
Hari telah berganti, Dimas sudah berada di rumah Dini sebelum Dini berangkat ke kantor. Ia sengaja menjemput Dini untuk menghalangi Dini bertemu dengan Andi.
Ia sudah bertekad untuk lebih menjaga Dini agar Dini tidak terlalu sering bersama Andi. Ia tidak ingin Andi memanfaatkan kesempatan untuk mengungkapan perasaannya pada Dini.
Dini yang mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya segera keluar dari kamar dan begitu terkejut saat melihat Dimas keluar dari mobilnya.
"Pagi sayang," sapa Dimas dengan memberikan setangkai bunga mawar merah pada Dini.
"Kamu tumben jemput aku, nggak telat nanti?" tanya Dini dengan memeluk Dimas.
"Mulai sekarang aku yang akan antar jemput kamu setiap hari," jawab Dimas lalu mencium kening Dini.
"Oke, aku siap siap bentar ya!" ucap Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.
Setelah selesai bersiap, Dini dan Dimas berpamitan pada ibu Dini untuk berangkat ke kantor
"Kamu jangan terlalu memaksakan diri buat antar jemput aku Dimas, aku udah biasa baik bus sendiri kok," ucap Dini.
"Aku akan berusaha selalu ada buat kamu sayang," balas Dimas dengan senyumnya.
"Aku beruntung punya kamu," ucap Dini dengan menatap Dimas yang fokus menyetir.
"Dan aku jauh lebih beruntung karena punya kamu," balas Dimas dengan membawa pandangannya pada Dini beberapa saat lalu kembali fokus pada jalan raya.
"Oh ya, kemarin Andi ke rumah waktu aku belum pulang, dia kasih aku kartu nama toko bunga yang kita datangi kemarin," ucap Dini bercerita pada Dimas.
"Mungkin dia kasih rekomendasi toko bunga itu buat kamu," balas Dimas.
"Mmmm.... iya mungkin, semalem aku hubungi dia tapi nggak bisa, nanti aku akan bilang dia kalau aku udah datengin toko bunga itu sama kamu," ucap Dini.
Dimas hanya tersenyum tipis menutupi kecanggungannya karena menutupi apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
"Kamu tunggu aku ya, aku akan antar kamu pulang nanti," ucap Dimas saat mereka sudah sampai di depan tempat kerja Dini.
"Oke, aku masuk dulu ya!"
"Iya sayang, love you!" ucap Dimas sambil menarik pinggang Dini dan mencium keningnya seperti biasa.
"Love you too," balas Dini dengan senyum manisnya.
Dimas lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Dini.
Sedangkan Dini segera masuk ke kantornya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Dimas keluar dari kantor. Ia pergi ke rumah Andi untuk melihat keadaan Andi dan memastikan jika Andi tidak akan mengganggu hubungannya dengan Dini lagi.
Namun saat ia sampai di sana, satpam mengatakan jika Andi berada di rumah sakit sejak semalam dan belum pulang.
Dimas lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat untuk mencari Andi. Dalam hatinya ada sedikit kekhawatiran pada Andi.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera menanyakan keberadaan Andi dan segera membawa langkahnya ke ruangan Andi.
Dimas mengintip ke ruangan Andi melalui kaca yang ada di pintu sebelum ia masuk. Ia ingin memastikan jika Andi sedang sendirian saat itu.
Dimas lalu membuka pintu perlahan dan mendapati Andi yang terbaring dengan beberapa luka di wajahnya.
"Bunuh gue Dim kalau emang itu mau lo!" ucap Andi tanpa menoleh ke arah Dimas saat ia menyadari kehadiran Dimas.
"Lo tau apa yang lo lakuin itu nggak bener?"
"Iya gue tau dan gue menyesalinya," jawab Andi.
"Menyesal?"
"Iya, setelah gue pikir apa yang gue lakuin sangat egois dan gue nggak pantas buat disebut sahabat terbaik buat Dini," jawab Andi.
Dimas hanya diam mendengarkan ucapan Andi. Dalam hatinya ia sedikit lega karena melihat Andi baik baik saja dengan beberapa luka kecil di wajahnya.
Namun ia juga tidak bisa menyakini Andi sepenuhnya jika Andi benar benar menyesali perbuatannya.
"Gue minta maaf Dim, gue udah berpikir pendek dengan melakukan hal yang sangat egois," ucap Andi dengan menundukkan kepalanya.
"Gue sayang dan cinta sama Andini Ndi, lo tau gimana perjuangan gue selama ini, bukan hal yang mudah buat gue bisa bertahan selama ini sama Andini dan nggak cuma gue, Andini juga udah banyak berjuang demi hubungan kita, tolong jangan rusak apa yang udah gue dan Andini perjuangin selama ini," ucap Dimas.
Andi menganggukkan kepalanya pelan, ia menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat.
__ADS_1
"Gue nggak tau apa gue bisa percaya lagi sama lo atau enggak, tapi gue nggak bisa liat lo sama Andini lagi, gue harap lo bisa ngerti," ucap Dimas.
"Iya gue ngerti, gue nggak akan ganggu kalian lagi, pelan pelan gue akan jaga jarak sama Dini, gue juga harus jaga hati gue buat nggak terluka terlalu dalam karena pernikahan kalian," balas Andi.
"Gue harap lo nggak ingkari apa yang udah lo ucapin!" ucap Dimas yang masih meragukan Andi.
"Lo bisa percaya sama gue, tapi gue bisa terima kalau lo masih nggak percaya sama gue, sekali lagi gue minta maaf," ucap Andi.
Dimas diam beberapa saat memikirkan ucapan Andi. Ia tidak ingin membiarkan Andi mendekati Dini dan mengungkapkan perasaanya pada Dini.
Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin persahabatannya dengan Andi menjadi renggang.
Meski tak hanya sekali dua kali mereka bertengkar dan bahkan beradu fisik, mereka tetap kembali bersama sebagai sahabat.
Dimas bahkan mempercayakan Dini pada Andi saat ia sedang tidak bersama Dini, namun apa sekarang ia masih bisa mempercayai Andi?
Dimas ragu, hati dan pikirannya seperti sedang bertabrakan memikirkan apa yang terjadi saat itu.
"Gue minta maaf."
Pada akhirnya ucapan itu keluar dari Dimas. Ia mencintai Dini dan tidak ingin Dini pergi darinya, namun jauh dalam hatinya ia juga menganggap Andi sahabat terbaiknya dan tidak ingin Andi pergi dari kehidupannya.
"Apa yang lo lakuin udah bener Dim, mungkin kalau lo nggak ngelakuin itu gue nggak akan sadar," ucap Andi.
"Gue nggak akan biarin siapapun ambil Andini dari gue, tapi gue juga nggak akan biarin hubungan persahabatan gue rusak karena hal ini," balas Dimas yang membuat Andi membawa pandangannya pada Dimas.
"persahabatan? setelah apa yang gue lakuin dia masih anggap aku sahabatnya?" batin Andi dalam hati.
"Lo sahabat terbaik gue Ndi, tapi sorry kali ini gue nggak bisa biarin kalian sedeket dulu, gue harap lo bisa mengerti batasan lo sebagai seorang sahabat dan lo bisa menghargai gue sebagai suami Andini nantinya," ucap Dimas.
"Gue ngerti Dim, thanks karena udah kasih gue kesempatan buat perbaiki semua ini, sekarang gue tau apa yang seharusnya gue pilih, persahabatan memang jauh lebih indah," ucap Andi.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Andi.
Sebelum jam makan siang selesai, Dimas sudah meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kantornya.
Sedangkan Andi segera mengurus biaya administrasi dan meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi.
Andi pulang ke rumah sang ibu dengan wajah yang masih babak belur. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lagi. Ia harus segera melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Benar saja, ibu Andi begitu terkejut melihat apa yang terjadi pada Andi.
"Apa kakak kamu tau tentang hal ini? mama kamu tau?"
"Kak Adit tau, tapi mama nggak tau, ibu jangan bilang mama ya, Andi nggak mau mama khawatir," jawab Andi.
"Iya, ibu nggak akan bilang mama kamu, sekarang kamu istirahat aja di kamar," balas ibu Andi.
"Andi ke sini karena mau minta tolong sama ibu," ucap Andi pada sang ibu.
"Kamu mau minta tolong apa?"
Andi lalu mengambil buku catatan yang ada di meja dan menulis daftar bahan bahan yang ia perlukan lalu memberikannya pada sang ibu.
"Tolong beliin ini ya Bu!" ucap Andi sambil menyerahkan daftar yang dibuatnya pada sang ibu.
Ibu Andi menerima catatan itu dan membacanya.
"Kamu mau bikin apa? gaun?" tanya ibu Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Buat Dini?" terka ibu Andi yang kembali mendapat anggukan kepala Andi.
"Apa kamu sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan?"
"Udah Bu, Andi tau apa yang harus Andi lakukan sekarang," jawab Andi.
Sang ibu menatap Andi dengan perasaan sedih. Ia mengerti bagiamana hancurnya hati Andi saat itu.
Namun ia harus tetap tegar dan mendukung apapun keputusan Andi, bagiamana pun juga Andi sudah dewasa dan ia yakin Andi tau apa yang terbaik untuknya.
Ibu Andi lalu pergi membeli bahan yang Andi butuhkan.
Saat semua bahan yang Andi butuhkan sudah terkumpul, Andi mulai merealisasikan desain gaun yang sudah lama ia simpan.
Meski ia tidak membawa file gaun itu, ia bisa mengingatnya dengan mudah karena sudah ratusan kali ia memandangi desain gaun itu selama ini.
**
__ADS_1
Waktu berlalu, sudah 5 hari Andi berada di rumah sang ibu dan mengabiskan waktunya hanya untuk mengerjakan gaun rancangannya.
Selama itu pula Andi memblokir Dini dari kontaknya. Ia sengaja memberi waktu bagi dirinya untuk fokus pada gaun yang dibuatnya.
Ia juga meminta Adit dan sang ibu untuk merahasiakan keberadaannya selama beberapa hari itu.
Di sisi lain, karena Dini semakin disibukkan dengan persiapan pernikahannya Dini tidak terlalu memikirkan hal lainnya meski ia juga masih sering menghubungi Andi yang hanya sia sia belaka.
Sedangkan Dimas, setiap hari ia menjemput dan mengantarkan Dini pulang, ia sengaja membuat Dini tidak mempunyai waktu untuk mencari Andi meski Dimas sendiri tidak tau dimana Andi berada selama beberapa hari itu.
Akhirnya gaun yang selama ini hanya ada dalam file kini sudah berubah menjadi nyata dan ada di hadapan Andi.
Andi lalu menyimpan gaun itu ke dalam kotak besar dan membawanya pulang ke rumah mama Siska.
Andi lalu menghubungi sang mama dan meminta sang mama untuk pulang sebentar karena ada sesuatu yang harus ia bicarakan pada sang mama.
**
Hari berganti, pagi pagi sekali mama Siska sudah berada di rumahnya. Ia segera menaiki tangga menuju ke kamar Andi.
Ia begitu terkejut saat melihat beberapa luka kecil di wajah Andi.
"Andi, kamu kenapa sayang? apa yang udah terjadi sama kamu?" tanya mama Siska khawatir
"Andi nggak papa ma, ini cuma salah paham aja sama orang," jawab Andi.
"Sejak kapan kamu luka seperti ini? kenapa nggak bilang mama? siapa orang itu? dia harus bertanggung jawab karena sudah melukai anak mama!"
"Ma, Andi minta mama datang ke sini bukan buat bicarain hal itu, ada yang lebih penting daripada luka kecil ini," ucap Andi pada sang mama.
"Tapi mama harus tau apa yang ......"
"Andi mau ke luar negeri ma," ucap Andi yang sengaja memotong ucapan sang mama agar ia bisa segera menyampaikan maksudnya meminta sang mama untuk datang.
"Apa? ke luar negri?" tanya mama Siska yang berusaha meyakinkan pendengarannya.
"Iya, dulu mama pernah nawarin Andi buat lanjut S2 ke Amerika kan? apa sekarang Andi boleh mengiyakan tawaran mama itu?"
"Boleh, tapi..... tapi kenapa tiba tiba begini? apa terjadi sesuatu yang mama nggak tau? apa kamu bertengkar sama kakak kamu?"
"Enggak ma, nggak ada apapun yang terjadi, Andi cuma nunggu waktu yang tepat aja buat lanjutin S2 dan Andi pikir sekarang adalah waktu yang tepat," jawab Andi memberi alasan.
"Lalu bagaimana dengan bisnis kamu?"
"Andi udah minta tolong kak Adit buat bantu handle dari sini, sisanya Andi bisa handle dari jauh," jawab Andi.
Mama Siska terdiam menatap Andi di hadapannya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat Andi tiba tiba ingin melanjutkan S2 nya ke luar negeri.
Namun sebagai ibu yang baik ia tidak mungkin menentang keputusan Andi tanpa alasan yang jelas.
"Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini?" tanya mama Siska.
"Andi yakin ma," jawab Andi dengan tersenyum pada sang mama.
Mama Siska lalu mendekat dan memeluk anak keduanya itu. Ia merasa ada sesuatu yang sudah terjadi yang tidak ia mengerti. Ia merasa ada sebuah kesedihan yang Andi rasakan saat itu.
"Apa mama bisa bantu Andi siapin semuanya?" tanya Andi pada sang mama.
"Iya, mama akan siapkan semua kebutuhan kamu selama di sana, tapi kamu harus menunggu beberapa bulan lagi untuk bisa masuk kuliah, kamu juga harus belajar beradaptasi dengan keadaan di sana," jawab mama Siska.
"Terima kasih ma!"
"Jadi kapan kamu mau berangkat?" tanya mama Siska.
"Apa Andi bisa berangkat 2 hari lagi?" balas Andi bertanya.
"Dua hari lagi? kamu yakin?"
"Lebih cepat lebih baik ma," jawab Andi penuh keyakinan.
"Baiklah kalau itu keinginan kamu, mama akan siapkan semuanya," ucap mama Siska.
"Terima kasih banyak ma," ucap Andi dengan memeluk erat sang mama.
Mama Siska lalu keluar dari kamar Andi, meninggalkan Andi yang hanya seorang diri di kamarnya.
Andi membuka kotak besar yang berisi gaun pengantin untuk Dini. Andi tersenyum tipis lalu mengambil sebuah kertas dan menuliskan surat lalu meletakkannya di atas gaun itu.
__ADS_1
"cuma ini yang bisa aku kasih buat kamu Din, maaf karena sempat menjadi sahabat yang egois, aku sayang sama kamu tapi aku akan memilih pergi dengan membawa cinta dalam hatiku," ucap Andi dalam hati