Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Bulan masih menggelayut di langit malam, ditemani taburan bintang yang berkelip indah.


Malam itu, Andi masih berada di kamar Aletta. Entah kenapa kebersamaan mereka yang hanya berdua membuat mereka tiba tiba merasa canggung.


Ditambah dengan pelukan Aletta yang tiba tiba membuat Andi semakin tidak bisa mengendalikan situasi saat itu.


"Aku..... akan temukan kebahagiaan kamu Ndi."


Andi lalu meregangkan tangannya dan membalas pelukan Aletta. Ia sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan gadis yang pernah mengisi hari hari indahnya.


Meski ia tidak bisa memberikan hatinya pada Aletta, pada kenyataannya Aletta masih menjadi seseorang yang selalu memberikan Andi kebahagiaan, membuat Andi menepikan sejenak luka dalam hatinya.


"Maaf karena aku pernah menyakiti kamu Ta," ucap Andi yang masih memeluk Aletta.


Aletta hanya diam mendekap Andi penuh kehangatan. Meski ia tidak mengharapkan apapun pada Andi, nyatanya hatinya merasa bahagia dan nyaman berada dalam pelukan Andi.


Aletta lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi, menatap laki laki di hadapannya dengan penuh rasa bahagia.


Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya Andi keluar dari kamar Aletta.


Andi masuk ke kamarnya, merebahkan badannya di ranjang dan memejamkan matanya.


Ia tersenyum tipis saat mengingat Aletta yang tiba tiba mencium pipinya, sampai akhirnya malam membawanya terbang bersama mimpi indahnya.


Waktu berlalu, pagi kembali menyapa dengan sinar hangatnya.


Andi sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya bersama Aletta ke pantai yang ada di dekat hotel tempat mereka menginap.


Andi lalu menjemput Aletta dan berjalan menyusuri trotoar untuk sampai di pantai bersama Aletta.


Mereka berjalan di atas hamparan pasir putih di tepi pantai, mereka bergandengan tangan dan berlarian bersama di bawah kehangatan sinar mentari.


Sesekali mereka bermain air di bibir pantai, membasahi kaki mereka dengan sapuan ombak yang menyentuh kaki mereka.


Kebahagiaan terlihat dari raut wajah keduanya. Meski mereka memiliki perasaan yang berbeda, mereka masih bisa tertawa bahagia.


"Aku capek!" ucap Aletta sambil menjatuhkan dirinya di atas pasir pantai yang kering.


"Hahaha.... masak gini aja udah capek!" ledek Andi.


Aletta lalu menatap tajam ke arah Andi, membuat Andi segera berlari meninggalkan Aletta.


Aletta pun mengejar Andi, namun tiba tiba Aletta berhenti terdiam di tempatnya berdiri.


"Kenapa? tenaga kamu habis?" tanya Andi dengan berjalan mundur beberapa langkah sampai akhirnya ia tidak sengaja menabrak seseorang.


Andi segera berbalik dan meminta maaf pada seseorang yang sudah terjatuh karena tertabrak olehnya.


"Maaf, saya....."


Andi mengentikan ucapannya saat melihat siapa yang terjatuh di hadapannya.


"Anita!"


Andi lalu membantu Anita untuk berdiri dan membersihkan pasir yang masih menempel di tangan Anita.


Andi tersenyum senang lalu memeluk Anita dengan erat.


"Kamu kemana aja Nit? kenapa kamu nggak pernah kabarin aku?" tanya Andi yang masih memeluk Anita dengan erat.


Anita hanya diam lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


"Kamu udah sembuh? kamu udah bisa jalan?"


Anita hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Untuk beberapa saat, Andi melupakan keberadaan Aletta di sana.


"Kamu sendirian?" tanya Anita pada Andi.


"Aku sama A......"


Andi menghentikan ucapannya saat ia menyadari Aletta sudah tidak ada di belakangnya.


Matanya berkeliling mencari keberadaan Aletta, namun ia tidak menemukannya.


"Sama siapa?" tanya Anita mengulangi pertanyaannya.


"Sama Aletta, tapi dia nggak tau kemana," jawab Andi.


"Ikut aku Nit, banyak yang mau aku tanyain sama kamu!" ucap Andi lalu menarik tangan Anita, membawanya ke arah kafe yang berada dekat dengan pantai.


Setelah banyak mengobrol Andi akhirnya tau jika selama ini Anita dan sang papa tinggal di Bali.


Anita menjalani terapi dan perawatan selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia bisa kembali berjalan dengan normal.


Tanpa Andi tau, Aletta sengaja pergi saat Andi memeluk Anita. Ia tidak ingin menyakiti hatinya sendiri dengan melihat kedekatan Andi dan Anita, mengingat Anita adalah masa lalu yang sempat dekat dengan Andi jauh sebelum dirinya mengenal Andi.


Biiiiiippp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Aletta berdering, sebuah panggilan dari teman kerjanya.


"Halo, kenapa?"


"Lo dimana Al? lo harus cepet ke kantor sekarang, darurat!"


"Lo gila? gue kan lagi cuti!"


"Cepetan balik Al, ini masalah gawat banget, bos udah ngamuk banget, lo nggak lagi di luar negeri kan?"


"Gue di Bali!"


"Good, sekarang cepetan siapin barang lo, gue pesenin tiket lo sekarang, okay?"

__ADS_1


"Eh.... tapi....."


Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt


Panggilan berkahir. Aletta mendengus kesal lalu segera beranjak dari duduknya.


Sebelumnya ia sudah diperingatkan untuk tidak pergi ke luar negeri selama cuti, karena bisa jadi ada panggilan mendadak yang mengharuskan Aletta untuk segera kembali ke kantor.


Pada akhirnya ia dan Andipun memutuskan untuk pergi ke Bali dan benar saja, ia harus merelakan liburannya berakhir lebih cepat dari yang seharusnya.


Aletta berjalan kembali ke hotel sambil menghubungi Andi, namun sudah beberapa kali Aletta mencoba, Andi tidak pernah menerima panggilannya.


"Apa kamu sesibuk itu sampe nggak bisa jawab panggilanku? apa dia sepenting itu sampe nggak ada yang bisa ganggu kamu?" gerutu Aletta kesal.


Aletta lalu mengemasi barang barangnya saat ia sudah sampai di kamarnya dan bersiap untuk segera pergi ke bandara.


Saat baru saja keluar dari kamar, Aletta bertemu Dimas dan Dini.


"Aletta, kamu di sini juga?" tanya Dini yang terkejut karena melihat Aletta.


"Hai Din, Dim, iya aku di sini dari kemarin, kalian juga?"


"Iya, kita juga dari kemarin di sini, kamu sama siapa di sini?"


"Aku sama Andi," jawab Aletta.


"Sama Andi? berdua?" tanya Dimas.


"Iya, tapi kita beda kamar," jawab Aletta.


"Terus ini kamu mau kemana? kenapa bawa koper?" tanya Dini.


"Aku harus balik sekarang, ada masalah darurat di kantor," jawab Aletta.


Sebelum ia benar benar meninggalkan hotel, ia berpesan pada Dimas dan Dini.


"Kalau kalian liat Andi, tolong kasih tau dia ya kalau aku balik duluan karena masalah kantor, aku udah hubungin dia tapi nggak bisa," ucap Aletta pada Dini dan Dimas.


"Oke," balas Dini dan Dimas bersamaan.


Dini dan Dimaspun berjalan dengan bergandengan tangan ke arah pantai yang ada di dekat hotel setelah Aletta pergi dengan menggunakan taksi.


"Aku harap kita bisa bener bener satu Minggu di sini tanpa ada gangguan dari kantor," ucap Dini.


"Papa sama asisten aku udah handle semuanya sayang, tenang aja!" balas Dimas.


Dini menganggukkan kepalanya lalu mengajak Dimas berlari mendekat ke arah bibir pantai.


Namun tiba tiba Dimas menarik tangan Dini, membuat Dini menghentikan langkahnya.


"Itu Andi kan? sama Anita?" tanya Dimas yang membuat Dini segera membawa pandangannya ke arah mata Dimas memandang.


"Iya, apa dia nggak tau kalau Aletta udah pergi?"


"Lo cari apa?" tanya Dimas yang membuat Andi dan Anita begitu terkejut.


"Lo di sini? jangan bilang kalian lagi honey moon di sini!"


"Emang iya, lo bukannya ke sini sama Aletta?"


"Iya, tapi dia tiba tiba ngilang nggak tau kemana!" jawab Andi.


"Hai Dini, Dimas!" sapa Anita yang hanya dibalas senyum oleh Dini dan anggukan kepala oleh Dimas.


"Bantuin dong, gue lagi cari hp gue nih!" ucap Andi pada Dimas.


"Hp kamu hilang?" tanya Dini.


"Iya, baru sadar juga kalau hp ku nggak ada di saku," jawab Andi.


"Pantesan Aletta nggak bisa hubungi kamu, dia tadi bilang sama aku kalau dia mau balik ke kantor, ada masalah di kantor katanya," ucap Dini.


"Balik ke kantor? kapan?"


"Baru aja dia pergi ke bandara," jawab Dini.


Mendengar jawaban Dini, Andi segera berlari meninggalkan pantai dan mencari taksi yang bisa membawanya ke bandara.


Ia merasa bersalah karena sempat mengabaikan Aletta saat ia bertemu Anita di pantai tadi.


Sesampainya di bandara, beruntung ia bisa menemukan Aletta dengan cepat. Ia lalu berlari ke arah Aletta.


"Andi, kamu ngapain ke sini?" tanya Aletta yang terkejut melihat kedatangan Andi.


"Kamu pergi sekarang?" balas Andi bertanya.


"Ada masalah di kantor, aku harus balik dulu, nggak papa kan?"


"Apa nggak bisa di selesaiin besok?"


"Nggak bisa Ndi, ini masalah besar dan harus cepet diselesaiin, lagian kan udah ada Anita yang nemenin kamu di sini."


Andi lalu melangkah mendekat ke arah Aletta dan memeluk Aletta.


"Aku minta maaf Ta," ucap Andi.


"Aku harus pergi Ndi," ucap Aletta dengan melepaskan dirinya dari pelukan Andi, namun Andi masih menahannya.


"Kamu harus janji jangan pergi tiba tiba, kita harus ketemu sebelum kamu pergi, kamu bisa janji?"


"Iya, aku janji," balas Aletta lalu kembali melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


Andi terdiam di tempatnya berdiri melihat Aletta yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.

__ADS_1


Setelah Aletta sudah tak terlihat lagi, Andi pun membawa langkahnya meninggalkan bandara.


Ia kembali ke pantai untuk melanjutkan mencari ponselnya.


Meskipun ia senang bisa bertemu Anita, tapi mood berliburnya sudah hilang karena Aletta yang tiba tiba harus pergi.


Andipun memutuskan untuk kembali pulang setelah ia menemukan ponselnya.


"Andi!" panggil Anita yang saat itu sedang duduk bersama Dini dan Dimas.


Andi lalu menghampiri mereka dan duduk diantara mereka bertiga.


"Ini kan hp kamu?" tanya Anita sambil memberikan sebuah ponsel pada Andi.


"Iya, ini punya ku, kamu temuin dimana Nit?"


"Di tempat kamu nabrak aku tadi, untung aja belum ada yang ngambil," jawab Anita.


"Makasih Nit!" ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Anita.


Mereka lalu mengobrolkan banyak hal. Terlihat Dini dan Dimas sudah lebih santai mengobrol bersama Anita.


Meski terlihat menyenangkan, jauh di dalam hatinya Andi merasa tidak nyaman, ia ingin segera meninggalkan tempat itu.


Waktu berlalu, Andi sudah berada di kamarnya setelah menghabiskan waktu bersama Dini dan Dimas.


Ia ingat bagaimana Dini terlihat bahagia bersama Dimas. Ia yakin keputusannya untuk merelakan Dini bersama Dimas adalah keputusan yang terbaik.


"Kamu udah ngelakuin yang terbaik yang bisa kamu lakukan Ndi, jangan kecewa dan menyesal atas apa yang udah terjadi karena keputusan kamu, kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu, kamu harus bisa bangkit dan temukan kebahagiaan sejati kamu!"


Ucapan Aletta kembali terngiang di kepala Andi, membuat Andi kembali bersemangat untuk melanjutkan hari harinya.


Andi lalu mengemasi barang barangnya, rencana liburan yang seharusnya berlangsung selama 5 hari harus berkahir tak sesuai rencana karena kepergian Aletta.


Andi membawa kopernya ke arah resepsionis untuk cek out, lalu segera pergi ke bandara untuk segera kembali pulang.


Tanpa sengaja, ia bertemu Anita di bandara. Mereka sama sama akan pulang ke kota tempat tinggal mereka saat itu.


**


Waktu berlalu dan hari berganti. Sudah satu Minggu Dini dan Dimas berada di Bali. Kini saatnya mereka kembali ke rumah dan mempersiapkan diri untuk disibukkan dengan pekerjaan kantor.


Tepat saat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Dini dan Dimas sudah sampai di rumah mereka.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dini berdiri di atas balkon dan menatap langit malam yang tak berbintang.


"Kamu pasti udah kangen sama suasana pantai ya!" ucap Dimas dengan memeluk Dini dari belakang.


"Di sini juga menyenangkan kok, selama ada kamu, semua tempat akan jadi lebih indah," balas Dini lalu berbalik dan memeluk Dimas.


"Sekarang kamu harus masuk, angin malam nggak baik sayang," ucap Dimas lalu menggendong Dini meninggalkan balkon.


**


Hari telah berganti, hari bagi Dini dan Dimas untuk kembali berkutat dengan pekerjaan kantor.


Dimas mengerjapkan matanya dan tidak melihat Dini di sampingnya.


Terdengar suara dari balik pintu kamar mandi yang membuat Dimas segera beranjak dari tidurnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dimas dari depan pintu kamar mandi.


Dini tidak menjawab, ia merasa badannya sangat lemas karena sudah berkali kali muntah dari beberapa waktu yang lalu.


"Sayang, buka pintunya," ucap Dimas lalu pada akhirnya membuka pintu kamar mandi tanpa izin dari Dini.


Dini lalu menjatuhkan dirinya pada Dimas karena merasa seluruh tenaganya sudah terkuras pagi itu.


Dimaspun membopong Dini dan membaringkannya di atas ranjang.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya!" ucap Dimas dengan mengecek suhu badan Dini.


"Enggak Dimas, aku cuma mual aja kok," ucap Dini dengan wajahnya yang tampak pucat.


"Aku kasih tau Adit dulu kalau kamu nggak bisa kerja hari ini, kamu harus istirahat di rumah dan tunggu Dokter Aziz datang, oke?"


Dini menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Dimas lalu keluar dari kamar, meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan Dini bubur.


"Tolong buatkan Andini bubur ya Bi, dia lagi nggak enak badan," ucap Dimas.


"Waaahh, apa jangan jangan ibu lagi hamil muda?"


"Hamil?"


"Iya, apa Bu Dini muntah muntah pagi ini?"


"Iya, dia muntah muntah sampai pucet wajahnya," balas Dimas.


"Waaahh, nggak salah lagi itu," ucap sang asisten rumah tangga dengan senang.


Dimas hanya tersenyum tipis lalu kembali masuk ke kamar. Ia cukup tau bagiamana tanda tanda kehamilan yang sering terjadi, termasuk morning sickness yang sering dibicarakan banyak orang.


"Kenapa kamu senyum senyum gitu?" tanya Dini yang melihat Dimas tersenyum.


"Nggak papa, kamu harus jaga kesehatan kamu ya sayang, jangan terlalu capek!"


Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.


"Dokter Aziz nggak bisa kesini pagi ini sayang, mungkin nanti siang, nggak papa kan?"


"Iya, nggak papa," balas Dini.

__ADS_1


__ADS_2