membuat Dimas cemburu.


"Aku minta maaf," ucap Dini dengan menarik tangan Dimas dan menggenggamnya.


Dimas hanya tersenyum tipis dan menggandeng tangan Dini untuk masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Dimas hanya diam, membuat Dini semakin merasa bersalah.


"Dimas, kamu marah?" tanya Dini dengan menatap laki laki di sampingnya itu.


"Enggak," balas Dimas singkat dengan pandangan fokus ke arah jalan raya.


"Aku tau kamu marah, kamu......"


"Aku cemburu, bukan marah," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


"Aku minta maaf Dimas," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Dia sahabatku Dimas, dia bukan orang lain lagi, kamu juga sahabatnya kan?"


Dimas lalu menepikan mobilnya dan menghentikannya. Ia membawa pandangannya pada Dini dan menatap kedua matanya.


"Aku tau Andini, aku tau dia sahabat kamu, aku tau dia lebih dulu kenal kamu daripada aku, bahkan aku tau kalau dia lebih mengerti kamu daripada aku, tapi apa aku nggak berarti apa apa buat kamu? apa perasaan aku nggak penting buat kamu?" tanya Dimas dengan nada tinggi.


Dini terdiam dan menundukkan kepalanya di hadapan Dimas. Ia tidak menyangka sesuatu yang ia pikir bukan masalah nyatanya menjadi masalah yang jika dibiarkan akan semakin besar dan memperburuk keadaan.


Dimas menutup matanya dan menarik napasnya dalam dalam lalu melepas seat beltnya dan memeluk Dini.


"Aku tau dia sahabat kamu Andini, dia juga sahabat aku, aku cuma.... aku cemburu kalau liat kamu lebih perhatiin dia dan mengabaikan aku, apa aku salah?" ucap Dimas.


Dini hanya diam dalam pelukan Dimas. Ia tau Dimas tidak bersalah, dirinyalah yang bersalah karena mengabaikan Dimas demi mengejar Dokter Dewi untuk menanyakan keberadaan Anita untuk Andi.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan menggenggam tangan Dini.


"Aku sayang sama kamu Andini, aku selalu berusaha mengerti persahabatan kamu dan Andi, aku sangat berusaha buat nggak cemburu liat kalian berdua, tapi ada saatnya aku nggak bisa nahan perasaan itu!" ucap Dimas.


Dini masih diam tanpa berkata apapun.


"Aku tau dia sahabat yang baik buat kamu, dia juga sahabat yang baik buat aku, aku nggak minta kamu buat lepasin dia, aku cuma minta tolong hargai perasaan aku Andini, itu aja," ucap Dimas.


"Aku minta maaf Dimas," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.


Dimas hanya diam dan membelai rambut Dini. Dimas lalu memasang kembali seat belt nya dan mengendarai mobilnya ke arah mall.


Sesampainya di sana, Dini masih duduk tanpa melepas seat belt nya. Saat Dimas akan melepaskan seatbelt Dini, Dini mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Dimas.


"Kita balik ke apartemen aja," jawab Dini.


"Kamu yakin?" tanya Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Dimas lalu menuruti permintaan Dini dan kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam sampai mereka tiba di apartemen Dimas.


Saat baru saja masuk dan menutup pintu, Dini segera menghambur dalam pelukan Dimas.


"Aku minta maaf Dimas, aku minta maaf," ucap Dini dengan memeluk Dimas erat.

__ADS_1


"Aku selalu maafin kamu Andini, bahkan sebelum kamu minta maaf," balas Dimas.


"Aku sayang sama kamu Dimas, jangan pernah berpikir kalau aku mengabaikan kamu, aku nggak mungkin mengabaikan kamu bahkan demi Andi sekalipun, aku nggak pernah berniat ngelakuin itu Dimas!"


"Iya, aku tau," balas Dimas lalu mencium kening Dini dan melepaskan dirinya dari pelukan Dini.


Dimas berjalan ke dalam kamar dan melepaskan hoodie yang dipakainya. Dini lalu berjalan ke arah Dimas dan memeluk Dimas dari belakang.


"Aku sayang sama kamu," ucap Dini.


"Aku lebih sayang sama kamu Andini," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini yang melingkar di pinggang nya.


**


Di tempat lain, Andi sedang berada di rumah ibunya. Setelah beberapa lama berbincang dengan sang ibu Andi memutuskan untuk pergi ke bukit.


Tak banyak yang berubah dari bukit tempat ia dan Dini sering menghabiskan waktu bersama dulu, selain gazebo yang tampak sudah tua dan rusak di beberapa bagian.


Andi duduk di bawah pohon dengan memandang nanar ke arah depan. Kebersamaan nya dengan Dini di tempat itu selalu berhasil membuat hatinya tersentuh.


"perasaan ini emang nggak seharusnya ada, kamu udah bahagia sama Dimas Din, mungkin kamu juga udah nggak butuh aku lagi," batin Andi dalam hati.


Andi lalu mengingat Anita. Kepergian Anita masih menyisakan sesal dalam hatinya.


"apa aku juga harus pergi seperti Anita? apa aku bisa benar benar pergi dari Dini? enggak, aku nggak akan pergi walaupun kamu udah nggak butuh aku lagi Din, aku akan selalu ada buat kamu, sedetikpun aku nggak akan pernah ninggalin kamu walaupun aku tau aku udah nggak berarti lagi buat kamu," batin Andi dalam hati.


Andi menutup matanya, bayang bayang gadis yang dicintainya tampak dalam gelap pandangnya.


Andi tersenyum bersama luka di hatinya. Bahagia baginya adalah saat ia melihat Dini tersenyum penuh kebahagiaan.


Andi lalu membuka matanya, menyadari hanya ada hamparan kosong di hadapannya membuatnya tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.


Setelah beberapa lama berada di bukit, Andipun beranjak dari duduknya dan kembali ke rumah sang ibu.


Sepanjang perjalanan, hanya ada memori dirinya bersama Dini yang memenuhi setiap langkah ia berjalan.


Andi lalu masuk ke dalam rumah saat sang ibu sedang menjahit di ruang tengah.


"Ibu lagi sibuk?" tanya Andi lalu duduk di kursi yang tak jauh dari sang ibu.


"Enggak, ada yang mau kamu bicarain?" jawab sang ibu sekaligus bertanya.


"Ibu dulu pertama kenal ayah di mana?" tanya Andi pada sang ibu.


"Ibu kenal ayah kamu waktu SMP, dulu kita teman dekat kayak kamu sama Dini," jawab ibu Andi.


"Ibu sama ayah berteman? kenapa ibu bisa memutuskan buat menikah sama ayah?"


"Mmmmm.... banyak hal yang udah ibu lewatin sama ayah Ndi, kita susah senang sama-sama dan ibu yakin kalau ayah bisa menjadi masa depan yang baik buat ibu," jawab ibu Andi.


"Apa ibu dan ayah dulu pacaran sebelum menikah?" tanya Andi penasaran.


"Enggak, kita nggak pernah pacaran dulu, waktu ibu dan ayah sudah bekerja ayah kamu tiba-tiba datang ke rumah dan melamar ibu di depan kedua orang tua ibu."


"Dan ibu langsung menerima ayah?"


"Tentu nggak semudah itu Ndi, kita memang sudah lama bersahabat tapi buat menjalin hubungan ke arah pernikahan ibu masih ragu saat itu, namun semakin lama ibu sadar kalau cuma ayah kamu yang terbaik buat ibu jadi nggak ada alasan lagi buat ibu menolak lamaran ayah kamu!"


Andi hanya tersenyum mendengar jawaban sang ibu. Ia tidak menyangka jika persahabatan ayah dan ibunya bisa berlanjut sampai ke jenjang pernikahan.


"Kamu juga nggak boleh menyerah sama perasaan kamu Ndi, kamu harus bahagia dengan cinta yang ada di hati kamu!" ucap ibu Andi pada Andi.


"Andi udah bahagia lihat Dini bahagia dan itu udah cukup buat Andi bu!"


"Kamu harus berjuang mendapatkan cinta kamu Ndi!"


"Dini udah bahagia sama Dimas bu, nggak ada apapun yang bisa Andi lakuin selain jadi sahabat yang baik buat Dini dan Dimas!"


"Jadi benar perempuan yang kamu cintai selama ini Dini? sahabat kamu dari kecil?"


Andi terdiam mendengar pertanyaan sang ibu, tanpa ia sadar ia sudah membenarkan apa yang ibunya pikirkan selama ini.


"Ibu memang nggak tahu sebesar apa cinta kamu buat Dini, tapi ibu cukup tahu kalau kamu memang benar-benar mencintai Dini, kamu harus berjuang Ndi, nggak ada kata terlambat buat memperjuangkan cinta selamanya cinta itu masih ada dalam hati kamu!" ucap ibu Andi.


"Dimas jauh lebih baik daripada Andi Bu, Dimas bisa kasih masa depan yang baik buat Dini!"


"Kamu jangan pesimis Ndi, kamu juga bisa kasih masa depan yang baik buat dini dengan apa yang kamu miliki saat ini, ibu yakin kamu bisa memberikan Dini kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada yang Dimas berikan untuk Dini!"


"Kenapa ibu bisa berpikir seperti itu?" tanya Andi.


"Karena ibu tahu kamu mencintai dia dengan tulus dan ketulusan itulah yang akan memberikan Dini kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan selama ini."


Andi terdiam mendengarkan ucapan sang ibu. dalam hatinya ia membenarkan ucapan sang ibu bahwa ia mencintai Dini dengan tulus namun ia juga ragu untuk memperjuangkan cintanya pada sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2