
Waktu berlalu, Andi, Dini dan Anita masih berada di kafe. Suasana sedikit canggung setelah Anita memberi tahu Dini jika ia baru saja bertemu Dimas.
"Aku ke toilet bentar ya," ucap Anita yang dibalas anggukan kepala Dini dan Andi.
Kini hanya ada Andi dan Dini di sana.
"Dimas udah cerita sama kamu?" tanya Andi pada Dini.
Dini hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Andi.
"Tanyain baik baik Din, kamu tau dia emang nggak pernah mau bahas apapun tentang Anita," ucap Andi.
"Iya," jawab Dini singkat.
"Aku sama kak Adit mau bikin ruang baca di rumah, kalau udah jadi kamu bisa sering sering mampir ke sana," ucap Andi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku..... eh... tunggu, apa aku nggak salah denger? kak Adit?"
Andi hanya tersenyum malu dan menundukkan kepalanya, ia tau panggilan barunya pada Adit akan membuat semuanya terkejut.
"Kak Adit sama mama Siska pasti seneng banget," ucap Dini.
"Iya, kamu bener, hal sesederhana itu aja udah bikin mereka seneng," balas Andi.
"Jadi kamu bikin ruang baca sama kak Adit? dimana?"
"Di halaman samping rumah, nanti aku kabarin kamu kalau udah jadi," jawab Andi.
"Oke, aku pasti sering kesana nanti," balas Dini.
Suasanapun kembali mencair. Tak lama kemudian Anita datang dan duduk di kursinya.
"Lagi bicarain apa sih, seru banget kayaknya!" tanya Anita.
"Aku mau bikin ruang baca di rumah, kamu bisa mampir buat baca baca buku nanti!" jawab Andi.
"Waaahh, keren, aku pasti akan sering ke rumah kamu nanti," balas Anita.
"Kamu juga suka baca buku?" tanya Dini pada Anita.
"Enggak sih, aku kesana mau ketemu Andi aja hehehe....."
Andi dan Dini hanya saling pandang mendengar jawaban Anita lalu saling tersenyum.
Malam semakin larut, merekapun meninggalkan kafe.
"Kamu bawa mobil sendiri Nit?" tanya Andi pada Anita.
"Iya, soalnya mau ke apartemen mbak Dewi," jawab Anita.
Dini yang mendengar jawaban Anita tiba tiba teringat ucapan Anita.
"aku lagi mau ke apartemennya mbak Dewi tapi nggak sengaja ketemu Dimas, kita cuma ngobrol bentar sih soalnya Dimas udah mau berangkat kerja,"
"Oh ya udah hati hati," ucap Andi pada Anita.
"Kalian juga hati hati ya!" balas Anita.
Andi dan Dini lalu masuk ke dalam mobil Andi setelah Anita pergi.
"Ke rumah Dini ya pak!" ucap Andi pada Rudi.
"Baik mas," balas Rudi.
"Kamu kenapa Din?" tanya Andi pada Dini yang tampak murung.
"Apa mereka akan lebih sering ketemu daripada aku?" balas Dini bertanya.
"Jangan khawatir Din, Anita udah nggak kayak dulu lagi," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung.
Sesampainya di depan rumah Dini, merekapun turun.
"Mau mampir?" tanya Dini.
Andi mengangguk penuh semangat.
Andi lalu mengikuti Dini masuk ke dalam rumah.
"Anbi kok masih segini aja ya Din?" tanya Andi saat ia memperhatikan ikan di akuarium Dini.
"Justru aku akan takut kalau dia jadi segede lele," balas Dini.
"Kayaknya aku mau beli akuarium juga deh, buat ditaruh di home store yang baru," ucap Andi.
"Aku punya temen yang bisa bikin aquascape, kalau kamu mau aku bisa kenalin kamu sama dia," ucap Dini.
"Boleh tuh," balas Andi dengan menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu duduk di sofa.
"Jadi kamu udah dapet gedungnya?" tanya Dini pada Andi.
"Udah, kak Adit yang beliin gedungnya," jawab Andi.
"Kak Adit? beneran?"
"Iya, dia beli gedung yang di daerah X itu," jawab Andi.
__ADS_1
"Bukannya itu gedung yang kamu bilang harganya jauh di atas harga normal ya?"
"Iya, gedung itu."
"Waaahhh, kak Adit emang baik banget ya Ndi, kamu beruntung punya kakak sebaik kak Adit!" ucap Dini dengan bertepuk tangan pelan.
"Dia kan kakak kamu juga," balas Andi.
"Iya sih, kak Adit juga baik banget sama aku," balas Dini.
"Oh iya, kamu masih punya buku tahunan SMA kita nggak?" tanya Andi pada Dini.
"Ada, buat apa?"
"Rencananya aku mau undang temen temen SMA kita waktu opening clothing arts, kalau temen temen kuliah kan udah banyak yang kerja di luar kota, jadi kayaknya bakalan susah," jawab Andi.
"Kamu nggak mau undang Aletta sama Nico?"
"Aletta sama Nico? aku masih beberapa kali kontakan sama Nico, tapi udah nggak pernah lagi sama Aletta," jawab Andi.
"Kamu masih belum move on ya dari pacar pertama kamu itu?" tanya Dini menggoda.
"Apaan sih, cepetan cari bukunya, aku mau pinjem!"
"Bentar, kayaknya di atas sana!" ucap Dini sambil berjalan ke arah lemari.
Dini lalu menarik kardus yang ada di atas lemari dan tanpa sengaja sesuatu masuk ke dalam matanya, membuat Dini segera menutup matanya dan menundukkan kepalanya.
"Kenapa Din?" tanya Andi yang segera menghampiri Dini.
"Kelilipan kayaknya, barang barang di atas udah jarang di jamah soalnya, jadi berdebu," jawab Dini yang masih berusaha membuka matanya yang terasa perih.
"Sini liat," ucap Andi dengan memegang dagu Dini dan mendongakkannya ke atas.
"Buka matanya Din, gimana bisa aku tiup kalau kamu tutup matanya," ucap Andi.
"Perih Ndi," balas Dini.
"Iya ditahan," ucap Andi lalu meniup dengan perlahan kedua mata Dini yang tampak merah.
Tanpa mereka tau, Dimas yang baru saja datang melihat kejadian itu. Ia tidak bisa memastikan adegan apa yang ia lihat, ia hanya tau jika dua sahabat itu sungguh amat sangat dekat.
Posisi Andi yang membelakangi pintu rumah membuat Dimas berasumsi yang tidak tidak saat melihat apa yang Andi dan Dini lakukan.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Dimas mengetuk pintu rumah Dini, membuat Dini dan Andi segera menjauh dan membawa pandangan mereka ke arah pintu.
"Dimas!"
"Dimas!" ucap Andi dan Dini bersamaan.
Dinipun segera berlari menahan Dimas, sedangkan Andi melanjutkan untuk mencari buku tahunan SMA nya.
"Jangan salah paham," ucap Dini dengan menarik tangan Dimas.
Dimas lalu membalik badannya menghadap Dini dan melihat mata Dini yang tampak merah.
"Kamu kenapa? abis nangis?" tanya Dimas.
"Aku mau ambil buku di atas lemari terus kelilipan, Andi cuma bantuin tiupin mataku tadi," jawab Dini menjelaskan.
"Aku punya obat tetes mata di mobil, kamu tunggu di sini," ucap Dimas lalu segera berlari ke arah mobilnya untuk mengambil obat tetes mata.
Dimas lalu kembali pada Dini dan membantu Dini meneteskan obat tetes mata di kedua mata Dini.
Tak lama kemudian Andi keluar dari dalam rumah Dini.
"Udah ketemu Din, aku langsung pulang ya!" ucap Andi pada Dini sambil menunjukkan buku yang ia cari.
"Oh, iya," balas Dini.
"Gue balik dulu Dim!" ucap Andi pada Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
"Hati hati Ndi," ucap Dini sebelum Andi masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Andi meninggalkan rumah Dini, Dimas dan Dinipun masuk ke dalam rumah.
"Apa aku ganggu kalian?" tanya Dimas.
"Enggak, dia ke sini karena mau pinjem buku tahunan SMA kita," jawab Dini.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Dini.
"Aku pikir kamu udah balik ke apartemen," ucap Dini.
"Aku mampir ke sini sebelum balik," balas Dimas.
"Dimas, apa nggak ada sesuatu yang mau kamu ceritain sama aku?" tanya Dini pada Dimas.
"Tentang apa?"
"Apapun," jawab Dini.
"Mmmmm.... aku udah cerita semuanya sama kamu," ucap Dimas.
"Kamu yakin?"
"Iya, aku yakin, apa yang aku pingin cerita udah aku ceritain semuanya sama kamu," jawab Dimas.
__ADS_1
"Ada yang nggak pingin kamu ceritain?"
"Ada, beberapa hal yang nggak penting," jawab Dimas.
"Tapi aku mau kamu ceritain semuanya sama aku Dimas, entah itu penting ataupun nggak penting menurut kamu," ucap Dini.
"Aku bahkan nggak mau bahas hal yang nggak penting itu Andini," balas Dimas.
"Apa sesusah itu buat kamu cerita sama aku?"
Dimas menghela napasnya lalu membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Kamu tau hal apa yang paling aku nggak suka buat dibahas?" tanya Dimas pada Dini.
"Apa?" balas Dini bertanya.
"Kamu pasti tau Andini," ucap Dimas.
"Anita?" terka Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.
"Tapi aku mau tau apa yang terjadi antara kamu dan Anita, aku nggak mau denger cerita itu dari Anita, aku mau denger dari kamu Dimas," ucap Dini.
"Nggak ada apapun yang terjadi selain dia nggak berhenti gangguin aku Andini, cuma itu dan menurutku itu nggak penting."
"Tapi menurutku itu penting," ucap Dini dengan melepaskan dirinya dari dekapan Dimas.
"Oke, kalau menurut kamu itu hal yang penting, mulai sekarang aku akan cerita apapun sama kamu, termasuk Anita," balas Dimas lalu kembali membawa Dini ke dalam dekapannya.
"Aku nggak sengaja ketemu Anita di apartemen, kamu tau apa yang dia lakuin?" ucap Dimas lalu bertanya.
"Apa?" balas Dini bertanya.
"Dia peluk aku tiba tiba," jawab Dimas yang membuat Dini segera mendorong tubuh Dimas darinya.
"Kamu jangan marah sama aku Andini, dia yang tiba tiba peluk aku," ucap Dimas.
"Kenapa dia tiba tiba peluk kamu?"
"Apa kamu beneran berpikir kalau dia udah berubah? apa pelukan dia ke aku itu hal yang wajar buat kamu?" balas Dimas bertanya.
Dini menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kesal.
"Malem itu aku baru pulang dari mini market, waktu aku baru keluar dari lift, tiba tiba Anita meluk aku gitu aja, aku marah dan langsung masuk ke apartemen, tapi dia tetep ganggu aku dengan gedor gedor pintu Andini, sampe aku ngancam bakalan laporin dia ke pihak keamanan kalau dia nggak cepet pergi," jelas Dimas.
"Apa setelah itu dia masih ganggu kamu?"
"Besok paginya sebelum aku berangkat ke kantor, dia temuin aku dan ikutin aku sampe ke basement, tapi aku nggak peduliin dia sama sekali karena aku nggak mau ada keributan di sana," jawab Dimas menjelaskan.
Dini hanya diam mendengar penjelasan Dimas. Ia tidak mengerti apa keputusannya untuk kembali berteman dengan Anita adalah keputusan yang tepat mengingat bagaimana Anita yang masih tampak berusaha mengejar Dimas.
"Aku nggak mau berhubungan sama dia lagi Andini, dia bukan cewek baik baik, aku harap kamu nggak terpengaruh apapun sama dia," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Mungkin dia cuma berusaha minta maaf sama kamu," ucap Dini yang berusaha tetap berpikir positif.
"Dengan cara kayak gitu?"
"Aku akan coba bicara sama dia, yang pasti aku nggak mau ada hal buruk lagi diantara kita karena sikap Anita," jawab Dini.
"Apa kamu masih berharap kalau kita berempat bisa jadi sahabat lagi kayak dulu?"
Dini mengangguk lemah. Ia tidak tau apakah harapannya itu akan terjadi atau tidak. Ia hanya tidak ingin hubungan baik diantara mereka dulu rusak hanya karena cinta yang egois.
"Dari dulu kita nggak pernah bersahabat Andini, kita kasih dia persahabatan, tapi dia nggak pernah anggap persahabatan itu ada," ucap Dimas.
"Dia cuma salah paham sama sikap kamu Dimas," balas Dini.
"Jauh sebelum itu dia emang nggak suka sama kamu, sama prestasi kamu, sama persahabatan kamu dan Andi, dia deketin kamu dan Andi karena dia punya maksud lain, kamu harus inget hal itu Andini, dari awal dia nggak pernah tulus!" ucap Dimas.
"Dan kamu bantu dia sembunyiin hal itu," balas Dini dengan tersenyum tipis.
"Aku..... aku cuma....."
"Kamu lindungi dia karena rasa bersalah kamu yang udah bikin dia masuk rumah sakit, kamu kasih perhatian kamu buat dia, kamu abisin waktu kamu buat nemenin dia, kamu kasih dia perhatian yang sebelumnya nggak pernah dia dapetin, kalau aku jadi Anita, aku juga akan jatuh cinta sama kamu saat itu," ucap Dini.
"Aku nggak bermaksud kayak gitu Andini," balas Dimas.
"Pada akhirnya aku nggak bisa salahin Anita karena rasa cintanya buat kamu, karena kamu yang udah tanam benih cinta itu tanpa kamu sadari!"
"Tapi apa yang dia lakuin itu salah Andini, semua ambisi dia buat dapetin cintanya itu yang salah," ucap Dimas.
"Kamu bener," balas Dini dengan tersenyum tipis.
"aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama kamu Anita, aku nggak tau apa kamu saat ini tulus memulai persahabatan ini, atau kembali menyimpan banyak rencana yang mengatasnamakan persahabatan seperti dulu," batin Dini dalam hati.
"Jangan terlalu dipikirin Andini, kamu harus tau kalau aku nggak akan terpengaruh sama dia, aku nggak akan biarin dia masuk dalam kehidupan ku lagi," ucap Dimas.
"Aku akan cari waktu buat ketemu sama dia, aku nggak mau kita berlarut larut dengan asumsi kita yang belum tentu bener."
"Aku nggak akan larang kamu buat ketemu dia, asalkan kamu nggak akan mudah terpengaruh sama semua ucapannya," balas Dimas.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Aku harus balik ke apartemen sayang, kamu nggak papa kan tidur sendiri di rumah?" tanya Dimas
"Nggak papa kok, apa kamu sekarang bisa pulang ke sini tiap weekend?"
"Mulai bulan depan sayang, aku usahain ke sini tiap weekend," jawab Dimas lalu mencium kening Dini.
Mereka berpelukan beberapa saat sebelum Dimas meninggalkan rumah Dini.
__ADS_1
Setelah Dimas menghilang dari pandangannya, Dinipun masuk ke dalam kamarnya.