
Malam itu, Dimas masih berada di rumah Chelsea. Undangan makan malam yang dengan terpaksa ia hadiri ternyata merupakan sebuah jebakan dari Chelsea yang bekerja sama dengan orangtuanya.
Bagi Dimas, ucapan papa Chelsea padanya seperti bukan sebuah penawaran, melainkan cara licik yang Chelsea minta dari sang papa agar bisa dekat dengan Dimas.
Sama sekali tak pernah terpikirkan jika ia akan melakukan hal kotor untuk membuatnya mencapai apa yang ia inginkan. Selama ini, mama dan papanya mendidiknya dengan sangat baik. Jika saja sang papa mau, Dimas pasti sudah berada di perusahaan utama dengan posisi yang diinginkan banyak orang di sana.
Namun itu bukanlah cara seorang Pak Tama mendidik anak satu satunya. Ia sengaja menaruh Dimas di perusahaan cabang dan menempatkannya sebagai karyawan biasa agar Dimas bisa belajar dari bawah.
Papa Dimas percaya jika pengetahuan yang Dimas miliki sudah lebih dari cukup untuk memimpin perusahaan, namun pengalaman juga harus berjalan seimbang dengan pengetahuan yang Dimas miliki agar perusahaan tidak pincang.
Itu sebabnya Dimas harus memulai semuanya dari bawah dan ia akan buktikan pada semua orang jika ia bisa berdiri tanpa nama sang papa. Ia memang akan menggantikan posisi sang papa, namun bukan berarti ia berada di posisi itu hanya karena ia anak satu satunya Adhitama, melainkan karena ia memiliki kemampuan yang pantas untuk membuatnya berada di posisi itu.
Dengan tekad kuat yang ia miliki itu, ia tidak akan mudah goyah, apalagi oleh penawaran yang papa Chelsea ajukan.
"Maaf om, Dimas sudah punya tunangan," ucap Dimas tegas.
"Nggak ada yang tau kamu punya tunangan Dimas, kamu juga akan diuntungkan dengan berita kedekatan kita nanti," sahut Chelsea.
"Chelsea benar, lagian ini hanya sementara, bukannya setelah kamu mencapai posisi yang ditargetkan papa kamu, kamu akan pindah ke perusahaan utama? itu artinya hubungan kalian juga akan selesai ketika kamu pindah nanti," ucap Hermawan.
"Maaf om, Dimas yakin sama kemampuan Dimas sendiri, terima kasih atas tawarannya."
"Sudah sudah, kita makan malam dulu, keburu dingin," sahut mama Chelsea yang melihat situasi tampak tegang.
"Ayo Dimas, makan yang banyak, om sama tante sengaja siapin semua ini buat menyambut kedatangan kamu," ucap papa Chelsea.
"Terima kasih," balas Dimas.
Mereka lalu menikmati makan malam mereka dengan tenang. Meski tampak tenang, namun hati Dimas begitu resah, ia ingin segera pergi dari jebakan yang sudah Chelsea buat untuknya.
Setelah makan malam selesai, mereka masih mengobrol di ruang makan.
"Pikirkan baik baik tawaran om tadi Dimas," ucap papa Chelsea.
"Keputusan Dimas sudah bulat om, Dimas tidak akan menerima tawaran itu," balas Dimas yakin.
"Dan kamu Chels, kalau kamu memang perempuan baik baik seharusnya kamu tau apa yang kamu lakukan itu salah, Dimas permisi om tante," ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
"Dimas, tunggu!" teriak Chelsea dengan mengejar Dimas, namun Dimas tidak peduli.
Dimas mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Dimas buka Dimas, kita harus ngobrol dulu!" ucap Chelsea dengan menggedor gedor kaca pintu mobil Dimas, namun Dimas tak peduli, ia melajukan mobilnya begitu saja meninggalkan rumah Chelsea.
Chelsea yang masih berdiri di tempatnya hanya menendang nendang angin karena kesal.
"Sudah sayang, ayo masuk!" ajak sang mama.
"Ini semua gara gara papa!" teriak Chelsea kesal pada sang papa.
Chelsea lalu berlari ke arah papanya dan berteriak pada sang papa.
"Ini semua karena ide bodoh papa!"
"Jaga ucapan kamu Chelsea, papa melakukan ini karena papa tau kamu suka sama dia!"
"Tapi Dimas sekarang jadi anggap Chelsea cewek murahan Pa, gimana kalau Dimas ngadu ke om Tama tentang tawaran papa tadi? papa bisa dipecat sama om Tama!"
"Tenang sayang, papa tau gimana Dimas dan keluarganya, mereka nggak akan lakuin itu, kamu tenang aja!"
"Nggak tau ah, Chelsea kesel sama papa!" ucap Chelsea lalu berlari masuk ke kamarnya.
**
Malam semakin larut, Dimas sudah tiba di apartemennya dan sedang merebahkan badannya di ranjang.
Ia lalu mengirim pesan pada Dini, sekedar memastikan apakah kekasihnya sudah tertidur atau belum.
Sayang, udah tidur?
Tak ada jawaban, namun tiba tiba sebuah panggilan video memanggilnya. Ia pun segera menerimanya dan tersenyum bahagia melihat wajah kekasihnya yang saat itu berada jauh darinya.
"Kamu belum tidur?" tanya Dimas.
"Belum, aku nunggu kamu pulang," jawab Dini.
"Kenapa? kamu takut aku pulang terlalu malem?"
"Enggak, cuma mau denger cerita kamu aja!"
"Cerita apa?"
"Tentang makan malam kamu sama model cantik itu," jawab Dini dengan memanyunkan bibirnya.
"Emangnya dia model cantik?" balas Dimas bertanya.
__ADS_1
"Iya dong, cowok mana yang bisa nolak kecantikan Chelsea!"
"Cowok ini, dia sama sekali nggak tergoda sama Chelsea," balas Dimas sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa bisa gitu?"
"Karena cowok ini udah punya tunangan, udah ada yang nempati hatinya dan nggak ada ruang lagi untuk perempuan lain selain mama dan tunangannya," jawab Dimas yang membuat Dini tersipu.
"Tunangan kamu pasti beruntung banget ya punya kamu," balas Dini.
"Harusnya iya, tapi aku nggak tau dia beruntung karena punya aku atau karena punya sahabat yang selalu ada di sampingnya," ucap Dimas dengan tersenyum tipis.
"Kok kamu bilang gitu sih?"
"Bercanda sayang hehe....."
"Nggak lucu," balas Dini dengan raut wajah kesal.
"Semakin kamu kesel, semakin aku pingin cium kamu!" ucap Dimas yang lagi lagi berhasil membuat Dini tersipu.
"Ya udah sana tidur, aku tunggu kamu di mimpi ya!"
"Iya sayang, kamu juga tidur ya!"
"Iya, tapi kamu beneran tidur kan?"
"Enggak, hehe...."
"Tuh kan, kamu mau kemana lagi? mau ngapain lagi?"
"Ada yang harus aku kerjain sayang, deadline nya masih akhir bulan, tapi aku harus kerjain sekarang karena ini cukup rumit," jelas Dimas.
"Kamu ngerjain apa?"
"Aku dipilih buat jadi salah satu kandidat yang bikin materi meeting buat meeting antar Divisi bulan depan, kalau materi ku berhasil dipilih buat presentasi dan hasil presentasi ku bagus, aku bisa dapat promosi buat jadi manajer Divisi, jadi aku harus persiapin semuanya sebaik mungkin karena lawanku mereka yang udah jauh lebih berpengalaman," jelas Dimas.
"Waaahh, keren, baru beberapa bulan kamu udah dapet kesempatan sebagus itu, aku yakin semua itu pasti karena kemampuan kamu yang emang seharusnya ada di posisi paling atas di sana," balas Dini dengan memberikan tepuk tangan kecil.
"makasih sayang, makasih udah percaya sama kemampuan dan keyakinan ku," batin Dimas dalam hati.
"Tapi kamu tetep harus jaga kesehatan Dimas, aku disini selalu berdo'a buat kamu," lanjut Dini.
"Makasih sayang, kamu tidur dulu aja biar besok nggak kesiangan!"
"Oke, semangaaattt!!!"
"Love you too!"
Klik. Sambungan panggilan video berakhir. Dimas lalu membuka laptopnya dan mengambil beberapa berkas yang ada di dalam tas kerjanya. Ia pun mulai sibuk dengan pekerjaannya.
**
Waktu berlalu, hari berganti.
Di hari Minggu itu Dini datang ke rumah sakit seorang diri. Di sana sudah ada Adit dan sang mama, ayah dan ibu Andi. Hari itu adalah hari dimana Andi sudah diperbolehkan untuk pulang oleh Dokter.
Semua tampak bahagia meski Dini tau banyak kekhawatiran dalam hati mereka. Ayah dan ibu Andi yang khawatir jika Andi akan meninggalkan mereka. Adit dan sang mama yang khawatir jika mereka akan kembali jauh dengan Andi.
"Kamu sudah siap Ndi?" tanya Dini sebelum ia membawa Andi keluar.
"Aku akan hadapi semua ini Din, aku yakin aku bisa!"
"Bagus, udah ada keluarga kamu yang nunggu kamu di luar, nggak cuma ayah dan ibu kamu, ada kak Adit sama mama Siska juga," ucap Dini.
Andi hanya diam, ia sudah mengira jika mereka semua akan datang bersama.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Nih!" ucap Dini sambil memberikan ponselnya pada Andi
"Kenapa aku?"
"Angkat aja!"
Andi lalu menggeser tanda panah hijau dan menempelkan ponsel Dini di telinganya.
"Halo Dim!"
"Halo Ndi, gue denger dari Andini lo udah bisa pulang hari ini?"
"Iya, gue pulang hari ini."
"Sorry Ndi gue nggak bisa ikut anter lo pulang, kerjaan gue numpuk!"
__ADS_1
"It's okay Dim, banyak yang nganter gue pulang kok!"
"Baguslah kalau gitu, sehat sehat terus ya Ndi, habisin waktu sepuas lo buat balikin kesehatan lo sebelum balik ke home store!"
"Oke Dim, lo jangan terlalu sibuk, kasian Dini kesepian tiap hari hehe....."
"Tenang aja, kita sama sama ngerti kesibukan masing masing kok!"
"Ya udah lanjutin kerjaan lo, gue udah mau pulang sekarang!"
"Oke, take care Ndi!"
Klik. Sambungan berakhir.
"Kamu bilang Dimas kalau aku pulang hari ini?" tanya Andi pada Dini.
"Iya, tapi dia lagi sibuk banget jadi nggak bisa kesini!"
"Tunangan kamu itu emang raja sibuk!"
"Nggak papa, dia sibuk juga buat aku hehe...."
Setelah membereskan barang barang Andi, merekapun keluar. Dengan senyum mengembang di bibirnya, Dini menggandeng tangan Andi untuk diajak keluar dari ruangannya. Ia sengaja melakukan hal itu agar ibu Andi dan mama Siska tidak berebut untuk menggandeng Andi
Mereka semua menaiki satu mobil yang sama, yaitu mobil milik mama Siska.
Adit duduk di belakang kemudi bersama sang mama yang duduk di sampingnya. Andi dan Dini duduk di baris tengah, sedangkan ayah dan ibu Andi berada di belakang.
Ada sedikit kesedihan dalam hati mama Siska ketika mobil melaju ke arah rumah Andi. Ia sangat berharap jika Andi akan memilih untuk tinggal bersamanya. Namun ia sudah berjanji untuk menyerahkan semua keputusan pada Andi, ia tidak akan memaksa Andi untuk ikut bersamanya meski ia sangat menginginkan hal itu.
Sesampainya di rumah Andi, Dini segera mengantar Andi masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya setelah ia keluar. Karena Andi yang ingin beristirahat seorang diri di kamar, mama Siska, Adit, ibu dan ayah Andi berada di ruang tamu bersama Dini. Mereka tampak canggung.
"Om tante, mama sama Adit boleh kan main ke sini setiap hari?" tanya Adit.
"Boleh, silakan," jawab ayah Andi.
"Mbak, saya sangat berterima kasih karena sudah menjaga dan merawat Andi dengan baik, apapun yang saya lakukan mungkin nggak akan bisa membalas kebaikan kalian, tapi saya benar benar ingin Andi tinggal sama saya, saya...."
"Ma," ucap Adit sambil menggenggam tangan sang mama.
Mama Siska lalu menghentikan ucapannya. Ia tau ia sudah berjanji untuk tidak memaksa Andi, namun hatinya sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk bisa tinggal bersama sang anak yang sudah lama ia cari.
"Kami tidak akan menahan Andi jika dia memang ingin pergi dari sini, tapi keputusan tetap ada di tangan Andi, biarkan dia sendiri yang memilih kemana dia akan tinggal," ucap ayah Andi.
"Terima kasih om tante, Adit sama mama pamit dulu," ucap Adit sambil sedikit menarik tangan sang mama yang seolah enggan meninggalkan tempat itu.
Adit lalu membawa sang mama masuk ke dalam mobil. Saat Adit hendak membuka pintu untuknya sendiri, Dini menahan tangan Adit.
"Apa mama akan baik baik aja kak?" tanya Dini pelan.
Adit hanya menggeleng pelan, lalu membuka pintu mobilnya dan meninggalkan rumah Andi bersama sang mama.
Dini masih berdiri di tempatnya, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Adit saat mama Siska sedang emosi.
Dini lalu memutuskan untuk mengikuti Adit ke rumah mama Siska.
Sesampainya di sana, ia sempat di cegah masuk oleh satpam rumah mama Siska. Beruntung, saat itu ada salah seorang ART yang mengenali Dini dan memperbolehkan Dini untuk masuk.
"Mbak Dini tolong tunggu di luar sebentar ya mbak, keadaan ibu lagi nggak baik, nanti kalau sudah membaik pasti pak Adit keluar," ucap sang ART yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Namun saat ART itu masuk, Dini diam diam melangkah masuk ke dalam rumah dan mendengar suara teriakan mama Siska dari salah satu kamar.
Dinipun segera menuju ke kamar itu dan begitu tercengang melihat Adit yang sudah terkapar di lantai dengan darah yang menggenang di bawah kepalanya. Sedangkan mama Siska tampak terduduk di sudut ruangan dengan membawa lampu hias yang sudah pecah tak berbentuk dengan bekas darah di beberapa bagiannya.
Dinipun segera berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada di rumah itu.
Tak lama kemudian penjaga mama Siska datang dengan membawa sebuah jarum suntik dan langsung menyuntikkannya pada mama Siska yang hanya diam di sudut kamarnya.
Bersamaan dengan itu, Pak Lukman datang dan segera membawa Adit masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
"Kak Adit bangun kak, Dini yakin kak Adit kuat, Dini mohon bangun kak," ucap Dini yang berada di kursi belakang bersama Adit yang masih terpejam.
"Pak Lukman tolong lebih cepat pak!" ucap Dini dengan terisak.
Tanpa banyak bicara Pak Lukman menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.
"Kak Adit jangan bikin Dini takut, kak Adit harus bangun, kak Adit harus jadi kakak yang baik buat Andi," ucap Dini dengan menggengam tangan Adit.
**
Di sisi lain. Ana yang sedang memotong apel bersama Lisa tiba tiba jarinya terkena pisau dan berdarah.
"Aaaww!!" pekik Ana.
"Ya ampun mbak Ana kenapa? Lisa ambilin kotak P3K mbak!"
__ADS_1
Ana lalu mengusap darah di jarinya dengan tissue di hadapannya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Adit. Entah kenapa ia tiba tiba khawatir pada Adit.
Sampai 5 panggilan tak ada satupun jawaban dari Adit, membuat Ana semakin khawatir.