
Siang itu Adit sedang berada di rumah sakit bersama Ana. Mereka baru saja mengambil hasil CT scan milik Adit.
"Tuh kan, gue udah bilang gue baik baik aja!" ucap Adit setelah melihat hasil CT scan mililnya.
"Syukurlah kalau gitu, gue cuma khawatir sama lo!"
"Lo sayang banget ya sama gue?"
"Diiihhh PD banget lo, gue mau pulang kalau gitu!"
"Gue anter ya!"
"Nggak perlu, gue mau ketemu calon suami gue dulu!"
"Oke, hati hati."
Merekapun berpisah. Adit segera kembali ke kantor bersama Rudi.
Adit lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, udah makan siang?" tanya Adit setelah seseorang menerima panggilannya.
"Belum."
"Kakak bawain makan siang, tunggu aja di ruangan kamu."
"Makasih kak."
Adit lalu mampir ke sebuah kedai dan membelikan Dini makan siang.
Sesampainya di kantor, Adit segera masuk ke ruangan Dini.
"Kenapa nggak makan siang?" tanya Adit sambil menaruh satu kotak makan siang di meja Dini.
"Nggak papa," jawab Dini tak bersemangat.
"Apa ada sesuatu yang salah?"
Dini menggeleng dengan membuka kotak makanan di hadapannya.
"Lagi berantem sama Dimas?"
"Nggak tau kak."
"Kok nggak tau?"
"Rumit," jawab Dini singkat.
"Kalau kamu mau, kamu bisa cerita sama kakak!"
"Makasih kak," balas Dini yang masih tampak murung.
"Pulang kerja ikut kakak jemput mama di rumah sakit ya!"
Dini mengangguk dengan senyum di bibirnya. Adit lalu meninggalkan ruangan Dini dan kembali ke ruangannya.
Saat Dini sedang berada di ruangan foto copy, ia bertemu Sela.
"Hai Din, makin hari makin mesra nih ya!"
"Maksud kamu?"
"Kamu sama Pak Adit, semua orang di sini tau kok hubungan kalian."
"Kamu nggak usah sok tau kalau....."
"Apa bukti ini kurang kuat?" tanya Sela sambil menunjukkan sebuah foto pada Dini.
Foto ketika ia bergandengan tangan dengan Adit, foto ketika Dini menggenggam tangan Adit di atas meja kerjanya.
"Kamu jangan salah paham Sela, itu semua cuma....."
"Cuma apa? ini semua bukti kalau kamu emang ada hubungan khusus sama Pak Adit, itu kenapa kamu bisa diterima kerja sama Pak Adit."
"Aku diterima kerja karena kemampuan aku, bukan karena hal lain!"
"Kemampuan apa yang kamu maksud itu Din? Jaka lebih baik daripada kamu, dan satu lagi, kamu nggak ada apa apanya dibanding Jenny."
"Terserah kamu mau mikir apa tentang aku, aku nggak peduli!"
"Sayangnya semua orang di kantor ini juga punya pikiran yang sama kayak aku!"
"Itu karena kamu yang sebarin gosip murahan ini!"
"Ya, gosip murahan yang sama murahannya dengan kamu!"
PLAAAAKKK
Satu tamparan mendarat di pipi Sela. Dini tidak akan tinggal diam lagi jika ada yang mengusik dirinya, terlebih menginjak harga dirinya seperti itu.
"Jaga ucapan kamu Sela, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu terus terusan sebarin gosip yang nggak bener tentang aku!" ucap Dini lalu melangkah pergi.
"Kenapa kamu jadi semarah ini Din? apa karena kebusukan kamu sudah diketahui semua orang? apa sekarang kamu panik?"
Dini tak mengindahkan ucapan Sela, namun tiba tiba rambutnya ditarik dengan kuat oleh seseorang.
"Dasar cewek murahan!" ucap Sela dengan menjambak rambut Dini.
"oke, udah cukup kesabaran kamu selama ini Din, Anita dan Dimas udah bikin emosi dan sekarang Sela!"
Dini lalu membalas perbuatan Sela, alhasil mereka saling jambak di ruang foto copy.
"Stooopppp, kalian ini kenapa sih!" ucap Jaka yang berusaha melerai Dini dan Sela.
Namun Dini dan Sela masih saling menjambak hingga pipi Dini sedikit terluka karena terkena kuku panjang Sela.
"DINI, SELA, STOP!" ucap Adit yang baru saja memasuki ruangan itu.
Mendengar suara Adit, Dini dan Sela segera melepaskan tangan masing masing yang masih saling menjambak.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Maaf pak," jawab Dini dan Sela bersamaan.
"Dini yang mulai pak, dia nampar Sela duluan," ucap salah seorang saksi yang melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Apa itu benar Din?" tanya Adit.
"Benar pak," jawab Dini.
"Kalian berdua ikut ke ruangan saya!" ucap Adit lalu segera meninggalkan ruangan itu.
"Pak Jaka, ini bukti videonya, tolong Pak Jaka kasihkan Pak Adit," ucap seseorang yang merekam pertengkaran Dini dan Sela.
Di dalam ruangan Adit, Dini dan Sela berdiri di depan meja kerja Adit.
"Ceritakan yang sebenarnya terjadi!" pinta Adit.
"Dini tampar saya pak, makanya saya jambak rambutnya," ucap Sela.
"Apa itu benar Din?"
"Benar pak," jawab Dini tanpa menjelaskan apapun karena ia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa.
"Kamu tidak akan menamparnya tanpa alasan kan Din?"
Dini diam, ia tidak mungkin menjelaskan pada Adit alasannya menampar Sela karena itu terkait dengan Adit yang merupakan CEO yang sangat dihargai di perusahaan itu.
"Dini, jawab pertanyaan saya!" bentak Adit pada Dini.
"Maaf pak," balas Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Permisi pak, ini rekaman kejadian di ruang foto copy tadi," ucap Jaka sambil menyerahkan sebuah ponsel pada Adit.
Adit lalu melihat rekaman yang hanya berdurasi beberapa detik itu.
"Saya tidak membutuhkan rekaman ini Jaka, ada CCTV di setiap ruangan di perusahaan ini," ucap Adit lalu mengembalikan ponsel itu pada Jaka.
"Maaf pak, saya permisi," balas Jaka lalu keluar dari ruangan Adit.
"Kembali ke ruangan kamu Sela, saya akan pastikan lagi kejadian yang sebenarnya terjadi, saya pastikan kalian berdua akan mendapatkan sanksi dari perbuatan kalian!" ucap Adit.
"Baik pak, saya permisi," ucap Sela lalu keluar dari ruangan Adit.
Adit lalu memberikan obat oles pada Dini dan menyuruhnya keluar.
"Terima kasih pak, saya permisi," ucap Dini lalu keluar dari ruangan Adit.
Adit lalu menghubungi seseorang dan memintanya untuk memberikan rekaman CCTV di ruangan foto copy.
Tak lama kemudian Adit menerima hasil rekaman yang diminta. Terlihat Dini yang terlebih dahulu menyerang Sela, namun sebelum itu Dini tampak emosi dengan ucapan ucapan Sela, membuat Adit semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Adit segera meninggalkan ruangannya dan masuk ke ruangan Dini.
"Kenapa belum diobati lukanya?" tanya Adit.
"Cuma luka kecil," jawab Dini sambil mengemasi barang barangnya.
"Kalau nggak diobati bisa infeksi Din," ucap Adit sambil berusaha mengoleskan obat pada luka Dini, namun Dini menepis tangan Adit.
"Maaf kak, Dini nggak bisa ikut jemput mama," ucap Dini lalu keluar meninggalkan Adit.
"Kakak antar kamu pulang!" ucap Adit dengan menahan tangan Dini.
"Nggak perlu," balas Dini dengan menarik tangannya lalu segera berlari keluar.
**
Langit sudah tampak gelap, dengan berpakaian rapi Andi datang ke rumah Dini.
"Dia di kamar, masuk aja!" ucap ibu Dini pada Andi.
Andipun masuk ke kamar Dini setelah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.
"Kamu rapi banget, mau kemana?" tanya Dini.
"Aku mau ajak kamu makan malem, buruan siap siap!"
"Kenapa mendadak sih, aku kan harus pilih baju dulu!"
"Baju apa aja cocok buat kamu Din, jangan lama lama, 10 menit lagi kita di jemput."
"Di jemput? sama siapa?"
"Udah buruan, jangan banyak tanya, waktu kita nggak banyak!"
"Kamu tunggu di luar dong, aku mau ganti baju!"
Andi pun keluar dari kamar Dini dan menunggunya di ruang tamu. Tak lama kemudian Dini keluar dari kamarnya.
Seketika Andi seperti terhipnotis oleh kecantikan Dini. Make up tipis dan pakaian sederhana yang dikenakannya mampu membuatnya begitu bercahaya di mata Andi.
"Udah cantik belum?"
"Banget," jawab Andi tanpa mengalihkan pandangannya dari Dini.
"Eh, itu kayaknya ada tamu di rumah kamu, siapa?" tanya Dini yang melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Andi.
"Itu yang jemput kita, ayo berangkat!"
Setelah berpamitan pada ibu Dini, Andi dan Dini segera menghampiri si pemilik mobil yang berhenti di depan rumah Andi.
"Pak Lukman, kok di sini?" tanya Dini yang mengenali Lukman.
"Saya disuruh ibu jemput mas Andi sama mbak Dini," jawab Lukman.
"Jadi kita makan malem di rumah mama Siska?" tanya Dini pada Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
Merekapun berangkat ke rumah mama Adit. Sesampainya di sana, tampak mobil Adit yang sudah terparkir di halaman rumah sang mama.
Andi dan Dinipun segera turun dari mobil, menuju ke ke dalam rumah.
"Akhirnya kalian dateng," ucap mama Adit sambil memeluk Dini dan Andi bergantian.
Saat memeluk Andi, hatinya terasa begitu tenang. Ia ingin berlama lama memeluk laki laki yang seumuran dengan anaknya itu.
"Ma!" panggil Adit membuat sang mama melepaskan Andi dari pelukannya.
Entah kenapa matanya berkaca kaca ketika memeluk Andi, begitu juga Andi yang merasakan perasaan aneh dalam dirinya ketika dipeluk mama Adit.
Merekapun mulai makan malam bersama dengan tenang. Setelah selesai makan malam, Adit dan Dini duduk di halaman depan, sedangkan sang mama masih mengobrol dengan Andi di meja makan.
__ADS_1
"Kamu marah sama kakak?" tanya Adit pada Dini.
"Enggak, marah kenapa?"
"Sikap kamu tadi kayak....."
"Dini cuma nggak mau ada salah paham di kantor kak, Dini takut pegawai yang lain berpikiran buruk tentang kita," ucap Dini.
"Kenapa kamu tiba tiba bilang gitu?"
Dini hanya menaikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan Adit.
"Din, kakak sama kamu bahkan nggak lebih deket dari kakak sama Ana, kakak sama Ana sering ngabisin waktu bareng di luar ataupun di dalam kantor, kita sering lembur bareng, jalan bareng dan nggak ada yang mempermasalahkan itu."
"Tapi Dini kan bukan mbak Ana," balas Dini.
"Kakak tau, kakak juga nggak bermaksud membandingkan kamu sama Ana."
Di sisi lain, Andi dan mama Adit sedang berada di dalam ruangan rahasia sang mama. Sebuah ruangan yang berisi banyak sekali lukisan.
"Ini Pak Adit ya tante?" tanya Andi dengan menunjuk lukisan bayi.
"Bukan, dia adiknya Adit," jawab mama Adit.
"Andi pikir Pak Adit anak tunggal, kenapa dia nggak ikut makan malam tante?"
Mama Adit diam, matanya menatap lukisan di hadapannya dengan mata berkaca kaca. Jari jari lembutnya seolah membelai bayi dalam lukisan itu.
"Maaf tante, Andi nggak bermaksud bikin tante sedih," ucap Andi yang menyadari kesalahannya.
"Tante boleh peluk kamu Andi? nggak tau kenapa tante merasa sangat tenang ketika memeluk kamu."
Andi mengangguk lalu mendekatkan dirinya pada wanita di hadapannya. Mama Adit memeluk Andi dengan erat, ada debaran kebahagiaan yang ia rasakan, kebahagiaan yang lama ia rindukan luruh bersama air mata yang perlahan menetes.
Dengan masih memeluk mama Adit, Andi memperhatikan dengan detail lukisan bayi di hadapannya.
"apa itu tanda lahir? atau cuma gradasi warna?" batin Andi bertanya tanya.
Dalam pelukan itu, Andi merasakan sebuah ketenangan dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Ma, mama dimana?"
Teriakan Adit menyadarkan sang mama yang segera melepaskan pelukannya pada Andi.
"Maaf Andi, maaf kalau tante....."
Andi kembali memeluk mama Adit begitu saja. Entah kenapa ia tidak ingin terlepas dari pelukan itu. Ada perasaan yang tidak ia mengerti sedang menyerang hatinya. Tanpa ia sadar, bulir air mata jatuh membasahi pipinya.
Mereka berdua hanyut dalam perasaan bahagia yang tidak mereka mengerti. Sampai beberapa saat lamanya, Andipun melepaskan pelukannya pada mama Adit.
"Kamu baik baik saja Andi?"
Andi mengangguk.
"Tante baik baik saja?" tanya Andi yang dibalas anggukan kepala mama Adit.
Merekapun keluar dari ruangan itu.
"Mama dari mana aja sih? kenapa mata mama merah? mama abis nangis?" tanya Adit pada sang mama.
"Enggak, mama cuma kelilipan," jawab mama Adit berbohong.
Dini dan Andipun pulang dengan diantar oleh Adit. Sesampainya mereka di depan rumah Dini, Adit keluar dan membukakan pintu untuk Dini.
CEEKREEKK
Tepat saat itu seseorang mengambil foto Adit dan Dini diam diam.
"Aku pulang ya Din, permisi Pak Adit," ucap Andi.
"Hati hati Ndi," balas Dini.
Andi lalu berjalan pulang ke rumahnya.
"Andi!"
"Anita, kamu ngapain di sini?"
"Nungguin kamu, ibu kamu bilang kamu lagi keluar jadi aku tunggu aja di sini!"
"Ayo masuk ke rumah!"
Anita mengangguk lalu mengikuti Andi masuk ke rumahnya.
Di sisi lain, Adit segera pulang setelah berpamitan pada ibu Dini.
Adit kembali ke rumah sang mama karena mamanya baru saja memintanya kembali.
"Mama minum obat dulu ya," ucap Adit sambil membawa obat dan minuman untuk sang mama.
"Makasih sayang."
"Mama tidur dulu, abis ini Adit pulang," ucap Adit sambil menyelimuti mamanya.
"Ini rumah kamu Adit, kapan kamu mau tinggal sama mama?"
"Sampe Adit bisa penuhi janji Adit sama papa ma," jawab Adit.
"Dit, kamu kenal Andi? dia....."
"Dia temennya Dini ma, mama jangan mikir yang terlalu jauh."
"Tapi mama ngerasa deket banget sama dia Dit, mama ngerasa tenang tiap mama deket sama dia."
"Mama baru kenal dia, mama belum tau kepribadiannya gimana, jangan cuma karena nama mama jadi bersikap berlebihan sama dia!"
"Mama tau, tapi hati mama nggak bisa bohong Dit, mama bisa ngerasain kebahagiaan yang selama ini mama cari."
"apa selama ini mama nggak pernah benar benar bahagia? apa kehadiran Adit sama sekali nggak berarti buat mama?"
"Mama sayang sama kamu Adit, mama yang mengandung dan melahirkan kamu, sama seperti dia, mama mengandung dan melahirkannya tapi mama nggak bisa lihat tumbuh kembangnya dan itu menyiksa mama Dit," ucap mama Adit seolah mengerti isi pikiran Adit.
"Mama tidur dulu, udah malem," ucap Adit dengan mengusap rambut sang mama.
"Adit harap, Adit masih bisa dapat kasih sayang mama walaupun dia udah kembali," batin Adit dalam hati.
__ADS_1