
Dimas sudah berangkat ke tempat kerjanya sebelum jam 7, meninggalkan Dini di rumah bersama para pekerjanya.
Ia tidak bisa menahan senyumnya saat membayangkan betapa cantiknya sang istri saat sedang berjalan dengan perut buncitnya karena sedang hamil.
Di sisi lain, Dini yang baru saja selesai sarapan kembali masuk ke kamarnya. Ia melihat kalender di ponselnya untuk memastikan dugaannya.
"Harusnya dua hari yang lalu," ucap Dini saat ia menyadari telah telat datang bulan.
Dini tersenyum tipis lalu segera pergi ke apotek terdekat untuk membeli testpack. Sesampainya di rumah, ia segera pergi ke kamar mandi dan menggunakan testpack yang baru saja ia beli.
Tak berapa lama kemudian satu garis merah telah terlihat, Dini semakin berdebar saat menunggu satu garis lagi yang akan terlihat.
Namun raut wajah Dini tiba tiba berubah karena hasil yang ia lihat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Hasilnya lebih akurat kalau dipake waktu pagi, jadi apa mungkin ini salah?" tanya Dini pada dirinya sendiri.
Dini lalu membuang bekas testpack itu ke tempat sampah dan menyimpan yang lain karena ia sudah membeli beberapa testpack dengan merk yang berbeda.
Waktu berlalu, hari mulai siang.
Dini menghubungi Dimas untuk memberi tahu Dimas jika dirinya sudah baik baik saja dan tidak memerlukan Dokter Aziz untuk memeriksa keadaannya.
"Kamu yakin sayang?" tanya Dimas khawatir.
"Iya, aku yakin, aku udah nggak papa kok," jawab Dini meyakinkan.
"aku mau kasih kamu kejutan, kalau Dokter Aziz tau lebih dulu daripada kamu, pasti Dokter Aziz akan kasih tau kamu," batin Dini dalam hati.
"Cepet hubungi aku kalau ada apa apa ya sayang, sesibuk apapun aku akan jawab panggilan kamu!"
"Oke, ya udah kamu lanjut kerja aja!"
"Oke, love you sayang!"
"Love you too!"
Panggilan berakhir. Dini merasa bosan berdiam diri di rumah sampai malam.
Tak lama kemudian suara mobil memasuki halaman rumahnya, Dinipun segera keluar untuk menyambut kedatangan Dimas.
"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya Dimas dengan memeluk Dini.
"Aku udah sehat kok," jawab Dini lalu melepaskan dasi yang dipakai Dimas saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Saat Dimas akan masuk ke kamar mandi, ia melihat testpack yang ada di tempat sampah.
"apa kamu sengaja nggak mau diperiksa Dokter Aziz karena mau kasih aku kejutan?" batin Dimas dalam hati.
Setelah selesai mandi, mereka segera makan malam bersama.
**
Malam telah berlalu menyambut pagi. Dini bangun pagi pagi sekali dan segera ke kamar mandi dengan membawa testpack yang sudah dibelinya.
Ia begitu bersemangat untuk melihat hasilnya. Namun lagi lagi ia tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya.
Dini lalu mencoba menggunakan testpack merk lain namun hasilnya tetap saja sama, hanya ada satu garis yang membuatnya benar benar kecewa.
Tak terasa air mata mengalir di pipinya. Ia sudah dikecewakan oleh harapannya sendiri.
Dini lalu membuang semua testpack yang sudah dipakainya ke dalam tempat sampah lalu kembali membaringkan dirinya di ranjang dengan membelakangi Dimas.
Ia menangis sesenggukan, membuat Dimas segera terbangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang? ada apa?" tanya Dimas khawatir.
Dini hanya menggelengkan kepalanya dengan masih menutup matanya.
"Mimpi buruk?" tanya Dimas.
Dini kembali menggeleng lalu memeluk Dimas, Dimaspun membalas pelukan Dini dengan erat.
"Kamu jangan kerja dulu, aku udah bilang Adit kemarin," ucap Dimas.
Setelah dirasa Dini sudah lebih tenang, Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan beranjak dari ranjangnya untuk mandi.
Ia kembali melihat ke arah tempat sampah dan terlibat banyak testpack di sana.
Setelah selesai mandi, ia menghampiri Dini yang berdiri di hadapan cermin besar. Dimas memutar badan Dini lalu memeluknya.
"Kamu mau periksa ke rumah sakit?" tanya Dimas.
"Buat apa?" balas Dini bertanya dengan suara serak.
"Mungkin testpack itu salah," jawab Dimas.
"Aku udah coba di beberapa testpack dengan merk yang berbeda Dimas dan hasilnya sama," ucap Dini dengan air mata yang menggenang di matanya.
__ADS_1
"Hasil pemeriksaan Dokter akan lebih....."
"Enggak Dimas, aku nggak mau, semuanya udah jelas," ucap Dini memotong ucapan Dimas.
Dimas menganggukkan kepalanya lalu menghapus air mata di pipi Dini. Ia menatap istrinya yang sedang bersedih karena kecewa.
"Mungkin beberapa hari kemarin kamu terlalu sering berdiri di balkon kamar hotel tiap malem, itu kenapa kamu......"
"Maafin aku Dimas," ucap Dini yang kembali meneteskan air matanya.
"Jangan minta maaf sayang, ini bukan masalah buat aku, kita nikmati dulu waktu kita berdua, Tuhan akan kasih kita setelah waktunya tiba," ucap Dimas dengan menghapus air mata di pipi Dini.
Dini lalu kembali memeluk Dimas dengan erat.
"Kamu mau ke rumah ibu? aku bisa antar kamu kesana sekalian aku berangkat kerja!"
"Boleh?"
"Tentu dong sayang, jangan pikirin masalah ini lagi, oke?"
Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dimas. Meski masih ada rasa kecewa dalam dirinya ia berusaha untuk melupakannya. Toh pernikahannya baru berjalan 2 bulan.
**
Di tempat lain, Andi yang baru saja sampai di home store begitu terkejut karena ada Aletta yang sudah duduk di sana.
"Kamu ngapain di sini? udah lama?" tanya Andi saat ia sudah menghampiri Aletta.
"Baru aja kok, maaf aku pergi gitu aja waktu di Bali, setelah itu aku juga nggak kabarin kamu sama sekali, banyak hal yang harus aku persiapkan Ndi."
"Nggak papa, pekerjaan kamu kan emang bisa datang sewaktu waktu," balas Andi.
"Ayo masuk!" ajak Andi dengan menarik tangan Aletta, namun Aletta tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa?" tanya Andi.
"Aku ke sini karena mau kasih tau kamu sesuatu," jawab Aletta ragu.
"Ada apa Ta?" tanya Andi.
"Aku..... aku harus balik ke Singapura, sekarang," jawab Aletta yang membuat Andi begitu terkejut mendengarnya.
"Ke Singapura? sekarang?" tanya Andi tak percaya.
"Iya, beberapa hari kemarin ada masalah darurat yang sampai sekarang belum ada penyelesaiannya, aku harus balik ke Singapura buat selesaiin masalah ini," jawab Aletta menjelaskan.
Andi menutup matanya, menghembuskan napasnya kasar dan tersenyum pahit.
Andi lalu memeluk Aletta dengan erat. Ia tau Aletta bisa pergi kapan saja, namun ia tidak menyangka jika harus secepat itu.
"Aku minta maaf Ta, harusnya aku bisa kasih kenangan indah buat kamu selama kamu di sini, tapi aku malah terlalu sibuk dengan masalahku sendiri," ucap Andi.
"Kamu udah kasih aku banyak kenangan indah Ndi, kamu harus janji sama aku kalau kamu akan lanjutin hidup kamu dengan lebih baik, ada banyak orang yang sayang sama kamu, kamu harus tau itu!"
"Iya Ta, aku akan selalu ingat kata kata kamu," balas Andi.
"Aku nggak tau kapan aku bisa balik ke sini, atau mungkin apa aku bisa balik lagi ke sini, jadi jangan tunggu aku, temukan kebahagiaan kamu sendiri Ndi, aku yakin kamu akan jauh lebih bahagia daripada saat ini!"
Andi menganggukkan kepalanya dengan menatap kedua mata Aletta.
"Kamu jaga diri baik baik Ta, kamu juga harus bahagia!"
Pada akhirnya Andi harus merelakan kepergian Aletta, gadis yang membuatnya merasakan kehangatan kasih sayang dan kepedulian yang besar padanya.
Gadis yang memberinya banyak kekuatan saat ia merasa benar benar terjatuh dalam kesakitan. Ia hanya bisa berharap jika Aletta akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.
**
Di tempat lain, Ana sedang mendandani mama Siska yang akan pergi untuk menghadiri acara arisan rutin bersama teman temannya.
"Sudah selesai ma," ucap Ana setelah selesai mendandani mama Siska.
"Mama jadi keliatan lebih muda sayang," ucap mama Siska sambil memperhatikan dirinya dari pantulan cermin di hadapannya.
"Mama emang masih muda kok," balas Ana.
"Bisa aja kamu, mama pergi dulu ya, kamu jaga diri baik baik!"
"Hati hati di jalan ma," balas Ana.
"Kamu jangan rewel ya sayang!" ucap mama Siska sambil mengusap perut Ana yang semakin besar.
Setelah kepergian mama Siska, Ana kembali ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai mandi, tanpa sengaja Ana menjatuhkan sabun yang ada di rak, membuat beberapa tetes sabun tercecer di lantai.
Ana lalu mengambil sabun itu dan mengembalikan ke tempat semula, saat Ana melangkah, kakinya menginjak tetesan sabun yang membuatnya terjatuh ke lantai.
Seketika Ana mengerang kesakitan bersamaan dengan darah yang mulai membasahi lantai. Ana memegang perutnya dengan berharap jika bayi dalam kandungannya tetap baik baik saja.
__ADS_1
Saat Ana akan mencoba berdiri, ia kembali terjatuh dan membuatnya benar benar merasakan sakit yang luar biasa.
Darah tampak semakin banyak menggenangi lantai kamar mandi bersama dengan rasa pusing dan sesak yang Ana rasakan.
"Bu Desiiiii, Liiiisaaaa, tooloooong!" teriak Ana dengan sisa tenaganya.
Ana semakin mengerang kesakitan saat ia merasakan kontraksi bersama cairan ketuban yang sudah pecah.
"Adiiiitttt, tolong aku Dit, tolong aku.....!".
Ana menangis dengan masih berusaha meminta tolong, ia hanya berharap jika bayi dalam kandungannya masih bisa bertahan dengan keadaan saat itu.
"kamu harus kuat sayang, kamu harus bisa bertahan," batin Ana dalam hati dengan masih memegang perutnya, berusaha memberi kekuatan pada sang bayi meski ia sendiri merasa dirinya sudah hampir kehilangan seluruh kekuatannya.
**
Di sisi lain, Adit yang baru saja sampai di kantor segera pergi ke pantry untuk memanaskan air minum.
Saat akan meminumnya tiba tiba gelas di tangannya terjatuh, membuatnya segera mengambil serpihan gelas yang tercecer di lantai.
Seketika ia seperti mendengar suara Ana memanggilnya, membuat Adit segera menoleh ke arah belakang.
Adit segera berdiri dengan menyapu pandangannya ke setiap sudut pantry, namun tidak ada siapapun di sana selain dirinya.
Adit lalu kembali memungut pecahan gelas di lantai dan meminta OB untuk mengepelnya.
Adit keluar dari pantry dengan memegang dadanya yang tiba tiba bergemuruh, jantungnya berdetak cepat dan membuatnya gelisah.
Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sang mama karena ia pikir sang mama saat itu sedang bersama Ana.
"Halo Adit, ada apa?"
"Nggak ada apa apa ma, Ana udah bangun ma?"
"Udah, mama lagi di jalan mau arisan sekarang, Ana yang dandanin mama tadi," jawab mama Siska.
"Jadi mama nggak di rumah sekarang?"
"Enggak sayang, mama mau arisan, Ana udah bangun kok tadi!"
Tuuuuutttt tuuuuutttt tuuuuutttt
Adit mengakhiri panggilannya dengan sang mama, ia lalu menghubungi Ana namun sudah berkali kali ia coba, Ana belum juga menerima panggilannya.
Adit segera berlari keluar dari kantor dengan masih berusaha menghubungi Ana, namun tetap saja nihil.
Adit akhirnya menghubungi telepon rumah dan meminta Bu Desi untuk melihat keadaan Ana.
"Mbak Ana masih di kamarnya mas, mungkin sebentar lagi keluar buat sarapan," ucap Bu Desi.
"Bu Desi masuk aja ke kamarnya dan pastiin kalau dia baik baik aja!"
"Tapi mbak Ana larang saya buat......"
"CEPAT MASUK ATAU SAYA AKAN PECAT BU DESI SEKARANG JUGA!" ucap Adit yang sudah kehilangan kesabarannya.
"Bb... baik mas!"
Bu Desi lalu pergi ke kamar Ana, mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada tanda tanda Ana berada di dalam kamar.
Bu Desi dan Lisa lalu mencari Ana ke setiap sudut rumah untuk memastikan jika Ana masih berada di dalam kamar, karena mereka tidak ingin membuat Ana marah karena masuk tanpa izin.
Setelah memastikan Ana tidak ada di luar kamar, Bu Desi dan Lisa pun terpaksa masuk ke kamar Ana tanpa izin.
Namun mereka tidak melihat keberadaan Ana di kamar.
"Apa di kamar mandi Bu?" tanya Lisa.
Bu Desi lalu mendekat ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu beberapa kali dengan memanggil Ana, namun tak ada jawaban.
"Duh, Lisa jadi khawatir Bu, buka aja pintunya Bu!"
Dengan hati hati Bu Desi dan Lisa membuka pintu kamar mandi dan membelalakkan mata tak percaya melihat Ana yang tersungkur di lantai dengan genangan darah di bawahnya.
Bu Desipun segera memanggil Candra dan Agus untuk memberi tahu keadaan Ana saat itu. Salah satu dari mereka lalu segera menghubungi ambulans.
Tak lama kemudian ambulans datang dan segera membawa Ana ke rumah sakit terdekat.
Bu Desi lalu segera menghubungi Adit, memberi tahu Adit apa yang terjadi pada Ana.
Seketika Adit menghentikan mobilnya di tengah jalan raya. Seperti ada pedang tajam yang menghunus jauh ke dalam dadanya. Ia tiba tiba merasa kehilangan seluruh tenaganya, namun klakson dari mobil di belakangnya membuat Adit segera tersadar.
Aditpun membawa mobilnya ke arah rumah sakit dengan kecepatan penuh. Ia hanya bisa berharap jika Ana dan bayi nya baik baik saja.
Sepanjang perjalanan Adit tidak bisa memikirkan apapun selain Ana dan bayi dalam kandungannya.
Matanya memerah menahan air mata yang hampir saja tumpah. Berkali kali Adit menekan klakson nya dengan kencang saat beberapa kendaraan menghalangi jalannya.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak memikirkan hal lain selain Ana dan bayinya, bahkan beberapa kali panggilan dari Jaka dan partner bisnisnya ia abaikan begitu saja.
Sesampainya di rumah sakit, Adit segera berlari ke dalam dan mencari keberadaan Ana. Dalam hatinya ia berdo'a untuk bisa menukar nyawanya demi keselamatan Ana dan bayinya.