
Senja tampak terlukis dengan indah di bukit yang menyimpan banyak cerita itu. Bukit yang menjadi saksi sebuah hubungan persahabatan yang tulus dari dua hati yang saling menyayangi.
"Kamu udah kabarin Dimas kalau udah nyampe'?" tanya Andi.
"Udah, belum dibalas," jawab Dini.
"Mungkin dia masih sibuk atau ketiduran abis beres beres," ucap Andi.
"Iya mungkin, tenang aja aku nggak mikir aneh aneh kok!"
"Kebanyakan cewek kan gitu kalau chat nya nggak dibalas udah negatif thinking aja duluan!"
"Itu aku waktu SMA hehehe....."
"Sekarang?"
"Sekarang enggak dong, dari semua yang udah aku jalani selama ini, aku harus bisa berpikir lebih dewasa dan nggak cuma gunain hati, tapi juga logika," jawab Dini.
"Sahabatku udah dewasa ternyata," ucap Andi sambil mengacak acak rambut Dini.
"Iya dong, kamu udah siapin hadiah buat mama Siska Ndi?"
"Udah, kamu?"
"Udah juga, kamu kasih hadiah apa?"
"Jangan kepo, aku nggak akan kasih tau kamu!"
"Ya udah aku juga nggak akan kasih tau kamu!" ucap Dini sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Emang aku nggak mau tau kok," balas Andi santai.
"Iiiihhhh, nyebeliiiiin!!!!" balas Dini sambil memukul mukul Andi.
Andi hanya terkekeh dan membiarkan Dini memukul dirinya sepuasnya.
"Udah ah capek," ucap Dini menyerah.
"Din, walaupun aku nggak bisa anter jemput kamu tiap hari, tapi kamu harus selalu hubungin aku ya kalau ada apa apa, selalu aktifin GPS kamu dan selalu bawa HP kamu, oke?"
"Iya, tenang aja, aku bukan anak kecil lagi Ndi, aku bisa jaga diri," balas Dini meyakinkan Andi.
"Pinter!" ucap Andi sambil menempelkan ibu jarinya di kening Dini.
Setelah langit senja mulai gelap, Andi dan Dinipun memutuskan untuk pulang.
Sesampainya Andi di rumah, ia segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya dan menyiapkan alat lukisnya.
Tangannya dengan luwes mencampurkan warna warna menjadi gradasi yang indah.
Tangannya seolah tau apa yang harus dikerjakan tanpa ia pikirkan. Perlahan tapi pasti sosok dalam lukisannya mulai tampak nyata. Seorang ibu dengan bayi mungilnya yang berada di taman bunga itu tampak begitu nyata.
Hasil lukisan yang dibuat dengan hati itu tampak indah dan mengagumkan. Andi sendiripun dibuat terkesima oleh hasil lukisannya sendiri.
"Perfect, mudah mudahan tante Siska suka," ucap Andi sambil memperhatikan lukisan yang baru saja dibuatnya.
**
Hari berganti, sore itu Andi meminta Dini untuk menunggunya di kantor karena ia ingin mengajak Dini menemui mama Siska.
Dini yang masih berada di kantor memilih untuk menunggu Andi di lobby karena ia tidak ingin melihat orang yang seolah sedang memperhatikannya dari beberapa hari yang lalu.
Biiiippp Biiiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, panggilan dari Andi.
"Halo Din, kamu dimana?"
"Aku masih di lobby, kamu udah nyampe'?"
"Aku udah di depan!"
"Oke, aku ke sana sekarang."
Dinipun segera berjalan keluar ke arah Andi yang sudah menunggunya.
"Tumben kamu ngajak ketemu mama Siska, kenapa?" tanya Dini.
"Tante Siska pesen baju, tapi ukuran anak anak banyak banget," jawab Andi.
"Buat apa?"
"Entah," jawab Andi sambil menaikkan kedua bahunya.
"Bos kamu masih di kantor?" lanjut Andi bertanya.
"Masih, kak Adit jarang pulang jam 4 tepat," jawab Dini.
"Syukurlah kalau gitu, aku nggak akan ketemu dia nanti," ucap Andi.
"Kamu sebenarnya ada masalah apa sih sama kak Adit? kenapa kayak benci banget sama dia?"
"Bukan benci Din, cuma..... aku cuma.... nggak tau ah bawaannya kesel kalau ketemu dia!"
"Dimas sama kak Adit aja berhubungan baik loh, kenapa kamunya yang jadi gini?"
"Nggak tau Din, aku juga nggak bisa jelasin!"
"Kak Adit itu baik Ndi, dia...."
"Apa pegang dada kamu itu termasuk hal yang baik? apa biarin orangtuanya tinggal sendirian itu hal yang baik? apa nuduh orang sembarangan itu hal yang baik?"
"Ini yang harus kamu tau, satu kak Adit nggak sengaja pegang waktu itu, dia sebenarnya mau nolongin aku tapi nggak sengaja pegang dada, kan aku juga udah pernah cerita sama kamu!"
"Itu cuma modus Din, bisa jadi kebiasaan!"
__ADS_1
"Enggak Ndi, kak Adit nggak gitu dan lagi dia nggak ninggalin mamanya sendirian, ada banyak orang yang jagain mama Siska kok, kamu....."
"Yang namanya orangtua itu maunya ditemenin anaknya Din, bukan orang lain, di masa tuanya orang tua cuma mau dirawat dan dijaga sama anaknya, bukan malah ditinggalin apa lagi terlalu sibuk kerja sampe nggak ada waktu buat orangtuanya."
"Kak Adit itu anak satu satunya Ndi, wajar kalau dia sibuk sama perusahaan karena emang cuma dia yang bisa handle perusahaan, dia juga pasti punya alasan kenapa dia nggak tinggal sama mama Ndi, dia pasti punya alasan yang kamu nggak tau," jelas Dini.
"Kamu emang selalu belain dia!"
"Aku nggak belain kak Adit Ndi, aku cuma kasih tau kamu biar kamu nggak terjebak sama rasa benci kamu terlalu lama!"
Andi hanya diam mendengarkan ucapan Dini.
"Terus maksud kamu nuduh orang sembarangan itu apa? apa kak Adit pernah nuduh kamu tentang sesuatu?" tanya Dini.
"Lupain aja, aku nggak mau bahas dia lagi!" ucap Andi.
"Kenapa? lo tanya kenapa setelah semua yang lo lakuin kemarin? lo lupa kalau gue sama mama udah mohon mohon sama lo tapi lo dengan egoisnya nolak gue sama mama dan sekarang setelah mama menjauh, lo dateng lagi dan ninggalin mama lagi? iya?"
Ucapan Adit kembali terngiang di telinga Andi. Sebenarnya ia tak bisa menyalahkan Adit atas apa yang Adit lakukan padanya karena memang itulah yang terjadi. Ia memang menjauhkan dirinya sendiri dari mama Siska, tapi jauh dalam hatinya ia menyesali hal itu.
Tapi demi kebaikan mama Siska, ia harus melakukannya. Bukan hal yang buruk baginya jika Adit membencinya. Toh mereka bukanlah seseorang yang kenal dekat, begitu pikir Andi.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah mama Siska. Setelah mendapat izin dari satpam, Andi pun membawa masuk mobilnya. Dengan dibantu pak Lukman dan Dini, Andi membawa masuk baju baju pesanan mama Siska.
Saat mama Siska mengetahui kedatangan Andi, ia pun segera menyiapkan makanan dan minuman agar Dini dan Andi bisa lebih lama berada di sana, terutama Andi yang sangat dirindukan mama Siska.
"Makasih pak Lukman," ucap Dini pada Pak Lukman yang sudah membantunya dan Andi.
"Minum dulu ya, mama udah siapin minuman nih!" ucap mama Siska.
"Makasih ma, ayo Ndi!" balas Dini sambil mengajak Andi masuk.
Dini, Andi dan mama Siska pun duduk di ruang tamu.
"Mama pesen baju baju itu buat siapa ma?" tanya Dini pada mama Adit.
"Buat anak anak panti, mama selalu rayain hari ulang tahun mama di panti sayang, berbagi kebahagiaan sama anak anak panti, malemnya baru mama adain pesta kecil kecilan sama Adit," jelas mama Siska.
"Jadi baju baju ini buat anak panti ma?" tanya Dini.
"Iya sayang, itu buat mereka," jawab mama Siska.
Setelah mengobrol beberapa lama, Andi dan Dinipun berpamitan pulang.
**
Hari berganti. Siang itu Ana berniat pergi ke mall untuk membeli hadiah ulang tahun mama Siska. Sebelum pergi, ia menyempatkan diri untuk membeli SIM card baru dan memasangnya di ponsel yang Adit belikan untuknya.
Ia lalu menghubungi Adit sebelum ia berangkat.
"Halo, Adit!" ucap Ana setelah panggilannya di terima.
"Ada apa An?" tanya Adit yang langsung menyadari suara Ana.
"Kan aku denger suara kamu An, kamu dimana sekarang?"
"Lagi di luar mau ke mall," jawab Ana.
"Tunggu di sana, aku jemput kamu sekarang," ucap Adit lalu memutuskan sambungan ponselnya.
Setelah menunggu beberapa lama, Adit akhirnya datang. Ia segera turun dan menghampiri Ana yang sedang duduk di pinggir jalan.
"Maaf lama," ucap Adit.
"Nggak papa, nggak sama Rudi?" tanya Ana.
"Enggak, kamu udah sarapan? udah minum susu kan? makan buah juga? udah....."
"Udah, gue udah semuanya, sarapan, minum susu, makan buah, minum vitamin, udah semua," ucap Ana memotong ucapan Adit.
"Good job, ayo berangkat!"
Ana dan Aditpun segera pergi ke mall bersama.
"Kamu mau beli apa An?" tanya Adit.
"Aku juga bingung mau beli apa buat mama Siska," jawab Ana.
Adit dan Ana berjalan menyusuri mall mencari barang yang layak untuk Ana hadiahkan pada mama Siska. Sampai pada 10 menit setelah mereka berjalan, Ana menghentikan langkahnya. Ia merasa perutnya kembali bermasalah.
"Kenapa An? ada yang sakit?" tanya Adit yang dibalas anggukan kepala Ana.
Dengan sigap Adit menggendong Ana dan membawanya ke sebuah tempat makan untuk duduk. Adit lalu memanggil waiters dan memesan minum untuk Ana.
"Harusnya kamu nggak perlu ke mall An, kamu bisa minta tolong aku atau Rudi buat beliin," ucap Adit.
Ana hanya diam. Ia masih tak percaya pada apa yang Adit lakukan padanya. Kesigapan Adit dalam membantunya perlahan membuat hatinya yang semula kering menjadi basah dan terasa dingin.
Butir butir embun seolah menyusup ke dalam hatinya yang tandus karena penyesalan dan kekecewaan yang mendalam.
"An, masih sakit?" tanya Adit.
Sebelum Ana sempet menjawab, minuman pesanan Adit datang.
"Kamu minum dulu," ucap Adit yang dibalas anggukan kepala Ana.
"Kalau masih sakit kita ke rumah sakit ya!"
"Enggak, gue udah nggak papa," ucap Ana menolak.
"Kalau gitu kita pulang aja, kamu nggak boleh nolak!"
"Tapi gue belum beli apa apa buat mama Dit!"
"Aku tadi liat syal bagus, mama pasti suka, kamu beli itu aja!"
__ADS_1
"Syal? lo yakin?" tanya Ana.
"Yakin, ayo!"
Adit dan Anapun kembali ke tempat yang dimaksud Adit. Setelah membeli syal, Adit segera mengantar Ana pulang.
"Kalau kamu mau kemana mana, kamu bisa hubungin aku atau Rudi, biar Rudi yang antar kamu kalau aku lagi sibuk, oke?" ucap Adit tegas.
Ana hanya menganggukkan kepalanya karena tak ingin berdebat dengan Adit.
"Kamu istirahat dulu, nanti malem aku jemput," ucap Adit lalu pergi meninggalkan rumah Ana.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Adit sudah berada di rumah Ana untuk menunggu Ana yang sedang berdandan.
Setelah beberapa menit menunggu, merekapun segera berangkat ke rumah mama Siska.
Sesampainya di sana, sudah ada Andi dan Dini yang baru saja sampai. Pesta kecil kecilan itu hanya didatangi Adit, Ana, Andi dan Dini serta para pegawai yang Adit pekerjaaan di rumah mama Adit dan juga Rudi berserta keluarganya.
"Selamat ulang tahun ma," ucap Dini sambil memberikan hadiahnya pada mama Siska.
"Terima kasih sayang," balas mama Siska sambil mencium pipi kanan dan kiri Dini.
"Selamat ulang tahun tante," ucap Andi yang langsung mendapat pelukan dari mama Siska.
Entah kenapa dalam hatinya terasa sebuah kenyamanan yang membahagiakan baginya. Andi membiarkan mama Siska memeluknya sampai Adit tiba-tiba datang dan memisahkan mereka.
"Maaf Adit telat," ucap Adit yang sengaja memisahkan Andi dengan mamanya.
"Kamu nggak telat sayang, acaranya belum dimulai kalau kamu belum dateng," balas mama Siska sambil memeluk Adit.
"Selamat ulang tahun ya ma, semoga kebahagiaan selalu Tuhan berikan untuk mama," ucap Adit saat memeluk mamanya.
"Terima kasih sayang," balas mama Adit.
Setelah Adit melepaskan dirinya dari pelukan mamanya, Ana datang dan memberikan selamat serta hadiahnya pada mama Siska.
"Mama seneng banget ketemu kamu lagi, mama kangen sama kamu," ucap mama Siska.
"Ana juga kangen sama mama," balas Ana.
"Setelah lama nggak ketemu, kamu banyak berubah ya, tapi tetep cantik," ucap mama Siska memuji.
"Mama juga makin cantik," balas Ana memuji.
"Kamu sehat sehat aja kan sayang? kamu harus jaga kesehatan kamu ya!" ucap mama Siska sambil menyentuh perut Ana yang membuat Ana sedikit terkejut.
"Ana permisi ke toilet bentar ma," ucap Ana lalu segera pergi meninggalkan mama Siska.
"Ana kemana ma?" tanya Adit pada sang mama.
"Dia ke toilet," jawab mama Siska.
Aditpun segera berjalan cepat ke arah toilet. Ia mengetuk pintu toilet beberapa kali karena panik, ia mengkhawatirkan keadaan Ana.
"An, kamu baik baik aja kan? buka pintunya An!"
Anapun membuka pintu toilet dengan raut wajah menegang.
"Ada apa An? perut kamu sakit lagi?"
Ana lalu menarik tangan Adit dan membawanya ke sudut ruangan yang sepi.
"Dit, lo bilang mama Siska kalau gue hamil?" tanya Ana.
"Enggak, mana mungkin aku bilang mama!" jawab Adit.
"Tapi kenapa mama Siska tau Dit? kenapa mama Siska bisa tau?"
"Kenapa kamu bilang gitu, emang mama bilang apa sama kamu?"
"Mama bilang gue harus jaga kesehatan sambil pegang perut gue Dit, gue harus gimana Dit? lo beneran nggak kasih tau mama kan?"
"Tenangin diri kamu dulu An, aku nggak mungkin cerita sama mama, mungkin mama liat wajah kamu pucat dan...."
"Enggak Dit, mama pegang perut gue dan bilang kayak gitu, mama...... aaaaahhh....." Ana menghentikan ucapannya sambil memegang perutnya yang kembali terasa sakit.
Dengan cepat dan hati hati Adit membopong Ana ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia lalu membaringkan Ana di tempat tidurnya.
"Jangan berpikiran macam macam An, mama nggak mungkin tau," ucap Adit dengan mengusap perut Ana.
"Gue takut Dit, gue....."
Ana menggigit bibirnya untuk menahan sakit yang ia rasakan di perutnya.
Dengan sabar dan penuh perhatian Adit mengusap pelan perut Ana sambil berusaha menenangkan Ana.
"Nggak ada yang harus kamu takutkan An, selama aku di sini semuanya akan baik baik aja," ucap Adit lalu mengecup kening Ana.
Sungguh kecupan ajaib yang bisa membuat Ana tenang seketika.
"Kalau masih sakit, kita ke rumah sakit sekarang ya!"
"Enggak, gue udah nggak papa, tapi gue boleh di sini aja?"
"Kamu emang harus di sini aja, nanti aku bilang mama kalau kamu lagi nggak enak badan," jawab Adit.
"Lo keluar aja, jangan biarin mama nunggu terlalu lama!"
"Tapi kamu..."
"Nggak papa, gue cuma butuh istirahat bentar," jawab Ana.
Adit lalu kembali mencium kening Ana dan keluar meninggalkan Ana.
__ADS_1