
Sore itu, Andi masih berada di kafe bersama Anita. Banyak hal yang sudah mereka bicarakan, tapi satu pertanyaan Anita sempat membuat Andi terdiam.
"Jalan yang lain? kamu?" tanta Anita dengan menatap ke dalam mata Andi.
Andi sengaja bertahan untuk berada di dekat Anita karena ia tau jika Anita tidak akan berhenti untuk mengganggu Dimas dan Dini bagaimana pun caranya.
Andi ingin Anita tau jika apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan dan Andi ingin agar Anita berhenti berharap pada cinta yang sudah dimiliki oleh orang lain.
"Kalau bukan sama Dimas, mungkin aku akan jatuh cinta sama kamu," ucap Anita.
"Kamu tau kamu nggak boleh jatuh cinta sama aku," balas Andi.
"Karena ada Dini di hati kamu? tapi dia udah milih Dimas dan kamu nggak mungkin selamanya hidup dengan mencintai tanpa dicintai."
"Setidaknya aku masih jadi bagian dari Dini Nit," balas Andi.
"Apa aku dilarang buat jatuh cinta sama kamu?"
"Kamu akan sakit hati lagi nantinya, kamu siap?"
"Kalau aku siap, apa aku bisa miliki kamu?" tanya Anita yang membuat Andi begitu terkejut.
"Nit, aku......."
"Lupain aja, dengan adanya kamu di sini aja aku udah seneng kok," ucap Anita memotong ucapan Andi.
Andi hanya tersenyum canggung lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Kamu stay di sini apa langsung balik hari ini?" tanya Anita.
"Aku langsung balik Nit," jawab Andi.
"Aku ikut ya, aku nggak bawa mobil!"
"Oke, kita berangkat sekarang?"
"Oke, anterin aku ke tempat kerja mbak Dewi dulu ya!"
Andi menganggukkan kepalanya. Setelah itu Andi dan Anita pergi ke rumah sakit tempat Dewi bekerja.
Sesampainya di sana, Anita tidak segera turun dari mobil Andi, ia ingin memastikan jika Andi tidak akan meninggalkannya seperti Dimas.
"Kamu akan nungguin aku di sini kan?" tanya Anita.
"Iya, aku tunggu kamu di sini," jawab Andi.
Anita tersenyum lalu keluar dari mobil Andi untuk menemui Dewi dan berpamitan.
Setelah bertanya pada salah satu staf rumah sakit, Anitapun segera berjalan ke arah ruangan Dewi.
"Mbak, Anita mau pulang," ucap Anita saat ia sudah duduk di hadapan Dewi.
"Sekarang? sama siapa?" tanya Dewi.
"Sama Andi, dia udah nungguin di depan," jawab Anita.
"Kamu yakin dia nungguin kamu? nggak pergi lagi kayak Dimas kemarin? hehe...."
"Ini Andi mbak, bukan Dimas, mereka beda," jawab Anita kesal.
"Udah jelas jelas Andi yang baik sama kamu, kenapa kamu nggak sama Andi aja sih?"
"Anita cintanya sama Dimas mbak, bukan sama Andi, Anita deket sama Andi karena emang cuma dia yang paling mengerti Anita, karena Andi juga Anita bisa deket lagi sama Dini dan Dimas," jawab Anita.
"Apa kamu cuma manfaatin dia buat tujuan kamu sendiri?"
"Mmmmm.... enggak, ya udah Anita pulang dulu!" jawab Anita lalu beranjak dari duduknya.
"Hati hati!" balas Dewi.
Anita lalu berjalan menemui Andi, merekapun meninggalkan rumah sakit.
**
Di tempat lain, Dimas yang masih berada di kantor segera mengirimkan pesan pada Andi sebelum ia memutuskan untuk pulang.
Anita sama lo?
Tak lama kemudian ponselnya berdering, Andi membalas pesannya.
Iya, dia balik sama gue
Dimas lalu membereskan barangnya dan bersiap untuk meninggalkan kantor.
Sesampainya di apartemen, Dimas segera menghubungi Dini namun tak ada jawaban. Ia pun mengirim pesan pada Dini sebelum ia mandi.
Sayang, kamu dimana?
Sampai ia selesai mandi, tak ada balasan dari Dini. Dimaspun kembali menghubungi Dini namun lagi lagi tak ada jawaban.
Entah sudah berapa kali Dimas menghubungi Dini, akhirnya Dini menerima panggilannya.
"Kamu dimana sayang? masih di kantor?"
"Iya, aku masih sibuk Dimas, nanti aku hubungin kamu lagi ya!"
"Oke," balas Dimas.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun Dini tak kunjung menghubungi nya.
Dimas lalu menghubungi seseorang untuk memastikan jika Dini baik baik saja.
Setelah ia tau jika Dini sedang dalam perjalanan pulang, Dimaspun lebih tenang.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, panggilan dari Dini.
"Halo sayang, udah pulang?"
"Udah, baru aja nyampe rumah, capek banget!" jawab Dini.
__ADS_1
"Langsung mandi terus istirahat sayang, jangan lupa minum vitamin!"
"Iya, kamu juga," balas Dini.
Setelah panggilan berakhir, Dini segera pergi ke kamar mandi lalu merebahkan badannya di ranjang setelah mandi.
Dini memejamkan matanya dan sesaat ucapan mama Siska padanya terngiang di telinganya.
Persahabatan anak SD, SMP, SMA, kuliah sampai dunia kerja nggak ada yang sama Din, setelah perjalanan kalian berdua yang sangat lama, mama yakin hubungan yang kamu sebut sahabat itu sudah berbeda, entah kamu yang belum sadar atau kamu yang nggak mau menyadarinya
"berbeda? enggak, nggak ada yang berbeda, kita masih bersahabat seperti dulu, hanya saja aku sudah memilih masa depanku sedangkan Andi masih nyaman dengan apa yang dia miliki sekarang, nggak cuma mama Siska, dari dulu emang banyak orang yang salah paham, jadi aku nggak perlu terlalu mikirin itu," batin Dini dalam hati.
Perlahan detik jam mengantarkan Dini ke alam tidurnya sampai alarm pagi membangunkan tidur nyenyaknya.
Seperti biasa, ia pergi ke halte untuk menunggu bus. Tiba tiba sebuah mobil yang ia kenal berhenti di depannya.
Laki laki tampan itu turun dan meminta Dini untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu dari mana pagi pagi gini?" tanya Dini pada Andi.
"Mau ke rumah ibu, tapi ibu bilang lagi nggak di rumah," jawab Andi.
"Kamu hari ini sibuk nggak? kalau ada waktu kita ke rumah mbak Ana bisa?"
"Nanti sore?" balas Andi bertanya.
"Iya, itu kalau kamu nggak sibuk sih!"
"Bisa kok, sama kak Adit juga?"
"Iya, kak Adit bilang kita harus kesana sama sama, kita nggak boleh kesana tanpa kak Adit!"
"Oke, nggak masalah, nanti aku jemput kamu ya!"
Dini menganggukkan kepalanya penuh semangat.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan kantor Adit.
"Din, nanti aku jemput buat makan siang ya?"
"Oke, makasih tumpangannya!"
Andi menganggukkan kepalanya lalu pergi setelah Dini turun dari mobilnya.
Setelah menyibukkan diri dengan pekerjaannya, jam makan siang pun tiba.
Dini lalu menghampiri Adit untuk memastikan jika tidak ada lagi yang harus ia kerjakan.
"Nggak ada, kamu makan siang aja dulu," ucap Adit.
"Dini duluan ya kak!"
Adit menganggukkan kepalanya membiarkan Dini meninggalkan ruangannya.
Dini berjalan ke arah lobby, dimana Andi sudah menunggunya di sana. Mereka lalu masuk ke dalam mobil dan pergi ke salah satu tempat makan terdekat.
"Ada yang mau kamu bicarain?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala Andi.
"Aku kemarin temuin Anita di tempat kerja Dimas," ucap Andi.
"Dia pasti nungguin Dimas lagi," ucap Dini.
"Lagi?" tanya Andi memperjelas ucapan Dini.
"Iya, kemarin dia dateng dan bawain Dimas makan siang, dia juga nunggu Dimas di lobby sampe Dimas pulang," jawab Dini menjelaskan.
"Dia juga bilang aku kalau dia kemarin kesana karena bawain Dimas makan siang," ucap Andi.
"Dia nggak akan bisa sadar Ndi, dia emang jahat dan......"
"Din, dia teman kita," ucap Andi memotong ucapan Dini.
"Teman yang selalu nyakitin aku Ndi, siapa sahabat kamu sebenarnya, aku atau dia?"
"Kamu sahabatku Din, satu satunya yang paling berharga di hidupku selain keluarga ku cuma kamu," jawab Andi.
"Tapi kamu belain dia," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.
Andi lalu menarik tangan Dini dan menggenggamnya di atas meja.
"Din, aku nggak belain Anita, aku cuma nggak mau dia terus terusan jadi tokoh antagonis di cerita hidup kamu, karena kalau dia selamanya antagonis, dia nggak akan pernah berhenti buat jahat sama kamu, aku deketin dia karena aku berusaha buat ubah dia jadi sekedar tokoh figuran yang bahkan nggak berpengaruh lagi sama kehidupan kamu!"
"Kenapa nggak dijadiin protagonis aja?"
"Aku bukan penulis cerita hidup kamu Din, aku bukan sutradara yang bisa merubah apapun semauku," jawab Andi.
Dini lalu terkekeh mendengar jawaban Andi.
"Sedikit banyak aku tau dan mengerti apa yang Anita rasain Din, semua yang dia lakuin selama ini cuma karena dia mau memiliki Dimas, saat rasa ingin memilikinya udah nggak ada, aku yakin dia akan jadi lebih baik," ucap Andi.
"Asal kamu nggak jatuh cinta aja sama dia!"
"Emang kenapa kalau aku jatuh cinta sama dia?"
"Please lah Ndi, jangan, banyak perempuan lain yang lebih baik dari Anita, kamu pantas dapat yang lebih dari Anita!"
"Yang kayak kamu?"
"Iya, yang kayak aku," jawab Dini yang membuat Andi tersenyum tipis.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Andipun membawa Dini kembali ke kantor Adit.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang, Andi baru saja meninggalkan home store dan pergi ke kantor Adit untuk menjemput Dini.
Setelah menunggu beberapa lama, Adit dan Dini akhirnya keluar.
"Dini sama Andi ya kak!" ucap Dini pada Adit.
__ADS_1
"Oke!" balas Adit.
Merekapun berangkat ke rumah Ana. Dalam perjalanan ke sana, Dini sempat singgah di salah satu toko yang menjual perlengkapan ibu hamil.
Dini dan Andi lalu membeli beberapa barang untuk mereka berikan pada Ana.
Waktu berlalu, mobil Andi dan Aditpun memasuki kompleks perumahan yang masih sepi.
Di depan sebuah gerbang tinggi, mobil Adit berhenti dan tak lama kemudian gerbang dibuka oleh seorang satpam.
Adit dan Andi pun membawa masuk mobil mereka dan segera turun setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah itu.
Adit lalu mengajak Andi dan Dini untuk masuk ke dalam rumah. Mereka di sambut oleh Bu Desi dan Lisa yang mengajak mereka untuk ke meja makan.
"Kalian tunggu di sini, kakak panggil Ana dulu!" ucap Adit lalu masuk ke kamar Ana.
Dengan ragu Ana mengikuti Adit untuk keluar dari kamar. Sebenarnya Ana bukanlah seorang perempuan pemalu, namun karena keadaannya saat itu ia merasa sangat malu jika harus bertemu orang orang yang dikenalnya.
Dini lalu segera berdiri begitu ia melihat Ana datang bersama Adit. Dini berjalan ke arah Ana dan memeluknya.
"Mbak Ana apa kabar? Dini kangen banget sama mbak Ana!"
"Din, jangan terlalu ditekan," ucap Adit dengan menarik Dini agar berhenti memeluk Ana.
"Oh iya, maaf Dini lupa," ucap Dini lalu sedikit menjauh.
"Nggak papa," balas Ana lalu mempersilakan Dini untuk duduk.
"Mbak Ana makin cantik deh, iya kan Ndi?" ucap Dini.
"Iya bener, mbak Ana bilang aja sama Andi kalau kak Adit nakal, biar Andi pukulin kak Adit nanti!" balas Andi.
Ana hanya tersenyum mendengar ucapan Andi dan Dini.
Merekapun menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Setelah selesai, Dini dan Andi memberikan barang yang sudah ia beli untuk Ana.
"Ini baju ibu hamil, mbak Ana bisa pake sampe 9 bulan karena bahannya bisa menyesuaikan sama perutnya mbak Ana nanti," ucap Dini.
"Ini buku buku tentang persalinan, Andi nggak tau harus beli apa hehe...."
"Terima kasih banyak Din, Ndi," balas Ana dengan tersenyum bahagia.
Malam itu mereka membicarakan banyak hal sampai larut malam. Sesekali mereka tertawa karena cerita mereka, membuat Ana tampak kembali ceria.
Ana sangat beruntung karena bisa mengenal orang orang baik seperti Adit, Andi dan Dini. Ia tidak merasa tersisihkan dengan keadannya yang seperti itu.
Karena malam semakin larut, Adit meminta Andi dan Dini untuk pulang, sedangkan Adit masih berada di sana untuk menemani Ana.
"Dini sama Andi pulang dulu ya mbak, lain kali kita pasti ke sini lagi," ucap Dini pada Ana.
"Iya, makasih udah dateng, aku pasti seneng banget kalau kalian bisa sering ke sini," balas Ana.
Andi dan Dini lalu meninggalkan rumah Ana. Andi mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.
Sesampainya di rumah Dini, mereka segera turun dari mobil.
"Capek banget, tapi juga seneng banget," ucap Dini pada Andi.
"Langsung istirahat aja Din, jaga kesehatan kamu!" ucap Andi dengan membelai rambut Dini.
Dini hanya tersenyum lalu memeluk Andi. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Andi di telinganya yang menempel di dada Andi.
Entah kenapa dan entah sejak kapan, detak itu membuatnya begitu nyaman.
Andi lalu melepaskan pelukan Dini dan mencium kening Dini singkat.
"Aku pulang," ucap Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, membiarkan Andi pergi meninggalkan rumahnya.
Dini lalu masuk ke dalam rumah, mandi lalu merebahkan badannya di ranjang.
Dini menarik selimutnya dan tiba tiba bayangan saat ia memeluk Andi kembali terasa, membuat senyum tipis tergambar di bibirnya.
Dini lalu memejamkan matanya, bersiap untuk segera terlelap dalam tidurnya.
Namun tiba tiba.....
"Din, kamu udah tidur?"
Sebuah suara yang sangat Dini kenal terdengar di telinganya.
Dini lalu membuka matanya dan melihat Andi duduk di tepi ranjangnya.
Dini hanya tersenyum dan menatap sahabatnya itu.
Andi lalu menggenggam tangan Dini dan menariknya agar Dini beranjak dari tidurnya.
Dini lalu duduk berhadapan dengan Andi.
"Kamu kenapa ke sini?" tanya Dini.
Andi hanya diam dengan membelai wajah Dini. Ia tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Ini udah malem Ndi, apa mama nggak akan cariin kamu?" tanya Dini.
Andi menggeleng pelan lalu menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Ada sesuatu yang harus aku sampe'in Din, tapi aku ragu," ucap Andi.
"Ada apa Ndi? kamu bilang aja!"
"Din, aku tau kita udah lama bersahabat, hampir seluruh hidup kita sampai saat ini kita jalani bersama, aku nggak tau apa aku pantas buat bilang ini, tapi semakin lama aku semakin merasa perasaan dalam hatiku nggak bisa aku tahan lagi," ucap Andi dengan bersungguh sungguh.
"Perasaan apa maksud kamu?"
"Perasaan yang mungkin nggak seharusnya ada, aku minta maaf kalau perasaan aku ini salah, tapi..... aku cinta sama kamu Din, aku sayang sama kamu lebih dari sahabat, aku udah lama simpan perasaan ini dan aku nggak sanggup lagi buat menahannya, sekali lagi aku minta maaf," ucap Andi yang membuat Dini hanya terdiam dan tak bisa berkata kata lagi.
__ADS_1