
Terik mentari seolah membakar semangat Dimas untuk segera menemui gadisnya. Ia ingin segera menemui Dini untuk mendengarkan semua penjelasan yang seharusnya sudah ia dengar sebelumnya.
Karena emosi dan cemburu yang sudah menguasai hatinya, ia pergi begitu saja tanpa memikirkan Dini.
"harusnya aku denger penjelasan kamu Andini, harusnya aku percaya sama kamu, maafin aku," sesal Dimas dalam hati.
15 menit sebelum jam makan siang, Dimas sudah berada di depan tempat kerja Dini. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Dini sebelum ia melanjutkan masalahnya dengan ibu Dini.
Tak lama kemudian, ia melihat Dini dan Adit yang tampak terburu buru untuk masuk ke dalam mobil. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meminta waktu Dini.
Namun tak seperti harapannya, Dini lebih memilih untuk pergi bersama laki laki lain daripada menyelesaikan masalah mereka berdua.
"aku akan nunggu kamu di sini," ucap Dimas dalam hati.
Ia berusaha mengerti situasi saat itu. Ia berusaha berpikir positif tentang apa yang membuat Dini lebih memilih Adit daripada dirinya.
"mungkin masalah kerjaan kan? tapi ini jam makan siang, tapi bisa jadi sih, mereka keliatan buru buru banget, aku akan nunggu kamu di sini Andini, aku nggak akan mengulangi kesalahan ku lagi," batin Dimas dalam hati.
**
Di tempat lain, Dini dan Adit sudah sampai di depan rumah mama Siska.
Adit dan Dini segera masuk, namun sebelum berjalan ke arah kolam renang, Adit meminta Dini untuk menunggu di ruang tamu.
"Kamu tunggu di sini ya!" pinta Adit pada Dini.
"Kenapa kak? Dini mau liat keadaan mama!"
"Mama baik baik aja, mama cuma lagi melukis di belakang."
"Tapi kenapa kak Adit panik banget?"
"Pokoknya kamu tunggu aja di sini, kakak nggak akan lama," ucap Adit sambil mendudukkan Dini di sofa ruang tamu.
Dini hanya menurut. Ia duduk dengan cemas.
"nggak mungkin Pak Adit sepanik itu kalau mama baik baik aja kan?"
Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga datang dan memberikan minuman pada Dini.
"Terima kasih," ucap Dini.
"Sama sama neng cantik."
"Mmmmm.... mbak, mama dimana ya kok nggak keliatan?" tanya Dini berpura pura tidak tau.
"Ibu..... ibu lagi melukis di belakang neng, tunggu di sini sebentar ya!"
"Iya mbak "
"melukis? aku yakin ada sesuatu yang terjadi, tapi apa?"
PRAAAANG!!!!!
Suara benda jatuh atau terlempar terdengar begitu nyaring dari arah kolam renang. Dinipun segera berlari ke arah kolam renang dan begitu terkejut mendapati Adit yang terkapar penuh darah.
"Kak Adit, kak Adit kenapa kak?" tanya Dini yang segera menghampiri Adit.
"Pergi Din, jangan di sini!"
"Kakak kenapa? mama kemana? apa ada rampok?" tanya Dini yang tidak mengerti situasi saat itu.
Ia hanya melihat alat lukis yang sudah berantakan. Pecahan guci yang berceceran di mana mana, vas bunga dan meja kursi yang sudah tidak berada di tempatnya.
"Mama, tunggu ma!" teriak Adit dengan berlari tertatih tatih mengejar sang mama.
"Mama Siska!"
Dini begitu terkejut melihat mama Siska yang berjalan melewati halaman samping dengan menjatuhkan semua pot kecil dan menarik bunga bunga yang ia lewati.
"Panggil Pak Lukman Din, cepet!"
"Iii.... iya kak!"
Dini segera berdiri dan memanggil Lukman yang berada di depan. Sedangkan Adit segera masuk ke kamar dan mengambil alat suntik yang sudah diisi obat penenang sebelumnya.
Adit dan Lukman lalu berusaha menahan mama Siska yang memaksa keluar dari rumah. Dengan terpaksa Adit menyuntikkan obat penenang itu pada mamanya.
Beberapa saat kemudian, sang mama pingsan.
Adit segera membawa mamanya ke dalam kamar lalu meminta penjaganya untuk mengganti pakaian sang mama.
"Kita ke rumah sakit ya kak," ucap Dini namun hanya dibalas gelengan kepala Adit.
"Kamu tunggu di sini, jangan ikut lagi, mengerti?" ucap Adit tegas.
Dini hanya mengangguk pasrah, ia takut akan semakin merusak suasana hati Adit jika ia membantah perintah Adit.
Adit lalu berjalan ke arah kamar sang mama.
"Kenapa mama kayak gini lagi mbak? mama belum minum obat?" tanya Adit pada penjaga mamanya.
"Saya juga nggak tau mas, tapi ibu sudah minum obat secara rutin sesuai petunjuk Dokter, saya sendiri yang mengawasi ibu ketika minum obatnya."
"Mbak sama lainnya nggak ada yang terluka kan? kalau ada yang terluka segera beri tahu saya ya mbak."
"Baik mas, tapi kita semua baik baik saja, tapi luka mas Adit kayaknya parah."
Adit mengangguk, lalu meminta sang penjaga untuk menghubungi Dokter keluarga mereka.
Tak lama kemudian Dokter datang dan mengobati Adit. Ia mendapatkan beberapa jahitan di kening dan lengan tangannya.
"Kenapa kamu masih keras kepala Dit? mama kamu harus di bawa ke rumah sakit ji....."
"Enggak Dok, mama sehat, mama nggak sakit apa apa, tolong jangan pernah ucapin itu lagi karena sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi."
"Itu juga demi kebaikan semua orang Dit, apa kamu nggak takut kalau mama kamu melukai orang lain di sini?"
Adit menggeleng pelan.
"Mama bukan orang jahat Dok, mama nggak mungkin melakukan itu."
"Tapi Dit....."
"Dok, saya mohon jangan ikut campur masalah keluarga saya, lakukan tugas Dokter hanya sebatas Dokter, maaf kalau ucapan saya tidak sopan."
"Saya minta maaf Dit, saya harap mama kamu benar benar sembuh, saya permisi dulu!"
__ADS_1
"Terima kasih Dok!"
Setelah Dokter pergi, Adit keluar dari kamar sang mama karena membutuhkan waktu beberapa jam agar sang mama bangun.
Adit lalu menghampiri Dini yang masih duduk di depan.
"Kak Adit baik baik aja? mama juga baik baik aja kan?"
"Apa yang sekarang ada di pikirkan kamu Din?"
"Nggak ada, Dini cuma khawatir sama kak Adit dan mama, apa nggak boleh?"
Adit tersenyum dan mengacak acak rambut Dini.
"Adik yang baik," ucap Adit.
"20 menit lagi jam makan siang selesai kak, Dini balik sendiri aja ya, kak Adit nemenin mama aja di sini!"
"Mama baik baik aja kok, mama lagi isitrahat, kakak balik ke kantor sama kamu, 5 menit lagi ya!"
"Kakak yakin?"
Adit mengangguk pasti.
"Tapi kayaknya tugas kamu akan semakin banyak, tangan kakak masih nggak boleh buat banyak gerak."
"Serahkan semuanya sama Dini, kak Adit tenang aja!"
"Awas ya, jangan ceroboh lagi!"
"Siap!"
Meski sebenarnya ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak akan menanyakannya pada Adit. Ia tau batasan privasi Adit yang tak bisa ia lewati meski hubungan mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Adit dan Dini lalu kembali ke kantor bersama Rudi.
"Pak Adit baik baik aja pak?" tanya Rudi.
Adit hanya mengangguk.
Rudi tau apa yang sedang terjadi. Tapi sebagai supir pribadi Adit, Rudi hanya bertugas mengantar kemanapun Adit pergi. Hal lain yang di luar tugasnya tidak akan ia campuri. Layaknya Dini, ia tau batasan posisinya di sana.
Sesampainya di depan kantor, masih ada Dimas yang menunggu Dini.
"Temui dia, dia nunggu kamu dari tadi!" ucap Adit pada Dini.
"Nggak perlu kak, lagian udah jam kerja, Dini harus profesional kan?"
Adit hanya mengangguk dan tersenyum lalu keluar dari mobilnya bersama Dini.
"Andini, aku butuh penjelasan!" ucap Dimas dengan menahan tangan Dini, namun Dini segera menarik tangannya.
"Ini jam kerja, kalau kamu ganggu aku, aku bisa panggil satpam buat ngusir kamu dari sini!" balas Dini tanpa memandang Dimas.
"Oke, aku akan tunggu kamu di sini!" ucap Dimas lalu mundur dan kembali menunggu Dini di tempatnya menunggu.
"maaf Dimas, hati aku terlalu sakit," ucap Dini dalam hati lalu segera masuk ke ruangannya.
Sebelum ia masuk, seseorang menarik tangannya.
"Pak Adit kenapa? kalian nggak abis kecelakaan kan?"
"Enggak, cuma luka kecil kok," jawab Dini.
"Tapi tadi kalian baik baik aja, apa gara gara Jenny?"
"Jenny? cewek bule itu?"
"Iya, dia tadi ke sini marah marah."
"Kok bisa ke sini? Pak Adit kan udah minta security buat nggak izinin dia masuk!"
"Masalahnya dia masuk sama papanya, satpam mana berani nahan!"
BRAAAKKKK
Dengan kompak Aca dan Dini menoleh ke arah sumber suara gebrakan yang mengagetkan mereka itu.
"Dimana mata kalian? bisa lihat jam berapa sekarang?"
"Jam satu pak," jawab Aca.
"Lebih 5 menit," lanjut Dini.
"Kalian tau artinya apa?"
"Waktunya kerja pak," jawab Aca.
"Jadi?"
"Saya permisi," ucap Dini lalu segera masuk ke dalam ruangannya diikuti Aca yang juga berlari ke meja kerjanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dini belum pulang karena masih harus membantu Adit menyelesaikan pekerjaanya.
Sampai langit mulai gelap, mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Udah jam 6 Din, kamu nggak pulang?"
"Belum selesai kak, bentar lagi."
"Besok aja dilanjutin, ayo pulang, kakak juga mau pulang."
"Kakak mau pulang ke rumah mama?"
"Enggak, mama pasti baik baik aja kok, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan!"
"Dini pingin ketemu mama kak."
"Lain kali aja ya, jangan sekarang."
Dini mengangguk. Mereka lalu mengemasi barang barang dan keluar dari ruangan Adit.
"Maaf karena belum bisa kasih tau mama yang sebenarnya tentang kita," ucap Adit pada Dini.
"Nggak papa kak, Dini ngerti."
"Kakak anter pulang ya!"
__ADS_1
Dini mengangguk.
Sesampainya di luar kantor, Dini melihat Dimas yang masih menunggunya di sana.
Dimas yang melihat Dini keluar pun segera menghampirinya.
"Aku bisa minta waktu kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Aku....."
"Kakak pulang duluan ya, gue duluan Dim!" pamit Adit pada Dini dan Dimas.
"Loh kak......."
"Andini, aku mohon sama kamu," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini.
"Kamu mau apa lagi?"
"Aku mau bicara sama kamu, ada yang harus kamu jelasin sama aku!"
"Nggak ada yang harus aku jelasin Dimas, percuma, kamu nggak akan percaya."
Biiiippp Biiippp Biiippp
Sebuah pesan masuk. Dini segera mengambil ponselnya dari dalam tas.
Dengarkan dia, kasih dia kesempatan -pesan Adit-
"5 menit!" ucap Dini.
"Kita cari tempat ya, jangan di sini!"
"4 menit!"
"Oke oke, aku minta maaf soal kemarin, aku nggak seharusnya pergi gitu aja, maaf karena nggak mau dengerin penjelasan kamu, sekarang aku akan dengerin semuanya, apapun itu!"
"Semuanya?"
Dimas mengangguk cepat.
"Aku sama kak Adit pacaran," ucap Dini yang membuat Dimas mengerutkan keningnya tak percaya.
"Ayolah Andini, jangan bohong!"
"Aku emang pacaran sama kak Adit, kamu liat sendiri kan kita gandengan tangan dan seharusnya dia nganterin aku pulang tadi, tapi batal gara gara kamu!"
"Andini, aku...."
"Udah lewat 5 menit, aku harus pulang!" ucap Dini lalu segera pergi meninggalkan Dimas.
Dini berjalan ke arah halte, diikuti Dimas yang berjalan di belakangnya.
"Jangan ikuti aku Dimas!" ucap Dini kesal.
"Aku nggak ikutin kamu, aku emang mau naik bus kok, aku nggak bawa mobil," jawab Dimas.
Dini lalu terdiam. Ia membiarkan Dimas duduk di sampingnya.
"Andini, aku minta maaf," ucap Dimas pelan namun diabaikan oleh Dini.
"Oke kalau kamu nggak mau ngomong sama aku nggak papa, yang penting kamu dengerin aku aja, aku......"
Dimas menghentikan ucapannya karena Dini pergi begitu saja saat bus berhenti di hadapan mereka. Dimaspun menaiki bus itu dan berdiri di sebelah Dini.
"tenang Dini, tenang, jangan mudah terpengaruh, Dimas udah bohong sama kamu, jangan mudah percaya sama ucapannya," ucap Dini menasehati dirinya sendiri.
Meski ia marah dan kecewa pada Dimas yang dinilainya berbohong, tapi dalam hatinya ia meragukan semua itu. Ia sangat mengenal Dimas, ia sangat mencintai Dimas dan sudah seharusnya ia percaya pada Dimas.
Namun saat mengingat kejadian di pantai dan foto foto yang Anita unggah di sosial medianya, membuat sisi lain dalam dirinya begitu kecewa pada Dimas.
Meski begitu, ia tidak akan berlarut larut dalam kesedihannya. Ia mempunyai tanggung jawab di tempat kerjanya, jadi ia tau mana yang harus ia prioritaskan.
Ketika Dini turun dari bus, Dimas juga ikut turun dan berjalan di belakang Dini.
Dinipun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Stop di situ atau aku akan teriak maling!" ucap Dini dengan menunjuk tempat Dimas berdiri.
Dimas hanya diam di tempatnya dengan tersenyum. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya ketika Dini kembali berjalan.
Dinipun kembali berbalik.
"MALIIING, TOLOONG MALIIING!!!" teriak Dini yang membuat beberapa warga yang berada di dekat sana segera berlarian ke arah jalan.
Karena di sana hanya ada Dini dan Dimas, beberapa warga segera mengerumuni Dimas dan menghajarnya.
Dini yang begitu terkejut dengan hal itu segera berlari ke arah Dimas dan berusaha menyelamatkan Dimas.
"Bukan pak, bukan, dia temen saya!" ucap Dini pada bapak bapak yang menghajar Dimas.
"Bener dia temen kamu?" tanya salah satu bapak itu.
"Iya pak, kita lagi latihan drama tadi, maaf ya pak, maaf!"
"Oohh, kita kira beneran maling, latihannya jangan di jalan dek, bikin salah paham!"
"Iya pak, maaf."
Bapak bapak itupun pergi meninggalkan Dimas yang sudah babak belur.
"Dimas kamu nggak papa?" tanya Dini dengan membantu Dimas berdiri.
Dimas hanya tersenyum dengan memandang Dini.
"Kenapa kamu nggak ngelawan sih? kenapa kamu nggak bilang kalau kamu bukan maling?"
Dimas masih diam memperhatikan gadisnya yang mulai bawel.
BUUUGGHHH
Dini memukul perut Dimas karena merasa diabaikan oleh Dimas.
"Aaaaahhh sakit Andini," ucap Dimas merintih dengan memegangi perutnya.
"Eh, sakit ya, ayo aku anter ke rumah Andi!"
Dinipun memapah Dimas untuk dibawa ke rumah Andi. Dimas sudah tidak peduli lagi pada dirinya sendiri, ia hanya ingin hubungannya membaik dengan Dini.
__ADS_1