
Hari berlalu, waktu untuk cuti telah selesai.
Pagi itu, Dimas dan Dini sudah siap untuk berangkat ke kantor. Karena kantor mereka searah, Dini berangkat bersama Dimas.
"Pulang nanti hubungin pak Yusman biar pak Yusman yang jemput kamu!" ucap Dimas saat mereka sudah berada dalam perjalanan ke kantor.
"Kamu nggak jemput aku?"
"Aku nggak bisa pastiin pulang jam berapa sayang, tapi aku akan usahain buat selesaiin kerjaanku dengan cepet biar nggak pulang terlalu malem," jawab Dimas menjelaskan.
"Tapi kamu makan malam di rumah kan?"
"Iya, kamu mau masakin aku?"
Dini menganggukkan kepalanya penuh semangat. Sebelum hari pernikahannya ia sudah banyak belajar memasak bersama sang ibu.
Meski ia tidak yakin dengan hasilnya, ia akan mencobanya.
Sesampainya di depan tempat kerja Dini, Dini segera masuk setelah mendapatkan pelukan dan kecupan singkatnya dari Dimas.
Dia berjalan melewati lobby, saat akan masuk ke dalam lift seseorang memanggil nya dengan sangat kencang, membuat Dini segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang sudah bisa ia tebak siapa si pemilik suara.
"Ciiieee.... pengantin baru nih, kok udah masuk aja!" ucap Ica.
"Iya, pak Jaka bilang kamu cuti satu Minggu!" sahut Aca.
"Aku nggak betah lama lama di rumah, Dimas juga udah balik kerja, jadi aku pasti bosen kalau di rumah sendirian!" jawab Dini.
"Emang ya kalau nikah sama pebisnis itu jadi nggak punya banyak waktu buat quality time!" ucap Ica.
"Siapa bilang? Dimas bisa bagi waktunya dengan baik kok, aku juga bisa ngerti kesibukannya jadi itu nggak masalah buat aku!" balas Dini.
"Tapi kamu kan pengantin baru Din, harusnya sekarang kalian lagi bulan madu, bukan malah sama sama kerja!" ucap Ica yang membuat Aca segera menutup mulut Ica.
"Punya mulut nggak ada remnya banget sih!" ucap Aca kesal pada Ica.
"Ini udah jadi keputusan aku sama Dimas, kita sama sama saling mengerti dan aku harap kamu nggak mempermasalahkan sesuatu yang nggak jadi masalah buat aku!" ucap Dini lalu berjalan mendahului Ica dan Aca.
Ica dan Aca hanya diam di tempatnya membiarkan Dini pergi meninggalkan mereka.
"Punya mulut itu di jaga, jangan asal ngomong yang bisa nyakitin orang!" ucap Aca lalu meninggalkan Ica begitu saja.
"Bagian mana dari ucapan aku yang asal ngomong?" tanya Ica pada dirinya sendiri lalu mengejar Aca.
Sedangkan Dini yang baru saja masuk ke ruangannya menghempaskan dirinya dengan kesal di kursi kerjanya.
"Sabar Dini, sabar!" ucap Dini dengan mengusap dadanya.
Sebelum jam 7, Dini menyiapkan minuman hangat yang ia taruh di meja kerja Adit seperti biasa.
Ia lalu kembali ke ruangannya, menyalakan komputer di hadapannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Ia sudah memberi tahu Adit sebelumnya jika ia sudah bisa masuk kerja hari itu, jadi Adit memberi tahunya beberapa pekerjaan yang sebelumnya di handle oleh Jaka.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Pintu ruangan Dini diketuk dari luar, Jaka masuk dengan membawa map dan memberikannya pada Dini.
"Ini file yang harus kamu revisi Din, kalau kamu masih banyak pekerjaan kamu bisa balikin ke saya lagi karena deadline-nya sampe besok sore!"
"Saya bisa kok pak, sebelumnya saya mau berterima kasih sama pak Jaka karena sudah menggantikan posisi saya waktu saya cuti!"
"Sama sama Din, saya lanjut dulu ya!"
"Iya pak."
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dini yang akan pergi ke kantin, tiba tiba mengurungkan niatnya karena mengingat ucapan Ica padanya.
Tak lama kemudian Adit datang dan menghampiri Dini.
"Nggak makan siang?" tanya Adit.
"Males kak, kesel aja denger orang yang suka menilai seenaknya sendiri, padahal nggak tau apa apa," jawab Dini kesal.
Adit hanya tersenyum tipis lalu mengirim pesan pada seseorang agar mengantarkan dua kotak makan siang dan minuman ke ruangan Dini.
Tak lama kemudian makan siang datang, Adit dan Dini makan siang berdua di ruangan Dini.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya Adit.
"Di daerah X kak," jawab Dini.
"Selera Dimas bagus juga, kakak dulu sempet mau ambil rumah disana tapi nggak jadi, Dimas pasti udah siapin semuanya dengan baik buat kamu!"
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Adit. Bahkan tanpa ia minta, Dimas memberinya banyak hal lebih dari yang ia inginkan.
"Din, apa Dimas dan keluarganya nggak keberatan kamu masih kerja di sini?" tanya Adit.
"Kita udah bicarain itu sebelum kita nikah kak dan nggak ada yang keberatan sama keputusan Dini," jawab Dini.
"Kapanpun kamu berubah pikiran kamu bisa kasih tau kakak, nggak perlu nunggu pengganti kamu di sini!"
"Iya kak, tapi Dini nggak akan berubah pikiran, setelah mbak Ana melahirkan dan kak Adit sama mbak Ana menikah, Dini akan keluar dari sini dan kembaliin posisi mbak Ana di sini," ucap Dini.
"Tapi kakak nggak bisa pastiin sama kamu kapan itu akan terjadi," ucap Adit.
__ADS_1
"Nggak papa, Dini masih betah di sini, Dini suka kerja di sini," balas Dini.
"Kakak juga suka kerja sama kamu, kamu selalu bisa diandalkan!" ucap Adit dengan mengacungkan ibu jarinya yang membuat Dini tertawa.
"Oh ya, kemarin Aletta ke rumah, ketemu sama mama!" ucap Adit yang membuat Dini seketika menghentikan makannya.
"Aletta?"
"Iya, Andi ajak dia ke rumah buat ketemu mama, kakak liat mereka deket banget, apa mereka udah balikan?"
"Nggak mungkin, Andi pasti kasih tau Dini kalau dia balikan sama Aletta!"
"Apa Andi kasih tau kamu kalau dia mau liburan berdua sama Aletta?"
"Andi dan Aletta liburan berdua? kenapa Andi nggak bilang apa apa sama aku? dia bahkan nggak hubungin aku sama sekali setelah resepsi kemarin, apa mereka emang udah balikan?" batin Dini bertanya dalam hati.
"Mereka mau liburan kemana kak?" tanya Dini sambil mengunyah makanannya dengan malas.
"Kakak juga nggak tau, Andi baru izin sama mama," jawab Adit.
"Andi belum hubungin Dini sama sekali kak sejak kemarin, Dini nggak tau apa apa tentang Andi," ucap Dini yang tampak bersedih.
"Dia juga harus mengerti posisinya saat ini Din, kamu sudah menikah sama Dimas, jadi jarak diantara kalian akan semakin jauh, tapi walaupun begitu kakak harap kamu dan Andi masih berhubungan baik sebagai sahabat," ucap Adit.
"iya, kak Adit bener, aku juga udah sepakat tentang hal itu sama Andi, mau nggak mau jarak diantara kita akan semakin jauh, aku harus bisa jaga perasaan Dimas buat nggak terlalu deket sama Andi," batin Dini dalam hati.
"Selesaiin makan siang kamu, setelah itu lanjutin kerja!" ucap Adit lalu keluar dari ruangan Dini.
Adit masuk ke ruangannya, duduk di belakang meja kerjanya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
Untuk beberapa saat Adit memperhatikan Dini yang berada di sebelah ruangannya yang hanya dibatasi kaca tebal.
"kakak harap kamu juga bisa mengerti posisi kamu Din, akan lebih baik kalau kalian benar benar menjaga jarak buat kasih waktu Andi mengobati luka di hatinya," batin Adit dalam hati.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Dini baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Ia lalu membereskan barang barangnya dan keluar dari kantor setelah memastikan tidak ada lagi yang harus ia kerjakan.
Dini berjalan ke arah halte dimana ia biasanya menunggu bus.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Kamu dimana sayang? udah pulang?"
"Aku baru keluar kantor," jawab Dini.
"oh iya, lupa!" batin Dini dengan menepuk keningnya sendiri.
"Halo sayang!"
"Iya... aku.... aku mau hubungin pak Yusman sekarang," ucap Dini.
"Ya udah kalau gitu, love you sayang!"
"Love you too!"
Panggilan berakhir, Dini lalu mencari nama pak Yusman di penyimpanan kontaknya dan menghubunginya.
Setelah beberapa lama menunggu, pak Yusman pun datang. Karena Dini sudah mengenal Pak Yusman, Dimas memutuskan untuk menjadikan pak Yusman supir pribadi Dini sejak mereka menikah.
Sesampainya di rumah, Dini segera menuju dapur dan melihat bahan makanan yang ada di dapur.
"Perfect, ada ikan dan sayur, bikin ikan bakar aja!" ucap Dini lalu mulai mengambil beberapa ekor gurame dan membersihkannya.
Melihat Dini yang tampak sibuk di dapur, salah satu asisten rumah tangga pun menghampiri Dini.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?"
"Mmmm.... bisa bantu saya bersihin ikannya nggak bi? saya biasanya masak yang udah bersih soalnya!"
"Baik Bu, Bu Dini mau saya masak apa hari ini?"
"Bibi bersihin aja, biar saya masak sendiri," jawab Dini.
"Biar saya masakkan saja Bu, saya takut dimarahin pak Dimas kalau biarin Bu Dini masak sendiri."
"Saya udah bilang Dimas kok, lagian saya juga pingin masak buat suami saya," ucap Dini.
"Kalau perlu apa apa lagi, panggil saya aja ya Bu!"
"Iya bi, terima kasih!" ucap Dini lalu segera mengeksekusi ikan di hadapannya.
Setelah beberapa lama berkutat di dapur, asap mulai terlihat memenuhi dapur, membuat asisten rumah tangga yang ada di sana begitu khawatir.
Namun melihat Dini yang tampak begitu bersemangat untuk memasak, membuat mereka tidak berani menganggu Dini.
"Selama Bu Dini nggak panggil kita, kita jangan kesana, beliau nggak suka diganggu!" ucap salah satu assisten rumah tangga yang dibalas anggukan kepala oleh yang lain.
"Yang penting kita awasi aja dari jauh!" lanjutnya.
Dini terdiam lesu di hadapan ikan yang tampak lengket pada alat pemanggang, menyisakan tulang dan kepala yang masih tersusun rapi.
__ADS_1
Dari 3 ekor ikan, hanya ada 1 ekor yang menurut Dini layak untuk ia hidangkan pada Dimas.
"Not bad, rasanya juga enak walaupun tampilannya agak menyeramkan hehe...."
Setelah menyelesaikan acara masak memasaknya, Dinipun pergi ke kamarnya untuk mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang setelah Dini selesai mandi. Ia berdiri di hadapan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya secara keseluruhan, yang membuatnya mengingat kejadian malam pertama saat mereka tinggal di rumah itu.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya, Dinipun bersiap untuk menunggu Dimas di depan pintu rumah setelah Dimas memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Dimas tersenyum bahagia saat melihat istri yang dicintainya telah berdiri menunggu kedatangannya.
Semua rasa lelah dan penat yang ia rasakan seketika menghilang begitu ia melihat senyum istri cantiknya.
"Cantik banget istriku," ucap Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di bibir Dini.
"Kamu mandi dulu ya, aku udah siapin makan malam buat kamu!"
"Kamu masak apa sayang?"
"Liat aja nanti, tapi kayaknya besok aku harus cari peralatan masak baru deh!"
"Beli apa aja yang kamu butuhkan sayang, kalau aku masih di kantor, kamu bisa pergi sama pak Yusman!"
Dini hanya menganggukkan kepalanya sambil membantu melepaskan satu per satu kancing kemeja Dimas.
Setelah kemeja Dimas terlepas, Dimas melepas kaos pendeknya lalu segera mendorong Dini ke arah ranjang, membuat Dini jatuh terpental di ranjang.
Dimas lalu menenggelamkan kepalanya di leher Dini, menghirup dalam dalam wangi tubuh istri tercintanya itu.
"Mandi dulu Dimas!" ucap Dini dengan berusaha mendorong tubuh Dimas.
"Apa kita......"
"Enggak, kamu harus mandi dulu, bau!" ucap Dini dengan menutup hidungnya meski sebenarnya ia masih bisa mencium wangi parfum Dimas.
Dimas hanya terkekeh lalu segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Dini menyiapkan makan malam.
Tak lama setelah semuanya terhidang di meja makan, Dimaspun datang.
"Ikan bakar? kenapa cuma satu sayang?"
"Tadinya sih 3, tapi yang berhasil cuma ini hehehe...."
Dimas hanya tersenyum sambil membelai rambut Dini. Merekapun makan malam dengan satu ekor ikan bakar yang Dini masak sendiri.
"Ini beneran kamu masak sendiri?"
"Iya, kenapa? ada yang salah?"
"Enggak, ini enak sayang!"
"Beneran?"
"Iya, walaupun ada beberapa bagian yang pahit tapi ini enak kok!"
"Aku akan lebih sering masak sekalian sambil belajar, nggak papa kan?"
"Nggak papa dong, asalkan itu nggak bikin kamu kecape'an!"
Dini menganggukkan kepalanya senang karena hasil masakannya hari itu berhasil meski belum sempurna.
**
Di tempat lain, Andi sedang berada di depan sebuah restoran untuk menunggu Aletta.
Setelah lama menunggu gadis cantik yang ditunggunyapun datang.
"Kamu dari tadi?" tanya Aletta saat ia sudah masuk ke dalam mobil.
"Lumayan, udah selesai?"
"Udah kok, aku kan udah bilang sama kamu, jangan dateng dulu sebelum aku selesai meeting, jadinya nunggu lama kan!"
"Nggak papa, lagian aku juga bete di rumah nggak ada kerjaan!"
"Oke, sekarang kita kemana?"
"Kemana aja, asal sama kamu," jawab Andi dengan membawa pandangannya pada Aletta.
Aletta hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Andi
"Kamu udah hubungi Dini Ndi?" tanya Aletta yang hanya dibalas gelengan kepala Andi.
"Kenapa?"
"Dia udah jadi milik orang lain Ta, aku nggak bisa lagi bersahabat sama dia kayak dulu, aku sadar dimana posisiku sekarang," jawab Andi.
"Dan itu menyiksa diri kamu?"
"Aku yakin ini nggak akan lama, aku cuma butuh waktu," ucap Andi.
"Aku udah mempersiapkan hatiku Ta, aku tau hal ini akan terjadi, tapi ternyata aku nggak bisa melewatinya dengan baik walaupun aku udah mempersiapkannya," lanjut Andi.
"Kamu udah ngelakuin yang terbaik Ndi, nggak cuma buat Dini tapi juga buat persahabatan kamu sama Dimas," ucap Aletta yang berusaha menguatkan Andi.
__ADS_1