Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Resign


__ADS_3

Dimas dan papanya masih berada di dalam kamar. Bukan hal baru lagi jika sang papa tau apa sedang terjadi padanya. Ia hanya bisa berharap jika masalah yang terkait dengan ibu Dini masih bisa ia sembunyikan sampai kesehatan ibu Dini benar benar membaik.


"Papa tau dari mana soal itu?" tanya Dimas.


"Nggak penting papa tau dari mana, jadi apa bener ini gara gara Kintan?"


"Enggak Pa, Andini udah bilang sama Dimas kalau mau resign sebelum dia tau kalau mbak Kintan suka datengin Dimas di home store!"


"Jadi apa yang bikin dia mau resign?"


"Andini mau memperluas pengalaman kerjanya Pa, Dimas yakin papa pasti ngerti!"


"Iya, papa ngerti, papa juga nggak berhak ngelarang Dini resign."


**


Hari hari berlalu begitu cepat. Pagi itu, Dini sengaja menemui papa Dimas untuk menyampaikan keinginannya untuk resign.


"Saya nggak akan tanya apa apa sama kamu, Dimas udah cerita semuanya," ucap papa Dimas.


"Semua? Dimas....."


"Dimas nggak cerita tentang masalah kamu sama Kintan kok, saya udah tau sebelum Dimas cerita."


"Saya minta maaf kalau saya belum bisa memberikan hasil yang maksimal selama saya kerja di sini, saya harap Pak Tama mau memberikan saya izin buat resign."


"Semua keputusan ada di tangan kamu Din, saya nggak akan cegah kamu, pesan saya dimanapun kamu berada jangan pernah biarin orang lain memandang rendah kamu, siapapun yang memandang rendah kamu itu artinya kamu jauh di atas mereka dan kamu harus tunjukkan itu sama mereka!"


"Baik Pak, saya akan ingat pesan Bapak!"


"Kapan kamu akan resign?"


"Minggu depan pak."


"Baiklah kalau gitu, kamu bisa berikan surat pengunduran diri kamu ke HRD, kamu bisa hubungin saya kapanpun kamu butuh bantuan saya!"


"Baik pak, saya permisi."


Dini kembali ke tempat kerjanya dan mulai sibuk dengan pekerjaannya.


"Dateng ya!" ucap Cika sambil memberikan beberapa undangan pada Dini.


"Undangan pernikahan? kamu......"


Cika menganggukkan kepalanya dengan malu.


"Titip buat Dimas sama Andi ya!"


Dini mengangguk.


"Selamat ya Cik, kok kamu nggak pernah bilang sih kalau udah siapin ini, kapan kamu cuti?"

__ADS_1


"Keluarga ku yang siapin semuanya Din, jadi aku terima beres aja, mungkin bulan depan aku cuti, barengan sama waktu resign kamu!"


"Setelah nikah nanti kamu masih di sini?"


"Kayaknya enggak deh Din, lagian nggak ada kamu di sini, aku mau masuk ke perusahaan papa aja hehe...."


"Mudah mudahan kita masih bisa berhubungan baik ya Cik walaupun udah jarang ketemu nanti."


"Pasti dong!"


**


Waktu berlalu tanpa jeda sedikitpun. Tiba saat bagi Dini untuk meninggalkan perusahaan papa Dimas.


Hari itu adalah hari terakhir Dini bekerja di sana. Semenjak kejadian di roof top, Kintan sudah tidak pernah terlihat lagi. Posisinya bahkan digantikan oleh orang lain.


Dini pernah menanyakan hal itu pada Pak Andre dan Pak Andre menjelaskan jika Kintan dipindah tugaskan ke perusahaan cabang di luar kota.


"Jaga diri kamu baik baik ya Din di tempat baru nanti, jangan ragu buat lawan orang orang kayak mbak Kintan!" ucap Cika pada Dini.


"Iya Cik, kamu tenang aja!"


**


Satu minggu berlalu, Dini masih menjadi pengangguran di rumah. Belum ada satu perusahaan pun yang menghubunginya untuk interview.


"Ibu bisa kerja lagi Din kalau kamu belum dapet kerja," ucap ibu Dini ketika Dini sedang berhias di depan cermin.


Ia akan menghadiri resepsi pernikahan Cika hari itu.


"Tapi sampai sekarang belum ada perusahaan yang nerima kamu Din!"


"Ibu tenang aja, tabungan Dini masih cukup kok buat kebutuhan sehari hari, cari kerja emang nggak mudah bu, banyak lapangan pekerjaan banyak juga pencari kerjanya," jelas Dini.


"Maafin ibu Din, ibu cuma nggak mau kamu......"


"Jangan dibahas lagi bu, Dini udah lakuin apa yang ibu minta, tolong jangan diungkit lagi," ucap Dini lalu keluar dari kamarnya.


Baru saja Dini keluar, Andi sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Mendengar langkah kaki dari dalam rumah, Andi segera berbalik dan melihat betapa cantik sahabat yang dicintainya itu.


Dini yang melihat Andi dengan setelan jasnya yang rapi membuat jantungnya tiba tiba berdetak tak berirama. Entah kenapa senyum dan tatapan mata Andi seolah telah menghipnotisnya, membuat Dini tak bisa mengalihkan pandangannya dari sahabat baiknya itu.


"Kalian udah mau berangkat?" tanya ibu Dini membuyarkan lamunan Andi dan Dini.


"Iii... iya bu, kita berangkat dulu!" jawab Dini lalu segera menggandeng tangan Andi.


"Aku udah pesen taksi, mungkin bentar lagi nyampe'!" ucap Andi pada Dini.


"Oh, iya," jawab Dini yang masih tampak gugup, tanpa sadar tangannya masih menggandeng lengan tangan Andi sampai taksi datang.


"Dimas udah berangkat?" tanya Andi.

__ADS_1


"Udah, dia bilang sih masih jemput Anita," jawab Dini.


Ya, hari itu Andi berangkat bersama Dini, sedangkan Dimas menjemput Anita atas paksaan Andi, jika Dimas menolak maka Andi juga akan menolak untuk membantu Dimas bertemu Dini.


Akhirnya dengan terpaksa, Dimas menjemput Anita atas izin Dini.


**


Di tempat lain, Dimas melajukan mobilnya ke arah tempat resepsi Cika bersama Anita.


Tak banyak percakapan diantara mereka berdua. Dimas masih belum bisa memaafkan apa yang sudah Anita lakukan. Baginya, Anita selalu punya alasan untuk kembali masuk ke dalam kehidupannya dan menganggu hubungannya dengan Dini.


"Aku denger Dini udah resign dari kantor, kenapa?" tanya Anita berusaha mencairkan suasana.


"Bukan urusan kamu," jawab Dimas dingin.


Anita kembali diam sampai mereka tiba di tujuan. Dimas segera menghubungi Dini untuk menanyakan keberadaannya. Belum sempat panggilan tersambung, Dini sudah datang bersama Andi.


Dimas segera menarik Dini kedalam pelukannya dan mencium keningnya seperti biasa.


Merekapun berjalan ke dalam area resepsi, Dini dan Dimas, Andi dan Anita.


Setelah mengucapkan selamat pada pasangan pengantin dan berfoto, mereka mulai menikmati hidangan yang disajikan di sana.


"Kamu mau ini sayang?" tanya Dimas sambil menunjukkan sebuah kue kecil.


"Mau," jawab Dini dan Anita bersamaan, membuat Dini, Dimas dan Andi menoleh ke arah Anita.


"Mau ke kamar mandi, aku mau ke kamar mandi," ucap Anita lalu pergi ke kamar mandi.


Dini hanya tersenyum lalu mengambil kue kecil dari tangan Dimas dan memakannya.


Ketika Dimas sedang berjalan, seseorang tanpa sengaja menabraknya membuat pakaiannya basah dan kotor.


"Maaf nggak sengaja!" ucap seseorang itu.


"Nggak papa," balas Dimas.


"Aku ke kamar mandi bentar sayang!" ucap Dimas pada Dini yang dibalas anggukan kepala Dini.


Anita yang melihat Dimas datang segera menghampirinya dan memeluknya.


"Aku tulus minta maaf sama kamu Dimas, tapi kenapa kamu nggak percaya?" tanya Anita dengan masih memeluk Dimas.


"Lepas Anita!" ucap Dimas dengan berusaha mendorong Anita.


Anitapun melepaskan pelukannya pada Dimas.


"Dimas, aku....."


Belum sempat Anita menyelesaikan kata katanya, Dimas segera pergi dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Anita lalu kembali ke tempat Andi dan Dini berada, tanpa ia sadar noda berwarna merah di pakaian Dimas mengenai pakaiannya yang berwarna putih.


"Baju kamu kenapa Nit?" tanya Andi yang melihat pakaian Anita terkena noda berwarna merah di bagian depan, noda yang sama dengan noda di pakaian Dimas bagian depan.


__ADS_2