
Adit masih mengendarai mobilnya tanpa arah. Ia hanya mengikuti kemana hatinya membawa. Berkali kali ia memukul setir mobilnya karena kesal pada dirinya sendiri.
Adit, mungkin saat kamu baca surat ini aku udah nggak ada di rumah ini. Terima kasih Dit, makasih atas semua kebaikan kamu selama ini. Maaf karena aku tiba tiba pergi.
Adit, aku sangat bersyukur karena Tuhan sudah mempertemukan kita. Tapi dengan memiliki hubungan yang lebih dari teman, rasanya itu berlebihan.
Adit yang aku kenal adalah sosok sempurna seorang laki laki, sedangkan aku hanya perempuan yang bahkan nggak bisa jaga harkat dan martabatnya dengan baik.
Kamu laki laki yang baik Dit, aku yakin kamu akan dapatkan perempuan yang baik juga.
Semakin lama aku sama kamu, ada sebuah kenyamanan yang aku rasain. Aku takut rasa nyaman ini akan berubah jadi rasa yang nggak bisa aku kendalikan. Karena aku tau kita berbeda, aku memilih pergi sebelum rasa ini semakin mengakar dengan kuat dalam hatiku.
Jangan cari aku, jangan khawatirkan aku Dit, aku baik baik aja. Anak dalam kandunganku adalah kekuatan terbesar ku saat ini. Aku akan jaga dia dengan baik, aku akan rawat dia dan membesarkannya dengan penuh cinta.
Jika saatnya nanti tiba, aku akan ganti semua yang udah kamu kasih buat aku. Jadi tolong kasih aku waktu buat kembalikan semuanya. Aku nggak mau berhutang banyak sama kamu.
Sekali lagi terima kasih Dit. Terima kasih karena telah menjadi bagian indah dalam hidupku.
"Apa yang mau kamu balikin An? kamu bahkan bawa hati aku pergi!" ucap Adit saat ia mengingat isi surat Ana.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Adit berdering, Adit segera menerima panggilan Candra.
"Halo, ada apa?"
"Saya dapat informasi kalau mbak Ana naik angkot X pak, setau saya angkot X itu tujuannya ke terminal," jawab Candra.
"Oke, saya ke terminal sekarang, kamu cari ke daerah yang dilewati angkot X!"
"Baik pak."
Adit lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke arah terminal. Ia sangat berharap akan menemukan Ana di sana.
Ia berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan membawa Ana kembali padanya. Apapun yang terjadi ia tidak akan menyerah.
Jika ia tidak dapat mendapatkan Ana untuk menjadi miliknya, setidaknya ia harus bisa mempertahankan Ana untuk tetap dalam jangkauannya.
Sesampainya di terminal, Adit segera memarkirkan mobilnya dan berkeliling terminal untuk mencari keberadaan Ana.
Adit lalu membawa langkahnya ke arah bus yang sudah berjejer dan bersiap untuk berangkat.
Adit memasuki bus itu satu per satu untuk menemukan Ana.
Saat ia berada dalam satu bus yang sudah siap untuk berangkat, matanya melihat sosok yang dicarinya sedang berada di dalam bus yang sudah keluar dari jalur dan mendekat ke pintu keluar.
Seketika Adit segera berlari dan masuk ke dalam bus itu. Ia meminta supir bus itu untuk menghentikan busnya.
"Tapi mas....."
"Tolong pak, istri saya lagi hamil, dia ada di bus ini dan akan meninggalkan saya, tolong saya pak!" ucap Adit memohon pada sang supir.
Ana yang saat itu sedang memakai handsfree dan memejamkan matanya tidak menyadari kedatangan Adit.
Adit lalu berjalan ke arah Ana dengan mata berkaca kaca. Hatinya terasa sakit melihat perempuan yang dicintainya itu hampir saja pergi meninggalkannya.
"Ana," panggil Adit.
Ana yang merasakan kehadiran seseorang di dekatnya segera membuka matanya dan begitu terkejut melihat Adit di hadapannya.
Seketika Ana melepas handsfree yang terpasang di telinganya.
"Kita pulang An," ucap Adit dengan suara bergetar.
"Adit, aku....."
"Ntar masukin sosial media lo, biar viral!" ucap seseorang yang sedang merekam apa yang Adit lakukan.
"An, kita pulang sekarang, kita bicarain baik baik semuanya," ucap Adit.
Ana menganggukkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya dengan membawa tas besar miliknya.
Adit lalu mengambil tas yang Ana pegang dan membawanya. Sebelum keluar meninggalkan bus, Adit menghampiri seseorang yang merekam dirinya.
"Hapus!" pinta Adit dengan nada tegas.
"Apaan sih, orang kita cuma mainan hp!" ucap laki laki yang tampak masih duduk di bangku SMP itu.
Adit lalu mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada laki laki yang merekamnya.
__ADS_1
"Hapus!" ucap Adit mengulang kata katanya.
Laki laki itu lalu mengambil uang dari tangan Adit dengan cepat, sedangkan Adit segera merebut ponsel anak laki laki itu lalu menghapus video dirinya.
"Penjara nggak akan cukup untuk kalian kalau sampe video itu tersebar!" ucap Adit lalu pergi meninggalkan anak laki laki itu.
Anak laki laki itu dan temannya hanya diam dengan menundukkan kepalanya tanpa berani mengucapkan apapun.
Sedangkan Adit segera menghampiri Ana yang duduk di kursi tunggu tak jauh dari tempat bus yang bersiap untuk keluar dari terminal.
"An, aku....."
"Kamu jangan salah paham, aku turun bukan karena mau ikut kamu balik, aku cuma nggak mau ada masalah baru kalau kamu bikin keributan di bus!" ucap Ana.
"Ada apa sebenarnya An? apa salahku?"
"Nggak ada yang salah dari kamu Dit, ini pilihanku, aku harus pergi," jawab Ana.
"Kenapa? kenapa kamu harus pergi?"
Ana terdiam. Entah kenapa matanya terasa perih, membuatnya ingin menumpahkan air matanya.
"Aku akan dapat uang dari blog, setelah uang itu terkumpul aku akan ganti semua yang udah kamu kasih buat aku," ucap Ana.
"Semuanya? kamu yakin bisa kasih semuanya? kamu bawa hati ku pergi An, apa kamu bisa kembaliin itu?"
"Tolong kamu mengerti posisi ku Dit, jangan bikin aku berada di posisi yang sulit," ucap Ana yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, namun dengan sigap Ana menghapus air matanya, ia tidak ingin menarik perhatian banyak orang.
"Aku minta maaf kalau menurut kamu aku menaruh kamu di posisi yang sulit, tapi aku mohon kembali ke rumah An, itu rumah kamu," ucap Adit.
"Aku nggak bisa Dit, aku nggak bisa kembali ke sana, aku nggak bisa ketemu kamu lagi, aku nggak bisa."
"Kenapa An? kasih aku alasan!"
"Aku takut Dit, aku takut apa yang aku rasain ini salah, aku takut kalau hati aku akan berharap lebih sama kamu," jawab Ana dengan terisak.
"Apa yang harus kamu takutkan An? aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku udah janji kalau aku akan bikin kamu jatuh cinta sama aku dan saat kamu udah ngerasain hal itu, kenapa kamu harus pergi?"
"Karena dunia kita berbeda Adit, aku sama kamu berbeda, kita nggak bisa sama sama, akan ada banyak masalah buat kamu nantinya dan aku nggak mau hal itu terjadi," jawab Ana.
"Nggak akan ada yang bisa pergi kalau kita saling mencintai An," ucap Adit.
"Kita bisa hadapi semuanya sama sama An, aku nggak akan lepasin kamu, aku nggak akan biarin kamu sendirian, aku akan selalu sama kamu," balas Adit.
"Itu nggak semudah yang kamu ucapkan Dit, kita......"
"Berhenti bilang kita berbeda An, nggak ada yang beda dari kita selama kita memiliki perasaan yang sama, semua perbedaan akan disatukan oleh perasaan itu, kamu harus tau itu!"
Ana hanya diam dengan terisak, ia memegang perutnya yang terasa kram.
"Dia akan jadi anak aku An, aku nggak peduli seperti apa masa lalu kamu, aku yang akan jadi papanya, aku dan kamu yang akan rawat dia dengan cinta dan kasih sayang kita," ucap Adit dengan menyentuh perut Ana.
"Kamu emang bodoh Dit!"
"Aku nggak peduli, aku cuma mau kamu kembali dan jangan pergi lagi," balas Adit.
"Tolong kamu pikirkan hal lainnya Dit, mama kamu, media, perusahaan dan banyak hal lainnya, apa kata mereka kalau mereka tau tentang kamu dan aku," ucap Ana.
"Kita pikirkan nanti, yang penting kita harus pulang dulu, kamu harus istirahat!"
"Enggak, aku nggak mau melangkah lebih jauh saat aku tau banyak halangan di depanku, aku akan berputar dan mencari jalan lain Dit!"
"An, harus berapa kali aku bilang sama kamu, aku sayang dan cinta sama kamu, aku nggak akan lepasin kamu, aku akan selalu ada di samping kamu, jadi apapun yang terjadi nggak akan ada yang bisa merubah hal itu."
"Tapi....."
"Stop An, berhenti bantah kata kata ku, aku yakin kamu mengenal aku lebih baik dari siapapun, jadi kamu pasti tau kesungguhan ku saat ini kan?"
Ana mengangguk pelan dengan air mata di pipinya. Adit lalu menghapus air mata Ana dan memeluknya.
"Kita akan selalu sama sama An, kita akan hadapi semuanya sama sama," ucap Adit lalu mencium kening Ana.
Setelah Ana lebih tenang, Adit membawa Ana kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Adit segera mengantarkan Ana ke kamar untuk beristirahat.
"Malam ini aku nggak pulang, aku akan nemenin kamu di sini," ucap Adit dengan membelai rambut Ana.
Ana hanya menganggukkan kepalanya tanpa berucap.
__ADS_1
Adit lalu keluar dari kamar Ana.
"Bu Desi, Lisa, tolong hubungi Candra dan Agus, kasih tau mereka kalau Ana udah pulang dan segera minta mereka menghadap saya sekarang juga!" ucap Adit pada Bu Desi dan Lisa
"Baik mas," balas Bu Desi.
Tak lama kemudian Candra dan Agus datang. Mereka lalu menghadap Adit, termasuk Bu Desi dan Lisa.
"Sebelumya saya sangat berterima kasih atas kerja kalian selama ini, tapi apa yang terjadi hari ini benar benar membuat saya kecewa, saya akan kasih waktu kalian sampai besok pagi, jadi saya harap kalian segera berkemas dan tinggalkan rumah ini besok pagi," ucap Adit yang membuat Bu Desi, Lisa, Candra dan Agus begitu terkejut.
Mereka tidak menyangka akan dipecat tanpa diberi kesempatan oleh Adit.
"Soal gaji jangan khawatir, saya akan kasih gaji yang utuh berserta pesangonnya besok," lanjut Adit.
"Saya dan teman teman minta maaf pak, tapi kami...."
"Saya nggak mau dengar alasan kamu Candra, saya mempekerjakan kamu di sini bukan cuma untuk menjaga gerbang rumah, tapi juga untuk menjaga Ana," ucap Adit memotong ucapan Candra.
"Kalian semua sudah tau apa prioritas kalian di sini, tapi kalian lalai jadi tidak ada alasan lagi bagi saya untuk mempekerjakan kalian lagi di sini!" lanjut Adit yang berhasil membungkam semua pekerjanya.
**
Di tempat lain, Dini sudah terlelap di ranjang Dimas saat Dimas masih mengerjakan pekerjaannya.
Setelah selesai, Dimas menutup laptopnya, merapikan beberapa map di hadapannya lalu duduk di samping Dini.
Saat ia memegang tangan Dini, ia merasakan suhu badan Dini terasa panas. Dimas lalu menempelkan tangan nya di kening Dini dan benar saja, Dini demam.
Dimas segera mengambil kain dan air untuk mengompres Dini.
"aku sayang sama kamu Andini, tapi terkadang sikap kamu bikin aku ragu, apa aku salah karena hadir diantara kamu dan Andi? apa aku tokoh antagonis di hidup kalian?" tanya Dimas dalam hati.
Malam semakin larut, keadaan Dini semakin memburuk, demamnya semakin naik membuat wajah Dini semakin pucat.
Tanpa menunggu lama, Dimas segera membawa Dini ke rumah sakit.
Alhasil malam itu Dimas menemani Dini di rumah sakit.
**
Pagi telah tiba. Dimas memijit kepalanya yang terasa pusing karena belum tidur semalaman.
"Dimas," panggil Dini dengan suara lemah.
"Iya sayang, gimana keadaan kamu, apa masih pusing?" tanya Dimas.
"Aku di rumah sakit?" tanya Dini setelah matanya berkeliling ke setiap sudut ruangan yang ia tempati.
"Iya, semalem badan kamu panas banget, jadi aku bawa kamu ke rumah sakit," jawab Dimas.
"Aku minta maaf, harusnya aku....."
"Sssstttt.... jangan terlalu banyak berpikir yang berlebihan Andini, aku akan hubungin Adit buat kasih tau dia kalau kamu lagi di rumah sakit," ucap Dimas.
"Sekarang jam berapa?" tanya Dini.
"Baru jam 6 pagi, mungkin bentar lagi Dokter akan dateng periksa keadaan kamu," jawab Dimas.
"Kamu nggak kerja?"
"Aku mana bisa ninggalin kamu di sini Andini, aku akan minta izin buat libur," jawab Dimas.
"Tapi...."
"Please Andini, jangan bikin aku merasa lebih bersalah lagi," ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.
Tak lama kemudian Dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Dini. Dokter memberi tahu jika keadaan Dini sudah membaik, ia sudah bisa meninggalkan rumah sakit tapi harus bed rest sampai benar benar sehat.
Setelah sarapan dan minum obat, Dimas lalu membawa Dini kembali ke apartemen.
Wajah Dini masih tampak pucat meski demamya sudah turun.
"Istirahat sayang," ucap Dimas sambil menutup tubuh Dini dengan selimut saat Dini berbaring di ranjang.
"Aku ke sini buat minta maaf sama kamu Dimas, bukan buat ganggu kamu," ucap Dini.
"Kamu nggak ganggu aku sayang, maaf karena udah bersikap kurang dewasa," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Detik jam terus berputar. Entah apa yang terjadi setelah itu. Mereka akhirnya tertidur di atas satu ranjang.
__ADS_1
Rasa kantuk yang sudah Dimas tahan semalaman akhirnya bisa ia tuntaskan pagi itu. Ia sudah tidak memikirkan hal hal yang mengganggu pikirannya lagi. Baginya yang terpenting saat itu adalah keberadaan Dini di sampingnya.