
Malam berlalu, namun gelap masih tampak membayangi. Pagi pagi sekali Ana bangun, mandi dan segera membangunkan Adit yang masih tampak terlelap.
Ana naik ke ranjangnya dan menyentuh pipi Adit dengan pelan.
"Adit, bangun, kamu harus pulang," ucap Ana membangunkan Adit.
Adit hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
Ana lalu mendekat dengan memberikan kecupan singkat di bibir Adit, membuat Adit segera membuka matanya.
Saat melihat mata Adit terbuka, Ana segera beranjak dari ranjang dan berdiri.
Adit hanya tersenyum tipis lalu duduk di tepi ranjang dan menarik tangan Ana agar duduk di pangkuannya.
"Kamu habis mandi?" tanya Adit dengan mencium leher Ana.
"Iya, maaf bangunin kamu, kamu harus pulang sekarang!"
"Aku nggak pingin pulang," ucap Adit dengan masih melingkarkan tangannya di pinggang Ana yang duduk di pangkuannya dengan membelakanginya.
"Tapi kamu harus pulang," balas Ana lalu melepaskan tangan Adit dari pinggangnya dan berdiri.
Ana lalu menarik tangan Adit dan memaksanya masuk ke kamar mandi.
"Kamu mandi dulu, biar seger!" ucap Ana.
Adit menganggukkan kepalanya pasrah lalu segera mandi.
Setelah selesai mandi, Aditpun meninggalkan rumah Ana.
Sesampainya di rumah, Adit segera naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya.
Saat menaiki tangga, ia berpapasan dengan Andi.
"Baru pulang?" tanya Andi.
Adit hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Andi lalu melanjutkan langkahnya untuk turun, namun tiba tiba Adit memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Andi.
"Ikut gue, ada yang mau gue omongin," jawab Adit lalu masuk ke kamarnya diikuti Andi.
Adit lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, sedangkan Andi duduk di tepi ranjang menunggu Adit.
"Lo mau ngomong apa sih?" tanya Andi.
"Tutup pintunya dulu!" balas Adit dari dalam kamar mandi.
Andi lalu menutup pintu kamar Adit dan kembali duduk di tepi ranjang Adit.
"Lo tau kemarin siang Dini kenapa?" tanya Adit sambil mengenakan kemeja putihnya.
"Dia nggak mau cerita sama gue," jawab Andi.
"Mungkin emang nggak terjadi apa apa," ucap Adit.
"Gue tau Dini kak, dia nggak bisa bohong sama gue!" balas Andi.
"Tapi kan dia bilang dia nggak papa!"
"Itu artinya dia belum siap buat cerita, gue akan nunggu sampe dia mau cerita sama gue!" ucap Andi.
"lo kenal Dini banget ya Ndi, tapi mungkin kali ini Dini nggak akan cerita karena ini menyangkut mama, dia pasti nggak mau lo sama mama salah paham," batin Adit dalam hati.
"Gue takut mama ngomong sesuatu yang tanpa mama sadar bikin Dini nggak nyaman," ucap Andi yang membuat Adit sedikit terkejut.
Adit hanya diam, tujuannya untuk mengajak Andi ke kamarnya hanya ingin memastikan apakah Dini menceritakan kejadian kemarin siang pada Andi atau tidak.
Ia tidak menyangka jika Andi bisa menduga dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi antara sang mama dan Dini.
Melihat Adit yang hanya diam dan sibuk dengan dasinya membuat Andi memperhatikan Adit dengan seksama.
"Kenapa lo liatin gue sih?" tanya Adit yang merasa mendapat tatapan intimidasi dari Andi.
"Lo pasti tau sesuatu kan?" balas Andi bertanya.
"Enggak, gue nggak tau apa apa," jawab Adit yang tampak kesusahan memasang dasinya.
Andi tersenyum tipis lalu berdiri dan mendekat ke arah Adit.
"Lo tau gue nggak akan tinggal diam sama apapun yang menyangkut Dini kan?" tanya Andi dengan menatap bayangan Adit di cermin.
"Iya, gue tau, tapi gue emang nggak tau apa apa, mama nggak bilang apa apa," jawab Adit yang entah kenapa masih saja gagal memasang dasinya.
"Sini, gue benerin," ucap Andi lalu menarik dasi Adit.
"Gue.... gue lupa caranya hahaha...." ucap Adit dengan tertawa canggung menutupi kebohongannya.
Andi hanya tersenyum tipis lalu menarik dengan kuat dasi Adit, membuat Adit hampir tercekik.
"Ndi, lo gila? lo mau bunuh gue?" ucap Adit dengan menahan dasinya agar tidak semakin ditarik oleh Andi.
"Mama bilang apa sama Dini?" tanya Andi dengan masih menarik dasi Adit.
"Lepasin dulu, gue akan cerita semuanya!" jawab Adit dengan memukul tangan Andi di hadapannya.
Andi lalu melepaskan dasi Adit dan duduk di tepi ranjang Adit.
"Gila, lo bener bener gila!" ucap Adit dengan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Andi lakukan padanya.
"Nggak usah berlebihan, gue cuma narik dikit, nggak sampe bikin lo kehabisan nafas kan?"
__ADS_1
"Tetep aja lo bikin gue takut, nggak lucu kalau ada berita seorang adik tega membunuh kakaknya demi seorang wanita!"
"Gue akan lakuin apapun buat Dini, lo tau itu!" balas Andi.
"Bener bener psikopat lo!" ucap Adit.
"Hahaha..... gue juga masih waras kali, gue cuma bercanda, kalau gue serius udah gue tarik sampe ujung tadi!"
Adit hanya diam lalu melemparkan bantalnya ke wajah Andi.
"Hahaha..... tapi kenapa lo nggak ngelawan sih!"
"Karena lo adik gue, jadi gimana? masih mau tau tentang kejadian kemarin siang nggak?"
"Mau lah, tapi apa bener ini ada hubungannya sama mama?"
Adit menganggukkan kepalanya pelan.
"Mama bilang apa?" tanya Andi.
Adit lalu menceritakan semua yang ia bicarakan dengan sang mama setelah kepergian Andi dan Dini kemarin.
"Tapi lo tenang aja, gue udah coba kasih penjelasan sama mama," ucap Adit di akhir ceritanya.
"Mama gimana?"
"Mungkin sekarang mama masih belum mengerti, tapi gue yakin mama akan mengerti dengan sendirinya dan gue harap lo nggak nyalahin mama atas hal ini!" jawab Adit.
"Gue tau mama kayak gitu karena mama mau gue bahagia, gue akan coba ngomong sama mama biar mama nggak berharap lagi sama hubungan gue dan Dini!" ucap Andi.
"Bicarain baik baik juga sama Dini, dia pasti nggak mau cerita sama lo karena nggak mau lo salah paham sama mama!"
"Iya, gue tau!" balas Andi.
Setelah selesai bersiap dan membicarakan semuanya, Andi dan Adit lalu keluar dari kamar dan berjalan ke arah meja makan.
Semua hidangan makanan sudah tersaji di atas meja, namun sang mama tidak tampak di sana.
"Tumben mama nggak manggil buat sarapan!" ucap Adit.
"Bi, mama dimana?" tanya Andi pada asisten rumah tangga.
"Ibu belum keliatan dari pagi mas."
Andi dan Adit lalu saling pandang dan segera berjalan ke kamar sang mama.
"Ma, ayo sarapan ma!" ucap Andi setelah mengetuk pintu kamar mamanya.
Tak ada jawaban.
"Adit sama Andi masuk ya ma!" ucap Adit lalu perlahan membuka pintu.
Mereka lalu masuk dan mendapati sang mama yang hanya duduk memandang ke arah luar jendela.
"Mama kenapa masih di sini? sarapan udah siap loh!"
Mama Siska hanya diam dengan pandangan kosong.
"Mama marah sama Adit?" tanya Adit pada sang mama.
Mama Siska hanya menggeleng dengan tatapan yang masih kosong.
"Lo duluan aja," ucap Andi pada Adit.
"Adit berangkat ke kantor dulu ya ma," ucap Adit pada sang mama, lalu mencium kening sang mama dan keluar.
Kini tinggal Andi dan sang mama yang ada di sana.
"Mama kenapa? apa Andi dan kak Adit ngelakuin kesalahan?" tanya Andi dengan memegang tangan sang mama.
Mama Siska lalu membawa pandangannya pada Andi.
"Mama cuma mau kamu bahagia Ndi," ucap mama Siska.
"Andi bahagia ma, Andi punya mama dan kak Adit, bisnis Andi lancar dan berkembang, Andi juga punya Dini dan Dimas sebagai sahabat, nggak ada apapun yang bikin Andi nggak bahagia sekarang," ucap Andi.
"Apa kamu bener bener bahagia sayang?" tanya mama Siska.
Andi menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Andi bener bener bahagia ma," jawab Andi.
"Mama mau tanya satu hal sama kamu dan mama harap kamu jujur!"
Andi kembali menganggukkan kepalanya di hadapan sang mama.
"Apa kamu hanya menganggap Dini sebagai sahabat? bukan sebagai seseorang yang kamu cintai yang harus kamu gapai untuk jadi masa depan kamu?"
"Itu dua pertanyaan ma, hehe...."
"Andi, mama serius!" ucap mama Siska dengan memukul Andi.
Andi menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"Kalau mama tanyain itu, jawaban Andi akan selalu sama ma, hubungan Andi dan Dini adalah hubungan persahabatan yang udah kita jalani dari kita kecil, mungkin banyak orang yang salah paham dengan kedekatan kita tapi kita sedekat ini karena emang kita udah jalani seluruh hidup kita sampai sekarang bareng bareng," ucap Andi.
Mama Siska hanya diam mendengarkan ucapan Andi.
"Andi dan Dini saling menyayangi sebagai sahabat ma, apapun yang kita rasain sekarang adalah perasaan seorang sahabat, kalau mama nanya apa Dini adalah cinta yang harus Andi gapai buat masa depan Andi? jawaban Andi enggak," lanjut Andi.
Mendengar ucapan Andi di akhir kalimatnya membuat mama Siska sedikit terkejut.
"Andi cinta sama Dini ma, tapi Andi nggak akan memaksakan takdir yang udah Tuhan tulis buat Andi, selama Dini bahagia sama Dimas, itu udah cukup buat Andi, kebahagiaan Dini lebih dari segalanya buat Andi," batin Andi dalam hati.
__ADS_1
"Jadi Andi mohon mama jangan salah paham sama hubungan Andi dan Dini, Andi emang sayang banget sama Dini tapi sebagai sahabat dan Dini juga udah memilih Dimas buat jadi masa depannya, selama Dini bahagia sama Dimas, Andi juga akan selalu bahagia, jadi mama jangan terlalu khawatir sama Andi ya, Andi bahagia ma, sangat bahagia," ucap Andi dengan menggenggam tangan sang mama.
"Maafin mama sayang," ucap mama Siska menyesali apa yang sudah ia ucapkan pada Dini.
"Mama nggak salah, Andi tau maksud mama baik," balas Andi.
"Tapi apa kamu udah punya seseorang yang akan jadi masa depan kamu?" tanya mama Siska.
"Andi belum mikirin itu ma, bisnis Andi baru jalan dan masih harus terus berkembang, Andi mau fokus kesana dulu," jawab Andi.
"Kamu persis seperti Adit, kalian sama sama gigih sama karir kalian sampe lupa bahagiain diri sendiri!"
"Selama mama bahagia, Andi dan kak Adit akan selalu bahagia ma," balas Andi.
Mama Siska hanya tersenyum kecil, Andi lalu mengajak mama Siska untuk keluar dari kamar dan sarapan.
"Kakak kamu pasti nggak sarapan tadi!" ucap mama Siska.
"Mungkin dia sarapan di luar ma," balas Andi.
Mama Siska hanya menganggukkan kepalanya lalu menikmati sarapannya bersama Andi.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Adit masih berada di ruangannya bersama Dini.
Dari satu jam yang lalu, Dini memang berada di ruangan Adit untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sama sama.
"Kamu makan siang aja dulu, nanti kakak nyusul!" ucap Adit.
Dini hanya diam, ia masih fokus pada laptop di hadapannya.
"Din, makan siang dulu!" ucap Adit dengan menutup laptop Dini.
"Kak Adit jangan ganggu dong, bentar lagi selesai!" balas Dini yang kembali membuka laptopnya, namun Adit menahan tangan Dini.
Mama Siska yang berada di depan pintu ruangan Adit hanya tersenyum melihat Adit yang tampak menggenggam tangan Dini.
Adit lalu segera melepas tangannya dari Dini saat ia menyadari kedatangan sang mama.
"Mama, kenapa tiba tiba ke sini?" tanya Adit.
"Apa mama nggak boleh anterin makan siang buat anak mama?" balas mama Siska bertanya lalu menaruh kotak makanan di meja Adit.
"Boleh banget dong ma, Adit juga udah mau keluar buat makan siang kok," balas Adit.
"Apa mama ganggu kalian?" tanya mama Siska dengan membawa pandangannya pada Dini dan Adit bergantian.
"Enggak ma, Dini emang dari tadi di sini karena lagi banyak banget pekerjaan yang lumayan ribet," jawab Adit.
"Ya udah sekarang makan siang aja dulu, ini mama bawa banyak, kamu makan sama Dini ya!" ucap mama Siska pada Adit.
"Mama udah mau balik?" tanya Adit saat sang mama berdiri dari duduknya.
"Iya, mama nggak mau ganggu kalian," jawab mama Siska dengan tersenyum pada Dini.
"Terima kasih makan siangnya ma," ucap Dini dengan tersenyum canggung.
Mama Siska hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Adit.
Adit lalu membuka kotak makanan di hadapannya dan membaginya untuk Dini.
Merekapun makan siang berdua di dalam ruangan Adit.
"Gimana hubungan kamu sama Dimas?" tanya Adit di sela sela makannya.
"Lancar, kak Adit gimana sama mbak Ana? apa mbak Ana masih nggak mau ketemu Dini sama Andi?"
"Kakak udah coba bujuk dia dan dia mau ketemu kalian asalkan kalian kesana sama kakak!"
"Beneran kak?"
"Iya, tapi kamu harus janji kalau kamu dan Andi nggak akan kesana tanpa kakak, bisa?"
"Bisa bisa, jadi kapan kita kesana?"
"Mmmmm.... nggak tau!" balas Adit.
"Pulang kantor nanti ya kak?"
"Nggak bisa, kamu harus lembur sampe malem nanti!"
"Yaaahhh......"
Adit hanya tertawa kecil lalu mengacak rambut Dini.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dini berdering, sebuah pesan masuk dari Dimas.
Dia bawa makan siang lagi buat aku
Dini lalu mendengus kesal dan membalas pesan Dimas.
Aku akan belajar masak biar bisa bawain kamu makan siang 😤
Tak ada balasan, namun tiba tiba Dimas menghubunginya dengan menggunakan panggilan video.
Dinipun segera menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Adit dan memposisikan ponselnya dengan baik agar Adit terlihat di layar.
"Kamu ngapain sih?" tanya Adit.
"Kak Adit diem aja, emang cuma Dimas yang bisa makan siang sama cewek, Dini juga bisa makan siang sama cowok!" balas Dini yang terdengar kesal namun terlihat menggemaskan di mata Adit.
__ADS_1
Dini lalu menggeser tanda panah hijau dan tampak Dimas yang duduk bersama Anita di sana.