
Dini dan Andi masih duduk di halte, mereka menunggu bus yang akan mengantar mereka kembali pulang.
"Gimana hari pertamanya? lancar?" tanya Andi.
"Mmmmm, campur aduk, aku capek banget Ndi," jawab Dini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Dimas udah hubungin kamu?"
"Belum, aku udah coba hubungin dia waktu makan siang tadi tapi nggak diangkat, dia sibuk banget ya?"
"Katanya sih ada beberapa klien yang harus dia temui."
Tak lama kemudian bus telah tiba, merekapun segera naik dan duduk di kursi yang masih kosong.
"Nanti malem ke rumah ya, aku mau cerita banyak hal sama kamu!" ucap Dini ketika mereka sudah turun dari bus.
"Oke," jawab Andi.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dini sudah menunggu Andi di depan rumahnya. Tak lama kemudian seseorang yang ditunggunya pun datang.
"Dimas kok nggak bisa dihubungi ya!" ucap Dini pada Andi.
"Masih sibuk mungkin Din, kalau udah beres juga pasti hubungin kamu!"
"Tapi masak nggak ada waktu bentar aja buat....."
"Tenang aja, Dimas pasti baik baik aja, gimana tadi di kantor? kamu masuk di bagian apa?"
"Kalau aku bilang aku jadi asisten pribadi CEO di perusahaan itu, kamu percaya nggak?" balas Dini balik bertanya.
"Percaya," jawab Andi.
"Kenapa kamu gampang banget percaya sih!"
"Emang beneran kamu jadi asisten pribadi CEO?"
Dini menganggukkan kepalanya dengan lemas.
"Bagus dong Din, kok kamu nggak semangat gitu?"
"Kamu inget cowok aku tampar tadi pagi nggak? dia CEO di perusahaan itu Ndi, mau ditaruh dimana muka ku, aku gugup banget tiap ketemu dia," balas Dini.
"Dilihat dari fisiknya sih kayaknya dia beberapa tahun di atas kita, bener dia CEO di sana?"
"Beneran Ndi, mbak Ana sendiri yang ngenalin aku sama dia, dia emang masih muda, namanya Pak Adit."
"Keren sih masih muda udah jadi CEO," ucap Andi.
"Kalau Dimas mau, dia juga bisa jadi CEO, tapi dia lebih suka mulai bisnis dari nol daripada lanjutin bisnis papanya!"
"Iya iya, pacar kamu emang yang terbaik, tapi gimana kamu sama Pak Adit tadi? dimarahin?"
"Dia marah, tapi bukan soal kejadian tadi pagi, dia sama sekali nggak bahas kejadian tadi pagi."
"Terus dia marah karena apa?"
"Karena dia emang pemarah, emosional banget orangnya, pasti punya darah tinggi deh tuh!"
"Tapi nggak mungkin dong Pak Adit marah tanpa alasan, iya kan?"
"Kenapa kamu panggil 'Pak Adit' sih?"
"Nggak papa dong, kan dia atasan kamu!"
"Iya sih, sebenernya aku juga salah, tapi itu kan hari pertama ku kerja jadi asisten pribadi, wajar dong kalau aku masih nggak ngerti beberapa hal, harusnya tinggal kasih tau aja nggak perlu pake emosi, iya kan?"
"Ya mungkin emang itu caranya kasih teguran buat kamu biar kamu cepet belajar!"
"Tapi kalau dimarahin karena hal sepele kan bikin kesel juga Ndi, bisa stres aku lama lama!"
"Justru kamu harus tunjukin ke Pak Adit kalau kamu bisa kerja dengan baik, bisa selesaiin tugas tugas kamu sesuai permintaan Pak Adit."
Dini terdiam beberapa saat. Ucapan Andi mengingatkan senyum Pak Adit padanya beberapa waktu lalu. Pak Adit bahkan menjabat tangannya karena merasa puas dengan hasil kerjanya.
"Tapi dia baik juga sih," ucap Dini.
"Tuh kan, tiap orang pasti ada sisi baik dan buruknya Din!"
"Iya kamu bener, selama aku kerja dengan baik Pak Adit pasti nggak akan marah lagi sama aku!"
"Yang penting kamu udah lakuin yang terbaik, semuanya akan baik baik aja, semangaatttt Diiniii!"
"Semangaattt!!!"
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Andi sudah pulang ke rumahnya dan Dini sudah masuk ke kamarnya.
Ia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Dimas namun tetap saja tak ada jawaban.
"kamu kemana sih Dim!!" batin Dini kesal.
Toookkk Toookk
Terdengar suara ketukan yang begitu pelan, namun Dini masih bisa menangkap suara ketukan itu dengan jelas karena suara itu berasal dari jendela kamarnya.
Dinipun segera membuka jendela kamarnya.
"Dimas!!"
"Sssttttt!!"
Dini lalu menutup mulutnya, ia begitu terkejut melihat Dimas di hadapannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dini dengan berbisik.
Dimas tak menjawab, ia melompat ke arah jendela dan duduk di jendela.
"Din, kamu belum tidur?" tanya ibu Dini dari luar pintu kamar Dini.
Dini dan Dimas saling pandang, Dini lalu menarik Dimas dengan cepat, membuat Dimas terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kamu kenapa Din?" tanya ibu Dini lagi.
"Enggak bu, Dini nggak papa, Dini.... cuma jatuh hehe...." jawab Dini dengan mendorong tubuh Dimas ke bawah kolong tempat tidurnya.
KLAAKK
Pintu terbuka, ibu Dini masuk tepat saat Dimas baru saja masuk ke dalam kolong tempat tidur Dini.
"Kamu nggak papa?" tanya ibu Dini.
"Nggak papa kok bu, cuma kepleset aja tadi," jawab Dini berbohong.
"Apa lantainya licin?" tanya ibu Dini sambil membungkukkan badannya hendak mengecek lantai kamar Dini namun Dini segera menarik tangan ibunya.
"Enggak bu, enggak, nggak ada yang licin, Dini aja yang nggak hati hati tadi," ucap Dini.
"Lain kali hati hati dong Din, jendelanya juga kenapa belum ditutup sih!" balas ibu Dini sambil berjalan ke arah jendela.
"Dini tutup bu," ucap Dini dengan segera menutup jendelanya sebelum sang ibu mendekat ke arah jendela.
"Ya udah, kamu jangan tidur malem malem ya, jaga kesehatan kamu!"
"Iya, ibu juga," balas Dini sambil mengantar ibunya keluar kamar dan mengunci pintu kamarnya.
Ia lalu merebahkan badannya di ranjang dan menghembuskan napasnya panjang. Baru saja ia merasa oksigen dikamarnya seolah diambil seluruhnya oleh ibunya, membuatnya tak bisa bernapas lancar karena menutupi kebohongannya.
Perlahan Dimas keluar dari kolong tempat tidur dan duduk di lantai kamar Dini.
Dinipun duduk di ranjangnya, menatap laki laki yang dicintainya tampak pucat karena hampir saja tertangkap basah oleh ibunya.
Mereka lalu tersenyum.
Dini mengambil ponselnya dan menyalakan musik dari ponselnya dengan volume yang cukup keras untuk meredam suaranya dan Dimas.
"Padahal aku cuma mau ketemu tunanganku," ucap Dimas.
Dini lalu menarik tangan Dimas agar Dimas berdiri. Ia memeluk Dimas dengan erat, ia merindukan laki laki dalam pelukannya.
"Kenapa kamu nggak kasih kabar sama sekali?" tanya Dini kesal lalu melepaskan Dimas dari pelukannya, namun Dimas kembali menarik tangan Dini dan memeluknya erat.
"Maaf sayang, aku harus ke beberapa kota sekaligus hari ini, aku sengaja selesaiin ini cepet karena aku nggak mau lama lama jauh dari kamu!"
"Beneran?"
"Beneran, harusnya aku 3 hari di luar kota, tapi aku selesaiin satu hari biar aku bisa cepet pulang dan ketemu kamu!"
"Aku kangen sama kamu!"
"Aku juga, makanya aku langsung kesini."
"Mobil kamu mana?"
"Aku parkir di mini market 24 jam di gang depan hehe...."
"Ya udah sana pulang, sebelum ibu curiga!"
"Aku baru dateng sayang, aku masih kangen," balas Dimas merengek.
"Besok jemput aku di kantor, sekarang kamu harus pulang terus istirahat!"
"Pulang Dimaassss....."
"Din, kenapa nyalain musik malem malem?" tanya ibu Dini dari depan pintu kamar Dini.
"Tuh ibu kesini, buruan pulang Dimas!"
Dimas lalu mencium kening Dini dan segera keluar lewat jendela. Sedangakan Dini segera menutup kembali jendela kamarnya lalu membuka pintu untuk ibunya.
"Maaf bu, Dini nggak bisa tidur hehe...." ucap Dini beralasan.
"Pake handsfree Din, berisik loh!"
"Iya bu, maaf hehe...."
Ibu Dini pun kembali ke kamarnya, begitu juga Dini yang kembali merebahkan badannya di ranjang setelah menutup pintu kamarnya.
**
Esok paginya, Dini keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah halte bersama Andi. Pagi itu, Dimas tidak bisa mengantarnya karena ia harus mengikuti pertemuan bersama sang papa.
"Dimas udah balik semalem, dia udah ngabarin kamu kan?" ucap Andi sekaligus bertanya pada Dini.
Dini hanya mengangguk dan tersenyum.
"Seneng dong hari ini, tambah semangat juga dong!"
"Pastinya, pulang kerja nanti aku mau jalan sama Dimas Ndi, mungkin sampe malem."
"Iya, aku tunggu kamu di home store aja, lagian banyak kerjaan juga."
"Makasih ya Ndi, kamu emang yang terbaik!" ucap Dini sambil mengacungkan ibu jarinya.
Andi hanya tersenyum. Mereka kemudian segera menaiki bus ke arah tempat kerja Dini. Hari itu tak sampai 30 menit, mereka sudah sampai.
"Mulai besok aku berangkat sendiri aja ya Ndi, kamu jadi muter muter kalau harus nganterin aku tiap hari," ucap Dini sebelum ia menyebrang.
"Dimas yang nganterin kamu?"
"Ya kalau dia nggak sibuk aja sih, tapi aku berangkat sendiri juga nggak papa kok!"
"Ya udah sana masuk, ntar telat loh!"
"Aku duluan ya, bye!"
"Bye!"
Dini menyebrang ke arah tempat kerjanya. Ia lalu segera masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Ana yang menunggu kedatangannya.
"Pagi mbak, udah dari tadi?" tanya Dini menyapa.
"Hai Din, baru aja kok, tolong kamu siapin minuman Pak Adit ya, saya masih beresin barang barang saya!"
__ADS_1
"Air hangat ya mbak?"
"Iya, tolong ya!"
"Baik mbak," jawab Dini lalu segera membuatkan air hangat untuk Adit dan menaruhnya di meja kerja Adit.
Adit memasuki ruangannya tepat pada saat Dini baru saja menaruh air hangat di meja Adit.
"Pagi pak," sapa Dini dengan tersenyum canggung. Ia masih merasa bersalah pada apa yang sudah dilakukannya pada Adit, hal itu membuatnya malu dan takut.
Adit hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Dini.
"kayak kuda, matanya nggak bisa noleh," batin Dini kesal.
Dini lalu kembali ke ruangannya dan melihat Ana yang sedang mengemasi barang barangnya.
"Kenapa diberesin mbak?"
"Karena ini hari terkahir saya Din, Pak Adit udah cerita sama saya kalau dia suka sama hasil kerja kamu, tapi ada satu yang Pak Adit kurang suka, saya harap kamu nggak tersinggung ya!"
"Apa itu mbak?"
"Dia berharap kamu bisa lebih percaya diri dan bisa membedakan urusan pekerjaan atau urusan pribadi, itu aja sih!"
"Pak Adit bilang apa lagi mbak?"
"Cuma itu, dia suka hasil kerja kamu dan ada beberapa hal yang dia kurang suka, itu aja!"
Dini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ana.
"Din, Pak Adit itu orangnya sangat tegas, beliau nggak suka ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaannya, tapi dibalik itu Pak Adit baik banget Din, kalau kamu udah lama kerja sama Pak Adit kamu pasti tau gimana Pak Adit sebenernya," ucap Ana.
"Emang Pak Adit sebenernya gimana mbak?"
"Kalau kamu mau tau kamu harus bertahan di sini," jawab Ana.
Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Ana. Ia lalu mengambil map di mejanya dan membawanya ke ruangan Adit.
Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia masuk.
"Permisi Pak, ini jadwal Pak Adit hari ini," ucap Dini sambil menyerahkan map yang ia bawa pada Adit.
Adit mengambil map itu dan membaca isinya.
"Kamu yang buat?" tanya Adit.
"Mbak Ana Pak," jawab Dini.
"Buat lagi!" ucap Adit sambil melempar map itu di atas meja.
"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
"Dimarahin lagi?" tanya Ana.
"Disuruh buat lagi mbak," jawab Dini.
"Semangat ya Din, hehe...."
Setelah Dini menyelesaikan perintah Adit, ia kembali ke ruangan Adit dan memberikan hasil kerjanya pada Adit.
"Kamu di sini sebagai personal assistant saya kamu tau kan tugas tugas kamu?" tanya Adit.
"Tau pak," jawab Dini tanpa berani melihat ke arah Adit.
"Semua pekerjaan Ana sudah jadi tanggung jawab kamu sekarang, mengerti?"
"Mengerti pak!"
BRAAAKKKKK
Kembali gebrakan buku di atas meja membuat Dini begitu terkejut, namun ia masih saja menundukkan kepalanya. Jika saja tidak ada kejadian memalukan di pagi itu, ia tidak akan secanggung itu pada Adit.
"Angkat kepala kamu atau angkat kaki kamu dari perusahaan ini!" ucap Adit tegas.
"Saya.... saya....."
"Oke, kamu keluar sekarang dan jangan pernah kembali lagi!" ucap Adit sambil melemparkan map di hadapannya pada Dini.
Dini hanya diam di tempatnya, ia tidak tau harus berbuat apa. Sedangakan Adit menghubungi Ana, memintanya agar segera datang ke ruangannya.
"Bawa dia keluar!" ucap Adit pada Ana yang baru saja masuk.
Ana hanya diam dan membawa pandangannya ke arah Dini.
"An, kamu tuli?" teriak Adit.
"Maaf pak, ayo Din!"
Dini menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin meninggalkan ruangan itu karena jika ia meninggalkan ruangan Adit itu artinya ia sudah dipecat dari perusahaan itu.
"Kita bicarain di ruangan kamu," ucap Ana.
Dini lalu mengikuti Ana, ia menahan air mata yang sudah siap tumpah dari kedua sudut matanya.
"Ada apa Din? Pak Adit bilang apa?"
"Pak Adit udah pecat saya mbak," jawab Dini yang mulai menangis.
Anapun mendekat dan memeluk Dini.
"Tenangin diri kamu dulu Din, saya akan bicarain ini sama Pak Adit," ucap Ana sambil menenangkan Dini.
Ana lalu masuk ke ruangan Adit dan duduk di depan Adit tanpa permisi.
"Dit, lo....."
"Gue nggak bisa kerja sama dia An, dia masih terlalu childish, dia nggak ngerti apa apa!" ucap Adit memotong ucapan Ana.
"Dari awal gue udah bilang dia belum ada pengalaman jadi personal assistant, tapi gue bisa jamin kalau dia bisa cepet belajar, gue bisa jamin kalau hasil kerjanya bagus dan itu kenyataan kan, lo suka kan sama hasil kerjanya? tolong lo ngertiin posisi dia lah Dit, kasih dia waktu buat belajar!"
"Gue bisa dapet yang lebih baik dari dia An, banyak di luar sana yang....."
__ADS_1
"Lo nggak inget udah berapa orang orang berpengalaman yang akhirnya nggak cocok sama lo? percaya sama gue Dit, Dini pasti bisa kerja sama lo kalau lo mau sedikit aja sabar sama dia, dia anaknya baik Dit, dia juga pinter, kasih dia kesempatan!"
Adit hanya diam mendengar ucapan Ana. Semua ucapan Ana benar, sangat susah mencari seseorang yang mengerti dirinya seperti Ana. Lalu apa dia harus mempertahankan Dini? ia bimbang.