
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Dini dan Adit sudah kembali ke kantor. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam pulang tiba.
Setelah Dini membereskan pekerjaannya, ia lalu ke ruangan Adit sebelum pulang.
"Ada yang bisa Dini bantu?" tanya Dini.
"Nggak ada, kamu duluan aja, udah ditungguin Andi di depan!" jawab Adit.
"Oke, Dini duluan ya kak!"
Adit hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan ke arah layar komputer di hadapannya.
Saat Dini berjalan melewati resepsionis, ia melihat Andi yang sudah menunggunya di sana.
"Berangkat sekarang?" tanya Andi yang sudah berdiri di hadapan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Dengan diantar oleh Rudi, Andi mengajak Dini ke pantai yang sering mereka datangi. Sesampainya di sana, mereka segera berjalan dengan bertelanjang kaki ke arah tepi pantai.
Selama beberapa menit, mereka hanya diam memandang deburan ombak di hadapan mereka.
"Kamu masih belum boleh bawa mobil sendiri ya?" tanya Dini berbasa basi.
"Minggu depan aku udah bawa mobil sendiri kok, jadi pak Rudi balik lagi sama kak Adit," jawab Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya. Suasana kembali hening selain suara dari ombak yang memecah karang.
"Din, aku minta maaf," ucap Andi yang pada akhirnya menyampaikan maksudnya.
"Aku juga minta maaf kalau sikap ku terlalu kekanak-kanakan kemarin," balas Dini yang juga menyesali sikapnya.
"Aku nggak bermaksud buat belain Anita Din, kamu sahabatku, aku percaya sama kamu lebih dari siapapun, aku cuma nggak mau kamu sama Anita berantem," ucap Andi menjelaskan.
"Iya, aku mengerti," balas Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Tolong ceritain sama aku apa yang sebenarnya terjadi Din? kenapa Anita berpikir kalau kamu nuduh dia rebut Dimas?"
"Aku nggak nuduh dia Ndi, waktu itu aku ajak dia ketemu karena aku cuma mau pastiin apa dia masih ada perasaan sama Dimas atau enggak, karena waktu dia ketemu Dimas di apartemen dia tiba tiba peluk Dimas dan dia juga ikutin Dimas besok paginya sampe ke basement," ucap Dini menjelaskan.
"Gimana kalau ternyata Anita nggak sengaja peluk Dimas? kamu tau kan dia emang selalu berusaha buat dapetin maaf dari Dimas, mungkin aja dia lari dan nggak sengaja terjatuh di depan Dimas!"
"Aku nggak tau Ndi, kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya Anita rencanain," balas Dini.
"Sekarang kamu sama Anita gimana?"
"Sejujurnya aku mau kita berteman kayak dulu Ndi, tapi sikap Anita kadang bikin aku ragu, aku udah mutusin buat ikutin maunya dia, aku mau kita kembali berteman, tapi aku juga nggak akan tinggal diam kalau sesuatu yang buruk terulang lagi," jawab Dini.
"Kamu nggak percaya sama Anita?"
"Aku nggak bisa sepenuhnya percaya sama dia Ndi, dia pernah ngelakuin apapun demi bisa dapetin Dimas, aku nggak mau itu terjadi lagi, kalau emang sekarang dia beneran berubah lebih baik aku akan sangat bersyukur tapi aku juga harus tetap hati hati sama dia," jawab Dini.
"Aku nggak bisa memaksa kamu Din, tapi keraguan kamu akan bikin kamu tanpa sadar menilai Anita dari sudut pandang negatif dan pada akhirnya kamu akan selalu curiga sama dia," ucap Andi.
"Kamu harus bisa bedain antara waspada dan curiga Ndi, menurut kamu kenapa waktu itu Anita tiba tiba datengin kamu dan ceritain hal yang bikin kamu nuduh aku kayak gitu?"
"Mungkin karena dia nggak punya teman lain selain aku dan dia udah berharap kalau kamu juga bisa nerima dia lagi, tapi sikap kamu waktu itu bikin dia sedih, that's why dia temuin aku," jawab Andi.
"Dan dia bikin kamu ucapin kata kata yang menyakitkan buat aku," ucap Dini dengan tersenyum tipis.
"Aku minta maaf Din, aku....."
"Aku nggak minta kamu buat jauhin Anita Ndi, aku cuma mau kamu lebih hati hati dan jangan percaya ucapannya gitu aja, kamu inget apa yang dia lakuin waktu pertama kali deket sama kamu? dia cuma mau ambil kamu dari aku dan aku nggak mau itu terjadi lagi, aku nggak mau Ndi!"
"Itu nggak akan terjadi Din, nggak akan ada seorangpun yang bisa ambil aku dari kamu, aku sahabat kamu, aku milik kamu," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Dini.
"kamu milik ku? apa itu artinya nggak akan ada orang lain yang bisa milikin kamu selain aku?" tanya Dini dalam hati.
Dini lalu membawa pandangannya ke arah laut lepas. Melepaskan semua hal yang mengganggu pikirkan selama ini.
"Din, aku minta maaf, maaf udah mengecewakan kamu," ucap Andi yang membuat Dini kembali membawa pandangannya ke arah Andi.
"Aku baru tau kalau rasanya sesakit itu Ndi dan aku nggak mau ngerasain sakit itu lagi."
"Aku nggak akan kayak gitu lagi, aku janji," ucap Andi bersungguh sungguh.
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Aku sayang sama kamu Din, kamu bahkan nggak tau seberapa besar aku menyayangi kamu, tapi yang harus kamu tau aku akan selalu ada buat kamu, aku akan jadi seseorang yang selalu ada di belakang kamu, saat kamu sedih dan bahagia, aku selalu siap menemani kamu kapanpun kamu butuh aku," ucap Andi dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.
__ADS_1
"Mungkin rasa sayang aku nggak sebesar kamu, tapi sejauh yang aku tau kamu selalu ada di hati ku, kamu punya tempat sendiri yang nggak bisa disentuh orang lain di hati aku," balas Dini.
"aku nggak tau apa hubungan kita sebenernya Din, apa sahabat yang sebenarnya memang seperti ini? atau kita lebih dari sekedar sahabat seperti yang orang orang bilang? tapi aku nggak peduli, sahabat atau bukan, kamu adalah prioritas utama dalam hidupku, kebahagiaan kamu akan jadi sumber kebahagiaan aku," ucap Andi dalam hati.
"sahabat? iya, kita memang sebatas sahabat, sahabat yang saling menyayangi, aku nggak tau apa orang lain juga menyimpan sahabatnya di dalam hatinya, yang aku tau kamu selalu ada di sini, nggak tau kenapa dan sampai kapan, yang aku tau kamu punya tempat sendiri di hati aku," batin Dini dalam hati.
Goresan jingga mulai tampak membaur di langit barat. Lukisan indah sang pencipta mengantarkan Dini dan Andi dalam rasa damai di hati mereka.
Kesalahpahaman, perselisihan dan perdebatan telah selesai. Rasa sayang yang ada dalam hati melunturkan semua ego dan rasa sakit dalam hati. Entah karena tulusnya persahabatan atau karena ada cinta dalam persahabatan.
Yang pasti, takdir telah mengembalikan mereka berdua. Seorang laki laki dan perempuan yang bahkan tidak memahami seperti apa sahabat yang sebenarnya.
**
Waktu berlalu, hari berganti sebagaimana mestinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Dini baru saja keluar dari ruangannya. Dilihatnya ruangan Adit sudah kosong, karena Adit harus mengikuti pertemuan dari beberapa jam yang lalu tanpa Dini.
Adit sengaja meminta Dini untuk tetap di kantor karena pekerjaan yang menumpuk dan akan semakin menumpuk jika tidak segera diselesaikan.
Dini lalu berjalan pelan meninggalkan ruangannya. Ia sangat lelah karena hampir tak pernah membiarkan matanya pergi dari layar komputer di meja kerjanya.
"Dini!"
Dini lalu membawa pandangannya pada seseorang yang memanggilnya. Seseorang yang sudah menunggunya lebih dari satu jam di sana.
"Kamu dari kapan di sini?" tanya Dini saat ia menghampiri seseorang yang memanggilnya itu.
"Mmmm.... sebelum jam 4 tadi hehe...."
"Kenapa nggak bilang mau ke sini? aku lagi banyak kerjaan jadi pulang telat."
"Nggak papa, sengaja mau kasih kamu kejutan, ayo aku anter pulang!"
Dini menganggukkan kepalanya lalu mengikuti seseorang itu keluar meninggalkan kantor.
"Kamu udah bawa mobil sendiri?" tanya Dini saat ia sudah berada di dalam mobil.
"Iya, mulai besok pak Rudi udah ikut kak Adit lagi," jawab Andi.
"Gimana home store? udah selesai pindahan nya?"
"Kenapa?"
"Mama lebih suka berbagi sama anak anak di panti asuhan, jadi daripada bikin opening yang berlebihan, aku putusin buat bikin acara di panti asuhan aja," jawab Andi.
"Mama Siska emang baik banget, wajar kalau anak anaknya juga baik banget," ucap Dini memuji mama Siska.
Andi hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dini.
"Sebelum pulang, kamu mau ikut aku ke rumah sakit nggak?" tanya Andi pada Dini.
"Ke rumah sakit? siapa yang sakit?"
"Nggak ada, aku cuma mau ketemu Dokter di sana," jawab Andi.
"Oke, nggak papa," balas Andi.
Andi lalu mengarahkan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat untuk menemui seorang Dokter yang sudah beberapa hari sering ia temui.
Sesampainya di rumah sakit, Andi segera berjalan ke arah salah satu ruangan bersama Dini.
"Kamu udah bikin janji?" tanya Dini.
Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu mengetuk pintu dan masuk ke salah satu ruangan.
"Sore Dok," sapa Andi pada seorang Dokter muda di hadapannya.
"Hai Ndi, kamu pasti Dini ya?" balas Dokter sekaligus bertanya pada Dini.
"Iya Dok," balas Dini.
"Saya Dokter Ambar, yang beberapa hari ini jadi teman curhat Andi," ucap Dokter Ambar memperkenalkan diri.
"Ini hasil pemeriksaan kamu, saya rasa nggak ada yang harus dikhawatirkan lagi, tapi kamu harus tetap waspada jika sewaktu waktu kamu merasa keadaan memburuk dan segera temui saya jika itu terjadi," ucap Dokter Ambar sambil memberikan sebuah amplop pada Andi.
"Apa saya masih harus minum obat nya Dok?" tanya Andi.
"Nggak perlu, trauma singkat yang kamu alami adalah hal yang wajar, kamu hebat Andi, kita baru bertemu beberapa kali dan kamu sudah bisa mengendalikan diri kamu sendiri alih alih mengikuti hal yang kamu takutkan itu," jawab Dokter Ambar memuji Andi.
__ADS_1
"Saya hanya berusaha untuk mengalahkan rasa takut saya Dok," ucap Andi.
"Itu bagus, nggak semua orang seberani dan sekuat kamu," balas Dokter Ambar.
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dokter Ambar.
Andi dan Dini lalu keluar dari ruangan Dokter Ambar dan meninggalkan rumah sakit.
"Apa Dokter Ambar itu psikiater?" tanya Dini.
"Iya, Dokter Ambar dokter spesialis kedokteran jiwa, kak Adit yang kenalin aku sama Dokter Ambar," jawab Andi.
"Kenapa kamu mau temui Dokter Ambar?"
"Sebelum trauma ku makin parah, Dokter Ambar pernah bilang kalau pengobatan terbaik adalah dari diri kita sendiri, seberapa kuat kita mampu melawan rasa takut itu dan seberapa yakin kita bisa melawan ketakutan itu," jawab Andi.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Andi. Dalam hatinya ia juga ingin melepaskan semua ketakutannya, namun ia ragu untuk menemui seorang psikiater yang akan menjadi tempatnya untuk menceritakan semua yang ia alami.
"Dokter Ambar baik Din, Dokter Ambar nggak pernah memandang rendah seseorang karena kekurangannya, bagi Dokter Ambar kekurangan seseorang itu bisa jadi kelebihan kalau seseorang itu mampu mengelola kekurangan nya dengan baik," ucap Andi.
"Kalau kamu maksa aku buat ikuti jejak kamu, aku nggak bisa Ndi, aku nggak mau berurusan sama psikolog, psikiater atau apapun itu," ucap Dini.
"Aku nggak akan maksa kamu Din, tapi aku akan seneng kalau kamu mau berteman sama Dokter Ambar."
"Kenapa? biar aku bisa cerita semua masalahku sama Dokter Ambar?"
"Dokter Ambar nggak akan maksa kamu buat cerita Din, aku juga nggak akan maksa kamu, semua keputusan ada di tangan kamu Din," jawab Andi.
"Dan keputusan aku adalah aku nggak mau berteman sama Dokter Ambar," ucap Dini.
"Oke, nggak masalah, tapi kamu jangan marah dong!"
"Aku nggak marah, cuma kesel aja," balas Dini dengan raut wajahnya yang tampak kesal.
"Aku minta maaf, dimaafin?"
"Nggak semudah itu!"
"Apa yang harus aku lakuin biar kamu maafin aku?"
"Ice cream," jawab Dini singkat.
"Oke, kita beli ice cream!"
Andi lalu menepikan mobilnya ke arah sebuah kafe dan memarkirkan mobilnya di sana.
Andi berjalan memasuki kafe dengan menggandeng tangan Dini. Mereka lalu duduk di salah satu bangku dan memesan beberapa macam ice cream kesukaan Dini.
Setelah ice cream datang, merekapun segera menikmatinya.
"Kenapa kamu suka ice cream?" tanya Andi pada Dini.
"Dia bisa lelehin kekesalanku," jawab Dini dengan menyendok ice cream di hadapannya.
"Apa dia bisa lelehin kemarahan kamu?" tanya Andi.
"Mmmmm.... bisa jadi," jawab Dini yang tidak berhenti menikmati ice cream di hadapannya.
"Apa dia juga bisa lelehin ketakutan kamu?"
Dini lalu diam, menaruh sendok ice cream nya dan membawa pandangan nya pada Andi.
Mendapat tatapan menakutkan dari Dini, Andi lalu menyendok ice cream nya dan memberikannya pada Dini.
Dini lalu membuka mulutnya dan menerima suapan ice cream dari Andi.
Andi hanya terkekeh lalu kembali menyuapi Dini dengan ice cream miliknya.
"Ice cream kamu nanti masuk perutku semua kalau kamu suapin aku terus!" ucap Dini.
"Nggak masalah, asalkan kamu seneng," ucap Andi dengan mengusap ujung bibir Dini yang terkena lelehan ice cream.
Andi lalu menjilat jarinya yang ia buat membersihkan ujung bibir Dini.
"Hmmmm, manis," ucap Andi dengan tersenyum.
"Iiiissshh, jorok banget," balas Dini yang kemudian menyuapi Andi dengan ice cream miliknya.
Mereka lalu tertawa karena sikap mereka. Beberapa orang yang melihat Andi dan Dini sudah pasti akan mengira jika mereka adalah dua remaja yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1