Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Berat


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, sebentar lagi jam makan siang tiba. Dini masih tampak tak bersemangat sejak kemarahan Adit padanya tadi pagi. Tapi meski begitu, ia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia menyelesaikan file yang harus ia siapkan untuk meeting nanti siang.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Ana.


"Ini hari terakhir saya ya mbak?"


"Enggak Din, kamu jangan patah semangat, tunjukin kalau kamu emang layak buat jadi personal assistant Pak Adit disini!"


"Bukannya saya mau mengeluh mbak, tapi baru dua hari mental saya udah down rasanya," ucap Dini dengan merebahkan kepalanya di meja kerjanya.


"Anggap aja apa yang Adit lakuin ini untuk memperkuat mental kamu," balas Ana.


"kalau aku nggak kerja di sini, aku mau kerja dimana? yang fresh graduate kan nggak cuma aku, wajar kalau susah cari kerja, aku juga nggak mungkin minta tolong papa Dimas kan?"


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, ada sebuah pesan yang masuk.


Sayang, aku di depan kantor kamu!


Sebuah pesan yang membuat senyum Dini mengembang.


"Saya boleh makan siang di luar mbak?" tanya Dini pada Ana.


"Boleh, asal baliknya tepat waktu!"


"Siap mbak."


Ketika jam makan siang tiba, Dini segera keluar dan berlari ke arah mobil Dimas. Dimas yang menyadari kedatangan Dini segera keluar dan memeluk gadisnya.


"Mau makan siang dimana?" tanya Dimas lalu melepas pelukannya pada Dini.


"Terserah kamu aja!"


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah kedai makanan yang tak jauh dari kantor Dini.


Tanpa Dini tau, Adit melihat Dini dan Dimas yang sedang berpelukan.


"bener bener kayak anak kecil," batin Adit dalam hati.


Di tempat lain, Dimas dan Dini sudah sampai di kedai. Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar.


"Andi bilang kamu diterima jadi personal assistant, bener sayang?" tanya Dimas pada Dini.


Dini menganggukkan kepalanya tak bersemangat.


"Kenapa sayang? apa kamu nggak suka sama posisi kamu sekarang?"


"Kamu tau kan siapa CEO di tempat kerjaku?"


Dimas menggeleng, namun kemudian ia mengingat ucapan sang papa tentang CEO di perusahaan tempat Dini bekerja.


"CEO, ganteng, masih muda, lulusan S2 dari luar negri, idaman perempuan, tegas, profesional, pebisnis hebat," batin Dimas mengingat ucapan sang papa.


"Kamu jadi personal assistant CEO idaman perempuan itu?" tanya Dimas.


"Idaman perempuan dari mananya, mana ada cewek yang mau sama cowok galak kayak gitu!" balas Dini kesal.


"Dia galak?"


"Bangeeetttt," balas Dini yang semakin kesal mengingat perlakuan Adit padanya yang dinilai kasar.


"Kalau kamu nggak suka kerja di sana, resign aja sayang, aku bisa bantuin kamu cari kerja," ucap Dimas.


"Nggak semudah itu Dimas, aku kerja disana karena bantuan seseorang juga, aku nggak mungkin resign gitu aja!"


"Seseorang siapa?"


Dinipun menjelaskan bagaimana akhirnya ia bisa mengenal Ana dan menggantikan posisi Ana di perusahaan itu.


"Jangan terlalu dipaksain sayang, aku nggak mau kamu jadi stres gara gara tekanan dari kantor!"


Dini hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mereka selesai makan siang, Dimas segera mengantar Dini kembali ke kantor.


"Nanti aku jemput!" ucap Dimas setelah mencium kening Dini.


Dini hanya mengangguk lalu segera keluar dari mobil Dimas.


Dini kembali sibuk di meja kerjanya, menyalin jadwal Adit dari file Ana selama beberapa hari ke depan. Ia juga harus menyelesaikan materi meeting Adit sebelum jam 3.


"Mbak, materi meeting Pak Adit udah selesai," ucap Dini pada Ana.


"Kamu anter ke ruangannya aja!"


"Tapi mbak......"


"Din, kamu masih mau disini kan?"


Dini mengangguk lalu segera masuk ke ruangan Adit dengan membawa map yang berisi materi meeting.


"Permisi pak, saya......"


"Taruh!"


Dini lalu menaruh map yang ia bawa di meja Adit.


"Kamu nggak perlu ikut saya meeting, kamu bisa langsung pulang sekarang!"


"Tapi pak....."


"Keluar!"


"Baik pak, saya permisi," ucap Dini lalu meninggalkan ruangan Adit dan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Udah nggak ada harapan lagi mbak," ucap Dini pada Ana.


"Maksud kamu?"


"Pak Adit nggak bolehin saya ikut meeting, Pak Adit nyuruh saya keluar," jawab Dini bersedih.


"Emang Adit nggak bilang kalau meeting nya di pending?"


"Haahh, di pending? Pak Adit nggak bilang apa apa mbak!"


"Meeting ditunda karena beberapa hal, jadi kamu ganti jadwal Pak Adit besok ya!"


"Baik mbak!"


Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Dini sudah berjalan ke luar kantor dan menghampiri Dimas yang sudah menunggunya.


"Dimas, kita langsung pulang aja ya!"


"Kenapa? capek ya?"


Dini hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sayang, kapan aku bisa ketemu ibu kamu?" tanya Dimas.


"Buat apa?"


"Aku harus bicarain hubungan kita sama ibu kamu Andini, aku......"


"Dimas, kamu nggak inget apa yang Dokter bilang waktu ibu di rumah sakit? hipertensi emergensi ibu bisa kambuh sewaktu waktu dan tanpa gejala, kamu tau kan sebahaya apa itu?"


"Aku tau sayang, tapi aku juga nggak bisa kayak gini terus sama kamu, aku akan coba bicara baik baik sama ibu kamu, aku cuma mau tau alasan ibu kamu tiba tiba kayak gini!"


"Kamu egois Dimas!" ucap Dini lalu segera turun dari mobil Dimas ketika mereka sudah sampai di home store untuk menjemput Andi.


"Egois? kamu bilang aku egois?" tanya Dimas dengan menarik tangan Dini dan mencengkeramnya dengan erat.


"Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri, kamu nggak mikirin ibu, kamu nggak mikirin aku!"


"Aku mikirin semua itu lebih dari kamu Andini, aku nggak bisa diem aja dengan perlakuan nggak adil ini, aku juga butuh penjelasan!"


"Dan penjelasan yang kamu minta itu membahayakan ibu aku Dimas, kamu nggak mikirin itu?"


"Andini, aku......"


"Lepasin Dimas!" ucap Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Dimas, namun Dimas masih mencengkeramnya dengan erat.


"Aku nggak akan biarin siapapun pisahin kita Andini, siapapun!" ucap Dimas tegas.


Andi yang melihat hal itu dari beberapa waktu yang lalu hanya diam. Ia merasa tidak berhak mencampuri masalah mereka berdua. Namun melihat Dimas yang mencengkeram tangan Dini dengan kasar, Andi sudah tidak bisa lagi berdiam diri di tempatnya.


"Lepas Dim, lo nyakitin Dini!" ucap Andi dengan menarik tangan Dimas.


"Bukan urusan lo Ndi!"


Dimas lalu melepaskan tangan Dini dan tersenyum tipis lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Andi dan Dini.


"Kamu nggak papa Din?" tanya Andi pada Dini.


Dini tak menjawab, ia segera memeluk Andi dan menangis dalam pelukan Andi.


Hari itu menjadi hari yang berat baginya. Belum selesai masalahnya di kantor, ada lagi hal lain yang membuatnya semakin down.


Andi lalu mengajak Dini masuk ke dalam home store. Mereka duduk di lantai, di dalam ruang kerja Dimas dan Andi.


"Kamu baru pulang kerja Din, kamu pasti capek, Dimas juga pasti capek karena......"


"Dia egois Ndi," ucap Dini yang masih menangis dengan menutup kedua matanya menggunakan tangannya.


Andi lalu mendekat dan memeluk Dini, berusaha untuk menenangkan sahabat yang dicintainya itu. Sampai beberapa waktu berlalu, Dini masih menangis dalam pelukan Andi. Ia menumpahkan semua kesedihan yang ia alami hari itu dalam pelukan Andi.


Setelah lebih tenang, Dini melepaskan dirinya dari pelukan Andi. Andi lalu mengambil satu gelas air untuk Dini.


"Makasih Ndi," ucap Dini dengan sedikit isak tangis yang tersisa.


"Kenapa Din? Berat banget ya hari ini?" tanya Andi yang membuat mata Dini kembali berkaca kaca.


"Udah udah, nggak usah diceritain dulu," ucap Andi dengan kembali membawa Dini ke dalam pelukannya.


Setelah mencuci muka, Dini kembali memakai make up tipisnya untuk menutupi bekas tangisnya. Ia tidak ingin ibunya mengetahui apa yang sudah terjadi padanya.


"Masih keliatan Ndi?" tanya Dini dengan mendekatkan wajahnya di hadapan Andi, membuat Andi seketika menjadi gelagapan.


"Cantik," jawab Andi setelah ia bisa menguasai hatinya.


"Kok cantik sih, aku masih keliatan abis nangis nggak?"


"Oh, enggak kok, enggak, ayo pulang!"


"Ayo!"


Merekapun berjalan ke arah halte dan segera menaiki bus yang mengantar mereka pulang.


"Mau ke bukit?" tanya Dini ketika mereka baru saja turun dari bus.


"Sekarang?"


Dini menganggukkan kepalanya cepat. Andi hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Dini dan berjalan ke arah bukit.


Sesampainya di atas bukit, mereka duduk berdua seperti biasa. Hamparan gelap yang dihiasi kerlip bintang menemani malam mereka.


Dini menarik napasnya dalam dalam lalu menghembuskannya pelan, membuang semua kesedihan yang ia rasakan hari itu.


"Ini hari yang berat Ndi," ucap Dini pada Andi.

__ADS_1


"Kamu bisa cerita apa aja Din!"


"Aku nggak tau apa aku masih kerja di perusahaan itu apa enggak!"


"Kenapa?"


"Pak Adit kayaknya emang nggak suka sama aku, hari ini dia minta aku ninggalin perusahaan itu!"


"Apa ada sesuatu yang bikin Pak Adit marah?"


"Aku nggak tau, hal hal kecil selalu jadi masalah buat Pak Adit."


"Jangan karena itu kesalahan kecil jadi kamu sepelekan Din, kesalahan kecil kalau dibiarin berulang kali juga jadi masalah besar, iya kan?"


"Iya sih, mungkin emang aku yang nggak cocok kerja sama Pak Adit, aku nggak punya pengalaman apa apa di bidang ini!"


"Jangan patah semangat dong Din, nggak semua orang seberuntung kamu loh, banyak yang mau dapetin posisi kamu sekarang, banyak mereka yang udah banyak pengalaman malah nggak bisa ada di posisi kamu sekarang, jadi kamu harus bersyukur dan jangan gampang nyerah!"


"Kamu bener Ndi, tapi aku sendiri ragu apa aku bisa kerja sama Pak Adit!"


"Pasti bisa Din, kamu kan baru 2 hari di sana, Pak Adit juga baru kenal kamu dua hari dan lagi baru 2 hari juga kamu jadi personal assistant, iya kan?"


"Iya, baru dua hari tapi rasanya udah kayak dicekik tiap hari!" balas Dini dengan mencekik leher Andi.


"Aaarrkkhhh Diinnn....." teriak Andi menahan tangan Dini yang mencekiknya dengan kencang.


"Hehehe, maaf Andi sayang," ucap Dini dengan memeluk Andi.


"Lagian kamu kemarin bilang kalau Pak Adit baik kan?"


"Iya sih, Pak Adit bilang kerjaku bagus waktu meeting kemarin," jawab Dini mengingat sikap baik Adit.


"Nah itu dia, dari cerita kamu sih dia kayaknya profesional, dia bedain masalah pribadi sama masalah pekerjaan, makanya dia nggak marah sama kamu karena kamu tampar dia kan?"


"Kamu bener, Pak Adit nggak pernah bahas soal itu, dia marah sama aku cuma karena......."


Dini menghentikan ucapannya, ia memikirkan sebab sebab Adit marah padanya.


"karena aku nggak hafal jadwalnya, karena aku lupa bawa dokumen buat meeting, karena aku....."


"angkat kepala kamu atau angkat kaki kamu dari perusahaan ini!"


Ya, Dini tau apa yang membuat Adit begitu murka padanya.


"Din, kamu kenapa sih?" tanya Andi yang melihat Dini memukul mukul kepalanya sendiri.


"Angkat kepala kamu atau angkat kaki kamu dari perusahaan ini!" ucap Dini menirukan Adit.


"Apaan sih Din, bikin kaget aja!"


"Itu yang Pak Adit bilang tadi Ndi!"


"Angkat kepala kamu? maksudnya?" tanya Andi tak mengerti.


"Aku takut tiap ketemu Pak Adit Ndi, gara gara kejadian pagi itu, jadi tiap ngomong sama Pak Adit aku reflek nunduk dan Pak Adit kayaknya nggak suka aku kayak gitu," jelas Dini.


"Ya wajar lah Pak Adit nggak suka, selain nggak sopan kamu juga terkesan nggak dengerin Pak Adit dengan baik, Pak Adit itu atasan kamu loh Din, kamu pasti tau kan eye contact dalam komunikasi itu penting!"


"Aku tau Ndi, tapi aku takut, aku malu, aku....."


"Dini dengerin aku," ucap Andi sambil memegang kedua pipi Dini dan diarahkan ke hadapannya.


"Kamu bukan takut, tapi kamu merasa bersalah karena udah nampar atasan kamu, temuin Pak Adit di luar jam kerja dan minta maaf, udah itu aja," ucap Andi dengan menatap mata Dini.


"Aaahhh, nggak semudah itu Ndi!" balas Dini dengan melepaskan kedua tangan Andi dari pipinya.


"Justru karena itu nggak mudah, hasilnya akan lebih dari yang kamu harapkan nanti."


"Kalau Pak Adit nggak mau maafin aku gimana?"


"Nggak mungkin Din, percaya sama aku, Pak Adit pasti maafin kamu!"


"Tapi....."


"Apa perlu aku temenin kamu ketemu Pak Adit?"


"Enggak enggak, aku sendiri aja!"


"Gitu dong, jadi mulai sekarang tegakkan badan kamu, buka bahu kamu lebar lebar, tebar senyum manis kamu dan tatap mata Pak Adit, oke?"


Dini menggeleng pelan, membuat Andi frustrasi.


"Besok aku coba ngomong sama Pak Adit, aku emang harus minta maaf kan?"


"Iya dong, karena tanpa kamu sadar kejadian pagi itu jadi beban buat kamu, turunin kepercayaan diri kamu di depan Pak Adit juga, iya kan?"


"Sahabat baikku ini emang paling mengerti aku!" ucap Dini dengan senyum manisnya.


"nggak sia sia baca buku psikologi walaupun belum nemuin yang dicari," batin Andi dalam hati.


Mereka lalu menuruni bukit dan kembali ke rumah masing masing. Di depan rumah Dini sudah terparkir mobil yang sudah tidak asing lagi bagi Dini.


Dimas segera menghampiri Dini dan menahan Dini agar menghentikan langkahnya.


"Kamu dari mana?" tanya Dimas.


"Bukan urusan kamu, urus aja masalah kamu sendiri!"


"Andini, aku....."


"Dia capek Dim, biarin dia istirahat dulu!" ucap Andi dengan menarik tangan Dimas dari tangan Dini.


"Capek? kenapa nggak langsung pulang?" tanya Dimas dengan nada yang tidak bersahabat.

__ADS_1


"Kamu pergi aja kalau cuma mau ngajak ribut!" ucap Dini lalu segera berlari meninggalkan Andi dan Dimas.


__ADS_2