Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Malu


__ADS_3

Malam itu, Dimas sengaja meminta Dini untuk menemuinya di kafe. Tanpa Dini tau, Dimas sudah menyiapkan kejutan untuk gadis yang dicintainya itu.


Saat waktunya tiba, Dimas naik ke atas panggung dan menyanyikan sebuah lagu untuk Dini. Tak disangka, respon pengunjung saat itu membuat suasana menjadi lebih romantis.


Mereka seolah kompak terdiam saat denting piano dari jari jari Dimas mulai mengalun dengan indah.


"As long as i live, i love you, i will have and hold you, Andini Ayunindya Zhafira," ucap Dimas di akhir lagunya.


Tiba tiba Dini berlari ke arahnya dan memeluknya. Dimaspun memeluk Dini dengan erat bersama riuh tepuk tangan pengunjung kafe malam itu.


Ya, cinta dalam hati mereka merekah menebarkan aroma manis dari dua hati yang tengah dimabuk cinta.


"I love you," ucap Dimas berbisik.


"I love you too," balas Dini lirih.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan mencium kening Dini, membuat tepuk tangan kembali menggema di kafe itu.


Setelah drama romantis Dini dan Dimas selesai, mereka duduk di bangku yang berada di depan panggung.


"Kamu belum pesen?" tanya Dimas pada Dini.


"Belum, aku nunggu kamu," jawab Dini.


Dimas lalu memanggil waiters agar menyiapkan pesanannya yang sudah ia pesan sejak ia datang beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa sayang? ada yang salah?" tanya Dimas yang melihat Dini hanya diam memperhatikannya dengan mata berkaca kaca.


Dini hanya menggeleng. Ia bahagia, bahkan sangat bahagia saat itu. Tapi tak lama lagi Dimas akan berada jauh darinya. Itu artinya, waktu yang ia miliki untuk bersama Dimas akan semakin sedikit.


Dimas lalu menarik tangan Dini dan menggenggamnya di atas meja.


"Jarak nggak akan jadi masalah besar buat kita sayang, aku akan selalu jaga hati aku buat kamu dan aku akan selalu percaya sama kamu," ucap Dimas pada Dini.


"Aku akan selalu tunggu kamu Dimas," balas Dini.


Tak lama kemudian makanan dan minuman datang. Merekapun mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah dihidangkan di hadapan mereka.


Tepat jam 9 malam, Dini dan Dimas meninggalkan kafe.


"Sayang, ikut aku ke apartemen Yoga bentar ya, ada berkas yang harus aku ambil!" ajak Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


Sesampainya mereka di apartemen Yoga, Dimas segera menghubungi Yoga karena ia sudah memencet bel beberapa kali namun tak ada yang membukakan pintu.


"Sorry Dim, gue masih nganterin Sintia bentar, lo masuk aja, password nya ulang tahun Sintia," ucap Yoga pada Dimas.


"Lo dimana sih? masih lama?" tanya Dimas.


"Masih lama Dim, lo masuk aja, berkasnya ada di meja, ambil aja!"


"Jangan salahin gue ya kalau barang lo ada yang hilang!"


"Barang barang gue murahan semua, nggak akan ada yang minat buat ngambil apa lagi lo!"


Dimas lalu memencet password di pintu untuk masuk ke dalam setelah ia mengakhiri panggilannya dengan Yoga.


"Kita nggak papa nih masuk duluan?" tanya Dini.


"Nggak papa sayang, Yoga lagi pacaran, jadi pasti lama!" jawab Dimas santai.


"Terus berkasnya mana?" tanya Dini.


"Katanya sih di meja, aku coba cari ke kamarnya dulu ya!"


Dini mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Dimas masuk ke dalam kamar untuk mencari berkas yang ia butuhkan.


"Sayang, kesini deh!" panggil Dimas dengan sedikit berteriak.


Dinipun beranjak dari duduknya dan menghampiri Dimas di kamar Yoga.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Kamu mau liat film nggak?" balas Dimas bertanya.


"Film apa?"


"Nggak tau, Yoga kayaknya abis liat film tapi lupa belum di shutdown laptopnya!"


Dini lalu duduk di samping Dimas yang sudah berada di atas ranjang.


Dimas lalu meng- klik tombol spasi dan film mulai berjalan.


Tampak setting dari tempat itu adalah sebuah hutan yang gelap, lalu tiba tiba terlihat seorang perempuan yang tertancap di sebuah pohon dengan darah yang mengalir dari perutnya.


Seketika Dini berteriak dan menutup matanya, Dimaspun segera menutup laptop milik Yoga dan memeluk Dini.


"Lupain sayang, lupain," ucap Dimas yang merasa bersalah karena mempertontonkan film seperti itu pada Dini.


Dini hanya diam dengan memeluk Dimas semakin erat. Setelah lebih tenang, Dimas melepaskan Dini dari pelukannya.


"Aku ambilin kamu minum ya!" ucap Dimas lalu berjalan ke arah kulkas.

__ADS_1


Saat ia membuka kulkas, ia melihat satu cup besar ice cream, ia pun segera mengambilnya dan menaruh beberapa lembar uang ditempat ice cream tadi disimpan.


Dimas sengaja mengambil ice cream itu dan tidak mengambil air minum karena ia tau Dini sangat menyukai ice cream. Jadi menurutnya, ice cream lebih bisa menenangkan Dini daripada air minum.


"Sayang," panggil Dimas dengan memamerkan ice cream yang baru saja diambilnya.


"Ice cream? punya kak Yoga?"


"Punya ku, karena aku udah tuker pake uang hehe...."


"Tetep aja itu punya kak Yoga!"


"Nggak papa sayang, Yoga nggak akan marah kok, tenang aja, ini enak banget loh!" ucap Dimas sambil mencoba ice cream di tangannya.


"Aku nggak mau, aku....."


Dini menghentikan ucapannya begitu Dimas mengoleskan lelehan ice cream ke bibir Dini, reflek Dini segera menjilat bibirnya.


"Gimana? enak kan?"


"Enak banget, tapi...."


"Udah, jangan pikirin Yoga, aku suapin ya!" ucap Dimas lalu menyuapi Dini dengan ice cream di tangannya.


Tiba tiba, tanpa sengaja Dimas menjatuhkan ice cream itu ke pakaian Dini.


"Yaaaahh, maaf sayang," ucap Dimas lalu mengambil tissue.


Saat ia akan mengusap lelehan ice cream di pakaian Dini, pikiran nakalnya mulai aktif.


Dimas menaruh kembali tissue yang ia pegang lalu berjongkok di depan Dini.


"Kamu mau Ngapain?" tanya Dini.


"Aku punya cara lain biar ice cream di baju kamu nggak terbuang sia sia," ucap Dimas.


"Cara lain?"


Dimas lalu mendekat dan menjilat lelehan ice cream yang berada tepat di dada Dini. Seketika Dini terkejut dengan apa yang Dimas lalukan, namun ia hanya diam dengan menahan napasnya karena Dimas menjilat lelehan ice cream yang berada tepat di dadanya.


Saat napasnya hampir habis, Dini segera mendorong tubuh Dimas dan berlari keluar dari kamar Yoga.


Dimas hanya tersenyum nakal lalu mengejar Dini dan menarik tangan Dini yang hendak membuka pintu. Dimas mendorong tubuh Dini ke dinding lalu memegang kedua tangan Dini dan mendaratkan kecupannya di bibir Dini.


Manis dan dingin, itulah yang Dini rasakan saat itu. Kecupan singkat itu lalu berlanjut lebih dalam sampai tiba tiba pintu terbuka, membuat Dini kembali mendorong tubuh Dimas dan berlari keluar begitu saja.


Ia benar benar sangat malu. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu tampak memalukan di depan Yoga.


"oke, tenang Din, kamu nggak akan ketemu kak Yoga lagi, kalian nggak akan sering ketemu, jadi kalau suatu saat kalian ketemu, pasti kak Yoga udah lupa kejadian tadi, iya kan? iya pastinya," batin Dini berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Kamu bikin aku kaget!" ucap Dini.


"Kamu kenapa lari?" tanya Dimas.


"Aku..... aku....."


CUUPPP


Dimas mendaratkan kecupan singkatnya di pipi Dini, membuat Dini dengan cepat memukul Dimas.


"Eheemmm!!" deheman Yoga membuat Dini seketika menoleh ke arah belakangnya.


Yoga lalu berjalan di samping Dini. Yoga, Dini dan Dimas masuk ke dalam lift bertiga, membuat Dini semakin malu karena harus bertemu Yoga lagi.


"Santai aja Din, gue juga masih muda kok," ucap Yoga yang hanya dibalas senyum tipis oleh Dini. Ia benar benar malu.


"Lo jangan bikin cewek gue malu dong," ucap Dimas sambil menutup wajah Dini dengan tangannya.


"Hahaha..... oke oke...."


Setelah mereka turun, mereka segera berpisah. Dimas dan Dini segera pulang, sedangkan Yoga pergi ke mini market yang tak jauh dari apartemennya.


**


Di tempat lain, Adit masih berada di rumah sakit. Ia mengingat dengan baik ucapan Dokter padanya beberapa waktu yang lalu.


"ibu dan janinnya baik baik saja, namun jika terlalu sering pendarahan bisa mengakibatkan keguguran, jadi saya harap sang ibu bisa menjaga kesehatannya lebih baik lagi, terutama menghilangkan stres yang menjadi penyebab utama pendarahan ini,"


Adit mengacak acak rambutnya kasar. Ia ingin membalas perbuatan Dave pada Ana, namun Ana melarangnya. Sekarang ia hanya bisa berusaha menjaga Ana agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Lagi lagi malam itu ia tidak tidur, ia duduk di samping ranjang Ana dengan hanya memperhatikan Ana.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Adit masih terjaga. Adit sengaja meminta ruangan VIP agar ia bisa menemani Ana selama yang ia mau.


Tiba tiba Ana mengerjap dan terbangun.


"Masih malem An, kamu tidur aja lagi," ucap Adit dengan mengusap rambut Ana.


"Gue mau minum," ucap Ana.


Adit lalu membantu Ana untuk duduk dan bersandar, lalu mengambilkannya minum.

__ADS_1


"Selama beberapa hari ini kamu belum bisa pulang, kesehatan kamu dan janin kamu masih lemah, jadi kamu....."


"Gue nggak menginginkan janin ini ada di perut gue Dit, apa lagi di hidup gue!"


"Aku tau An, tapi dia udah ada di sana, dia hidup dan tumbuh di rahim kamu."


Adit lalu menarik tangan Ana dan menempelkannya di perut Ana.


"Dia ada di sini An, apa yang kamu lakukan sama Dave emang salah, tapi janin ini nggak bersalah, Tuhan udah kasih kamu kepercayaan buat jaga dia, jadi aku mohon jangan kamu sia siakan pemberian Tuhan yang sangat berharga ini," ucap Adit.


"Gue belum siap Dit, gue nggak mau anak gue lahir tanpa ayah, gue juga belum siap nerima cacian dan hinaan orang orang di luar sana!"


"Kita pikirkan itu nanti An, sekarang kamu harus jaga kesehatan kamu dan jangan berpikir tentang apapun yang bikin kamu stres, kamu berhak bahagia An, dia juga," ucap Adit dengan menyentuh perut Ana di akhir kalimatnya.


"Tapi gue mohon sama lo, jangan usik Dave, gue udah lupain dia, gue nggak mau denger namanya lagi di hidup gue!" ucap Ana memohon dengan menatap ke dalam mata Adit.


"dari tatapan mata kamu, aku tau kamu sungguh sungguh memohon sama aku, tapi aku juga tau bukan karena kamu bener bener udah lupain dia, tapi karena kamu masih nyimpen rasa sakit itu sendiri," batin Adit dalam hati.


"Kenapa An? kenapa kamu lindungi dia?" tanya Adit.


"Dia tulang punggung satu satunya Dit, ibunya dirawat di rumah sakit, dia juga punya banyak adik adik yang masih sekolah dan dia..... dia juga punya istri yang bentar lagi melahirkan," ucap Ana dengan menahan sesak di dadanya.


"Istri?"


Ana mengangguk pelan dengan air mata yang menggenang di kedua sudut matanya. Ia tidak ingin menangis namun fakta yang sangat menyakitkan itu membuat air matanya tumpah.


Adit lalu berdiri dan membawa Ana dalam dekapannya.


"Kalau itu yang kamu mau, aku nggak akan ganggu dia lagi, tapi aku akan pastiin kalau dia nggak akan datang lagi di hidup kamu," ucap Adit.


Setelah Ana lebih tenang, ia lalu kembali berbaring dan tertidur. Sedangkan Adit segera menghubungi seseorang.


"Tolong carikan saya rumah di daerah X, secepatnya!"


"Maaf pak, di daerah X masih sangat sepi karena lingkungannya baru terbentuk, pak Adit yakin mau mencari rumah di daerah sana?"


"Iya, carikan secepatnya, isi dengan semua keperluan rumah tangga dan furniture yang lengkap!"


"Baik pak, akan segera saya lalukan."


"Oh ya satu lagi, saya butuh dua anak buah kamu untuk menjadi supir pribadi dan penjaga rumah itu, bisa?"


"Bisa pak, bisa."


"Oke, cepat kabari saya jika semuanya sudah siap!"


"Baik pak."


Adit lalu mengakhiri panggilannya dan membaringkan kepalanya di ranjang Ana sampai ia tertidur.


**


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, namun Adit masih tertidur di samping Ana. Ana yang baru bangun pun segera membangunkan Adit.


"Dit, bangun!" ucap Ana pelan yang langsung membuat Adit terbangun.


"Iya, ada apa? mau minum?" tanya Adit.


"Lo nggak kerja?"


Adit lalu mengangkat tangan kirinya dan melihat jam di tangannya.


"Setengah 7?" pekik Adit lalu berdiri dari duduknya dan segera keluar dari ruangan Ana.


Beberapa detik kemudian ia kembali masuk ke ruangan Ana.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Hubungin aku kalau ada apa apa, kita selesaiin semuanya sama sama, jangan menyerah jangan putus asa, semuanya akan baik baik aja," ucap Adit sambil mengecup kening Ana lalu keluar dari ruangan Ana, meninggalkan Ana yang masih terbengong di ranjangnya.


Tak lupa Adit meminta seseorang untuk berjaga di depan ruangan Ana. Ia harus memastikan tidak akan ada siapapun yang dapat mengganggu Ana lagi.


Adit lalu segera mengendarai mobilnya ke arah kantor tanpa mandi dan berganti pakaian. Beruntung di dalam mobilnya ada kemeja dan jas yang selalu ia siapkan untuk keadaan darurat seperti saat itu.


Adit lalu berganti pakaian di dalam mobil saat ia sudah berada di tempat parkir perusahaannya.


"Bener bener contoh yang buruk!" ucap Adit kesal pada dirinya sendiri.


Ia lalu menghubungi Rudi, meminta Rudi untuk membelikannya minyak rambut dan parfum secepatnya.


5 menit lagi jam akan menunjukkan pukul 7 tepat. Karena tak ingin terlambat, Aditpun memasuki ruangannya dengan penampilan seadanya.


Namun meski begitu, aura ketampanannya masih mampu menghipnotis gadis gadis yang melihatnya.


Adit berusaha tetap percaya diri walau sebenarnya nyalinya sudah menciut sejak tadi.


Tak lama setelah ia duduk di meja kerjanya, Rudi datang sebelum Dini memberikan jadwal harian Adit.


"Terima kasih Rud!"


"Sama sama pak, saya permisi!"

__ADS_1


Setelah Rudi pergi, Dinipun masuk ke ruangan Adit yang sudah dipenuhi dengan bau parfum milik Adit.


"bau parfumnya kayak Andi kalau lagi nggak mandi, parfum satu botol langsung diabisin," batin Dini dalam hati.


__ADS_2