
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Adit sudah bersiap untuk meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri Dini di ruangannya.
"Belum pulang?" tanya Adit yang kini berdiri di belakang Dini, melihat ke arah layar komputer Dini.
"Gara gara kak Adit kerjaan Dini jadi numpuk!" balas Dini kesal.
"Kamu bisa minta bantuan Jaka Din, lagian ini deadline nya kan masih minggu depan."
"Kak Adit pulang aja deh, jangan ganggu!"
"Kakak ke sini mau kasih tau kamu kalau kakak mau cuti."
Seketika Dini menghentikan tangannya yang sedari tadi mengetik.
"Cuti? kapan? berapa lama?"
" Nggak akan lama, mungkin 2 atau 3 hari mulai besok."
"Nggak bisa gitu dong kak, jadwal kak Adit kan udah Dini siapin, ada meeting penting juga, ada klien penting yang harus kakak temui 2 hari lagi dan....."
"Itu tugas kamu," ucap Adit dengan senyum manis tanpa dosa.
"Iiissshhh, kak Adit jahat banget!"
"Kakak udah konfirmasi sendiri sama klien yang 2 hari lagi mau kakak temui, mereka bersedia buat pending pertemuan itu, sisanya kamu yang urus ya, bye cantik!" ucap Adit lalu meninggalkan ruangan Dini begitu saja.
"Aaarrgghhh, kak Adiiittt!!!"
Di luar ruangan Dini, sebelum meninggalkan kantor Adit menghampiri Jaka.
"Saya akan cuti mulai besok, mungkin 2 atau 3 hari, tolong kamu bantuin Dini seperti biasa ya!"
"Baik pak."
"Saya akan kirimkan file yang harus kamu kerjakan lewat email, jangan biarkan Dini bekerja terlalu keras, bantu dia sebisa kamu."
"Baik pak, pak Adit bisa percaya sama saya."
Adit mengangguk lalu meninggalkan Jaka.
"Rud, ke rumah mama ya!" ucap Adit pada Rudi saat ia sudah memasuki mobilnya.
"Baik pak."
Sepanjang perjalanan Adit hanya tersenyum membayangkan betapa bahagia nya sang mama saat itu.
"Pak Adit lagi bahagia banget ya?" tanya Rudi.
"Keliatan Rud?"
"Banget, pak Adit nggak keliatan galak hari ini," jawab Rudi.
"Emang biasanya saya keliatan galak?"
"Hehe, begitulah pak."
"Rud, kamu beberapa hari yang lalu bilang lagi cari motor ya?"
"Iya pak, tapi nggak jadi."
"Emang motor buat siapa? bukannya kamu udah punya?"
"Buat adik saya pak, dia mau kerja jadi ojek online sambil nunggu panggilan wawancara kerja."
"Oh, tapi kenapa belum jadi beli?"
"Anak saya sakit pak, jadi uangnya buat berobat anak saya dulu."
"Tapi sekarang udah sehat anak kamu?"
"Alhamdulillah sudah pak."
Adit mengangguk anggukkan kepalanya lalu diam diam mengirimkan pesan pada orang suruhannya untuk membeli motor dan dikirimkan ke alamat tempat tinggal Rudi.
Sesampainya di rumah mama Siska, Adit segera masuk ke dalam rumah dan mendapati sang mama dan Andi yang sedang melukis di tepi kolam renang.
"Kakak kamu dateng," ucap mama Siska pada Andi.
Andi lalu membawa pandangannya ke arah pintu dan mendapati Adit yang hanya berdiri di sana.
"Mama tau?" tanya Andi.
"Mama selalu bisa rasain kedatangannya," jawab mama Siska yang masih fokus melukis.
Adit lalu menghampiri sang mama dan memeluk mamanya dari belakang.
"Mama okay?" tanya Adit.
"Of course, ada anak anak mama di sini, pasti mama baik baik aja," jawab mama Siska.
"Lo suka ngelukis juga?" tanya Adit pada Andi.
"Lumayan," balas Andi singkat.
Tak pernah terpikirkan dalam hidupnya jika ia akan menjadi adik dari laki laki yang selalu membuatnya naik darah. Laki laki mesum yang mencari kesempatan pada Dini.
Mama Siska lalu merapikan alat lukisnya dibantu dengan Andi dan Adit.
"Ambil kursi sayang, jangan duduk di bawah," ucap mama Siska pada Adit yang duduk di lantai, di samping sang mama.
Adit lalu mengambil kursi dan duduk di samping mama Siska.
"Gimana kantor Dit?" tanya mama Siska.
"Nggak ada masalah ma, lancar semuanya," jawab Adit.
"Adit, selama ini kamu sudah berusaha keras sendirian buat menjalankan perusahaan papa kamu, apa kamu keberatan kalau Andi bantuin kamu di perusahaan?" tanya mama Siska.
"Enggak ma, Adit sama sekali nggak keberatan, Adit akan carikan posisi yang sesuai sama Andi," jawab Adit.
"Terima kasih sayang, Andi gimana? kamu mau kan bantuin Adit di perusahaan papa kamu?"
"Andi nggak ada pengalaman apa apa ma, Andi nggak pernah kerja di perusahaan sebelumnya," jawab Andi.
"Adit pasti bantuin kamu, banyak yang bisa bantuin kamu nanti."
__ADS_1
Andi diam beberapa saat, dalam hatinya ia ingin menolak permintaan sang mama, namun ia tidak berani mengatakannya. Sejujurnya ia ingin melanjutkan bisnisnya yang ia mulai bersama Dimas.
Bagi Andi home store itu sudah seperti rumah baginya. Ia memulai dari nol bersama Dimas, ketika Dimas harus memilih pilihan lain, maka ia sendiri yang harus mempertahankan home store itu.
Bekerja sesuai dengan passion adalah mimpi semua orang dan bagi Andi, home store itu adalah bagian dari mimpinya.
"Mama mau bawa masuk lukisannya, kalian ngobrol aja dulu."
"Andi bantuin ma!"
"Nggak perlu sayang, kalian harus banyak ngobrol biar makin akrab," ucap mama Siska dengan membawa pandangannya pada Andi dan Adit bergantian.
Andi lalu kembali duduk. Kini hanya ada Adit dan Andi di tepi kolam renang.
"Apa ini keputusan lo?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Andi.
"Lo harus yakin sama keputusan lo, gue nggak mau mama terluka lagi," ucap Adit.
"Gue yakin sama keputusan gue, gue nggak akan nyakitin mama buat yang kedua kali, lo bisa percaya sama gue," balas Andi.
"Soal ucapan mama tadi, apa lo keberatan kalau harus masuk ke perusahaan?" tanya Adit.
Andi menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Setelah 25 tahun gue hidup, ini hari pertama gue bisa bikin mama yang melahirkan gue bahagia, gue nggak mau ngerusak kebahagiaan itu cuma gara gara keegoisan gue," jawab Andi.
"Jangan lakuin sesuatu karena terpaksa Ndi, hasilnya nggak akan maksimal kalau lo terpaksa."
"Gue cuma nggak mau kecewain mama Dit, gue pingin ngelakuin sesuatu yang bikin mama bangga sama gue."
"Ndi, banyak cara yang bisa lo lakuin buat bikin mama bangga, keluarga kita selalu terbuka dalam semua perbedaan Ndi, lo harus bilang mama apa yang lo rasain, mama juga nggak akan seneng kalau lo ikutin permintaan mama sedangkan lo lakuin itu dengan setengah hati, coba bicarain sama mama, mama pasti ngerti," ucap Adit.
"Apa mama nggak akan kecewa?"
"Enggak, mama selalu kasih kebebasan buat anaknya memilih sesuatu, gue akan bantu lo buat jelasin ke mama."
"Oke, gue akan coba bilang."
Adit menganggukkan kepalanya dan tanpa sadar menepuk pundak Andi. Saat Andi menoleh ke arah Adit, mereka saling pandang untuk beberapa saat lalu segera mengalihkan pandangan mereka dan saling menjauh.
Situasi yang cukup canggung.
"Gue mau tanya sesuatu deh sama lo, dari dulu gue mau nanya tapi belum ada kesempatan."
"Tanya apa?"
"Lo kenapa sih kayak benci banget sama gue?"
"Karena lo cowok mesum," jawab Andi tanpa ragu.
"Apa? mesum? maksud lo?"
"Jujur deh sama gue, lo sering cari kesempatan kan sama Dini?"
"Lo ngomong apa sih, alasan lo nggak masuk akal banget!"
"Lupain aja, gue nggak mau mama liat kita ribut!" ucap Andi lalu melangkah pergi, namun Adit menarik tangannya.
"Enggak, ini harus dilurusin dulu, gue nggak mau lo salah paham sama gue!"
"Enggak ma, kita cuma...."
"Adit, Andi, kalian ini bersaudara, selesaikan masalah kalian dengan cara yang baik," ucap mama Siska dengan menggenggam tangan Andi dan Adit.
"Iya ma."
"Iya ma." jawab Adit dan Andi bersamaan.
"Adit mau ke kamar dulu ma, mau mandi," ucap Adit lalu meninggalkan Andi dan mamanya.
"mesum? dia pikir aku cowok mesum? gila emang!" batin Adit kesal.
**
Di tempat lain, Dini baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia keluar dari kantor dan menunggu bus di halte seperti biasa.
Setelah bus datang, Dinipun segera naik sebelum ia bertemu seseorang yang membuatnya takut.
Sesampainya di rumah, Dini segera mandi.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Dini sedang membaca buku di kamarnya. Ia duduk di tepi jendela kamarnya sambil sesekali melihat ke arah rumah Andi.
"Andi Putra Prayoga, apa kamu bahagia sekarang? apa kamu masih inget sama aku? apa kita masih bisa ngabisin waktu sama sama?"
Dini tersenyum kecil lalu menutup jendela kamarnya dan merebahkan badannya di ranjang.
Biiiipp biiipp biiipp
Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.
"Halo sayang, udah pulang?" tanya Dimas.
"Udah, kamu?"
"Baru aja selesai mandi, how was your day?"
"Capek banget, kerjaan numpuk," jawab Dini dengan menghela napasnya.
"Jangan lupa minum vitamin sayang, jaga kesehatan kamu."
"Iya, Dimas, Andi udah hubungin kamu hari ini?"
"Belum, kenapa?"
"Dia tinggal di rumah mama Siska sekarang," jawab Dini.
"Jadi dia milih keluarga kandungnya?"
"Iya, mulai hari ini aku pasti jarang ketemu dia."
"Kamu sedih?"
"sedikit, aku cuma nggak mau jauh dari Andi," ucap Dini dalam hati.
"Enggak, dia pasti bahagia sama keputusannya," jawab Dini.
__ADS_1
"Kamu juga harus bahagia buat sahabat kamu sayang."
"Iya, ya udah aku mau tidur dulu ya, ngantuk banget."
"Oke, love you sayang."
"Love you too."
Klik. Sambungan berakhir. Dini lalu menenggelamkan kepalanya dalam selimut.
Biiiipp biiipp biiipp
Ponsel Dini kembali berdering, membuat Dini segera mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut.
Sebuah panggilan dari Andi membuat rasa kantuknya seketika menghilang.
"Halo Din, udah pulang?"
"Udah, kamu masih di rumah mama Siska?"
"Iya, mungkin beberapa hari lagi aku pulang ke sana buat ambil beberapa barang yang penting."
"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu," ucap Dini sendu.
"Aku nggak kemana mana Din, cuma butuh 30 menit buat sampai ke rumah kamu."
"Tapi tetep aja jauh."
"Apa kamu keberatan kalau aku tinggal di sini?"
"Enggak, bukan itu maksud ku, aku cuma belum terbiasa aja jauh dari kamu."
"Jarak nggak akan jadi masalah buat kita Din, aku akan tetep nemenin kamu kapanpun kamu butuh aku."
"Iya, aku percaya sama kamu, gimana keadaan kamu? apa masih kerasa sakit?"
"Dikit, kadang tiba tiba kerasa sakit."
"Hmmm.... kamu bikin aku pingin kesana."
"Kalau ada waktu kamu bisa main ke sini kalau kamu mau, mama pasti seneng kalau kamu ke sini."
"Oh ya, kak Adit ada di sana?"
"Iya, dia di sini, kenapa?"
"Kak Adit mau cuti 2 atau 3 hari, dia pasti mau ngabisin waktu sama kamu dan mama."
"Dia nggak bilang apa apa tadi."
"Apa kamu masih suka berantem sama kak Adit?"
"Enggak, emang aku anak kecil!"
"Lupain aja lah Ndi masalah itu, aku kan udah jelasin kalau itu salah paham, kak Adit nggak sengaja, aku......"
"Aku nggak bisa lupain kejadian itu Din, tiap aku inget rasanya pingin nonjok wajahnya tau nggak!"
"Hei, nggak boleh gitu, dia kan kakak kamu!"
"Dia emang lebih tua dari aku, tapi kalau dia ganggu kamu, aku nggak akan diem aja!"
"Kak Adit nggak pernah ganggu aku Ndi, dia itu kakak yang baik buat aku, dia pasti jadi kakak yang baik juga buat kamu."
"Kakak?"
"Iya, apa kamu sekarang panggil 'kak Adit'?"
"Kak Adit? enggak lah, aneh banget rasanya."
"Tapi dia kan kakak kamu!"
"Emang, tapi..... enggak ah nggak mau tau, jijik banget dengernya."
"Kak Adit sama dek Andi hehehe....."
"Apaan sih Din, geli banget!"
Dini hanya terkekeh mendengar ucapan Andi. Mereka bercengkerama cukup lama malam itu.
**
Di tempat lain, Dimas sedang berbicara dengan sang papa melalui sambungan ponselnya.
"Papa akan urus semuanya, kamu fokus aja sama tujuan kamu!" ucap papa Dimas.
"Tapi papa nggak akan bawa media dalam masalah ini kan?"
"Kamu tenang aja, papa nggak akan biarin media ganggu kamu."
"Dimas boleh tau apa rencana papa?"
"Kamu nggak perlu tau, papa akan lakukan ini secara profesional sebagai pemilik perusahaan, bukan sebagai papa kamu!"
"Terima kasih banyak pa, Dimas janji akan berusaha semaksimal mungkin di sini, Dimas nggak akan kecewain papa!"
"Papa percaya sama kamu!"
Setelah mengakhiri panggilannya dengan sang papa, Dimaspun menghubungi Andi. Ia ingin menanyakan kabar Andi sekaligus mengkonfirmasi apa yang Dini ceritakan padanya beberapa waktu yang lalu.
Sedang berada di panggilan lain
Dimas beberapa kali mencoba menghubungi Andi, namun hasilnya tetap saja nihil. Andi sedang sibuk dengan panggilan lain.
"nggak mungkin sama Dini kan? Dini udah tidur," batin Dimas dalam hati.
Dimas lalu mencoba menghubungi Dini, sekedar memastikan dugaannya. Ia berusaha menyiapkan hatinya jika saja apa yang ia pikirkan benar.
Sedang berada di panggilan lain
Seketika Dimas tersenyum tipis dan membanting ponselnya ke arah dinding. Ia tak peduli pada ponsel yang kini sudah terbagi menjadi beberapa bagian di lantai.
Dimas lalu ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan kasar. Ia ingin marah, ia ingin mengumpat dan meluapkan emosinya saat itu juga.
Hal itu bukanlah yang pertama bagi Dimas. Hal itu sudah pernah terjadi dan ia hanya bisa membanting ponselnya untuk meluapkan amarahnya.
__ADS_1
"Andini, Andi, Andini, Andi, aku tau kalian cuma bersahabat, tapi persahabatan kalian terkadang menyakitkan buat aku," ucap Dimas dalam hati.