Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Pertama Dini dan Dimas (2)


__ADS_3

Hari masih pagi, Dini dan Dimas sudah meninggalkan rumah ibu Dini dengan membawa barang pribadi milik Dini.


Dimas mengendarai mobilnya ke arah rumah yang sudah lama ia siapkan untuk Dini. Jauh sebelum ditentukannya hari pernikahan mereka, diam diam Dimas sudah menyiapkan rumah untuk tempat tinggalnya bersama Dini setelah mereka menikah.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mobil Dimas memasuki sebuah komplek perumahan mewah.


Dimas lalu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar dengan pagar tinggi menjulang.


Tak lama kemudian gerbang terbuka, seorang satpam menyambut kedatangan Dimas dan Dini.


Saat mobil berjalan pelan memasuki garasi terlihat beberapa orang tampak berjejer di depan rumah.


Beberapa dari mereka mengikuti mobil Dimas untuk masuk ke garasi.


"Dimas, mereka siapa? apa kita akan tinggal di sini?" tanya Dini pada Dimas sebelum mereka turun dari mobil.


Dimas hanya tersenyum, turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Dini.


"Tolong barang barangnya ya pak!" ucap Dimas pada salah satu laki laki paruh baya yang tadi mengikuti mobil Dimas ke garasi.


"Baik," balas laki laki itu.


Dimas menggandeng tangan Dini, membawanya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah sudah berjejer beberapa orang pria dan wanita yang menyambut kedatangan Dimas dan Dini.


"Selamat pagi semuanya, seperti yang saya bilang sebelumnya, hari ini saya dan istri saya mulai menempati rumah ini, jadi saya minta bantuannya supaya kita sama sama nyaman tinggal di rumah ini," ucap Dimas menyapa yang dibalas anggukan kepala semua yang ada di sini.


Mereka semuapun memperkenalkan diri masing masing, ada yang bertugas untuk memasak, membersihkan bagian dalam rumah, bagian depan rumah, tukang kebun, satpam dan supir.


Dini hanya tersenyum dengan menganggukan kepala saat mereka semua memperkenalkan diri mereka pada Dini.


Dimas lalu mengajak Dini untuk masuk ke dalam salah satu kamar setelah barang barang mereka dibawa masuk.


Dini duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap sudut ruangan besar yang akan menjadi kamarnya bersama Dimas.


"Apa ada yang nggak kamu suka? mau diganti? atau ada yang lain yang kamu butuhkan?" tanya Dimas yang duduk di samping Dini.


"Ini semua lebih dari yang aku butuhkan Dimas," jawab Dini dengan tersenyum.


Sejujurnya ia merasa rumah itu terlalu besar untuk ia tinggali bersama Dimas. Ditambah lagi ada beberapa asisten rumah tangga yang menurut Dini terlalu banyak yang membuatnya kurang nyaman.


Namun ia tidak bisa mengatakan hal itu pada Dimas karena ia tidak ingin membuat Dimas tersinggung. Bagaimanapun juga Dimas sudah menyiapkan semua itu untuknya dan tentu saja untuk mempermudah pekerjaan rumahnya.


"Aku beresin barang barang dulu ya!" ucap Dini lalu berdiri dari duduknya.


"Biar diberesin mbak aja sayang, kita istirahat aja dulu!" ucap Dimas.


"Dimas, kamu tau aku nggak suka kalau barang pribadiku disentuh orang lain," balas Dini.


Dimas menganggukkan kepalanya lalu ikut membuka koper miliknya.


"Oke, kita beresin sama sama," ucap Dimas.


Dini dan Dimas lalu membereskan barang barang mereka bersama sampai tak terasa matahari sudah semakin naik ke atas, menunjukkan waktu sudah semakin siang.


Dini lalu merebahkan badannya di atas ranjang, diikuti dengan Dimas.


"Dimas, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Dini.


"Tentu, apa yang kamu mau sayang?"


Dini lalu beranjak dan duduk dengan mengadap Dimas.


"Dimas, tolong kamu kasih tau mereka semua buat nggak masuk kamar kita ya, apapun yang terjadi aku nggak mau mereka masuk ke sini, aku akan beresin kamar setiap hari dan pastiin semuanya rapi dan bersih," ucap Dini.


Dimas lalu ikut beranjak dan duduk menghadap Dini.


"Aku nggak mau kamu kecape'an Andini, kerjaan kamu di kantor akan menguras banyak waktu kamu dan aku nggak mau kamu terlalu capek karena harus beresin kamar sendiri," ucap Dimas mengkhawatirkan Dini.


"Aku udah biasa beresin kamar sendiri kok, walaupun kamar ini jauh lebih besar dari kamar di rumah ku sebelumnya, tapi aku yakin aku bisa beresin sendiri setiap hari," balas Dini meyakinkan.


"Kamu yakin?"


Dini menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Oke, nanti aku bilang mereka semua buat nggak masuk ke kamar kita, tapi kalau kamu butuh apa apa kamu jangan ragu buat minta tolong sama mereka!"


Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.


"Mereka orang orang yang baik sayang, mama dan papa juga udah lama kenal mereka, jadi kamu nggak perlu khawatir dan merasa sungkan!" ucap Dimas.


Dini kembali menganggukkan kepalanya lalu memeluk Dimas.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Pintu kamar diketuk dari luar oleh seseorang.


"Maaf menggangu, makan siangnya sudah siap di meja makan," ucap seseorang dari luar.


Dimas lalu mengajak Dini untuk keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. Mereka berdua makan di meja makan yang panjang dengan banyak kursi disekitarnya.


Dini terdiam beberapa saat melihat jejeran kursi kosong di hadapannya dan di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Dimas.


Dini hanya menggeleng lalu mengambilkan Dimas makanan di hadapannya dan mengambil untuknya sendiri.


Setelah selesai makan siang, Dimas mengajak Dini untuk berkeliling rumah dan berakhir dengan duduk santai di samping kolam renang.


Sudah beberapa jam Dini dan Dimas berada di rumah itu dan Dini lebih banyak diam sejak ia menginjakkan kaki di rumah itu.


Dimas lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Dini, menatap ke dalam mata Dini.


"Sayang, apa kamu nggak nyaman tinggal di sini?" tanya Dimas.


"Aku.... aku.... aku cuma kangen sama ibu," jawab Dini beralasan.


"Jangan bohong Andini, kalau kamu merasa nggak nyaman tinggal di sini, kita bisa pindah, aku bisa cari rumah lain sesuai dengan keinginan kamu," ucap Dimas.


"kamu udah lama siapin rumah ini, aku nggak mungkin minta pindah di hari pertama kita tinggal di sini," batin Dini dalam hati.


"Aku berusaha buat kasih semuanya yang terbaik buat kamu Andini, tapi aku nggak mau kalau itu nggak bikin kamu nyaman dan bahagia, jadi tolong kasih tau aku apa yang harus aku lakukan supaya kamu nyaman dan bahagia selama kita tinggal bersama," ucap Dimas.


Dini menggelengkan kepalanya pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.


"Ingat sayang, kita harus saling terbuka dan jujur satu sama lain, jangan ada yang dipendam sendiri," ucap Dimas mengingatkan.


"Aku minta maaf Dimas, aku tau kamu udah kasih aku lebih dari keinginan aku, tapi ada beberapa hal yang bikin aku harus berusaha lebih keras buat bisa beradaptasi dengan baik," ucap Dini.


"Apa beberapa hal itu semuanya tentang rumah ini?" tanya Dimas.


Dini diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Dimas. Ia harus memilih kata yang akan diucapkan dengan hati hati agar tidak terjadi salah paham.


"Ini hari pertama aku tinggal sama kamu di sini, kamu tau aku paling susah buat beradaptasi sama lingkungan baru kan, jadi kita lihat aja sampai satu Minggu ke depan, apa aku bisa beradaptasi dengan baik atau enggak," jawab Dini.


"Jangan terlalu memaksakan diri sayang, aku nggak mau kamu tertekan di sini, aku akan cari rumah baru buat kita tinggal, aku akan...."


"Ssssstttt...... selama ada kamu di sini, aku akan selalu bahagia," ucap Dini dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Dimas.


Dimas lalu menyentuh jari telunjuk Dini dan menciumnya.


"Maaf karena nggak bisa cuti terlalu lama sayang, aku janji bulan depan kita akan honey moon kemanapun kamu mau," ucap Dimas dengan membawa Dini ke dalam pelukannya.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Dimas.


**


Di tempat lain, Andi masih terbaring di ranjangnya meski jam sudah melewati pukul 12 siang.


Bubur yang sudah mama Siska siapkan masih terlihat utuh di atas meja.


Suara ketukan pintu membuat Andi membawa pandangannya ke arah pintu kamarnya, namun ia hanya diam tanpa mengucapkan apapun.


Saat pintu terbuka, sang mama masuk dan membawakan bubur yang baru dan juga potongan buah buahan kesukaan Andi.


"Kenapa buburnya belum dimakan? kamu nggak suka?" tanya mama Siska lalu duduk di tepi ranjang Andi.


"Andi belum laper ma," jawab Andi dengan suara parau.


Sejak pulang dari resepsi pernikahan Dini dan Dimas, Andi masuk ke kamarnya dan tidak keluar sampai Adit berangkat ke kantor.


Saat mama Siska mendatanginya, Andi masih terlelap dan enggan untuk bangun.


Karena berpikir jika Andi sedang tidak sehat, mama Siskapun membuatkannya bubur dan menaruhnya di meja yang berada di dekat ranjang Andi.


Namun sampai siang, ternyata bubur itu masih utuh tak tersentuh sama sekali.


Mama Siska lalu menempelkan tangannya di kening Andi, sekedar memastikan apakah Andi masih demam atau tidak.


"Andi nggak demam kok ma, emang lagi nggak pingin makan aja," ucap Andi.


"Iya, kamu nggak demam, ya udah makan buahnya aja, setelah ini kita ke rumah sakit!"


"Andi nggak sakit ma, Andi nggak perlu ke rumah sakit," ucap Andi menolak.


"Tapi kamu..."


"Andi cuma butuh istirahat aja dan dimanja sama mama," ucap Andi lalu memeluk sang mama.


Mama Siska hanya tersenyum lalu menyuapi Andi potongan buah yang ia bawa.


"Apa kamu mau mama jemput ibu dan ayah kamu buat ke sini?"


"Enggak ma, Andi nggak mau ayah dan ibu khawatir, Andi baik baik aja kok!"


Tiba tiba salah satu asisten rumah tangga datang dan menyampaikan jika ada tamu yang mencari Andi.


"Siapa bi?" tanya mama Siska.


"Perempuan yang kemarin datang sama mas Andi Bu!"


"Aletta?" terka Andi.


"Suruh dia ke sini bi!" ucap mama Siska.

__ADS_1


"Baik Bu!"


Tak lama kemudian seorang gadis datang dengan pakaiannya yang terlihat girly, karena memang ia masih dalam jam kerja.


Mama Siska lalu keluar dari kamar Andi setelah Aletta masuk.


"Kamu sakit?" tanya Aletta sambil menempelkan tangannya di kening Andi, persis seperti yang mama Siska lakukan beberapa waktu yang lalu.


"Enggak Ta, aku cuma... cuma butuh lebih banyak istirahat aja," jawab Andi.


"Udah makan?" tanya Aletta yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Andi.


Aletta lalu melihat bubur yang tampak masih hangat di meja Andi, Aletta lalu mengambilnya dan menaruhnya di atas pangkuan Andi.


"Makan sendiri atau aku yang suapin kamu!" ucap Aletta yang terdengar galak.


Andi hanya tersenyum tipis lalu mengangkat bubur dari pangkuannya dan hendak meletakkannya kembali ke meja, namun Aletta menahannya.


"Makan sendiri atau aku yang suapin kamu!" ucap Aletta mengulangi perkataannya.


"Ta, aku...."


"Makan sendiri atau aku yang suapin kamu!" Aletta kembali mengulangi ucapannya dengan nada yang semakin tinggi.


Andi menghela napasnya lalu menyendok sedikit bubur di pangkuannya dan memakannya dengan malas.


Alettapun tersenyum penuh kemenangan lalu mengacak acak rambut Andi.


"Kamu belum mandi ya?" tanya Aletta dengan menutup hidungnya.


Andi tak menjawab, ia hanya merapikan rambutnya dengan tangannya lalu bergaya di depan Aletta.


"Tetep cakep kan?"


Aletta hanya tertawa melihat kenarsisan laki laki di hadapannya.


Andipun tersenyum melihat tawa Aletta.


"Kamu kenapa tiba tiba kesini?" tanya Andi.


"Aku tadi ke home store, Rama bilang kamu nggak dateng ke home store karena sakit, jadi aku langsung ke sini," jawab Aletta menjelaskan.


"Hmmm.... pasti mama yang bilang Rama kalau aku sakit," ucap Andi.


"Padahal?"


"Padahal aku cuma pingin rebahan di kamar hehehe...."


"Iya, kamu emang butuh me time buat menyembuhkan luka kamu, jangan terlalu memaksakan diri, nikmati aja prosesnya," ucap Aletta dengan menatap Andi.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan berusaha mengunyah bubur di mulutnya yang terasa hambar.


"Kapan kamu daftar kuliah?" tanya Aletta.


"Belum tau Ta, pikiranku masih kemana mana sekarang," jawab Andi.


"It's okay, nggak perlu terlalu terburu buru," balas Aletta.


"Bulan depan kamu bisa cuti nggak Ta?" tanya Andi tiba tiba.


"Mmmm.... nggak tau, nanti aku coba tanya, emang kenapa?"


"Seperti yang kamu bilang, aku butuh me time dan aku maunya me time sama kamu, kita liburan beberapa hari, gimana?"


Aletta diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Andi.


"me time sama aku? liburan beberapa hari? berdua? serius?" batin Aletta bertanya tanya dalam hati.


"Aku butuh kamu Ta," ucap Andi dengan menatap wajah Aletta.


"Aku.... aku.... aku usahain, tapi aku nggak bisa janji," balas Aletta.


"Oke nggak papa!"


Setelah beberapa lama berada di kamar Andi, Alettapun berpamitan untuk kembali ke kantornya karena jam makan siang akan segera berakhir.


Namun saat Aletta akan membuka pintu, Andi mencegahnya.


"Tunggu!" ucap Andi yang membuat Aletta segera membawa pandangannya ke arah Andi.


Andi lalu beranjak dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Aletta lalu memeluknya begitu saja.


"Maaf Ta, maaf karena pernah menyakiti perasaan kamu," ucap Andi.


"Aku udah lupain hal itu Ndi, aku cuma ingat hal hal yang bikin aku bahagia," balas Aletta.


"Makasih Ta," ucap Andi.


Aletta hanya terdiam dalam pelukan Andi. Ia tidak tau apa arti dirinya dalam hidup Andi. Ia tidak mengharapkan apapun atas hubungannya dengan Andi saat itu, karena ia tau Andi masih mencintai Dini bahkan setelah pernikahan Dini dan Dimas.


Meski bunga dalam hatinya tengah bermekaran, Aletta berusaha untuk tetap menjaganya agar tidak terlalu lama menguasai hati dan dirinya.

__ADS_1


Ia sadar, rasa sakit akan hadir saat ia mengharapkan lebih pada sesuatu yang ia tau akan sia sia.


__ADS_2