
Dini dan Andi masih berada di taman. Mereka saling menatap dalam diam. Ucapan Andi seperti masuk jauh ke dalam hati Dini.
Dari apa yang Andi ucapkan, Dini cukup tau jika Andi belum mempercayai Dimas sepenuhnya. Tapi entah kenapa pikirannya mengartikan lain ucapan Andi padanya.
Tiba tiba Andi menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Aku sahabat kamu Din, aku selalu ingin kamu bahagia," ucap Andi pada Dini.
Dini tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"iya bener, aku sahabat kamu, kita saling peduli dan menyayangi sebagai sahabat, hanya itu," batin Dini dalam hati.
"Ndi, kalau ada waktu aku pingin deh temuin mbak Ana!" ucap Dini pada Andi.
"Kamu bilang kak Adit dulu, boleh apa enggak, lagian kita juga nggak tau alamat tempat tinggalnya mbak Ana," balas Andi.
"Iya sih, kalau aku nanya mbak Ana langsung pasti nggak dikasih tau kan?"
"Kamu tanya kak Adit aja, sekalian kasih tau kalau kamu mau temuin mbak Ana!"
"Oke, besok aku bilang kak Adit!"
"Emang kapan rencananya kesana?" tanya Andi.
"Secepatnya," jawab Dini.
"Kabarin aku, nanti aku jemput kamu!"
"Oke!"
Malampun semakin larut, Andi lalu mengajak Dini pulang.
Setelah mengantarkan Dini, Andi segera pulang.
**
Malam telah berlalu, pagi datang bersama sinar mentari.
Dini sudah berada di tempat kerjanya dengan tumpukan pekerjaan yang menunggu sentuhannya.
Sesekali Dini membawa pandangannya pada Adit, memperhatikan Adit yang juga tampak sedang sibuk.
"apa yang udah terjadi sama aku dan Dimas mungkin ujian yang berat buat kita, tapi apa yang terjadi sama mbak Ana dan kak Adit jauh lebih berat, aku nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau aku ada di posisi mbak Ana, gimana bingungnya aku kalau aku jadi kak Adit sekarang, punya hubungan diam diam itu nggak mudah, aku tau itu," batin Dini dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dini pergi ke ruangan Adit saat Adit masih mengerjakan pekerjaannya.
"Kak Adit nggak makan siang?" tanya Dini.
"Kakak sibuk banget Din, kamu makan siang sendiri nggak papa kan?"
Dini menganggukkan kepalanya lalu duduk.
"Kenapa malah duduk?"
"Apa yang Dini bisa bantu kak?"
"Nggak ada, kamu makan siang aja, ini pekerjaan yang harus kakak selesaiin sendiri," jawab Adit.
"Apa Dini ganggu?" tanya Dini.
"Enggak, kakak suka ditemenin," jawab Adit dengan tersenyum namun tetap menatap layar komputer di hadapannya.
"Kak, Dini pingin ketemu mbak Ana," ucap Dini yang membuat Adit mengentikan kegiatannya.
"Ketemu Ana? kenapa?" tanya Adit yang membawa pandangannya pada Dini.
"Dini cuma pingin ketemu aja, kalau boleh," jawab Dini.
"Kakak nggak yakin Ana mau ketemu kamu, tapi nanti kakak coba bilang dia!" ucap Adit lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Bilangin mbak Ana ya kak, Dini sama Andi pingin ketemu sama mbak Ana, mbak Ana pasti seneng kan kalau ada temennya!"
"Situasinya sekarang berbeda Din, kamu tau kan?"
"Iya sih, kapan kak Adit mau bilang mbak Ana?"
"Mmmmm.... nggak tau, mungkin nanti sepulang dari kantor," jawab Adit.
"Oke, nanti kabarin Dini ya kak!"
Adit hanya menganggukkan kepalanya.
"Dini mau makan siang di kantin, semangat kak Adit!" ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini dan Adit masih sibuk dengan pekerjaan mereka sampai jam 5.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dinipun keluar dari ruangannya dan masuk ke ruangan Adit.
"Masih sibuk kak?" tanya Dini.
"Lumayan, kenapa?"
"Kak Adit jadi bilang sama mbak Ana kan soal tadi?"
"Iya, nanti kakak ke rumahnya!"
"Oke, Dini tunggu kabar baiknya."
"Kamu udah tau belum kalau Andi besok udah pindah ke gedung baru?" tanya Adit pada Andi.
"Iya tau, kenapa?"
"Dia bikin acara di panti asuhan sama mama, kalau kamu mau ikut kamu bisa izin libur!"
"Pinginnya sih ikut, tapi kan lagi banyak kerjaan, mana mungkin Dini tinggalin kak Adit sibuk sendiri!"
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Yakin, Dini akan jadi pegawai paling rajin yang kak Adit punya!"
"Iya, kakak harus berterima kasih sama Ana karena udah bawa kamu ke sini!"
"Iya dong, ya udah Dini pulang dulu ya kak!"
"Oke, hati hati!"
Dini lalu keluar dari ruangan Adit dan berjalan keluar dari kantor.
Dini menunggu bus di halte bersama beberapa orang lainnya. Meski Dini masih merasa seseorang masih saja mengawasinya, ia tidak ambil pusing.
Setelah lama seseorang itu mengawasinya, tak ada hal buruk yang terjadi dan Dini berpikir jika semua itu hanya karena ketakutannya sendiri yang membuatnya berpikir jika seseorang sedang mengawasinya.
Tapi Dini tetap membawa cairan yang ia isi dengan bubuk cabe untuk berjaga jaga.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya bus datang. Dini menaiki bus yang akan membawanya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia segera mandi dan berganti pakaian. Dini lalu mengambil makanan ikan dan membawanya ke depan akuarium kecil miliknya.
"Hai Anbi, apa kabar? ngomong ngomong sampe sekarang aku nggak tau kamu ini cowok atau cewek, tapi karena ekor kamu bagus, aku anggap kamu cewek!" ucap Dini sambil memberi makan ikan pemberian Andi.
"Anbi, kalau kamu cewek, kamu pasti mengerti perasaan ku kan? sebagai seorang ikan cewek yang selalu sendirian, menurut kamu apa bener cewek sama cowok itu nggak bisa bersahabat? aku sih nggak percaya, tapi banyak yang bilang gitu!"
"Mereka bilang salah satu dari mereka pasti punya perasaan lebih dari sahabat, apa bener kayak gitu? Anbi, aku sayang sama Andi, dia laki laki pertama yang ajarin aku banyak hal, aku nggak tau sejak kapan tapi semakin lama aku bersahabat sama dia, aku jadi tau kalau persahabatan kita lebih dari sekedar kata 'sahabat", kita jauh lebih dari itu, tapi aku nggak tau apa namanya, yang aku sama Andi tau kita bersahabat, udah itu aja."
"Cinta? mana mungkin, kita udah sama sama dari kecil, kita saling mengerti satu sama lain karena kita emang sedeket itu, lagian cinta aku itu Dimas dan Andi juga selalu bilang kalau kita itu sahabat, tiap aku ngerasain sesuatu yang aneh di hatiku, dia selalu yakinin aku kalau kita sebatas sahabat, nggak tau sahabat yang seperti apa tapi yang pasti kita saling menyayangi dan memahami," ucap Dini dengan tersenyum tipis.
Pikirannya mengingat masa masa indahnya bersama Andi. Mulai dari saat mereka masih kecil sampai mereka sudah tumbuh menjadi remaja hingga dewasa.
"kita sahabat, sahabat yang lebih dari sekedar kata 'sahabat', aku tau kita lebih dari itu, aku tau kita lebih dari yang mereka tau," batin Dini dalam hati.
Biiiiippp biiiipp biiipp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Halo Dimas, udah pulang?"
"Udah sayang, baru nyampe apartemen," jawab Dimas.
"Aku juga baru nyampe', lagi banyak kerjaan di kantor."
"Jangan lupa minum vitamin sayang, jaga kesehatan kamu!"
"Iya, kamu juga, oh ya Andi besok udah pindah ke gedung baru loh!"
"Aku nggak bisa kesana sayang, aku udah bilang dia kok!"
"Iya nggak papa, dia bikin acara di panti asuhan sama mama Siska jadi nggak ada acara apa apa di gedung barunya," ucap Dini.
"Kamu dateng ke acaranya?"
"Pinginnya sih dateng, tapi nggak bisa, pekerjaan lagi sibuk sibuknya, aku nggak bisa izin libur!"
"Kak Adit malah minta aku libur, tapi aku yang nggak mau karena emang pekerjaan di kantor lagi banyak," jawab Dini.
"Kamu emang selalu profesional sayang, aku bangga sama kamu!"
Setelah selesai berbincang dengan Dimas melalui telepon, Dini lalu masuk ke kamarnya.
Dini mengambil buku untuk ia baca sampai ia tertidur.
**
Pagi kembali hadir. Dini sudah berada di bus yang akan mengantarkannya berangkat ke kantor. Di dalam bus Dini mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Andi.
Selamat dan sukses buat sahabat ku tersayang, maaf nggak bisa dateng, tapi aku akan ke sana sepulang dari kantor😉
5 menit, 10 menit, tak ada balasan dari Andi.
"mungkin dia lagi sibuk banget," batin Dini dalam hati.
Sesampainya di kantor, Dini segera melakukan rutinitasnya seperti biasa lalu mengerjakan pekerjaannya dengan serius.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah pesan dari Andi masuk.
Diam diam Dini mengambil ponselnya tanpa sepengetahuan Adit.
Makasih Din, acara di sini cuma sampe siang, jadi nanti sore sampe malem aku ada di home store, kamu kabarin aja kalau pulang, nanti aku jemput!
Dini tersenyum kecil lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan Andi.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, tapi pekerjaan Adit dan Dini belum juga selesai.
Kriiiiiiing kriiiiing kriiiiing
Telepon di meja Dini berdering, Dinipun segera mengangkatnya.
"Ke ruangan kakak sekarang!" ucap Adit singkat, padat dan jelas.
"Iya kak," balas Dini lalu segera ke ruangan Adit.
Di ruangan Adit, Adit meminta Dini untuk merevisi beberapa berkas yang sudah harus selesai hari itu juga.
"Kita selesaikan secepat mungkin Din, kakak harus dateng ke home store nya Andi," ucap Adit.
"Iya kak," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Mereka bekerja sampai lupa makan siang hingga jam sudah menunjukkan pukul 6 petang.
Beberapa kali ponsel Dini berdering, panggilan dan pesan dari Dimas. Entah pada panggilan yang keberapa kali Dini akhirnya menerima panggilan Dimas.
__ADS_1
"Halo Dimas, maaf aku sibuk banget," ucap Dini.
"Masih di kantor?"
"Iya, nanti aku hubungi kamu kalau udah selesai!"
"Oke, semangat sayang, love you!"
"Love you too Dimasku!"
Dini lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sampai jam sudah menunjukkan pukul 7. Setelah selesai, Dini menyandarkan punggungnya di kursi, menutup matanya beberapa saat sekedar menghilangkan penat.
Tak lama kemudian Adit masuk ke ruangan Dini.
"Ayo, kakak anter pulang!" ucap Adit.
"Dini mau ke home store kak," balas Dini.
"Jangan sekarang, kamu lagi kecape'an, besok aja!"
Dini lalu mengemasi barang barangnya dan beranjak dari duduknya.
"Dini harus ke home store sekarang kak," ucap Dini yang berjalan melewati Adit begitu saja.
Adit tersenyum tipis lalu berjalan cepat menghampiri Dini.
"Ayo, kakak juga mau kesana!" ucap Adit yang berjalan mendahului Dini.
Dinipun pergi ke home store Andi bersama Adit.
Sesampainya di sana, suasana benar benar berbeda dari biasanya. Ada banyak orang di sana, termasuk seseorang yang Dini kenal.
"Papa!" ucap Dini saat ia baru saja tiba.
Dini lalu berjalan menghampiri pria paruh baya yang ia kenal itu bersama Adit.
"Hai Din, kamu ke sini juga?" sapa pria itu.
"Iya pa, Dini baru sempet temuin Andi hari ini karena baru pulang dari kantor," jawab Dini.
"Malem om," sapa Adit pada papa Dimas.
"Kamu yang nyuruh dia lembur?" tanya papa Dimas pada Adit.
"Dia nggak pernah mau ninggalin pekerjaan nya kalau belum bener bener selesai om," balas Adit.
"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri Din!" ucap papa Dimas pada Dini.
"Iya pa," balas Dini.
Papa Dimas lalu berpamitan pulang karena urusannya dengan Andi sudah selesai.
"Ayo masuk!" ajak Andi pada Dini dan Adit.
Dini dan Adit lalu mengikuti Andi masuk. Mereka berjalan menaiki tangga ke arah balkon.
"Kamu baru pulang Din?" tanya Andi sambil menaruh 2 gelas minuman di meja.
"Iya, banyak kerjaan di kantor," jawab Dini.
"Jaga kesehatan kamu Din, kamu keliatan capek banget sekarang!"
Dini hanya tersenyum lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Kak, lo nggak bawa hadiah apa apa buat gue?" tanya Andi bertanya pada Adit.
"Tenang, udah gue siapin," ucap Adit sambil memberikan sebuah kunci mobil pada Andi.
"Ini?" tanya Andi tak percaya.
"Besok pagi bakalan dateng, bisa lo pake buat kendaraan operasional home store atau lainnya," ucap Adit.
"Lo serius?"
"Lo bilang mau hadiah kan? ya ini, atau lo butuh yang lain?"
"Udah udah, gue cuma bercanda tadi!"
"Gue udah siapin ini dari kemarin sebelum lo minta!"
"Aaahhh, thanks banget kak," ucap Andi dengan memeluk Adit.
"Kalau lo butuh apa apa, lo bisa bilang gue, gimanapun juga gue kakak lo, gue harus bisa bantu bisnis lo!"
"Iya pasti," balas Andi dengan menganggukkan kepalanya.
Dini yang melihat hal itu ikut tersenyum senang. Meskipun mereka baru bertemu setelah sekian lama terpisah, nyatanya darah tetap bisa menyatukan mereka bahkan mempererat hubungan mereka.
"Aku cuma bisa kasih kamu hadiah kecil ini," ucap Dini lalu memberikan sebuah kotak pada Andi.
"Makasih Din, boleh aku buka sekarang?" tanya Andi yang bersiap untuk membuka kotak itu, namun tangan Dini segera menahan tangan Andi.
"Jangan, nanti aja hehe...."
"Gue harus pulang sekarang, lo anter Dini ya nanti!" ucap Adit yang mengerti posisinya saat itu.
"Oke, thanks hadiahnya, take care!"
Setelah Adit pergi, Dini lalu memperbolehkan Andi membuka kotak pemberiannya.
Di dalamnya ada sebuah bola lampu hias yang biasa diletakkan di meja, di dalamnya ada miniatur rumah di atas hamparan salju dan langit yang mengeluarkan sinar aurora yang indah.
Dini lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Andi, mengambil bola lampu hias itu dari tangan Andi.
"Kamu bisa taruh di meja kerja kamu, katanya sih bisa buat ngilangin stres kalau kamu liat gerakan auroranya, di sini juga ada tombol buat ganti ke mode siang, nanti akan muncul salju yang turun di dalem sini," ucap Dini menjelaskan.
__ADS_1
Andi hanya diam memperhatikan Dini, ia lalu memegang tangan Dini dan menggenggamnya. Andi berdiri dari duduknya dan menarik Dini semakin mendekat ke arahnya.
Dini yang terkejut dengan apa yang dilakukan Andi hanya diam, matanya menatap mata sahabatnya itu dengan gemuruh dalam dadanya.