
Takdir telah membawa jalannya tanpa aba aba, tanpa kita tau kemana arah tujuannya. Kebahagiaan yang datang bisa saja dengan mudah berbalik menjadi sebuah kesedihan jika takdir sudah berkehendak, begitupun sebaliknya.
Ucapan Anita tentang kebusukannya membuat Dini dan Dimas meradang. Mereka tidak pernah menyangka teman yang sudah mereka terima kembali nyatanya menyimpan dendam pada mereka.
Setelah Dimas dan Anita berebut pistol untuk beberapa saat, bunyi tembakanpun terdengar nyaring memekikkan telinga.
Darah mengucur deras membasahi lantai saat itu juga bersama terjatuhnya Dimas dan Anita.
Dini yang berada disana hanya bisa diam karena tangan dan kakinya terikat dengan kuat di kursi yang didudukinya. Ia tidak tau siapa yang menembak dan terkena tembakan itu.
Namun saat melihat Anita merangkak menjauh, Dini berteriak histeris melihat Dimas yang terkapar dengan dipenuhi darah di bagian perutnya.
"Dimaaaassss!!" teriak Dini dibarengi dengan air mata yang membasahi kedua matanya saat itu juga.
Dini berusaha melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya meski itu hanya semakin melukainya karena kuatnya ikatan itu.
Sedangkan Anita hanya diam memegang pistol dengan tangan yang bergetar. Ia sama sekali tidak berniat untuk menembakkan pistol itu pada Dimas.
Ia hanya ingin membuat Dimas menderita dengan perginya Dini dari dunianya, tapi ternyata ia justru menembakkan pistol itu pada Dimas tanpa sengaja.
"Anita, telfon ambulans Nit, aku mohon Nit!" ucap Dini pada Anita dengan masih berusaha melepaskan tangannya dari ikatan tali tambang.
Anita hanya menggelengkan kepalanya pelan, bukan karena tidak ingin membantu Dimas, ia tidak ingin dirinya menghabiskan hidupnya di penjara jika orang lain tau apa yang terjadi di tempat itu.
"Anita aku mohoonnn!!" teriak Dini memohon pada Anita.
Anita lalu menjatuhkan dirinya di dekat Dimas, ia menatap Dimas yang sudah diambang batas kesadarannya.
"Dimas, aku minta maaf, aku nggak bermaksud ngelakuin ini sama kamu, aku minta maaf," ucap Anita dengan memegang wajah Dimas.
"Ka....mu..... kamu.... nggak pantas..... bahagia.... Anita.....!" ucap Dimas dengan terbata bata sambil memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah segar.
Untuk beberapa saat, pikiran Dimas seperti melayang jauh. Di ambang batas kesadarannya, ia melihat dirinya dan Dini di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga bunga yang bermekaran.
Dimas menggandeng tangan Dini, mengajaknya berlari diantara hamparan bunga bunga indah itu. Senyum cantik Dini membuat Dimas tersenyum meski tingkat kesadarannya semakin menipis.
"Aku.... sayang sama kamu.... Andini," ucap Dimas terbata bata.
"Aku juga Dimas, aku sayang dan cinta sama kamu, kamu harus bertahan, jangan tutup mata kamu!" ucap Dini yang masih berusaha melepaskan tangannya dari ikatan.
Dimas hanya diam dengan tersenyum pada Dini, ia masih memegang bagian perutnya yang terkena tembakan Anita.
"Anita aku mohon tolong Dimas, aku akan lakuin apapun buat kamu asal kamu bantuin Dimas, tolong Anita, aku mohon!!" ucap Dini memohon pada Anita.
"Apa kamu akan lepasin Dimas buat aku kalau aku bantuin Dimas sekarang?" tanya Anita pada Dini.
"Iya, aku akan lepasin Dimas buat kamu asalkan kamu bantuin Dimas sekarang juga!" jawab Dini tanpa ragu.
Saat itu yang ada di pikiran Dini hanya bagaimana ia harus menyelamatkan Dimas, ia tidak peduli hal lain selain keselamatan Dimas karena ia tau Dimas sudah kehilangan banyak darahnya.
"Enggak, aku tau Dimas nggak akan bisa cinta sama aku walaupun kamu udah lepasin dia buat aku," ucap Anita.
"Anita, aku mohoooonnn!!" ucap Dini dengan air mata yang tak berhenti menetes dari kedua sudut matanya.
Ia sudah tidak peduli pada rasa sakit di kedua tangannya, ia ingin segera melepaskan dirinya saat itu juga.
Tiba tiba.....
Suara langkah terdengar mendekat dengan cepat ke arah ruangan mereka.
Anita dan Dini segera membawa pandangan mereka ke arah pintu dan begitu terkejut saat melihat Andi yang tiba tiba datang.
Sama seperti Anita dan Dini, Andipun begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat itu. Dini yang diikat di kursi, Dimas yang terkapar penuh darah di lantai dan Anita yang pakaian dan tangannya penuh darah dengan memegang sebuah pistol.
"Apa yang udah kamu lakuin Anita!"
__ADS_1
Andi segera berlari mendekat ke arah Dimas, lalu melepas jaketnya dan mengikatnya di perut Dimas untuk menahan darah yang keluar agar tidak semakin banyak.
"Andi, aku nggak ngelakuin apa apa, aku cuma...."
"Aku bener bener kecewa sama kamu Anita, aku bersyukur karena kamu pergi menjauh dari Alana, kamu emang nggak pantas jadi ibunya," ucap Andi penuh kemarahan.
"Aku ngelakuin semua ini buat kamu Ndi, biar Dimas dan Dini tau seperti apa rasa sakit yang kamu rasain waktu mereka tertawa bahagia tanpa memikirkan kamu!" ucap Anita pada Andi.
"Bentar lagi polisi akan datang, kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang udah kamu lakukan Anita dan aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup kamu," ucap Andi dengan berusaha melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Dini.
Sedangkan Anita segera beranjak dari lantai, ia berdiri dan berjalan menjauh dari Dimas.
"aku ngelakuin semua ini bukan cuma buat aku, tapi juga buat kamu karena takdir yang nggak pernah adil sama kita Ndi, kita mencintai seseorang yang bahkan nggak peduli dengan perasaan kita, kita mencintai seseorang yang egois dengan perasaannya sendiri dan bahagia di atas penderitaan kita," ucap Anita dalam hati.
Anita lalu memejamkan matanya, dengan tangan yang bergetar ia masih memegang pistolnya.
Dalam pejam matanya, ia melihat seorang bayi mungil yang perlahan tumbuh menjadi balita cantik. Air matanya menetes saat semua yang terjadi pada dirinya tiba tiba memutar kembali dalam memorinya.
Ulasan kebahagiaan dan tawa bahagia yang pernah ia rasakan membuatnya tersenyum tipis sebelum semua rasa sakit, kecewa dan keputusasaan menghancurkan dirinya dengan perlahan.
Jauh dalam hatinya ia menyadari semua kesalahan yang sudah ia lakukan. Tidak hanya pada Dini, Dimas dan Andi, tapi juga pada bayi mungilnya.
"maafkan mama sayang, mungkin memang ini yang terbaik buat semuanya, mama akan selalu menyayangimu meski mama tidak ada di sampingmu," batin Anita dalam hati lalu menempelkan ujung pistol tepat di kepalanya.
Anita menarik napasnya dalam dalam lalu menarik pelatuknya dan...
DOOOORRRRRR!!!
Suara tembakan kembali menggema di ruangan itu bersama jatuhnya Anita ke lantai dengan darah yang mulai mengucur deras.
Sebelum nyawanya benar benar pergi, Anita masih bisa melihat dengan jelas wajah cantik anak yang sudah dilahirkannya.
Bayi mungil yang pernah berada dalam dekapannya, bayi mungil yang pernah memberinya kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bersyukur karena masih sempat untuk merasakan kebahagiaan itu.
"Anita!"
"Anita!"
Andi lalu segera membawa langkahnya ke arah Anita, namun setelah ia mengecek denyut nadi di tangan dan leher Anita, Andi mengusap wajah Anita untuk membuat mata Anita tertutup.
"maafin aku Nit, mungkin ini memang yang terbaik buat kamu," ucap Andi dalam hati lalu kembali menghampiri Dini dan Dimas.
"Gimana Ndi?" tanya Dini yang hanya dibalas gelengan kepala Andi.
Dini lalu menundukkan kepalanya dengan menangis histeris, ia tidak pernah berpikir jika Anita akan memilih untuk mengakhiri hidupnya setelah apa yang sudah ia lakukan.
Dimas yang sudah sangat lemah itupun mengusap air mata di pipi Dini, membuat Dini kembali membawa pandangannya pada Dimas.
"Kamu harus bertahan Dimas, sebentar lagi ambulans akan datang," ucap Dini dengan menekan bagian perut Dimas yang terkena tembak.
Dimas lalu menggenggam tangan Dini dengan tersenyum. Entah berapa lama waktu yang ia miliki, ia hanya ingin menatap perempuan yang dicintainya itu.
Sedangkan Andi berusaha untuk kembali menghubungi ambulans dan polisi yang belum juga sampai.
"Aku sayang sama kamu Andini, aku cinta sama kamu, terima kasih karena udah kasih aku kebahagiaan yang sangat besar dalam hidupku, aku minta maaf kalau aku belum bisa bahagiain kamu sepenuhnya," ucap Dimas pada Dini.
"Kamu udah bikin aku bahagia Dimas, sangat bahagia, lebih dari yang aku inginkan, kamu harus bertahan Dimas," balas Dini dengan menggenggam tangan Dimas erat.
Dimas lalu membawa pandangannya pada Andi, menarik tangan Andi ke dalam genggamannya.
"Lo jangan banyak bicara Dim, bentar lagi ambulans akan datang!" ucap Andi pada Dimas.
"Ndi, thanks karena udah jadi sahabat yang baik buat gue, gue minta maaf kalau selama ini apa yang gue lakuin nyakitin lo, gue beruntung karena bisa mengenal sahabat sebaik lo," ucap Dimas pada Andi.
"Gue juga beruntung karena udah mengenal lo Dim, sekarang lo harus tetap bertahan, nggak cuma demi Dini, tapi juga semua orang yang sayang sama lo," balas Andi.
__ADS_1
"Mungkin ini saatnya buat Dini tau semuanya Ndi, lo harus kasih tau dia apa yang selama ini lo pendam," ucap Dimas yang membuat Andi menggelengkan kepalanya.
Dimas kemudian menarik tangan Dini dan Andi, menyatukan tangan mereka dalam satu genggaman, namun Andi menarik tangannya.
"Lo jangan gila Dim, lo pasti akan baik baik aja, bentar lagi......"
Andi mengentikan ucapannya saat Dimas terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Dimas, kamu harus bertahan, jangan banyak bergerak lagi," ucap Dini dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes dari kedua sudut matanya.
"Ndi, lakuin sesuatu Ndi, jangan diem aja!" ucap Dini pada Andi.
Andi lalu kembali mengambil ponselnya namun Dimas menarik tangannya, membuat ponsel Andi terjatuh.
"Dengerin gue Ndi..... kali ini aja!" ucap Dimas pada Andi.
Andi hanya menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponselnya dan kembali menghubungi ambulans, ia ingin menanyakan dimana keberadaan ambulans saat itu.
Jika memungkinkan, Andi ingin membawa Dimas ke rumah sakit sendiri. Namun petugas ambulans memberi tahu bahwa akan lebih beresiko jika Andi membawa Dimas ke rumah sakit saat itu karena jarak rumah sakit yang cukup jauh dari posisi Andi saat itu.
"Kita cuma bisa nunggu ambulans dateng Din," ucap Andi pada Dini.
"Aku mohon sama kamu Dimas, kamu harus bertahan, aku akan marah kalau kamu menyerah sekarang," ucap Dini di tengah isak tangisnya.
"Berhenti menangis sayang, aku nggak mau liat kamu sedih," ucap Dimas dengan menghapus air mata di pipi Dini.
Dini lalu menggenggam tangan Dimas di pipinya lalu menciumnya.
Sedangkan Dimas kembali menarik tangan Andi dan Dini untuk disatukan dalam satu genggaman.
"Lo nggak bisa nyimpen perasaan lo seumur hidup lo Ndi, gue nggak akan minta lo buat jaga Andini karena gue tau tanpa gue minta lo akan jaga dia dengan baik, bahkan lebih baik daripada gue," ucap Dimas pada Andi.
"Lo suaminya, lo yang akan jaga dia," balas Andi.
Dimas hanya tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada Dini.
"Andini, kamu harus tau yang sebenarnya terjadi selama ini, Andi mencintai kamu Andini, dia jauh lebih dulu mencintai kamu daripada aku, maaf karena aku harus hadir diantara kalian berdua, aku sangat mencintai kamu, tapi cinta Andi buat kamu jauh lebih besar, aku......"
Dimas mengentikan ucapannya karena kembali terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Berhenti bicara Dimas, simpan tenaga kamu sampai ambulans datang," ucap Dini yang benar benar mengkhawatirkan keadaan Dimas saat itu.
Ia bahkan tidak terlalu mendengarkan apa yang Dimas ucapkan padanya.
"Sayang, dengerin aku baik baik, Andi udah menyimpan perasaannya sama kamu dari lama, dia sengaja simpan perasaannya karena nggak mau merusak persahabatan kita, dia laki laki yang baik Andini, dia akan kasih kamu kebahagiaan yang jauh lebih indah buat kamu," ucap Dimas pada Dini.
"Berhenti bicarain hal ini Dimas, aku cuma mau kamu bertahan, kita akan pulang ke rumah dan jalani hari hari kita berdua lagi," balas Dini.
Dimas menggelengkan kepalanya pelan dengan berusaha untuk tersenyum. Dimas lalu membawa pandangannya pada Andi.
"Lo harus janji sama gue, kasih tau Andini apa yang selama ini lo simpen dalam hati lo, dia berhak tau Ndi dan gue harap kalian berdua akan menemukan kebahagiaan kalian yang sebenarnya," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Andi.
Dimas lalu bergantian membawa pandangannya pada Dini.
"Kamu harus selalu bahagia sayang, dengan atau tanpa aku, aku nggak mau liat kamu sedih, aku yakin kebahagiaan akan selalu berpihak sama kamu," ucap Dimas lalu menarik tangan Dini dan menciumnya.
Dimas memejamkan matanya bersama satu tangan yang menggenggam tangan Andi dan tangan yang lainnya menggenggam tangan Dini.
"Dimas bangun Dimas, jangan tutup mata kamu, aku mohon Dimas, kamu harus bertahan!" ucap Dini yang semakin histeris.
Andi lalu mengecek denyut nadi di tangan dan leher Dimas, ia masih bisa merasakannya meski terasa sangat lemah.
Saat itu Andi dan Dini hanya bisa berharap jika Dimas bisa bertahan dengan kondisinya yang sudah kritis.
Tak lama kemudian ambulans datang, setelah melakukan pertolongan pertama, Dimas segera dibawa masuk ke ambulans.
__ADS_1
Sedangkan polisi mengamankan tempat itu dan menghubungi ambulans lain untuk membawa Anita yang sudah tidak bernyawa.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dini tidak bisa berhenti menangis. Tangannya masih menggenggam tangan Dimas, ia sama sekali tidak peduli pada luka di pergelangan tangan dan kakinya karena memaksa melepas tali yang mengikatnya beberapa waktu yang lalu.